Beyond the Timescape - Chapter 1338 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 1338 · 6m baca

Plumdark Awakens

by Er Gen

Dua puluh tahun berlalu. Selama kurun waktu tersebut, situasi di Revered Ancient mengalami perubahan yang mengguncang surga dan menjungkirbalikkan bumi!

Mengatasnamakan Xu Qing, Permaisuri Summer Departure dengan penuh kemenangan memperluas wilayah umat manusia hingga mampu menyaingi luasnya daratan manusia pada masa Kaisar Eastglory. Dan itu baru sebatas wilayah yang dikendalikan langsung oleh manusia. Selama dua puluh tahun yang telah berlalu, manusia telah menjelma menjadi spesies teratas di Revered Ancient. Mereka menguasai lebih dari separuh daratan utama!

Memang masih ada wilayah-wilayah lain yang dihuni oleh para dewa atau spesies purba, namun… mereka semua takut pada manusia dan tidak berani membuat masalah. Meskipun begitu, mereka juga tidak bersedia untuk berlutut tunduk.

Terjadilah kebuntuan tiga pihak. Saat itulah Ling’er muncul dari Wilayah Moonrite, didampingi oleh Putra Mahkota beserta saudara-saudaranya. Berkat garis keturunan Roh Purba miliknya, ia mampu memberikan jalan keluar yang menjaga martabat bagi tak terhitung banyaknya spesies purba di Revered Ancient untuk menyatakan takluk.

Karena berbagai alasan, mereka enggan berlutut kepada umat manusia. Namun, pandangan mereka terhadap Roh Purba berbeda. Semua spesies purba itu tidak mempermasalahkan konsep ‘tak terhitung banyaknya spesies’ yang hidup di Revered Ancient. Tapi kenyataannya… mereka semua adalah makhluk non-manusia yang hidup terpisah dari manusia. Dan sebelum Kaisar Purba Dark Serenity menaklukkan Revered Ancient, dulunya kaum non-manusia lah yang memerintah daratan utama, yaitu para Roh Purba. Pada akhirnya, mereka bisa menyetujui untuk berlutut kepada Roh Purba.

Dengan demikian, satu-satunya hambatan bagi penyatuan penuh Revered Ancient adalah para dewa. Secara alami, sudah sewajarnya jika urusan para dewa ditangani oleh sesama entitas dewa. Oleh karena itu, Permaisuri Summer Departure pergi ke South Phoenix, bersujud di hadapan perahu-dharma milik Xu Qing, dan memohon petunjuknya.

Ombak bergolak di permukaan air laut, membuat perahu-dharma itu naik turun. Xu Qing membuka matanya. Ia tidak keluar dari meditasi tertutupnya. Namun, ia melambaikan tangannya, menyebabkan seberkas cahaya melesat keluar dari perahu-dharma dan memadat di hadapan sang permaisuri.

Cahaya itu berubah wujud menjadi sebuah patung tanah liat. Patung seekor rubah.

Saat angin berembus melalui pelabuhan, patung itu berkilau memancarkan cahaya yang menyilaukan. Tanah liat itu berubah menjadi daging, mulus dan berkilau, serta diiringi tawa yang menawan. Lalu, Starfire si rubah jelita muncul kembali di dunia.

“Lama tak jumpa, Kak Besar,” ucap Starfire dengan mata berbinar genit. “Untung kamu datang. Kalau tidak, si kejam tak berperasaan itu pasti sudah benar-benar melupakanku.”

Sang permaisuri mengerutkan kening namun tidak berkata apa-apa. Setelah membungkuk sekali lagi ke arah perahu-dharma Xu Qing, ia berbalik dan pergi.

Sambil tertawa kecil, Starfire menatap ke arah Wilayah Moonrite, matanya memancarkan antisipasi. “Pertama, Matahari. Kedua, Bulan. Terakhir, Bintang…. Sudah saatnya mengubah peringkat.”

Starfire mulai melangkah.

Pemberhentian pertamanya tentu saja adalah kaum Firemoon Darkheaven. Di wilayah Firemoon, Gunung Dewa bergetar tatkala hujan tanah liat mulai turun. Seiring jatuhnya hujan tersebut, kaum Firemoon Darkheaven bergidik ngeri. Pada saat yang sama, kekuatan dewa yang menjulang tinggi turun bersama hujan tersebut, mendarat di atas Gunung Dewa dan berubah menjadi suara dewa.

“Moonfire. Sunfire. Keluar dan temui aku!”

Gunung Dewa bergetar saat Sunfire dan Moonfire muncul dan terbang ke langit dengan ekspresi penuh keraguan. Mereka tidak bisa terbang terlalu tinggi. Moonfire hanya melangkah maju sekitar tujuh langkah sebelum berhenti dalam diam dengan kepala tertunduk. Sunfire bersinar terang bagaikan matahari menyilaukan, namun meskipun berjuang keras untuk melampaui Moonfire, ia hanya mampu maju beberapa langkah lagi. Kemudian matahari itu berubah menjadi matahari tanah liat. Setelah mendongak dengan tatapan tajam, Sunfire menunduk.

Tawa patung rubah tanah liat itu menggema ke segala penjuru. Alih-alih Matahari, Bulan, Bintang, peringkatnya kini berubah menjadi Bintang, Bulan, Matahari.

Setelah itu, Starfire mendatangi kediaman para dewa lainnya, dan menggunakan berbagai cara untuk menawarkan dua pilihan kepada para dewa tersebut. Pilihan pertama adalah dihancurkan. Pilihan kedua adalah menjadi dewa bawahan. Begitulah cara para dewa ditundukkan. Memang ada beberapa bahaya, karena beberapa dewa yang sedang tertidur sebenarnya jauh lebih kuat daripada Starfire. Namun Master Ketujuh senantiasa mengawasi sepanjang waktu.

Selama dua puluh tahun meditasi tertutup Xu Qing, Master Ketujuh hanya keluar dari Surga Cemerlang sebanyak dua kali. Yang pertama adalah untuk melenyapkan seorang tokoh sesepuh dari salah satu spesies purba yang mengandalkan teknik sihir khusus. Yang kedua adalah untuk menghancurkan tiga dewa yang telah berada setengah langkah memasuki alam Dewa Sejati.

Berkat tindakan-tindakan tersebut, tidak terjadi konflik mematikan antara kaum non-manusia, para dewa, dan manusia. Dan berkat Ling’er serta Starfire yang mengambil alih kendali, pihak-pihak lainnya justru menjalin aliansi dengan manusia.

Dengan cara itulah, kedudukan manusia di dunia diakui. Hasil akhirnya adalah manusia… adalah pihak yang mempersatukan Revered Ancient. Permaisuri Summer Departure mewakili umat manusia. Ling’er mewakili kaum non-manusia. Starfire mewakili para dewa. Ketiga pihak tersebut membuat perjanjian yang dinamakan Perjanjian Pure Ancient. Pasukan aliansi membersihkan seluruh lokasi rahasia di daratan utama Revered Ancient, dan melakukan segala upaya untuk membersihkan pengaruh dari luar.

Waktu berlalu. Dua puluh tahun lagi pun berlalu.

Xu Qing kini telah berada dalam meditasi tertutup selama empat puluh tahun.

Dalam rentang waktu dua puluh tahun yang kedua, posisi umat manusia semakin stabil. Permaisuri Summer Departure dinobatkan menjadi Permaisuri Purba Summer Departure. Peradaban manusia pun turut maju. Wajah retak itu masih terpampang di kubah surga, membuat semua makhluk hidup merasa gelisah. Seandainya bukan karena hal itu, masa ini pasti sudah menjadi zaman keemasan.

Ningyan tumbuh menjadi sosok yang luar biasa. Berkat didikan tekun dari sang permaisuri, ia tumbuh persis seperti sosok yang diharapkan dari seorang putra mahkota. Selain Ningyan, ada beberapa orang lain yang berhasil menemukan jati diri dan berkembang pesat selama tahun-tahun tersebut.

Contohnya, Wu Jianwu yang mendirikan ajaran dan doktrin inti Tao-nya sendiri. Ajarannya berfokus pada pengembangbiakan hewan. Meskipun tingkat kultivasinya tidak terlalu tinggi, lewat kemitraannya dengan para monster yang telah mendampinginya selama bertahun-tahun, ia menjelma menjadi sosok yang luar biasa.

Lalu ada Kong Xianglong, yang merupakan keturunan dari Kepala Istana Kong Liangxiu dari Istana Swordsage di County Sea-Sealing. Ia terus menjalankan tekad Kong Liangxiu, dan akhirnya menjadi kepala istana yang sedang berkuasa. Ia hanya perlu mencapai tingkat kultivasi yang sesuai.

Setiap orang memiliki jalurnya masing-masing, dan setiap orang meraih kesuksesan dengan cara mereka sendiri.

Hal serupa juga terjadi pada semua kekuatan besar di Revered Ancient. Manusia, dewa, dan non-manusia menjaga ketertiban bersama. Secara perlahan namun pasti, segala hubungan dengan pengaruh luar berhasil diidentifikasi, dan catatan mengenai hal itu pun dibuat. Bisa dibilang, tidak ada lagi lokasi rahasia yang tersisa di Revered Ancient.

Kecuali… satu tempat! Sebuah tempat yang belum pernah dimasuki oleh satu pun kaum non-manusia, dewa, maupun manusia bahkan setengah langkah pun. Bahkan Master Ketujuh hanya mengamatinya dari luar sejenak sebelum membiarkannya begitu saja.

Tempat itu sangat unik dan istimewa di daratan utama Revered Ancient. Itulah Wilayah Heaveneater! Tempat di mana Kerajaan Berdaulat Violet dan Cyan kembali!

Tidak seorang pun yang memasuki tempat itu, dan tidak ada satupun makhluk hidup dari dalam Wilayah Heaveneater yang pernah keluar. Semua orang tampak sedang menunggu.

Dua tahun kemudian… perahu-dharma yang telah mengapung di pelabuhan Seven Blood Eyes di South Phoenix selama empat puluh dua tahun terakhir, tiba-tiba lenyap begitu saja tanpa jejak. Satu-satunya hal yang tertinggal hanyalah riak-riak air di permukaan.

Begitu perahu-dharma itu lenyap, sesosok tubuh terwujud di Surga Cemerlang, tepat di sebelah tempat Erniu sedang tidur. Master Ketujuh, yang duduk bersila di depan makam sang Guru, sama sekali tidak menyadari kedatangan pendatang baru tersebut.

Orang yang baru datang itu tidak menimbulkan keributan apapun. Ia hanya menatap Erniu sekilas, lalu menghilang.

Saat berikutnya, sosok yang sama muncul di hadapan patung Kaisar Agung Swordsage di luar ibu kota kekaisaran umat manusia. Tidak ada seorang pun yang melihatnya. Tidak ada seorang pun yang bahkan merasakannya.

Xu Qing berdiri di depan patung tersebut, menengadah menatap Kaisar Agung Swordsage. Ia mengenakan jubah hitam dan memiliki rambut panjang berwarna ungu. Penampilannya sama sekali tidak berbeda dari empat puluh dua tahun yang lalu. Namun ada sesuatu yang begitu mendalam berkilaw di dalam matanya. Setelah memandangi patung itu cukup lama, ia menangkupkan tangan dan membungkuk.

Kemudian ia memalingkan wajahnya ke arah County Sea-Sealing.

“Dia akan segera bangun…” gumamnya. Sebuah senyuman hangat terukir di wajahnya saat ia melangkah menuju County Sea-Sealing.

Di kompleks jauh di bawah tanah County Sea-Sealing terdapat sebuah istana phoenix. Di dalamnya terdapat sebuah pelita, yang perlahan-lahan semakin bersinar terang. Itulah Pelita Plumdark Evergreen.

Cahaya pelita tersebut menyinari seorang wanita yang sedang duduk bersila di aula yang tenang. Ia mengenakan gaun tipis berwarna prem yang menyebar bagaikan awan di sekelilingnya, bergeser perlahan seolah dibelai oleh angin harum yang tak kasat mata. Ia sangat cantik, dengan kulit seputih salju. Alisnya seolah menyembunyikan emosi tak berbatas, namun pada saat bersamaan, memancarkan pesona keanggunan yang sempurna. Ia duduk dengan tenang di atas alas rumput, kedua tangannya diletakkan di atas lutut, dengan jemari yang panjang dan ramping.

Dari kejauhan, ia tampak begitu cantik bagaikan sebuah lukisan. Kelihatan seolah waktu telah berhenti demi mengabadikan kecantikannya yang luar biasa untuk selamanya.

Namun kemudian… sedetik berlalu.

Bulu matanya bergetar, dan ia perlahan membuka matanya lalu menatap ke arah pintu utama. Matanya berkilaw bagaikan bintang-bintang, cukup berpendar untuk menerangi seluruh dunia.

Pintu itu perlahan terbuka.

Gunakan ← → untuk pindah chapter