Xu Qing tertegun sejenak dan menatap seluruh buah tersebut. Yang paling menarik perhatian adalah tumpukan itu mencakup beberapa buah apel yang sangat besar. Xu Qing mau tak mau bertanya-tanya mengapa Zombi Laut ini memasukkan begitu banyak barang seperti itu ke dalam jubahnya.
Zombi Laut berjubah putih itu tadinya sedang mundur dengan kecepatan penuh. Namun, sekarang dia juga mematung di tempat. Saat dia melakukannya, tudung jubahnya sedikit bergeser, dan meskipun tidak menampakkan wajahnya, hal itu membuat sebagian rambutnya terurai ke luar. Pada saat yang sama, dia menatap ke arah buah-buahan tersebut.
Keduanya menengadah, dan pandangan mereka pun saling mengunci. Xu Qing berdiri di sana dengan tenang. Zombi Laut berjubah putih itu juga berdiri di sana dengan tenang.
Lalu, tanah bergemetar, dan permukaan laut di luar pantai pulau itu meledak dalam gejolak. Di kejauhan, terdengar suara gemuruh yang mampu menggoncang langit dan bumi, bagaikan raungan sesosok dewa.
Cahaya ungu muncul di kejauhan, bagaikan lautan ungu yang menyebar dengan cepat. Jika diamati lebih dekat, terlihat jelas bahwa sumber gemuruh dan cahaya itu adalah Kepulauan Merfolk. Ini pasti kekuatan pasang surut Formasi Tujuh Darah Merah yang disebutkan dalam keterangan misi.
Saat lautan cahaya itu meluas, kemampuan Zombi Laut untuk menekan portal teleportasi di Kepulauan Pearl melemah, memungkinkan proses teleportasi dimulai. Dengan demikian, para murid Puncak Kelima di belakang Xu Qing di lembah melakukan beberapa penyesuaian dan mengaktifkan portal teleportasi. Gelombang murid pertama melangkah ke atas portal dan menghilang. Hal serupa juga terjadi di pulau-pulau lain di kepulauan tersebut. Xu Qing tidak terlalu memerhatikan semua itu, tetapi dia bisa merasakan bahwa gelombang teleportasi kedua akan segera dimulai. Saat ini, yang lebih menarik perhatiannya adalah Zombi Laut berjubah putih ini.
Sesaat setelah pandangan mereka terkunci satu sama lain, Xu Qing langsung melesat maju. Dalam kondisi pancaran gemilang, dia mampu mengerahkan kecepatan yang luar biasa, dan lampu jiwa memberikannya kekuatan yang dahsyat. Dalam sekejap mata, dia sudah mendekati Zombi Laut berjubah putih tersebut. Namun, alih-alih mengincar perutnya, kali ini dia mengarahkan serangannya ke arah rambut musuhnya.
Entah mengapa, dia tampak sangat tertarik dengan rambut Zombi Laut ini. Zombi Laut berjubah putih itu terkesiap dan sekali lagi mengerahkan kekuatan nyala jiwanya. Gelombang energi yang mengerikan meletus, memungkinkannya menghindari cengkeraman Xu Qing. Lalu keduanya mulai bertarung lagi, dan suara ledakan bergema.
Xu Qing bergerak begitu cepat hingga para kultivator di lembah bahkan tidak bisa melihatnya dengan jelas. Perempuan dari Puncak Kedua, yang belum sempat berteleportasi keluar, dengan gugup mengaktifkan kondisi pancaran gemilangnya sendiri, tetapi bahkan dia tidak mampu melihat secara persis apa yang sedang terjadi. Yang bisa dia lihat hanyalah sekumpulan bayangan buram. Tanah bergetar, dan suara dentuman mengerikan membuat betapa berbahayanya pertarungan ini menjadi sangat nyata.
Zombi Laut berjubah putih itu juga bertarung dengan presisi mematikan, meskipun seiring berjalannya pertarungan, dia tampak lebih sibuk melindungi rambutnya. Dia begitu hebat hingga Patriark Prajurit Vajra Emas tidak mampu berbuat apa-apa padanya; sang patriark tidak bisa mengejarnya, dan bahkan hampir tidak bisa melihatnya. Begitu pula dengan bayangan Xu Qing. Dibandingkan dengan Zombi Laut berjubah putih itu, bayangannya terasa lambat.
Namun, Xu Qing menyerang dengan keganasan yang membabi buta. Beberapa kali, dia hampir berhasil menjambak beberapa helai rambut. Pada suatu kesempatan, dia menyalurkan kekuatan dharmanya ke dalam kepalan tinjunya, lalu mengelak ke samping untuk menghindari serangan Zombi Laut tersebut, sebelum melayangkan lututnya dengan kejam ke arah bagian bawah tubuh lawannya.
Ekspresi Zombi Laut berjubah putih itu berubah. Namun, Zombi Laut ini adalah lawan yang tangguh. Menangkis lutut itu dengan satu tangan, dia membuka mulutnya dan memuntahkan gumpalan besar racun zombi.
Serangan racun itu tampak seolah-olah akan langsung melelehkan Xu Qing. Namun, ekspresi wajah Xu Qing tetap sama seperti biasanya. Saat serangan lututnya berhasil ditangkis, dia berputar, mengirimkan kaki kirinya meluncur deras ke arah kepala Zombi Laut itu bagaikan cambuk.
Sebuah ledakan bergema, dan keduanya terpisah. Tanpa ragu sedetik pun, Xu Qing membentuk gestur mantra, menyebabkan api hitam berkobar membentuk banyak tangan, yang kemudian melesat ke arah Zombi Laut tersebut.
Pada titik ini, Zombi Laut itu tersengal-sengal. Jelas sekali pertarungan ini sangat menguras tenaganya. Sambil melolong, dia mengibaskan satu tangan dan membentuk gestur mantra, lalu mendorong telapak tangannya ke arah Xu Qing. Seketika itu juga, udara di depannya hancur dengan sendirinya, efeknya menyebar dengan cepat ke arah Xu Qing.
Ekspresi Xu Qing berubah, dan dia mengelak ke samping. Saat dia melakukannya, Zombi Laut berjubah putih itu tiba-tiba mempercepat gerakannya, muncul tepat di depannya dan mendorong telapak tangannya untuk menghantam dadanya.
Xu Qing terpelanting mundur sekitar 300 meter, darah mengalir keluar dari mulutnya. Kemudian dia menstabilkan diri dan melesat kembali ke tengah pertarungan. Bersamaan dengan itu, sepuluh pedang surgawi muncul di atasnya dan dia ayunkan ke bawah dalam sebuah serangan telak.
Pupil mata Zombi Laut itu mengecil. Tidak ada waktu baginya untuk menghindari serangan itu, sehingga tebasan tersebut menghantam tubuhnya, membuatnya terpental mundur sejauh 300 meter, dengan darah menyembur dari mulutnya. Namun, dia langsung melesat kembali ke dalam pertempuran. Kedua lawan itu kembali bentrok di udara, dan kali ini lutut Xu Qing kembali menghantam bagian bawah tubuh lawannya dengan ganas. Rasanya hampir seolah-olah Xu Qing tahu bahwa bagian bawah tubuh lawannya adalah titik lemahnya.
Zombi Laut berjubah putih itu mengutuk, tetapi suaranya tenggelam dalam kekacauan pertempuran. Kemudian tatapan gila muncul di matanya; alih-alih menangkis serangan itu, dia juga melayangkan lututnya ke arah Xu Qing.
Tepat pada saat yang sama, Xu Qing berhasil mengulurkan tangan dan menjenggut segumpal rambut lawannya.
Salah satu dari mereka mengeluarkan gerutuan tertahan, sementara yang lain menjerit kesakitan.
Gerutuan tertahan itu berasal dari Xu Qing, dan jeritan sengsara itu berasal dari sang Zombi Laut. Meskipun keduanya berseru dengan cara yang berbeda, saat mereka mundur menjauh, lutut keduanya sama-sama tertekuk secara tidak wajar. Namun, tekukan canggung pada lutut Zombi Laut itu membuat cedera yang dideritanya terlihat jauh lebih parah. Terlebih lagi, keringat bercucuran di wajahnya.
Xu Qing mundur, matanya bersinar tajam. Disaksikan oleh Zombi Laut tersebut, dia mengangkat segumpal rambut di tangannya. Rambut itu kemudian berubah menjadi abu. Pemandangan yang sangat familier, hanya saja kali ini berupa segumpal rambut alih-alih sehelai rambut tunggal. [1]
Saat abu itu berterbangan, Xu Qing bersiap untuk kembali menerjang maju. Namun, pada saat itulah sebuah suara mendesak terdengar dari belakangnya.
"Kakak Perguruan, arus pasang akan segera berakhir. Ini kesempatan terakhir untuk berteleportasi keluar!"
Mendengar itu, mata Xu Qing menyipit. Pada saat yang sama, terlihat di cakrawala bahwa sekumpulan api hitam sedang mendekat, menyebar melalui langit. Di dalam kobaran api itu tampak sesosok Zombi Laut yang berwujud seorang anak muda, dengan tangan disilangkan di punggung saat dia menatap Kepulauan Pearl. Saat dia bergerak maju, laut di bawahnya terbelah, membentuk lembah dengan dua tebing air yang besar di kedua sisinya. Kepulauan Pearl bergetar saat kekuatan mengerikan menekan ke bawah, dan angin kencang menderu di atas mereka.
Tatapan Xu Qing mengeras, dan tanpa ragu-ragu, dia mundur kembali ke lembah. Pada titik ini, gelombang teleportasi kedua telah berakhir, dan gelombang ketiga sedang dimulai. Para murid Tujuh Darah Merah di atas portal tadinya sempat memperhatikan pertarungan Xu Qing sambil menunggu portal aktif. Tapi sekarang mereka sedang menunggu Xu Qing bergabung dengan mereka. Begitu dia muncul di antara mereka, para murid Puncak Kelima langsung mengaktifkan portal tersebut. Berkat arus pasang yang terus berlanjut, cahaya berkilauan di atas portal.
Zombi Laut berjubah putih itu tidak mengejar. Matanya terpaku pada Xu Qing, dan meskipun jarak di antara mereka jauh serta proses teleportasi telah dimulai, mereka berdua bisa melihat ekspresi aneh di mata masing-masing. Kemudian, cahaya teleportasi mencapai puncaknya, dan tatapan mereka terputus saat Xu Qing tersedot pergi.
Setelah Xu Qing dan para murid lainnya pergi, Zombi Laut berjubah putih itu mendongak ke langit dan menyadari bahwa Zombi Laut Inti Emas yang baru datang telah pergi ke pulau yang berbeda. Sambil menggertakkan gigi menahan sakit, dia menggosok lututnya dengan penuh semangat, lalu menyentuh bagian kepalanya yang rambutnya baru saja dijambak lepas.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini? Bagaimana bocah ingusan itu bisa menjadi begitu kuat dalam waktu yang begitu singkat? ADUH!
Sepertinya dia juga mengenaliku. Dia mengincar bagian bawah tubuhku! Dan rasanya dia sengaja ingin mencabut rambutku sebagai bentuk balas dendam! Sialan sekali! Dia sama sekali tidak menghormati seniornya! Lagipula, yang kulakukan terakhir kali kan hanya mencabut sehelai rambut, ya kan?
Misi besarku ini bukanlah hal yang mudah. Jika aku ingin mendapatkan jantung zombi tingkat tinggi, aku harus mengeluarkan banyak poin jasa. Aku sudah mengorbankan banyak hal untuk menyamar dengan sempurna sebagai Zombi Laut.
Aku tadinya hanya ingin menakut-nakuti mereka, merampas beberapa tungku pil, lalu menyerahkannya demi mendapatkan poin jasa. Dan begitu aku menyadari bocah itu ada di sini, aku tadinya berencana memberinya pelajaran yang setimpal sebagai balasan atas racun di terowongan Kepulauan Merfolk itu.
ADUUUHH!
Zombi Laut berjubah putih itu merentangkan lengan kanannya yang setengah hancur, lalu menggunakan metode entah berantah untuk menumbuhkan kembali tangannya. Sambil terengah-engah, dia meluangkan waktu sejenak untuk memulihkan diri. Sambil mengutuk dalam hati, dia berjalan pincang menuju tempat buah-buahan miliknya berjatuhan ke tanah. Sebagian besar buah itu telah hancur. Hanya ada separuh dari satu buah apel besar yang tersisa. Dengan hati-hati dia memungutnya, lalu menggigitnya dengan lahap. Namun kemudian, matanya mendelik lebar dan dia memuntahkannya.
"Ini beracun!" serunya dengan marah. Pada titik ini, dia menyadari situasi ini tidak bisa diterima. Sebagai seorang kapten, dia tidak boleh membiarkan dirinya menanggung kehilangan muka seperti itu. Dia bahkan memutuskan bahwa dirinya harus mencari kesempatan untuk melepas salah satu segelnya dan memberi pelajaran yang setimpal kepada bocah tersebut. Itulah satu-satunya cara untuk menjaga martabat. Meskipun dia sebenarnya enggan melepaskan segel, dia harus menanggung rasa sakit itu demi memastikan harga dirinya tetap terjaga. Setelah mengambil keputusan itu, dia melesat pergi ke kejauhan.
Kembali di Pulau Meegah, sebuah portal teleportasi berkilauan saat Xu Qing dan para murid lainnya muncul. Saat Xu Qing melangkah turun dari portal, dia menyadari bahwa suasana di kamp garis depan terasa tegang. Banyak sosok melesat cepat di udara.
Pertempuran berkecamuk di kejauhan, dan semua orang tampak jauh lebih sibuk dari sebelumnya. Semua murid yang baru saja berteleportasi dari Kepulauan Pearl menangkupkan tangan dan memberi salam kepadanya. Perempuan dari Puncak Kedua bergabung dengan mereka. Setelah bertukar informasi kontak dengannya, perempuan itu kemudian buru-buru pergi.
Kemudian Gu Muqing mendekat untuk pamit. Saat melakukannya, Xu Qing mengembalikan giok pil pantangan, dan memberitahunya bahwa dia telah mengaktifkannya sebelum pergi.
"Kakak Perguruan Xu, aku dan rekan-rekan seperguruanku masih harus menyelesaikan misi ini. Kami harus pergi ke lokasi lain untuk mengaktifkan lebih banyak pil pantangan. Kudengar dari Guruku bersiap agar perang ini berlangsung selama bertahun-tahun, dan kita harus memenangkannya. Dan akan ada beberapa operasi besar yang segera dilahirkan. Harap berhati-hati, Kakak Perguruan." Pada titik ini dia ragu-ragu sejenak, lalu mendekat sedikit ke arah Xu Qing, merendahkan suaranya, dan melanjutkan, "Aku adalah murid inti, jadi ada kalanya aku tidak punya pilihan selain pergi menjalankan misi tertentu. Tapi Kakak Perguruan tidak harus melakukannya. Ngomong-ngomong, jika Kakak melihat misi apa pun yang berkaitan dengan tujuh pulau benteng Zombi Laut, Kakak sama sekali tidak boleh mengambilnya."
Setelah mengatakan itu, Gu Muqing membungkuk hormat lalu pergi.
Dengan ekspresi penuh pemikiran, Xu Qing melirik medali identitasnya. Misi yang baru saja dikerjakannya telah selesai, dan misi-misi baru lainnya terus berdatangan.
Sementara itu, dia mengenang kembali pertarungannya dengan Zombi Laut berjubah putih itu, yang tampak seperti Zombi Laut dalam segala hal, hingga ke racun zombinya. Tapi tidak butuh waktu lama bagi Xu Qing untuk menyadari bahwa sosok itu terasa familier. Terutama pada matanya. Dan tentu saja buah-buahan itu.
Kenapa Kapten menyamar menjadi Zombi Laut? Apakah ada jarahan Zombi Laut yang ingin dia dapatkan sehingga mengharuskannya melakukan itu? Kurasa ada kemungkinan juga dia sedang sial lalu dibunuh oleh Zombi Laut, dan diubah menjadi zombi.
Jika itu orang lain, Xu Qing akan berasumsi opsi kedualah yang paling mungkin. Tapi jika menyangkut sang Kapten, opsi pertama justru terasa lebih sejalan dengan kepribadiannya yang gila.
Mengingat betapa pendendamnya sang Kapten, aku yakin dia tidak senang dengan bagaimana pertarungan kami berakhir. Alam kultivasinya benar-benar tak terduga. Dia pasti akan mencoba membalas dendam padaku. Aku harus membuka lebih banyak celah dharma!
1. Aku ingat adegan yang mirip dengan ini di bab 138…. ☜
Chapter 164 · 8m baca
Seeking Revenge over the Smallest Grievance
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter