Ekspresi wajah Xu Qing tetap tenang seperti biasa. Suara yang lancang itu seolah-olah memiliki kemampuan luar biasa untuk memunculkan bayangan mental tentang siapa yang berbicara. Dalam benaknya, Xu Qing dapat melihat sesosok makhluk usil dengan tiga kata terukir di wajahnya, tersenyum dengan sangat puas.
"Senior," ucap Xu Qing dengan tenang, "kamu tidak menggunakan aku sebagai wadah untuk menyelinap keluar dari dunia kedua hanya sekadar untuk memperolokku, bukan?"
Batu giok itu berkilauan. Makhluk usil tersebut berdehem. "Astaga, kamu masih marah? Aku adalah sisa-sisa terakhir dari tekad yang ditinggalkan oleh Dewa Immortal Aurora saat ia tewas, sebuah pikiran yang ada di dunia kedua. Aku butuh bantuanmu untuk keluar, dan waktuku terbatas. Ada banyak hal yang harus dilakukan.
"Jadi, tentu saja aku tidak melakukannya hanya untuk memperolokmu. Tenanglah, Nak. Tenanglah.
"Ngomong-ngomong, aku tidak minta tumpangan gratis. Dengar, kalau kamu berurusan dengan orang lain, kamu mungkin tidak akan berhasil keluar dari dunia kedua. Benar kan, atau benar? Bagaimana kalau aku menjawab beberapa pertanyaan sebagai ucapan terima kasih karena sudah membawaku keluar dari sana?
"Kamu penasaran dengan kanonku, kan? Aku bisa menjelaskannya. Pada dasarnya... aku berada di ruang dan waktu yang sama sepertimu beberapa waktu lalu. Aku berhasil menyelesaikannya sekitar setengah jalan sebelum menyadari bahwa itu terlalu sulit. Aku tidak bisa melangkah sampai akhir. Aku memberitahumu ini karena aku berharap kamu bisa melanjutkan melewati batas tempatku berhenti. Baiklah, itu saja, Nak. Sampai jumpa."
Retakan mulai merayap di permukaan batu giok tersebut. Retakan itu menyebar, dan sedetik kemudian, batu giok itu tertutupi olehnya sepenuhnya. Pada akhirnya, batu giok itu hancur menjadi debu. Seolah-olah benda itu tidak diizinkan untuk eksis.
Xu Qing mengerutkan kening. Penjelasan yang baru saja ia terima tampak sekadar basa-basi. Mengenai batu giok yang lenyap itu.... Xu Qing tidak bisa merasakan sesuatu yang tidak biasa di area tersebut. Dan bukan dirinyalah yang menyebabkan batu giok itu hancur.
Apa tujuannya sebenarnya?
Xu Qing mengamati sekeliling sejenak. Tiba-tiba, hatinya berdegup kencang dan ia menunduk menatap telapak tangannya. Di tempat itu... batu giok tersebut diam-diam terbentuk kembali. Bersamaan dengan itu, terdengarlah suara lancang si makhluk usil.
"Hahahahahahahahahaha! Aku yakin kamu tadi merasa sangat tertekan, kan? Kamu pasti sedang mengutukku karena dianggap tidak serius, dan kemudian merasa benar-benar kecewa. Kamu memikirkan semua kesulitan yang baru saja kamu lalui, hanya untuk diberi hadiah berupa beberapa patah kata yang asal-asalan. Benar kan, atau benar?"
Xu Qing tidak mengatakan apa-apa.
"Kehabisan kata-kata? Tebakanku benar, bukan? Hahahahaha! Baiklah, aku akan menambahkan beberapa spekulasi lagi. Aku yakin setelah aku kembali dan mengatakan apa yang baru saja kukatakan, kamu mungkin berpikir bahwa aku akan memberimu semacam warisan khusus, atau mungkin membocorkan beberapa rahasia menarik.
"Ehem. Nah, biarkan aku memberitahumu. KAMU. SALAH. TEBAK! Yang benar adalah... aku tidak punya apa-apa untukmu! Hahahahaha! Sampai jumpa, Nak!"
Batu giok itu kembali hancur menjadi ketiadaan.
Xu Qing mengerutkan kening, tetapi justru merasa sedikit lebih santai. Versi Dewa Immortal Aurora ini jelas-jelas tidak beres di kepalanya. Dan tampaknya itu adalah pilihan yang tepat bagi Sang Paragon Immortal untuk membunuhnya. Mengabaikan masalah tersebut, ia menatap aula istana di depannya.
Melihat istana immortal dari luar, tempat itu tampak damai dan harmonis, seperti dunia yang makmur. Namun, tempat itu terlihat sangat berbeda sekarang. Aula tersebut tampak suram dan bobrok, dan ganasnya waktu terlihat jelas di sana. Beberapa area berada dalam reruntuhan total, tanpa ada yang tersisa di sana.
Tempat ini telah dibuka berkali-kali, dan gelombang kultivator yang datang silih berganti sebagian besar menuju ke dunia ketiga. Rasanya logis untuk menyimpulkan bahwa tujuh puluh hingga delapan puluh persen harta karun dan warisan telah lenyap sekarang.
Satu-satunya alasan masih ada yang tersisa adalah karena istana immortal ini sangat besar. Ditambah dengan fakta bahwa tempat ini terbuka dari titik yang berbeda setiap kalinya, masuk akal jika masih ada setidaknya beberapa hal yang tersisa untuk diambil. Kendati demikian, dunia ketiga tidak penting bagiku. Yang penting... adalah aku memiliki kanon yang cukup untuk masuk ke dunia keempat!
Saat Xu Qing merenungkan hal-hal ini, ia melanjutkan perjalanannya. Rencananya adalah mencari pintu masuk ke dunia keempat di sekitar dunia ketiga. Mengenai batu giok yang lenyap itu, ia sama sekali tidak berniat membuang waktu untuk memikirkannya.
Namun, sikapnya yang mengabaikan batu giok tersebut tampaknya memicu efek yang tidak biasa. Ia bahkan baru berjalan sepuluh langkah ketika batu giok itu terbentuk kembali di telapak tangannya. Dan suara itu kembali berbicara....
"Hahaha! Aku kembali! Sekarang, biarkan aku menebak lagi. Aku yakin kamu berpikir aku sudah tidak waras. Kamu mungkin tadi mengucapkannya dengan kata-kata kasar tentang diriku, mungkin bahwa Sang Paragon Immortal telah mengambil keputusan yang tepat saat membunuhku. Nah, aku—”
Xu Qing mengepalkan tangannya. Suara retakan terdengar, batu giok itu hancur menjadi abu, dan suaranya terpotong. Xu Qing melangkah melewati aula istana dan menatap ke kejauhan.
Hanya saja... batu giok itu terbentuk kembali. Kali ini, bahkan sebelum makhluk usil itu sempat mulai berbicara, Xu Qing dengan paksa kembali meremukkan batu giok tersebut.
Selanjutnya, ia melayang ke udara dan menyebarkan indranya. Meskipun ini hanya sebagian kecil dari istana immortal, tempat ini tetaplah sangat luas. Meskipun ukurannya tidak setara dengan dunia utama, tempat ini pasti bisa dianggap sebagai dunia kecil.
Indra Xu Qing mengungkapkan kepadanya bahwa ada bangunan istana yang tak terhitung jumlahnya, banyak menara, taman spiritual, dan semacamnya.... Bahkan ada pegunungan dan sungai. Struktur bangunannya semuanya terbengkalai. Dinding-dindingnya runtuh dan mantra pelindung tidak berfungsi. Sebagian besar gunungnya runtuh dan mayoritas sungainya telah mengering.
Ada beberapa lokasi yang kondisinya tidak terlalu buruk. Kendati demikian, jelas ada mantra pelindung yang masih aktif. Terlebih lagi, benang-benang hitam akan muncul dan menghilang tanpa bisa diprediksi di udara, menyambar ke sana kemari dan memotong apa pun yang disentuhnya.
Ada iklim yang berbeda di area yang berbeda. Beberapa tempat diguyur hujan. Di beberapa tempat, terjadi gempa bumi terus-menerus. Lokasi lainnya dipenuhi sambaran petir dan badai angin. Sesekali, area tertentu akan menghilang, lalu muncul kembali secara tiba-tiba.
Semua interaksi itu menimbulkan kekacauan murni. Seseorang mungkin berada di satu tempat, lalu mengambil beberapa langkah ke depan dan mendapati diri mereka berada di lokasi yang sepenuhnya berbeda. Secara keseluruhan, area di sekitar Xu Qing berada dalam kondisi yang terus berubah-ubah.
Pada akhirnya ia mendeteksi beberapa kultivator. Beberapa sendirian, yang lain bekerja secara berpasangan atau berkelompok. Mereka tersebar di seluruh bagian istana ini, mencari peluang takdir. Pemindaian cepat Xu Qing menunjukkan bahwa tidak satupun dari Bintang-Bintang Cemerlang yang hadir. Termasuk Li Mengtu. Sebagian besar kultivator yang hadir tidak memiliki kanon.
Sepertinya jumlah orang yang datang lebih sedikit dari yang seharusnya....
Mata Xu Qing menyipit saat ia menyadari bahwa ia tidak dapat merasakan aura Leluhur Diling. Ia menatap ke kejauhan.
Pasti telah terjadi pertarungan sengit sebelum aku tiba di sini. Kalau tidak begitu, pasti ada cara untuk mencapai lokasi yang lebih jauh. Masuk akal juga. Istana immortal telah dibuka cukup sering sehingga orang-orang pasti telah memahami beberapa rahasianya. Bisa diduga para anggota Bintang-Bintang Cemerlang berada di dunia keempat.
Dengan menghubungkan detail-detail tertentu dari sekelilingnya dengan gambaran utuh istana immortal yang ia lihat sebelumnya, ia dapat memastikan bahwa itu adalah bagian timur istana.
Dari apa yang kuingat, ada khotbah dao yang sedang berlangsung di timur.
Bahkan saat ia memikirkan hal-hal tersebut, ia kembali mengepalkan tangannya, dan suara pecahan batu giok bergemerincing. Setelah itu, ia terbang menuju ke kejauhan. Sepanjang perjalanan, batu giok itu bekerja sangat keras. Benda itu muncul kembali berulang kali, hanya untuk dihancurkan oleh Xu Qing berulang kali pula.
Selama waktu itu, makhluk usil tersebut terus berbicara.
Xu Qing, ini sungguh keterlaluan. Kamu—”
KRUK!
"Aduh! Biarkan aku bicara! Aku—”
KRUK!
"Aarrghhh.... Biarkan aku menyelesaikan bicaraku—”
KRUK!
Setelah sekitar dua jam menjelajah, Xu Qing akhirnya berhenti sejenak sebelum menghancurkan batu giok tersebut.
"Tunggu! Berhenti!" teriak makhluk usil itu. "Kalau kamu terus menghancurkanku, aku akan mati! Dengar, aku bisa membantumu. Aku bisa memberimu beberapa saran! Selama kamu berada di alam kantong ini, kamu tinggal memanggil, 'Papa Besar Aurora!', dan aku akan memberimu kesempatan untuk mendapatkan beberapa saran tentang kanon!!"
Dengan ekspresi yang benar-benar tanpa emosi, Xu Qing bersiap untuk meremukkan batu giok itu lagi.
"Senior!" jerit makhluk usil itu. "Kamu cukup memanggil, 'Senior', oke? Bagaimana?"
Xu Qing memikirkannya lalu mengangguk. "Sepakat."
Sebuah desahan meluncur keluar dari batu giok tersebut. Kemudian makhluk usil itu berkata dengan nada kesal, "Tapi kamu harus berjanji untuk tidak menghancurku lagi. Aku benar-benar tidak paham. Rasanya... kamu benar-benar punya banyak pengalaman melakukan hal semacam ini."
Xu Qing mengabaikan makhluk usil itu saat ia menerobos kekacauan menuju ke tempat di mana ia melihat khotbah dao dilangsungkan. Sayangnya, tidak ada apa pun di sana selain puing-puing. Itu bukanlah kejutan besar. Setelah menggeledah area tersebut dengan cepat untuk memastikan tidak ada apa pun di sana, ia memutuskan untuk mencari seseorang yang bisa memberitahunya cara pergi ke dunia ketiga.
Sebelum ia sempat melakukannya, makhluk usil itu tertawa dingin dari dalam batu giok. "Kira-kira apa gunanya kamu berputar-putar mencari ke sana kemari? Memangnya kamu tidak tahu apa inti dari dunia ketiga ini??"
Xu Qing tadinya hampir menghancurkan batu giok tersebut. Namun, kalimat kedua yang baru saja diucapkan terbukti menjadi penyelamatnya.
"Oh? Tempat ini sebenarnya tentang apa?" tanya Xu Qing.
"Mohon dulu padaku agar aku beri tahu!" tuntut makhluk usil itu dengan bangga.
Tanpa ragu sedikit pun, Xu Qing berkata, "Aku mohon."
"Hah?" seru makhluk usil itu kaget. "T-t-tapi... bagaimana dengan integritasmu? Bagaimana dengan harga dirimu? Bagaimana bisa kamu begitu mudah meminta-minta belas kasihan??"
Ekspresi Xu Qing tidak berubah saat ia menatap batu giok tersebut. Ia sudah mulai terbiasa dengan makhluk usil itu, dan sejujurnya, ia memang memiliki pengalaman yang relevan. Ia pada dasarnya harus memperlakukan makhluk usil itu dengan cara yang sama seperti ia memperlakukan Kakak Tertuanya.
"Sebaiknya kamu membuktikan dirimu bisa dipercaya," ucapnya dingin, lalu ia meremas batu giok tersebut.
Makhluk usil itu tampak mencibir saat berkata, "Baiklah, akan ku beri tahu. Bagi para kultivator tanpa kanon, dunia ketiga adalah tempat peluang takdir dan keberuntungan. Tapi semua itu hanyalah permukaan saja.
"Hal yang benar-benar bagus baru akan muncul belakangan, dimulai dari dunia keempat! Dengar, kamu hanya bisa masuk ke dunia keempat jika kamu memiliki kanon. TAPI! Jika kamu ingin masuk ke dunia keempat, mau tidak mau kamu harus melewati dunia ketiga. Dunia keempat adalah tentang identitas. Dan itulah yang harus kamu dapatkan selama kamu berada di dunia ketiga: identitas!
"Itu karena dunia keempat sebenarnya berlatar di masa lalu. Identitas apa pun yang kamu dapatkan di dunia ketiga, itu akan kamu bawa serta ke dunia keempat. Sederhananya, saat kamu masuk ke dunia keempat, kamu kembali ke Istana Immortal Aurora di masa lalu! Dan di sanalah kamu bisa mendapatkan berbagai peluang takdir yang sangat menakjubkan. Jadi, sebagai kesimpulan, identitas adalah hal yang penting di sini!"
Xu Qing tentu saja merasa terkejut. "Bagaimana cara mendapatkan 'identitas' yang kamu maksud itu?"
Makhluk usil itu tampak sangat bangga pada dirinya sendiri saat ia menjawab dengan angkuh, "Aku tidak mau kasih tahu!"
Jika Anda menemukan kesalahan (konten tidak standar, iklan pengalihan, tautan rusak, dll.), Silakan beri tahu kami agar kami dapat segera memperbaikinya.
Laporkan
Di Pustaka
Didukung oleh Translate
Chapter 1143 · 7m baca
Let Me Finish Talking!
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter