Hampir berbarengan dengan kata-kata yang diucapkan oleh lelaki tua itu, bagian dalam reruntuhan Timeruins yang remang-remang tiba-tiba memancarkan cahaya yang berkilau menyilaukan. Cahaya itu sangat megah, hampir seperti cahaya yang dibiaskan dari permukaan air, lalu bergelombang naik untuk menerangi kanopi langit dengan kecerahan warna-warni. Sementara itu, daerah berawa di sana juga mengalami perubahan dengan cara yang misterius. Uap air yang pekat mengepul entah dari mana, dengan cepat menutupi seluruh rawa, dan mengurangi jarak pandang secara signifikan.
Xu Qing dan Erniu melihat sekeliling dengan ekspresi terkejut di wajah mereka. Sebelum salah satu dari mereka sempat berbuat apa-apa, suara yang meruntuhkan surga dan menghancurkan bumi meletus, seperti deru binatang buas atau amukan seorang dewa.
Berikutnya, sebuah sungai besar muncul, dengan ombak yang membawa waktu itu sendiri saat mengalir deras ke arah mereka. Dalam kedipan mata, sungai itu menerjang tepat melewati Xu Qing dan Erniu, lalu menghilang ke dalam sesuatu yang mirip lubang hitam sekitar 30.000 meter jauhnya.
Seolah-olah sungai yang bisa dilihat oleh Xu Qing dan Erniu hanyalah bagian kecil dari sungai yang jauh lebih perkasa. Air itu datang dari surga, mengalir melewati mereka, lalu menghilang 30.000 meter jauhnya, di mana ia pergi ke bagian waktu yang berbeda.
Yang lebih mencengangkan lagi adalah, meskipun air sungai itu mengalir deras tepat di depan mereka, ia tidak tampak berada di dimensi yang sama dengan mereka. Air yang mengalir itu tampak ilusi, seolah-olah ini hanyalah bayangan yang muncul karena suatu alasan di lokasi mereka.
Xu Qing langsung mengenali apa yang sedang dilihatnya. "Sungai Waktu!"
Di mana pun waktu berlalu, sungai ini ada. Namun, untuk membuatnya muncul membutuhkan otoritas yang sangat unik atau tingkat kekuatan yang luar biasa. Xu Qing memiliki pengalaman dengan sungai ini, entah itu Putri Brightblossom di Wilayah Moonrite atau para dewa lain yang memiliki kemampuan waktu. Semuanya berinisiatif menggunakannya, menyebabkan sungai besar itu muncul, lalu meminjam kekuatannya untuk memancing waktu dari dalamnya. Semuanya menggunakannya.
Tetapi apa yang terjadi dengan lelaki tua ini, yang tampaknya berasal dari dunia di luar dunia mereka, benar-benar berbeda. Lelaki tua itu berdiri di tengah Sungai Waktu, menatap ke arah dari mana sungai itu berasal. Dia jelas sedang menunggu. Dia sedang menunggu 'hal kecil' yang telah dia sebutkan tadi.... Tampaknya, di matanya, Sungai Waktu yang agung bukanlah sesuatu yang misterius atau mendalam. Seolah-olah dia dapat menghitung alirannya dengan mudah, dan memahami semua karmanya. Rupanya... dia berdiri di dalam waktu itu sendiri, menunggu semacam mangsa untuk muncul. Ini adalah tingkat yang sepenuhnya melampaui konsep sekadar menggunakan sungai.
Berkat persepsi dewa Xu Qing, pikiran dan hatinya berdenyut selaras dengan sungai itu. Hal itu membuatnya teringat ketika dia mendapatkan pencerahan tentang otoritas suara. Otoritas dewata adalah sesuatu yang purba yang berasal dari kekacauan-asal itu sendiri. Itu adalah kekuatan kuno yang luar biasa yang ada di dalam relung gelap dunia. Hanya dengan mampu memegangnya saja sudah menandakan bahwa seseorang memenuhi syarat untuk menggunakannya. Dan itu akan menciptakan tanda segel.
Namun itu hanya berkaitan dengan penggunaannya. Ini adalah tingkat yang jauh lebih tinggi yang berkisar pada pengendalian. Saat Xu Qing memandang lelaki tua ini dan merenungkan hal-hal ini, dia sampai pada kesimpulan... bahwa lelaki tua itu pasti berada di tingkat itu! Mungkin dia bukan dewa, tetapi dia mampu melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh dewa biasa.
Itulah batas dari apa yang bisa 'dilihat' oleh Xu Qing. Namun, dia juga yakin bahwa ini bukan batas dari apa yang bisa dilakukan oleh lelaki tua ini. Mengenai di mana batasannya, detailnya akan berbeda berdasarkan persepsi. Mungkin bagi kebanyakan makhluk hidup, sudah cukup untuk mengatakan bahwa lelaki tua itu 'kuat'.
Sementara itu, hati dan pikiran Erniu juga terguncang hebat.
Saat keduanya menghadapi segudang emosi dan pikiran yang saling bertentangan, seberkas cahaya keemasan muncul di Sungai Waktu yang agung. Cahaya itu melesat menembus air, bergerak jauh lebih cepat daripada aliran sungai itu sendiri. Dan ke mana pun ia lewat, gelombang waktu runtuh.
Melihat hal itu, Xu Qing sekali lagi merasa pikirannya terombang-ambing.
Ada sesuatu di dalam Sungai Waktu yang bergerak lebih cepat daripada sungai itu sendiri...? Bukankah itu menyiratkan bahwa cahaya keemasan ini dapat bergerak lebih cepat daripada waktu?
Segala sesuatu yang telah dilihat dan dialami Xu Qing di lautan luar telah menghancurkan konsepsinya sebelumnya tentang dunia. Matanya benar-benar telah terbuka terhadap cakrawala baru.
Saat dia melihat sesuatu bergerak lebih cepat daripada waktu itu sendiri, jantung Xu Qing mulai berdegup kencang. Dia ingin melihat dengan jelas apa cahaya keemasan itu, tetapi jelas, tingkat basis kultivasinya saat ini tidak akan memungkinkannya untuk melakukan itu.
Tetapi kemudian... cahaya keemasan yang melesat melalui sungai itu mencapai lelaki tua itu. Di sana, ia berhenti, tidak bergerak lebih jauh lagi. Dan bentuk aslinya terungkap. Ketika Xu Qing melihatnya dengan jelas, matanya terbelalak. Pandangan Erniu berubah menjadi rasa penasaran yang luar biasa.
Itu adalah seekor tikus emas! Ia tampak sangat mirip dengan tikus emas yang ditemui Xu Qing dan Erniu di gua itu ketika mereka mendapatkan nektar fardark suci. Kendati demikian, auranya berbeda. Selain itu, tikus emas ini berdenyut dengan aura yang bahkan lebih kuno. Satu hal yang pasti, ia jelas merupakan anggota dari spesies yang sama!
Adapun tikus emas ini, ia tidak berlari dengan keempat kakinya. Sebaliknya, ia berjalan tegak seperti manusia. Sehelai sandal jerami menggantung di mulutnya, yang diegangnya dengan kedua tangan. Rupanya, ia tadi sedang berlari sambil mengunyah sandal itu pada saat yang sama, alhasil sandal tersebut menjadi agak lapuk.
Saat tikus itu melihat lelaki tua itu, ekspresi keterkejutan dan ketakutan muncul di wajahnya. Matanya bersinar karena teror, dan ia langsung berhenti mengunyah sandal tersebut. Tikus emas itu kemudian berputar dan melarikan diri ke arah yang berlawanan, melawan arus sungai.
Lelaki tua itu memandangi tikus emas tersebut dan tersenyum. "Kecil, kau mencuri sesuatu milikku. Aku membiarkanmu berkeliaran cukup lama, tapi sekarang kau justru berada tepat di hadapanku!"
Lelaki tua itu mengulurkan tangan menembus Sungai Waktu untuk menangkap tikus itu.
Serangkaian cicitan cemas meletus dari mulut tikus emas itu. Pada saat yang sama, cahaya keemasan bersinar darinya, mengubah sungai di sekitarnya menjadi berwarna keemasan saat ia mempercepat gerakannya secara dramatis. Ia benar-benar tampak seolah-olah berhasil melaju melawan arus sungai dan menghilang ke dalam kanopi langit.
Tetapi hanya sesaat kemudian, tangan lelaki tua yang mencengkeram menyebabkan titik tempat sungai itu keluar dari langit disegel. Hal yang sama terjadi pada area tempat sungai itu menghilang ke dalam bumi 30.000 meter jauhnya. Kedua ujungnya telah disegel. Sungai itu sekarang tidak dapat mengalir di area ini!
Jalur tikus emas itu disegel baik di depan maupun di belakang! Air sungai di antara titik-titik itu terpotong dan mulai suram turun ke bawah.
Tikus emas itu menggigil saat mencoba menerobos masuk ke dalam kehampaan. Namun sesaat kemudian, air sungai yang tertinggal di belakang melonjak, berubah menjadi se tali air yang melesat ke arah tikus tersebut. Tali itu mengabaikan perjuangan sang tikus, melilit erat di lehernya dan menyeretnya ke arah lelaki tua itu.
Dalam kedipan mata, ia mendarat di tangan lelaki tua itu. Dia mengguncangnya ke sana kemari.
Mungkin tali air sungai itu terlalu erat, atau mungkin ia memiliki kekuatan yang terlampau mengerikan. Bagaimanapun juga, kaki tikus itu gemetar dan ia mencicit beberapa kali. Busa pucat bergelembung di bibirnya, dan matanya menjadi kosong sebelum akhirnya terpejam. Kekuatan hidupnya dengan cepat menghilang, dan aura kematian menyebar ke seluruh tubuhnya. Segera, ia tidak bergerak sama sekali, membuatnya tampak seolah-olah sudah mati.
Erniu, sementara itu, mengerjap beberapa kali dan kemudian tiba-tiba berteriak, "Senior, bajingan itu hanya pura-pura mati! Hmmmphh! Aku tidak percaya seseorang mencoba memalsukan kematiannya sendiri di depanku! Aku bisa tahu yang sebenarnya dalam sekali pandang. Makhluk kecil ini terlalu tidak berpengalaman!"
Senyum tipis muncul di wajah lelaki tua itu saat dia menatap tikus emas yang tergantung lemas di tangannya. "Bahkan Monster Bulu saja bisa melihat kalau kau pura-pura mati. Sangat canggung memang. Jika kau ingin keluar dari tempat ini hidup-hidup, kau harus membantuku."
Tikus emas itu menggigil dari ujung kepala sampai ujung kaki lalu membuka matanya. Setelah melirik tajam penuh pembunuhan ke arah Erniu, ia mengalihkan pandangannya ke lelaki tua itu, memastikan untuk memasang ekspresi yang sangat menyanjung.
Kemudian ia mengangkat sandal jerami itu dengan kedua tangan, seolah-olah mengembalikannya secara resmi.
Lelaki tua itu mengambil sandal itu, memperhatikan kondisinya yang sudah lapuk. Setelah mengguncangnya beberapa kali, dia menjatuhkannya ke tanah dan menyelipkan kakinya ke dalam sandal itu. Dia menggelengkan kepalanya.
"Kau pemalas yang tidak berguna. Terakhir kali kau mencuri pakaianku, aku mengambil kemampuanmu untuk berbicara. Kemudian kau menginginkan sandalku, dan setelah bersusah payah mencuri yang satu ini, kau hanya berhasil memakan sebanyak ini saja? Kurang ajar, kau benar-benar tidak beruntung."
Dengan itu, lelaki tua itu mencengkeram tali waktu yang diikatkan di leher tikus itu, dan mulai berjalan naik menuju kubah langit. Tikus itu bergoyang ke sana kemari, tampak sangat menyedihkan. Pada titik tertentu, ia menatap ke bawah ke arah Erniu dengan cemberut, seolah-olah ia bertekad untuk mengingat seperti apa rupa orang itu.
Xu Qing tidak memperhatikan tikus itu. Dia terus memusatkan perhatiannya pada lelaki tua itu, sembari merenungkan apakah dia harus menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang membara di dalam hatinya sekarang.
Ketika Erniu menyadari tikus emas itu melotot kepadanya, dia tertawa dingin di dalam hatinya. Dia sangat setuju dengan apa yang dikatakan kakek tua itu, bahwa tikus ini benar-benar tidak beruntung. Setelah mengunyah sandal jerami itu, ia hampir tidak berhasil menelan lebih dari satu atau dua gigitan. Erniu tahu bahwa jika dia memiliki kesempatan itu, dia akan menyumpal seluruh sandal itu ke dalam perutnya. Dia membalas tatapan tikus itu dengan penghinaan yang jelas.
Tikus emas itu menjadi semakin marah karenanya, dan mengeluarkan beberapa cicitan lagi.
Lelaki tua itu mendengar dan tertawa. "Kau merasakan garis keturunan dari salah satu keturunanmu? Yah, tentu saja! Kalau tidak, kedua orang ini tidak akan ditelan oleh Timeruins dan tiba di tempat yang sama persis di mana aku sedang menunggumu. Baiklah, cukup mengadu domba. Kita harus pulang."
Lelaki tua itu sekarang hampir berada di cakrawala, di mana dia melambaikan tangan kanannya dengan lembut ke arah kubah langit. Langit bergemuruh keras. Suara retakan besar bergema saat langit terbelah terbuka, menampakkan celah yang besar.... Sisi lain dari celah itu berwarna hitam pekat, tetapi sangat mungkin untuk mendeteksi aura dari dunia lain. Tempat itu berada di atas permukaan laut!
Lelaki tua itu mengambil satu langkah lagi ke depan. Dia hendak melangkah melewati celah itu.
Xu Qing tiba-tiba menangkupkan tangan dan membungkuk, sembari berbicara dengan suara lantang. "Senior, ada sesuatu yang membuatku bingung. Jika Anda berkenan menjelaskan, aku akan sangat menghargainya. Sebelumnya, Anda mengatakan bahwa tempat ini adalah Lautan Purba. Dan Anda mengatakan bahwa dunia tempat Kakak Perguruan dan aku berasal tidak tahu banyak tentang Lautan Purba. Kalau begitu... apakah Lautan Purba itu? Dan mengapa auraku bisa dirasakan oleh semua cincin bintang?"
Xu Qing tetap membungkuk di pinggang sambil menunggu jawaban.
Lelaki tua itu berbalik dan menatap Xu Qing. "Kau memiliki tubuh yang terbuat dari daging Eminent Desolation, jadi kau setidaknya harus memiliki pemahaman samar tentang fakta bahwa alam semesta yang kita tempati ini memiliki tiga puluh enam cincin bintang. Setiap cincin bintang sangat luas dan tanpa batas, serta dipenuhi dengan tak terhitung banyaknya daratan dan tempat.
"Lautan Purba adalah hal yang fantastis. Setiap lokasi di mana ia berada adalah tempat yang strategis dan makmur. Dan itu karena Lautan Purba menghubungkan semua cincin bintang di alam semesta. Dan itulah juga mengapa, ketika kau datang ke sini, auramu dapat menyebar ke mana-mana.
"Kendati demikian, jangan khawatir. Aku memastikan untuk menutupi auramu. Terlebih lagi, Lautan Purba di tempat ini bersifat spesial. Saat ini tempat ini disegel. Kau hanya bisa masuk melalui celah-celah, yang berarti orang luar tidak akan pernah bisa tinggal di dalam untuk waktu yang sangat lama. Lagipula, cincin bintangmu dulunya sangat terkenal.
"Kira-kira pertemuan kita menunjukkan bahwa kita memiliki afinitas yang ditakdirkan. Suatu hari nanti, jika kau pernah menjadi Dewa Rendah, maka kau akan memiliki kualifikasi dasar untuk melewati Lautan Purba. Jika kau menggunakan kesempatan itu untuk meninggalkan tempat ini, dan jika kau juga bersedia, kau dapat menggunakan Lautan Purba untuk datang mencariku di Ibu Kota Abadi di Cincin Bintang Kelima. Itu adalah dunia yang diperintah oleh manusia, dan itu juga dunia para abadi."
Dengan itu, lelaki tua itu melangkah menembus celah dan lenyap.
Chapter 1003 · 8m baca
Fifth Star Ring
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter