“Apakah dia sedang menguasi biji kuaci di sini?”
“Kompetisi akan segera dimulai, tapi dia sama sekali tidak gugup?”
“Apakah dia gila, atau aku yang gila?”
Dalam sekejap, berbagai macam pikiran berkecamuk di benak para peserta.
Sebagai calon pesohor, mereka mungkin belum sepenuhnya menjadi bintang, tetapi mereka tetap harus menjaga imej dalam segala hal yang mereka lakukan.
Selain itu, mengupas kuaci bukanlah hal yang bagus untuk kesehatan gigi.
Namun, bukan hanya dia mengupasnya, dia melakukannya di acara seperti ini?
“Bukankah dia pria dari lift tadi siang?”
“Sepertinya memang benar dia. Kalau begitu, ini sangat wajar. Pria ini pasti ada yang tidak beres dengan kepalanya.”
“Pantas saja. Rumah sakit mana yang melepaskannya?”
Para peserta mulai berbisik-bisik di antara mereka sendiri.
Setelah saling bertukar informasi, mereka akhirnya tahu tentang Xu Ye.
Pria ini tidak normal.
Pasti ada yang salah dengannya.
Melihat tidak ada yang merespons, Xu Ye kembali mengupas kuaci.
Dia mengambil biji-biji itu dari restoran tadi. Masih ada beberapa di atas meja, jadi dia langsung memasukkannya ke dalam saku celananya.
Dia mengambil cukup banyak, segenggam penuh.
[Host telah menerima 5 poin.]
Sebuah pemberitahuan sistem muncul di hadapan Xu Ye.
Setelah dia keluar dari mobil melalui bagasi tadi, sistem memberinya 3 poin.
Kali ini, sistem memberinya 5 poin, dua lebih banyak dari sebelumnya.
Lumayan, lumayan.
Jika dia terus mengumpulkannya seperti ini, sebentar lagi dia bisa melakukan undian berhadiah lainnya.
Pada saat itu, Sutradara Zhang Guangrong masuk ke ruang tunggu.
Dia bertepuk tangan untuk menarik perhatian semua orang dan berkata, “Bersiaplah. Siaran langsung akan segera dimulai.”
Benar sekali, acara Superstar of Tomorrow disiarkan secara langsung.
Seluruh acara akan dilakukan dalam format siaran langsung, yang juga menjadi daya tarik unik dari acara ini.
Xu Ye pernah mendengar Zheng Yu menyebutkan bahwa pada tahap selanjutnya, acara ini akan membuka tangga peringkat popularitas.
Penonton yang menyaksikan acara ini akan memberikan suara untuk menentukan peringkat para peserta.
Xu Ye sama sekali tidak menaruh harapan apa pun terkait hal itu.
Siapa yang akan memilih orang gila?
Dia hanya akan terus melakukan aksi konyol dan menggunakan sistem untuk meningkatkan kemampuan aslinya.
Setelah Zhang Guangrong selesai berbicara, dia pergi.
Anggota staf lainnya tetap berada di luar jangkauan kamera.
“Tiga, dua, satu, mulai!”
Atas aba-aba dari staf tersebut, acara resmi mulai disiarkan secara langsung.
Di ruang tunggu, para peserta langsung merapikan posisi duduk mereka.
Ruang tunggu itu dilengkapi layar besar yang menampilkan situasi langsung di atas panggung.
Untuk episode pertama, juri yang hadir adalah Yan Mi, seorang bintang populer saat ini yang aktif di dunia film, televisi, dan musik.
Di layar besar, Yan Mi mengenakan gaun pas badan berwarna perak berkilau, memperlihatkan dua kaki yang panjang dan jenjang, dipadukan dengan sepatu hak tinggi bertali pergelangan kaki.
Ia memiliki mata yang besar, dan wajahnya memancarkan pesona dewasa dari seorang wanita cantik di puncak kejayaannya.
Saat pertama kali debut, Yan Mi memasuki industri hiburan sebagai seorang aktris. Ia kemudian membintangi beberapa drama televisi yang sangat sukses. Setelah itu, ia mulai bernyanyi, merilis album, dan berakting di film.
Kecantikannya hanya bisa dideskripsikan sebagai kelas atas. Fitur yang paling mencuri perhatian adalah sepasang kakinya yang jenjang, membuat banyak merek stoking berebut menjadikannya sebagai duta produk.
Sebagai seseorang yang sering muncul di daftar tren industri hiburan, kehadirannya di acara tersebut membuat terkejut semua peserta.
Yan Mi perlahan berjalan menyusuri panggung peraga dan berpose beberapa kali.
“Bentuk tubuh Kak Mi luar biasa!”
“Kak Mi benar-benar memukau!”
“Kamu pasti tidak akan menyangka usianya sudah kepala tiga!”
Begitu siaran langsung dimulai, kolom komentar berjalan langsung membanjiri situs penstriman video tersebut.
Para penonton terkesiap dan bersorak silih berganti.
Setelah para juri memasuki ruangan, acara pun resmi dimulai.
Di dalam ruang tunggu, para staf memanggil nama-nama peserta, dan mereka bergiliran keluar.
Xu Ye menonton layar sambil mengupas kuaci.
Pada saat itu, seorang peserta sudah naik ke atas panggung.
Peserta ini menampilkan tarian terlebih dahulu, dilanjutkan dengan perkenalan diri.
Yan Mi mengambil mikrofonnya dan tersenyum.
“Mengapa kamu datang untuk berpartisipasi dalam acara ini?”
Peserta itu menjawab dengan senyuman standar yang terlatih secara profesional, “Karena saya tidak bisa bernyanyi, dan Superstar of Tomorrow memperbolehkan orang yang tidak bisa bernyanyi untuk ikut serta.”
Ekspresi Yan Mi langsung membeku.
Xu Ye hampir membuat sebutir kuaci tersangkut di tenggorokannya.
Dia pikir dirinya sudah tidak tertandingi di muka bumi ini, tapi dia tidak menyangka ada orang yang lebih tidak punya urat malu darinya.
Ledakan tawa meledak di dalam ruang tunggu.
Apa yang tidak diketahui Xu Ye adalah kamera siaran langsung sempat beralih ke ruang tunggu selama beberapa detik.
Selama detik-detik itu, dia kebetulan sedang mengupas kuaci.
Awalnya, penonton dibuat tercengang oleh jawaban peserta tersebut, tetapi ketika kamera beralih, penonton yang jeli menangkap aksi Xu Ye.
“Siapa peserta itu? Apakah dia baru saja mengupas kuaci?”
“Aku juga melihatnya! Dia memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya. Sepertinya itu benar-benar kuaci!”
“Kenapa dia mengupas kuaci di tempat seperti itu?”
Dalam sekejap, kolom komentar langsung menjadi sangat meriah.
Di balik panggung, Sutradara Zhang Guangrong menatap layar umpan dari berbagai kamera.
Dia juga memerhatikan komentar-komentar daring tersebut.
“Mengupas kuaci?”
Matanya beralih ke layar siaran dari ruang tunggu.
Dia mengamatinya lebih dekat.
Wah!
Ternyata bocah ini lagi!
Zhang Guangrong langsung teringat pengalamannya saat “mabar” dengan Xu Ye di toilet.
“Siapa yang menaruh kuaci di sana?” tanya Zhang Guangrong dengan nada tegas.
“Sutradara Zhang, kami tidak menyediakannya. Dia membawanya sendiri,” jawab salah satu bawahannya.
Zhang Guangrong seketika kehabisan kata-kata.
Dia bahkan membawa kuaci itu sendiri?
Pasti ada yang tidak beres dengan anak ini!
“Sutradara Zhang, haruskah kita memperingatkannya?” tanya sang bawahan.
“Tidak perlu. Biarkan saja dia apa adanya.”
Saat Zhang Guangrong memerhatikan diskusi di kolom komentar yang terus berdatangan, dia merasa situasi ini cukup menarik.
Peserta yang satu ini benar-benar berbeda dari yang lain.
Tak lama kemudian, seorang staf memanggil nama Xu Ye.
Xu Ye perlahan bangkit berdiri. Dia mengumpulkan cangkang kuaci, membuangnya ke tempat sampah, lalu berjalan keluar ruang tunggu.
Di bawah bimbingan seorang staf, dia tiba di sebuah ruang tunggu privat.
Ruangan itu hanya berisi meja kecil dan sebuah kursi, tetapi didekorasi dengan mewah.
Ada juga sebuah kamera di dalam ruangan tersebut.
“Halo. Silakan tunggu di sini sebentar dan langsung naik ke panggung saat mendengar aba-aba,” kata staf tersebut sambil tersenyum.
“Baiklah, terima kasih.”
Begitu staf tersebut pergi, dia langsung mendudukkan diri di kursi.
Dia mengeluarkan segenggam kuaci lagi dari sakunya dan mulai mengupasnya.
Di atas panggung, penampilan peserta sebelumnya telah usai.
Setelah Yan Mi berbincang singkat dengan dua juri pendukung di sampingnya, dia mengangkat tanda di tangannya.
Pada tanda itu tertulis kata “Tertunda”.
Peserta tersebut turun panggung dengan rasa kecewa.
Salah satu asisten di sampingnya berkata, “Baiklah, mari kita sambut peserta kita selanjutnya. Namanya adalah Xu Ye! Mari kita lihat apa yang sedang ia lakukan sekarang di ruang tunggu!”
Layar besar di belakang panggung menampilkan siaran langsung dari ruang tunggu privat.
Saat gambar itu muncul, terdengar suara yang menyertainya.
Kletak, kletak!
Yan Mi, yang tadinya tersenyum, tampak seperti seseorang yang menekan tombol pause pada rekaman waktu.
Mata indahnya membelalak menatap sosok di layar.
Yan Mi bertanya keheranan, “Apa yang sedang dia lakukan?”
“Sepertinya dia sedang mengupas kuaci,” jawab orang di sebelah kanannya.
Layar menampilkan Xu Ye secara langsung.
Xu Ye memang benar-benar sedang mengupas kuaci.
“Dia benar-benar mengupas kuaci?” tanya Yan Mi tidak percaya.
Setidaknya ada beberapa juta penonton yang menyaksikan acara ini, tapi dia malah duduk di depan kamera sambil mengupas kuaci?
Pada saat itu, Xu Ye juga mendengar aba-aba.
Dia mengumpulkan cangkang kuaci dan memasukkannya ke dalam saku. Lalu dia mendorong pintu ruang tunggu dan berjalan menuju panggung.