Tepat di atas kepala, lautan cahaya ungu dan formasi mantra hitam saling berbenturan. Tak satupun dari kekuatan itu yang memiliki kesadaran, tetapi sifat dasar mereka sedemikian rupa sehingga tidak dapat menoleransi eksistensi satu sama lain. Pemandangan itu mirip dengan keenam kultivator yang bertarung di atas tengkorak ikan.
Ding Xiaohai dengan anggun mengayunkan pedang panjang menggunakan gaya Kitab Pembentuk Laut; teknik itu menghasilkan banyak sekali bunga pedang, yang masing-masingnya memancarkan niat membunuh yang mencengangkan. Ia juga menggunakan jimat pusaka yang, jika dikombinasikan dengan teknik magisnya, menciptakan semacam lautan di sekelilingnya. Alhasil, Zombi Laut yang sedang melawannya untuk sementara waktu tidak mampu menandinginya. Para Zombi Laut, dengan mutagen dan racun zombi mereka, ditambah kebrutalan bawaan mereka, pada dasarnya berada di luar kemampuan Ding Xiaohai untuk dikalahkan. Untungnya, ia memiliki kartu truf yang bisa diandalkan.
Tombak Sang Kapten melesat lincah bagaikan naga, bergerak dengan kecepatan luar biasa saat ia menghadapi Zombi Laut tersebut. Gerakannya memiliki banyak variasi, terkadang begitu mendominasi, di lain waktu begitu tajam. Sesekali ia menusukkan tombaknya seperti jarum sulam, dan di saat lain ia menebasnya bagaikan kapak. Ia jelas sangat mahir menggunakan senjata itu. Faktanya, ia tidak menggunakan tangan bebasnya untuk melakukan gestur mantera, melainkan memegang sebuah apel yang terus ia kunyah. Ia bahkan menyempatkan diri untuk menyemangati Ding Xiaohai.
"Itu tadi luar biasa, Kakak Senior Ding! Kau hebat sekali, Kakak Senior Ding! Maju, maju, maju!"
Ia kemudian berbalik untuk menyemangati Xu Qing. "Xu…."
Matanya mendelik lebar, rahangnya ternganga karena takjub, dan ia hampir menjatuhkan apelnya.
Beberapa saat lalu….
Xu Qing bergerak dalam kejapan mata, menggunakan belatinya untuk menggoreskan luka pada lawan Zombi Lautnya, lalu menjejalkan segenggam bubuk racun ke dalam luka-luka itu. Kelihatannya hampir seperti ia sedang melakukan eksperimen untuk menyempurnakan jalur racunnya. Ia membuat begitu banyak sayatan dengan belatinya sehingga daging Zombi Laut itu tampak seperti daging cincang.
Bahkan, sebagian besar dagingnya telah terkelupas, memperingatkan tulang-tulang di bawahnya. Berserakan di atas tanah adalah… gumpalan kulit biru dan darah. Wajah Xu Qing tetap tanpa ekspresi sama sekali di tengah pemandangan daging biru yang mengerikan di sekitarnya. Ia tampak sepenuhnya fokus pada penelitian racun.
Sejujurnya, Xu Qing tidak sedang melakukan eksperimen. Kultivator Zombi Laut yang dilawannya sepertinya tidak bisa merasakan sakit, dan tak satu pun racun Xu Qing yang mempan padanya. Meskipun tenggorokannya telah disayat, ia tetap bertarung dengan ganas, seolah-olah ia sama sekali tidak peduli dengan nyawanya sendiri. Bahkan setelah menderita luka paling parah sekalipun, ia terus menyerang. Ia terus menatap tajam ke arah Xu Qing dengan mata merah, seolah-olah ia ingin merobek-robek tubuh pemuda itu berkeping-keping. Tubuhnya berdenyut dengan fluktuasi teknik magis. Namun, itu bukanlah kekuatan spiritual, melainkan mutagen. Dan hal itu memicu awan hitam wajah-wajah hantu yang mengamuk ke arah Xu Qing.
Xu Qing tidak takut pada mutagen. Namun, ia tidak ingin mempublikasikan fakta itu. Sambil mengerutkan kening, ia mundur ke belakang dan menggunakan jimat pusaka untuk membela diri. Melihat lawannya tetap saja ganas meskipun sudah terluka parah, niat membunuh Xu Qing semakin menguat. Melompat menghindari serangan Zombi Laut tersebut, ia menghujamkan belatinya ke arah kepala lawannya.
Dengan mata merah menyala, kultivator Zombi Laut itu mengulurkan tangannya untuk menangkis belati tersebut.
Suara retakan berderak saat ia menggunakan tulangnya sendiri untuk menahan belati itu, lalu ia membuka lebar mulutnya dan menerjang maju untuk menggigit Xu Qing.
Mata Xu Qing bersilat kilat; alih-alih menghindar, ia justru menanduk kepala musuh. Sebuah ledakan terdengar saat mulut Zombi Laut itu hancur, giginya rontok, dan separuh kepalanya remuk. Xu Qing kemudian menyerang lagi, menebas dengan kejam menggunakan belatinya. Salah satu lengan Zombi Laut itu putus. Belati itu kembali berkelebat, dan perut Zombi Laut tersebut robek terbuka.
Jeroan dan organ tubuh yang membusuk tumpah keluar. Luka itu begitu parah hingga akhirnya, ekspresi teror muncul di wajah Zombi Laut itu. Pemandangan itulah yang membuat Sang Kapten menjatuhkan apelnya.
Zombi Laut bukanlah makhluk tanpa emosi. Hanya saja, emosi mereka jauh lebih sederhana daripada makhluk hidup lainnya. Dan tidak peduli betapa sederhananya emosi mereka, saat mereka hendak mati, mereka tetap akan merasakan dorongan untuk melarikan diri. Kultivator Zombi Laut ini telah mencapai titik di mana ia tidak ingin bertarung lagi, melainkan ingin kabur. Namun, Xu Qing tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ia melompat maju sekali lagi, belatinya melesat terbang. Pada saat yang sama, ia melepaskan sekumpulan tetesan air untuk menciptakan penghalang yang menghalangi jalur pelarian Zombi Laut tersebut.
Saat suara gemuruh bergema, rasa teror Zombi Laut itu semakin terlihat jelas. Murid dari Tujuh Mata Darah ini benar-benar aneh tiada tara. Pertama-tama, ia tampak tidak terpengaruh oleh mutagen, sesuatu yang mustahil terjadi bagi Zombi Laut.
Bahkan para murid pilihan yang tidak memiliki mutagen di dalam tubuh mereka pun tidak akan kebal terhadap mutagen. Orang seperti itu yang memasuki zona terlarang tetap harus menghadapi gerusan mutagen. Namun, ketika mutagen Zombi Laut masuk ke dalam tubuh lawannya ini, zat itu seolah lenyap begitu saja.
Terlebih lagi, racun zombi yang sangat dibanggakan oleh para Zombi Laut sama sekali tidak memberikan efek apa pun. Rasanya murid ini bahkan tidak takut pada racun tersebut. Dan racun milik sang murid membuat pikiran Zombi Laut itu berputar-putar, serta memenuhi tubuhnya dengan rasa sakit. Para Zombi Laut tidak takut pada rasa sakit dan memiliki fisik yang tangguh, tetapi murid ini… tampaknya jauh lebih kuat darinya.
Belum lagi kemampuan regenerasinya. Zombi Laut memiliki karakteristik unik yang memberi mereka daya pemulihan yang tidak dapat ditandingi oleh kultivator non-zombi. Namun, lawannya ini… tampaknya juga melampauinya dalam hal tersebut. Makhluk apa sebenarnya pemuda ini?
Mata merah Zombi Laut itu berkilat-kilat saat ia mencoba mundur, tetapi kemudian belati Xu Qing berkelebat, dan cipratan darah biru lainnya tumpah ke tanah.
Pada akhirnya, berkat mutagen dan efek korosif dari racun zombi, belati Xu Qing hancur. Untungnya, ia memiliki cadangan.
Saat itulah Zombi Laut tersebut mengira dirinya bisa melarikan diri. Hingga sebuah kilatan cahaya hitam menembus dadanya. Itu adalah tusuk sate besi hitam. Begitu senjata itu menembus dadanya, kekuatannya meledak bersamaan dengan kesadaran roh di dalamnya. Fluktuasi Pendirian Fondasi membanjiri tubuh Zombi Laut yang telah porak-poranda itu. Disusul suara ledakan, Zombi Laut tersebut meledak berkeping-keping. Tusuk sate besi itu melayang dan kembali ke tangan Xu Qing. Sementara itu, genangan darah di tanah lenyap, seolah-olah tersedot ke dalam tanah.
Di sisi lain, Sang Kapten memandangi zombi yang telah hancur itu, lalu beralih menatap tusuk sate besi Xu Qing. Ketika ia menyadari Xu Qing sedang memperhatikannya, ia tiba-tiba merasa sedikit canggung. Sambil mengibaskan tombaknya, ia menciptakan riak dan distorsi hingga senjata itu berubah menjadi aliran air yang melesat ke arah lawan Zombi Laut miliknya.
Air tersebut memancarkan hawa dingin membekukan yang dengan cepat melilit Zombi Laut itu. Lalu, dalam sekejap mata, ia membekukan Zombi Laut tersebut menjadi sepotong es padat.
Hebatnya lagi, hawa dingin itu adalah sesuatu yang dapat melukai jiwa.
Pupil mata Xu Qing menyusut. Melihat balok es itu menimbulkan rasa bahaya di dalam hatinya; itu jelas bukan es biasa, melainkan sesuatu yang dipenuhi oleh kekuatan misterius yang tidak dapat ia kenali. Sambil berdeham, Sang Kapten berkata, "Kau lihat itu, Xu Qing? Saat kau membunuh musuh, kau butuh teknik yang halus. Seni! Bukan sekadar kekuatan kasar."
Sambil mendongakkan dagunya, ia menggigit apelnya, berjalan mendekat, dan mengetuk balok es itu dengan buku jarinya. Retakan menyebar ke seluruh permukaannya, dan sedetik kemudian es itu hancur berkeping-keping, beserta kultivator Zombi Laut di dalamnya.
Melihat pemandangan ini, kewaspadaan Xu Qing semakin meningkat. Kultivator Zombi Laut itu berada di puncak Penyerapan Qi, dan mengingat Zombi Laut lebih unggul daripada kultivator manusia di level yang sama, ia seharusnya sangat sulit dibunuh. Hal itu membuktikan… bahwa Sang Kapten sangatlah kuat.
"Ngomong-ngomong," lanjut Sang Kapten, "aku menyarankanmu untuk sedikit meningkatkan teknik magismu. Kenapa tidak mencoba memasukkan racun ke dalam tetesan airmu? Itu akan membuat seranganmu jauh lebih sulit untuk dihadapi."
Xu Qing merenungkan hal itu dan menyadari perkataan Sang Kapten masuk akal. Ia pun mengangguk.
Sang Kapten tampak sangat senang karena nasihat singkatnya telah memperbaiki kesan Xu Qing terhadapnya. "Ayo kita lanjutkan perjalanan. Kalau kita terlambat turun ke sana, Zhang San tidak akan ada di sana lagi."
Begitu selesai berbicara, ia melesat menuju mata ikan, tanpa memedulikan Ding Xiaohai lagi.
Xu Qing mengikuti dari belakang, bersikap acuh tak acuh pula pada Ding Xiaohai. Pikirannya saat ini terpusat pada saran yang baru saja dilontarkan oleh Sang Kapten. Saat mereka mendekati mata ikan tersebut, Xu Qing tiba-tiba bertanya, "Kapten, apakah Zombi Laut itu… mayat?"
Bukan hal yang biasa bagi Xu Qing untuk mengajukan pertanyaan, jadi begitu mendengarnya, mata Sang Kapten langsung berbinar. Sambil berdeham, ia menoleh ke arah Xu Qing dan berkata, "Pertanyaan seperti itu sebanding dengan—"
Xu Qing melemparkan sebuah apel besar yang ukurannya setidaknya dua kali lipat dari apel kecil yang sedari tadi ia makan.
Sang Kapten berhenti sejenak untuk melahap gigitan besar, lalu melanjutkan, "Baiklah, karena kau adalah anggota unitku, kurasa tidak ada salahnya aku memberitahumu. Zombi Laut pada dasarnya adalah mayat yang dihidupkan kembali. Mereka luar biasa, sungguh. Tanah leluhur mereka terletak di perbatasan tanah terlarang kesembilan. Kau tahu tentang tanah terlarang, kan?"
"Tanah terlarang?" tanya Xu Qing.
"Saat mata dewa di atas terbuka, lokasi yang dipandang oleh mata itu akan menjadi wilayah terlarang. Tapi… apa yang terjadi jika mata itu memandang tempat yang tadinya sudah menjadi wilayah terlarang?" Sang Kapten menatap Xu Qing dengan ekspresi yang sangat penuh arti.
Xu Qing tidak pernah memikirkan pertanyaan ini sebelumnya. Setelah merenungkannya sejenak, matanya berbinar.
Sambil menggigit apelnya lagi, Sang Kapten melanjutkan, "Jika dewa memandang wilayah terlarang, maka mutagen di tempat itu akan menjadi semakin kuat. Dan setelah mutagen melewati titik tertentu… tempat itu akan berubah menjadi tanah terlarang. Ada beberapa perbedaan besar antara wilayah terlarang dan tanah terlarang.
"Wilayah terlarang biasanya dihuni oleh makhluk mutan dan grue. Tapi tanah terlarang… dapat melahirkan spesies cerdas yang baru!
"Menurut catatan di Tujuh Mata Darah, ada setidaknya lima belas tanah terlarang di dunia ini, dan mungkin lebih. Dalam beberapa kasus, kita tahu spesies baru apa yang muncul di tanah terlarang tersebut, tetapi dalam kasus lain, kita tidak tahu. Ada satu tanah terlarang di Laut Tanpa Batas, dan tempat itu disebut Wilayah Terlarang Zombi. Para Zombi Laut lahir di tepi tanah terlarang itu. Di benua Phoenix Selatan ini, kita juga memiliki tanah terlarang. Dan itu adalah Wilayah Terlarang Phoenix, yang pastinya sudah sering kau dengar. Di dalam Wilayah Terlarang Phoenix terdapat seorang kaisar bernama Phoenix Api, entitas dewa tertinggi. Meskipun Phoenix Api tidak sepenuhnya berada di level yang sama dengan dewa sejati, ia cukup dekat untuk dianggap sebagai salah satunya. Phoenix Api tercipta di dalam tanah terlarang yang dikenal sebagai Wilayah Terlarang Phoenix."
Mendengar hal ini, jantung Xu Qing mulai berdegup kencang. Berkat perkataan Sang Kapten, sebagian selubung misteri yang menyelimuti dunia di sekitarnya mulai tersingkap.
"Kalau begitu," tanya Xu Qing, "apa yang terjadi jika mata dewa terbuka dan menatap tanah terlarang?"
Sang Kapten tidak langsung menjawab, karena mereka baru saja tiba di mata ikan dan sedang melihat ke bawah ke sebuah lubang yang dalam. Ia melompat masuk, lalu mulai berbicara, suaranya menggema dari bawah. "Sejak zaman kuno hingga sekarang, hal itu baru terjadi empat kali. Aku tidak tahu persis apa yang terjadi ketika sang dewa memandang tanah terlarang. Namun, yang aku tahu adalah setelah kejadian itu, tempat-tempat tersebut tidak lagi disebut sebagai tanah terlarang. Tempat-tempat itu disebut… domain dewa."
Chapter 119 · 7m baca
Above Forbidden Grounds
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter