Larut malam, Xu Qing melesat menembus perkemahan bagaikan seekor kucing, gesit dan tak bersuara.
Sesekali, ia merraih ke atas dan membekap mulutnya sendiri untuk mencegah dirinya terbatuk. Awalnya, itu tidak terlalu sakit. Namun, saat ia terus memaksa dirinya untuk tidak batuk, paru-parunya mulai terasa terbakar, dan wajahnya berubah pucat pasi.
Untungnya, perkemahan itu tidak terlalu besar, dan tidak butuh waktu lama untuk mencapai halaman Sersan Thunder, serta kabinnya sendiri.
Alih-alih langsung bergegas masuk, ia berdiri tidak jauh dari sana, berusaha menstabilkan pernapasannya. Setelah menarik dan mengembuskan napas, ia mulai berjalan lagi.
Membuka gerbang bambu, ia melihat sekeliling, lalu memasuki kabinnya.
Begitu berada di dalam, ia tidak bisa menahan diri lagi dan memuntahkan seteguk besar darah hitam. Ketika darah itu ciprat ke tanah, terdengar suara mendesis yang nyaring. Setelah memuntahkan darah tersebut, sedikit warna kembali ke wajahnya. Sambil terengah-engah, ia menjatuhkan diri ke posisi bersila dan mulai melakukan latihan pernapasan meditasi.
Waktu berlalu. Akhirnya, ia membuka matanya.
Racun yang sangat kuat!
Gumpalan gas yang digunakan oleh Gunung Lemak memang beracun tinggi. Namun, jika Xu Qing tidak mengambil tindakan seperti yang dilakukannya tadi, Gunung Lemak mungkin akan bisa meminta bantuan, dan itu akan membuat keadaan jauh lebih rumit. Bahkan jika Xu Qing pura-pura terluka, ia meragukan hal itu akan cukup untuk memperdaya Gunung Lemak dan memegang kendali.
Begitu pria itu menyadari dirinya sedang diikuti, ia telah memanipulasi situasi dengan sempurna. Satu-satunya kesalahannya adalah meremehkan seberapa tangguh Xu Qing.
Pada akhirnya, Xu Qing mempercayai kristal ungu di dadanya dan kekuatan regenerasinya. Ia menerjang bahaya gas beracun, melesat maju untuk membunuh lawannya secepat mungkin.
Sepertinya ia telah membuat keputusan yang tepat. Kristal ungu itu benar-benar memiliki kemampuan untuk menetralisir racun dan memulihkan kerusakan yang ditimbulkannya. Paru-parunya masih terasa gatal, dan ia masih merasa ingin batuk, tetapi itu adalah tanda-tanda bahwa proses penyembuhan sedang berlangsung.
Para pemulung ternyata lebih rumit dari kelihatannya. Kalau dipikir-pikir sekarang, jika aku tidak menghantam Kuda Empat dengan begitu akurat, dan jika dia sempat melawan, segalanya akan jauh lebih sulit.
Saat duduk di sana, ia merenungkan kedua bentrokan itu dan mencoba mengenali area di mana ia bisa bertindak lebih baik. Tak lama kemudian, ia menghela napas berat dan memeriksa isi kantongnya. Ia tahu ada sesuatu yang kurang.
Gunung Lemak ingin membunuhku sendirian karena dia mengincar sesuatu dari kantong Kuda Empat. Dia bahkan siap memburuku demi benda itu. Apa sebenarnya yang begitu istimewa dari semua barang ini?
Ia menuangkan isi kantong itu di hadapannya, termasuk semua koin roh. Setelah melirik sekumpulan barang itu, ia mulai mempelajari setiap benda satu per satu. Dengan cara seperti itu, ia mengidentifikasi objek mana yang sifatnya biasa saja. Yang pada dasarnya adalah semuanya. Pada akhirnya, ia hanya mendapati sepotong besi. Sambil menatapnya dengan kening berkerut, ia mencoba menentukan apa yang istimewa dari benda itu.
Apakah ini yang dia incar? Rasanya sama sekali tidak istimewa. Apakah ini bahan tempa yang berharga?
Setelah berpikir sedikit lebih lama, ia membereskan semuanya dan memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak informasi tentang besi tersebut.
Selanjutnya, ia memeriksa isi kantong Gunung Lemak.
Kantong itu tidak berisi pil putih apa pun, tetapi memiliki banyak koin roh. Terdapat pula banyak koleksi botol dan kendi yang berisi zat-zat beracun. Xu Qing tidak berani membuka satupun dari botol-botol itu.
Terakhir, ia memeriksa sepotong ambar yang setengah hancur yang hendak digunakan Gunung Lemak sebelum ia mati.
Dan benda apa pula ini...? Dia nyaris menghancurkannya tepat sebelum aku membunuhnya. Menyadari bahwa ia tidak memiliki cukup informasi untuk membuat kesimpulan, ia menyimpannya dengan hati-hati.
Setelah selesai dengan semua urusan itu, ia fokus pada kultivasinya.
Sekarang setelah ia berada di tingkat kedua Kondensasi Qi, ia mendapati bahwa ketika ia tidur, ia hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam sebelum tubuhnya benar-benar pulih. Karena itu, ia dapat menghabiskan sebagian besar waktu luangnya untuk berkultivasi.
Dan sekarang ia tidak perlu lagi membayangi Gunung Lemak, ia memiliki lebih banyak waktu. Sepanjang hari berikutnya ia tetap fokus pada meditasi. Menjelang senja, barulah ia membuka matanya dan menatap pintu.
Tepat pada saat yang bersamaan, ia mendengar suara Sersan Thunder.
"Anak Muda, keluarlah ke halaman."
Xu Qing bangkit dan berjalan keluar.
Sersan Thunder telah menyiapkan sebuah meja di halaman, dan meja itu dipenuhi dengan makanan serta minuman. Secara keseluruhan, ada enam kursi dan enam set alat makan. Sersan Thunder memberi isyarat agar Xu Qing duduk. Melihat semua mangkuk dan sumpit itu, Xu Qing hanya bisa menebak bahwa orang-orang akan datang untuk makan bersama.
"Apakah kau sudah beradaptasi dengan markas dalam beberapa hari terakhir ini?" tanya Sersan Thunder, melirik ke arah gerbang utama.
"Cukup baik," jawab Xu Qing sambil memandangi hamparan makanan tersebut.
Entah karena sesi kultivasi yang panjang atau aroma harum yang menguar, perut Xu Qing mendadak berkeroncong keras.
Sersan Thunder mendengarnya dan tertawa. "Tenang saja. Kita sedang menunggu beberapa tamu."
"Maksudmu sisa anggota Pasukan Petir?"
Pria tua itu mengangguk dan hendak mengatakan sesuatu, ketika ia tiba-tiba menoleh kembali ke arah gerbang utama. Xu Qing melakukan hal yang sama.
Seorang pria berbadan kekar muncul di sana, berjalan masuk dari jalanan yang temaram.
Tubuhnya lebih tinggi dan lebih berotot daripada Sapi Kejam, hingga menyerupai sebuah gunung kecil. Otot-ototnya bergelombang di setiap langkah yang diambilnya, memancarkan aura yang mengintimidasi. Sebuah perisai baja besar terikat di punggungnya, dan ia membawa gada bergigi serigala yang lebih tinggi daripada Xu Qing. Setiap langkah kakinya menghasilkan suara gaung yang menggema. Ketika ia melangkah masuk ke halaman, tempat itu seketika terasa jauh lebih sempit, dan kehadirannya begitu kuat hingga membuat Xu Qing merasa seolah-olah sedang berada di hadapan salah satu binatang mutan raksasa di kota reruntuhan tempat asalnyan.
"Hei, Bos, aku kembali," kata pria bertubuh besar itu, menyeringai kepada Sersan Thunder. Kemudian ia melihat ke arah makanan, dan matanya langsung berbinar. Ia dengan cepat melepaskan perisainya dan menaruhnya di samping bersama gada bergigi serigala miliknya. Keduanya mengeluarkan suara dentuman keras saat diletakkan. Ia duduk, dan kursi itu berderit sangat keras. Selama waktu itu, pria tersebut sama sekali tidak melirik Xu Qing walau sekilas.
Sersan Thunder menyeringai, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Alhasil, pria raksasa itu hanya duduk di sana menatap makanan tanpa menyentuhnya sama sekali.
Sementara itu, Xu Qing melirik sekilas dari sudut matanya ke arah perisai dan gada bergigi serigala tersebut. Mengingat suara yang mereka hasilkan saat diletakkan, benda-benda itu jelas sangat berat. Bahkan... ia yakin beratnya melebihi berat badannya sendiri.
Tidak butuh waktu lama sebelum keheningan di halaman itu kembali pecah. Dua orang muncul kali ini, seorang pria dan seorang wanita.
Pria itu masih muda, dengan sebuah busur panah tersampir di punggungnya. Tubuhnya tinggi dan kurus, serta memiliki bekas luka berbentuk salib di wajahnya yang tampak seperti diukir secara paksa. Hal itu, dipadukan dengan tatapan matanya yang tajam, membuatnya tampak sangat mengintimidasi.
Wanita itu tampak berusia sekitar tiga puluhan. Fitur wajahnya biasa saja, tetapi ia mengenakan pakaian kulit ketat yang membuatnya terlihat sangat seksi dan memikat.
Begitu mereka masuk, Sersan Thunder menyapa, dan saat mereka duduk, pemuda berbusur itu menatap Xu Qing dengan sangat lekat.
Adapun sang wanita, ada secercah rasa penasaran di matanya saat ia tertawa dan berkata, "Bos, kau pergi untuk satu tugas dan pulang membawa seorang anak kecil? Aku tidak tahu kalau kau begitu bugar dan perkasa, Pak Tua. Apakah itu sebabnya kau memanggil kami semua kembali ke sini? Untuk memberitahu kami bahwa kau menyembunyikan anak haram selama ini?"
"Umurnya tidak cocok," tukas pria berbadan kekar itu.
Xu Qing menutup mulutnya rapat-rapat, namun ia menggeser kaki kirinya sedikit ke samping untuk memudahkannya meraih belati jika diperlukan. Ia punya firasat bahwa belati itu tidak akan banyak membantu jika harus melawan tiga orang, dan ia bisa merasakan bahwa pendatang baru ini sangat kuat. Faktanya, mereka mungkin lebih kuat daripada Gunung Lemak. Hal itu terutama berlaku untuk pemuda berbusur, yang tatapan matanya seolah mampu menembus jauh ke dalam diri Xu Qing.
Mengabaikan yang lain, Sersan Thunder menatap Xu Qing, lalu menunjuk ke arah pria berbadan kekar itu. "Ini Hantu Liar. Dia telah mencapai tingkat ketiga pemurnian tubuh, dan merupakan petarung kuat bawaan lahir."
Sersan Thunder kemudian menunjuk yang lainnya dan memperkenalkan mereka.
"Raptor Anggun berada di tingkat ketiga Kondensasi Qi. Dia bisa berkomunikasi dengan hewan. Sebagian besar anjing liar di perkemahan ini adalah mata dan telinganya.
"Salib berada di puncak tingkat keempat Kondensasi Qi. Sedikit sekali orang di tingkat yang sama bisa menandinginya.
"Dan ini si Anak Muda. Dia telah mencapai tingkat kedua pemurnian tubuh."
Anggota pasukan lainnya mendengarkan Sersan Thunder dengan penuh hormat, begitu pula dengan Xu Qing.
"Sekarang, mari kita makan. Kita bisa mengobrol sambil makan." Sersan Thunder mengambil sepotong daging dan mulai makan. Kemudian ia melanjutkan, "Alasan aku memanggil kalian semua kembali adalah karena panen musim semi datang lebih awal tahun ini, dan pemilik perkemahan telah mengumumkan hadiah misi baru. Kelompok mana pun yang membawa paling banyak semanggi berdaun tujuh akan menerima tiga pil pembersih debu. Dan seperti yang kalian tahu, pil pembersih debu jauh lebih efektif daripada pil putih. Bagaimana kalau kita pergi ke lahan tersembunyi kita dan memulai panen lebih awal?"
Mendengar kata-kata itu, mata anggota pasukan lainnya bersinar terang, dan mereka semua mengangguk setuju.
Xu Qing belum pernah mendengar tentang pil pembersih debu, tetapi berdasarkan perkataan Sersan Thunder, pil itu lebih baik daripada pil putih.
"Karena kalian semua sepakat, bersiaplah untuk berangkat. Dan si Anak Muda akan ikut."
"Dia?" ucap Hantu Liar.
Salib mengerutkan kening. "Bos, tingkat kedua pemurnian tubuh terlalu lemah. Itu berarti kita harus menjaganya sepanjang waktu. Itu tidak tepat."
"Setiap orang pasti punya pengalaman pertama," kata Sersan Thunder, menatap Salib terlebih dahulu, lalu beralih ke Xu Qing. "Itu pilihanmu, Anak Muda."
"Aku bisa melakukannya," jawab Xu Qing singkat sambil mengangguk tegas.
Ia memiliki lima pil putih di kantongnya, sehingga ia tidak merasa terlalu membutuhkan pil pembersih debu. Namun, ia sudah tahu seperti apa kehidupan di markas pemulung. Ia cepat atau lambat harus memasuki wilayah terlarang itu, oleh karena itu... masuk akal jika ia pergi bersama sekelompok orang yang sangat berpengalaman. Ia bisa belajar banyak dari mereka.
Salib tidak berkata apa-apa lagi.
"Habiskan makanan kalian," ujar Sersan Thunder, "lalu bersiaplah untuk berangkat malam ini. Kita akan berkumpul besok pagi dan langsung berangkat." Setelah berkata demikian, ia bangkit dan masuk ke kabinnya.
Xu Qing menusuk sepotong daging dan memasukkannya ke dalam mulut. Kemudian, dengan sekilas pandang terakhir kepada ketiga anggota pasukan itu, ia kembali ke kabinnya. Ia tidak pernah merasa nyaman berada di dekat orang asing, dan tidak punya hasrat untuk duduk-duduk bersama mereka.
Tidak ada hal aneh yang terjadi sepanjang malam, dan tidak banyak persiapan yang harus dilakukan Xu Qing. Ia sudah terbiasa hidup dalam kondisi siap siaga.
Keesokan paginya, mereka berkumpul, dan Sersan Thunder memimpin jalan menuju pinggiran perkemahan.
Langit biru terbentang di atas, dan matahari bersinar terang. Seekor elang berputar-putar di udara, seolah mengawasi mereka.
Begitu pula dengan para pemulung yang mereka lewati di perkemahan, mereka memperhatikan kelompok tersebut. Mungkin itu karena postur tubuh Hantu Liar yang menjulang tinggi dan Raptor Anggun yang memikat. Bahkan beberapa orang dari rombongan kafilah yang baru tiba turut melirik ke arah mereka.
Sebenarnya, ada banyak pemulung berkumpul di area kafilah, tampak seolah sedang menunggu sesuatu.
Xu Qing belum keluar seharian penuh, jadi ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Melihat ekspresinya yang penasaran, Raptor Anggun tersenyum dan berkata, "Aku dengar kafilah dari Tanah Ungu tiba semalam. Mereka membawa seorang tabib terkenal. Tabib itu bahkan menyembuhkan cedera pinggul si tua cabul Jackal Pincang. Sekarang semua orang mengantre untuk berobat."
"Tabib itu pasti meraup banyak uang," gerutu Hantu Liar dengan nada iri.
Xu Qing juga merasa iri. Setelah mengamati pemandangan itu sejenak, perhatiannya tertarik pada hal lain.
Ia bukan satu-satunya. Hantu Liar dan Raptor Anggun mendadak tampak sangat waspada. Hanya Salib dan Sersan Thunder yang tetap tenang seperti biasa. Kendati demikian, mereka juga menyadari apa yang ada di depan sana.
Ada kelompok pemulung lain yang menghadang jalur mereka.
Kelompok itu beranggotakan sekitar tujuh atau delapan orang, terdiri dari pria maupun wanita. Semuanya memancarkan aura kebrutalan.
Mereka mengerumuni seorang pria tua yang mengingatkan Xu Qing pada Sersan Thunder. Pria itu memiliki rambut kusut dan tatapan haus darah di matanya. Terlebih lagi, ia sedang duduk di atas bangkai seekor anjing liar dan perlahan-lahan mengunyah salah satu kakinya.
"Cari Gunung Lemak dan Kuda Empat," ujarnya dengan nada sinis. "Keparat-keparat itu. Beraninya mereka terlambat. Apakah mereka sudah bosan hidup?"
Ini adalah Pasukan Bayangan Darah!
Pria tua yang memakan daging anjing itu adalah kapten Pasukan Bayangan Darah, dan ia sama sekali tidak berusaha menyembunyikan fluktuasi kekuatan rohnya. Ketika Xu Qing mendengarnya menyebut nama Gunung Lemak dan Kuda Empat, matanya menyipit untuk mencegah kilatan cahaya muncul di sana.
Sementara itu, Raptor Anggun menatap bangkai anjing tersebut, dan matanya menyala dengan kemarahan serta niat membunuh. Itu adalah anjing peliharaannya!
Tepat pada saat inilah Pasukan Bayangan Darah menyadari kehadiran Sersan Thunder dan yang lainnya. Sambil menyeringai di atas bangkai anjing itu, pria tua tersebut menatap Raptor Anggun dan menjilat bibirnya.
"Hei, gadis jalang kecil. Kau yang memelihara anjing ini, kan? Harus diakui, rasanya lezat. Tapi itu membuatku penasaran seperti apa rasa dirimu."
Chapter 11 · 9m baca
A Gathering
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter