Begitu Xu Qing melepaskan bekas bunga warisan itu, sensasi rileks merasuk ke dalam hati dan pikirannya. Sensasi itu memenuhi sekujur tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rasanya seolah-olah Dao tidak begitu jauh, dan dirinya merasa hampa sekaligus tidak hampa. Setelah menyingkirkan karma dari bunga warisan itu, Dao milik Xu Qing tidak lagi terikat dengan dunia luar.
Tindakannya mengirimkan sebuah pesan kepada orang yang ingin merampas Dao miliknya. Pesan itu adalah... aku tidak akan memberikannya! Dia melesat ke angkasa dan menghilang di balik cakrawala, rambut hitamnya tergerai, jubah hijaunya berkibar tertiup angin.
Jumlah total kanon yang dimiliki seseorang memang dapat memengaruhi kehebatan dalam bertarung, tetapi ada batasnya. Jika tidak, tidak mungkin ada orang yang mau mengambil kanon mereka sendiri dan menyematkannya ke dalam sebuah warisan. Para Dewa Rendah yang memasukkan kanon ke dalam warisan mereka tentu sangat memahami hal tersebut. Yang sebenarnya menentukan tingkat kekuatan mereka adalah kelengkapan kanon mereka, bukan seberapa banyak kanon yang mereka miliki.
Dengan kata lain, bagiku pribadi, aku sama sekali tidak membutuhkan jenis kanon yang lain. Yang kubutuhkan... adalah mendorong kanon ruang-waktu miliknya hingga batas maksimal, dan memastikan kanon itu sempurna!
Xu Qing mendongak menatap aurora merah tua di kejauhan.
Kanon ruang-waktu memiliki fondasi pada lima elemen. Waktu dan ruang adalah landasannya. Dengan fondasi dan landasan itu, kanon ini jelas bisa dikatakan sangat mendalam. Aku pasti bukan satu-satunya orang yang memperoleh pencerahan tentang ruang-waktu. Sejujurnya, saat aku berhasil... aku memahami kebenaran tersebut.
Ada orang-orang lain sebelum aku yang telah menapaki jalan ini. Kendati demikian, jumlahnya tidak banyak. Terlebih lagi... tidak ada satu pun dari mereka yang menempuhnya hingga ke ujung. Beberapa hanya berhenti di tengah jalan. Beberapa mengubah Dao mereka. Saat ini, jalan ini tidak memiliki sumber.
Sambil melanjutkan perjalanan, dia merenungkan segala sesuatunya secara mendalam. Dia merasa bahwa jika dia bisa mendapatkan pencerahan yang lebih dalam lagi tentang ruang-waktu, maka meskipun dia tidak membentuk ekstrem kesembilan, dia tetap akan mampu menggunakan kanon untuk mendorong basis kultivasinya melewati ambang batas terobosan. Dia tetap bisa membentuk dunia kesembiamnya dan menjadi Penguasa Kekaisaran!
Namun, bagaimana caraku mendapatkan pencerahan yang lebih dalam...?
Saat terus melangkah menembus ruang-waktu, dia mengirimkan jiwanya untuk mencari petunjuk dan jawaban.
Tujuh hari kemudian, dia berhenti. Ruang-waktu di sekitarnya bergolak.
Beberapa jarak di depannya terdapat sebuah gunung dengan tujuh belas puncak, yang semuanya memiliki kolam air jernih di atasnya yang menyerupai rembulan purnama. Di samping setiap kolam terdapat sebuah paviliun segi delapan, yang masing-masing memiliki ukiran pola geografis di lantainya. Tempat ini... menceritakan kisah tentang geografi, itulah sebabnya ketujuh belas kolam air ini disebut Kolam Kisah Geografi.
Kolam-kolam itu dikelilingi oleh tanaman aneh dan luar biasa yang memancarkan energi roh keabadian yang telah terakumulasi selama bertahun-tahun. Di tengah energi yang kuat itu, bayangan orang-orang kadang kala muncul, mencerminkan segala aspek kehidupan.
Tempat itu menjadi terkenal karena fenomena aneh tersebut. Selama bertahun-tahun, para fana yang tanpa sengaja tersesat ke tempat ini akan tenggelam dalam kondisi mimpi dan terbangun dengan kebingungan. Namun, tempat itu tidak berbahaya. Karena alasan tersebut, tempat ini tetap terjaga selama bertahun-tahun, dan para kultivator sering kali datang ke sini untuk mencari Dao mereka.
Xu Qing mengamati tempat itu dan mengingat informasi dari gulungan bambu milik Yunmen Qianfan.
Gulungan itu juga berisi legenda tentang pola-pola di lantai paviliun. Konon, pola-pola itu dibuat oleh sesosok makhluk mahakuasa yang pernah menjelajahi seluruh sudut Bintang Kelima. Dao makhluk itu berkaitan dengan pengukuran, dan desain di lantai menggambarkan geografi gugusan bintang tersebut.
Setelah waktu yang sangat lama berlalu, orang-orang perlahan-lahan berhenti melihat pola-pola di lantai paviliun. Yang bisa mereka lihat hanyalah bayangan buram tak berbentuk yang tidak memiliki arti bagi mereka. Alasannya adalah karena desain tersebut perlahan-lahan telah terserap ke dalam air kolam.
Kendati demikian, setiap kali satu hari pusaran berganti menjadi hari pusaran berikutnya, orang-orang dapat melihat ke dalam air dan menggunakan kerinduan serta obsesi batin mereka untuk membentuk gambaran yang jelas tentang dunia batin mereka. Itulah salah satu alasan mengapa begitu banyak kultivator datang ke tempat ini untuk berlatih kultivasi. Tempat ini mampu memurnikan hati dan jiwa, serta mendorong mereka ke tingkat yang lebih tinggi.
Xu Qing melanjutkan perjalanannya dengan berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya.
Setibanya di puncak gunung pertama, dia berjalan ke tepi kolam dan melihat proyeksi bayangan para makhluk hidup yang menjalani kehidupan mereka. Tempat itu tampak seperti dunia nyata, dengan orang-orang yang tumbuh dan mati, serta menampilkan segala emosi kehidupan. Saat dia mendekat, tanaman-tanaman yang telah berwujud seperti manusia itu semuanya berhenti bergerak, kemudian berbalik dan bersujud kepada Xu Qing.
Energi roh di sini benar-benar kuat.
Xu Qing mengangguk, lalu melangkah mendekat untuk mengamati pola geografis di lantai paviliun. Sesaat kemudian, dia perlahan menggelengkan kepalanya.
Bukan Dao-ku.
Berikutnya, dia menghampiri dan mengamati proyeksi Dao di dalam air kolam. Pada pandangan pertama, semuanya tampak buram. Pada pandangan kedua, semuanya menjadi jernih. Citra yang tercipta begitu sangat jelas.
Xu Qing mengamatinya dengan tenang sejenak... lalu menggelengkan kepalanya. Dia tidak membutuhkan pandangan ketiga. Tempat ini memang memiliki Dao, tetapi sayangnya... itu bukanlah Dao yang dicarinya.
Xu Qing mendaki puncak gunung kedua, lalu yang ketiga. Pada akhirnya, dia mendatangi ketujuh belas puncak tersebut. Dia tidak mendapatkan apa pun, dan akhirnya meninggalkan tempat itu.
Butuh waktu hingga sisa bulan itu untuk tiba di Cekungan Cloudmire. Tempat itu terletak di sebelah selatan Kolam Kisah Geografi, dan dikelilingi oleh pegunungan menjulang tinggi. Ada begitu banyak awan di dalamnya hingga menyerupai kepulan asap.
Tanahnya berupa rawa lumpur lembut yang menjadi tempat sempurna bagi tumbuh-tumbuhan untuk berkembang. Faktanya, ada bunga fantastis yang disebut 'teratai cloudmire' yang tumbuh di sana. Kelopaknya menyerupai awan, dan memancarkan wewangian yang luar biasa. Informasi dalam gulungan bambu Yunmen Qianfan mengklaim bahwa teratai tersebut dapat memurnikan jiwa seseorang dan memudahkannya dalam memahami Dao langit dan bumi. Akibatnya, bangau abadi menjaga area tersebut. Seluruh tempat itu tampak seperti surga abadi.
Ketika Xu Qing memasuki Cekungan Cloudmire, dia dengan lembut mengelus para bangau abadi, dan saat tangisan lembut mereka memenuhi udara, dia mengambil sekelopak bunga dari salah satu teratai cloudmire.
Kelopak bunga itu melayang di telapak tangannya bagaikan awan ilusi. Memang benar bahwa bunga itu memiliki efek pemurnian pada hati dan jiwa. Namun, hati Xu Qing sudah teguh dan tidak memerlukan pemurnian. Meskipun dia memiliki obsesi, tidak satupun dari obsesi itu yang dapat dimurnikan oleh bunga tersebut. Dia tinggal selama tiga hari sebelum akhirnya pergi.
Dia berjalan ke selatan, menempuh jarak yang lebih jauh daripada yang bisa ditempuh oleh seorang fana dalam seratus masa hidup. Bahkan seorang Penguasa Kekaisaran akan membutuhkan waktu sebulan untuk mencapainya. Dia menuju ke Rawa Dewa yang Gugur.
Tanah di sana sangat luas dan dipenuhi vegetasi hijau. Aurora di langit memiliki tujuh warna, hampir seperti pelangi. Pemandangan itu dan awan-awan yang menakjubkan menciptakan suasana bagai di dalam mimpi.
Pemandangan itu segera menarik perhatian Xu Qing. Lanskap seperti ini tidak biasa dijumpai di Bintang Kelima, karena aurora biasanya berwarna merah. Hanya di tempat inilah berbagai macam warna bersemayam di dalamnya.
Itulah sebabnya gulungan bambu Yunmen Qianfan memuat sebuah kisah tentang aurora. Legenda mengatakan bahwa tempat inilah yang menjadi sumber aurora.
Xu Qing memandang dengan penuh renungan ke arah rawa dan pelangi warna-warni tersebut.
Kemudian dia mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh Li Mengtu kepadanya tentang Dewa Aurora.
Konon, Dewa itu dulunya adalah pemimpin dari semua Dewa Abadi lainnya, hanya saja dia memberontak dan dibunuh oleh Penguasa Abadi. Kanon miliknya diambil dan diubah menjadi aurora, sementara arwahnya jatuh di tempat ini. Itulah asal usul nama Rawa Dewa yang Gugur.
Rawa tersebut dipenuhi dengan vegetasi dan apa yang tampak seperti meteorit. Meteorit yang terbesar seukuran gunung, sementara yang terkecil sebesar biji kacang. Semuanya memancarkan cahaya terang dan energi yang berdenyut. Aura di tempat ini sangat kuno.
Meteorit-meteorit itu tidak berasal dari luar langit, setidaknya menurut legenda. Sisa-sisa meteorit itu berasal dari masa ketika Bintang Kelima dipadatkan. Dan meteorit-meteorit itu mengandung kekuatan misterius.
Saat Xu Qing mengamatinya, matanya bersinar terang. Meskipun tubuh fisiknya tidak bereaksi banyak terhadap tempat ini, saat pikirannya merambah luas, dia bisa merasakan sesuatu yang unik.
Ada niat penuh kebencian di sini... Niat itu menggerakkan energi roh, menyebabkannya membentuk lautan.
Dia terus berjalan, melewati satu meteorit demi meteorit. Beberapa di antaranya disentuhnya dengan jari. Dia menggunakan kehendak ilahi untuk mengamati yang lain. Dan sebagian lagi dia selami melalui ruang-waktu.
Meteorit yang disentuhnya ternyata kosong! Meteorit yang ditelitinya dengan kehendak ilahi kosong! Meteorit yang diamatinya dengan ruang-waktu juga kosong! Menyadari hal itu, Xu Qing menghentikan langkahnya.
Jadi, seorang Dewa Abadi tewas di sini... Ini mungkin adalah Dao yang kubutuhkan.
Menyipitkan matanya, dia melanjutkan langkah. Dia berjalan maju, mencari pencerahan dari tiupan angin dan kedamaian yang melingkupinya. Di dalam lubuk hatinya, batinnya terbenam dalam keheningan yang hampa.
Akhirnya, ketika dia mendekati bagian tengah Rawa Dewa yang Gugur, dia tiba-tiba merasakan gesekan, seolah-olah ada sesuatu yang menolak kemajuannya. Pada akhirnya, dia tidak dapat melangkah maju lagi. Gesekan itu bagaikan bunyi dentang lonceng, yang bergema di dalam ruang-waktu.
Keheningan itu pecah, dan pikirannya tersadar. Saat mendongak, dia melihat sebuah tugu batu raksasa berdiri tepat di depannya, permukaannya dipenuhi dengan simbol-simbol magis. Dia tidak tahu dari mana tugu itu berasal, tetapi dia bisa merasakan keagungannya.
Sesaat kemudian, Xu Qing mengalihkan pandangannya dari tugu tersebut.
Ini adalah tempat yang tidak eksis di dalam ruang-waktu ini.
Dia duduk bersila di tempat yang terisolasi itu. Dia memejamkan mata. Dia melanjutkan pencariannya. Angin berhembus. Aurora mengalir.
Beberapa bulan kemudian, orang-orang mulai berdatangan ke Rawa Dewa yang Gugur. Mereka datang dari segala penjuru, tetapi tujuan mereka sama: tugu batu di tengah rawa.
Tidak seperti Xu Qing, gesekan itu memaksa mereka untuk berhenti jauh lebih awal. Oleh karena itu, mereka berhenti dan duduk pada jarak yang berbeda-beda dari tugu batu tersebut. Ketika mereka melihat Xu Qing, ekspresi mereka berubah gentar, dan rasa takut merayap di hati mereka. Salah satu alasannya adalah karena begitu dekatnya posisi Xu Qing dengan tugu batu itu. Alasan lainnya adalah sensasi yang mereka rasakan saat memandangnya.
Di antara orang-orang itu, ada seseorang yang jiwanya terguncang sampai ke akar. Bahkan, wajahnya tampak pucat pasi, dan dia seketika ingin berbalik dan pergi. Namun, sebelum dia sempat mewujudkan pikiran itu, Xu Qing membuka matanya dan menatapnya dengan tenang.
"Kesini."
Jantung orang itu mulai berdegup kencang, dan dia kesulitan bernapas dengan normal.
Pada saat yang sama, sebuah jalur terbuka di antara kerumunan orang yang berkumpul, langsung mengarah ke Xu Qing. Kata-kata yang keluar dari mulut Xu Qing bagaikan kehendak langit. Kata-kata itu adalah perintah. Akibatnya, semua orang mundur ke belakang. Yang bisa dilakukan oleh orang tersebut hanyalah menyusuri jalur itu sejauh mungkin lalu membungkuk dengan penuh rasa hormat.
"Lama tak jumpa, Patriark Diling," ucap Xu Qing. Orang ini adalah orang yang sama yang ditemuinya di Gurun Waktu bersama Yunmen Qianfan. Dan keduanya telah sepakat untuk membagikan salah satu kunci rahasia.
Patriark Diling tersenyum masam. Memang sudah sangat lama sejak terakhir kali mereka saling bertemu. Namun, dia tidak pernah menduga bahwa ketika mereka bertemu kembali, orang ini telah menguasai kanon.
Patriark Diling tahu bahwa situasinya saat ini sangat genting, dan nyawanya tidak berada di tangannya sendiri. Jika dia mengingat kembali, sebenarnya sudah ada tanda-tanda bahwa segala sesuatunya akan berakhir seperti ini, bahkan sejak di Gurun Waktu. Bagaimanapun juga, seseorang yang mampu mengendalikan badai waktu jelas bukan orang biasa. Tokoh terpilih dari klannya yang telah diubah menjadi patung masih berada dalam wujud itu tepat di luar gurun.
"Jika Anda tidak puas denganku, Sesama Daois," ucap Patriark Diling dengan tenang, "aku bisa menyerahkan kunci rahasia itu kepada Anda."
Sambil berkata demikian, dia mengeluarkan sebuah botol giok. Di dalam botol itu terdapat setetes darah. Itu adalah darah Patriark Yunmen, yang di dalamnya terkandung kunci rahasia tersebut. Meletakkan botol itu di hadapan Xu Qing, Patriark Diling menundukkan kepalanya dan menunggu jawaban.
Sesaat kemudian, Xu Qing bertanya dengan tenang, "Dari mana tugu batu ini berasal?"
Patriark Diling mendongak menatap tugu batu yang megah itu. Tidak berani mencoba menipu Xu Qing, dia berujar pelan, "Di sinilah arwah Dewa Aurora jatuh. Istana abadi miliknya runtuh di sini juga. Tugu itu... adalah batu ambang pintu dari Istana Abadi Aurora!"
Chapter 1135 · 8m baca
Fallen Immortal Moors
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter