Kata-kata itu diucapkan oleh seorang pria berjubah hijau yang baru saja memasuki aula tamu.
Rambutnya hijau, matanya hijau, bahkan jenggotnya pun berwarna hijau, memunculkan pemandangan yang amat aneh.
Sebuah labu ungu terikat di pinggangnya. Penampilannya seketika membuat Tetua Lin dan tetua kelima menunjukkan sikap hormat.
"Guru, kehebatanmu sungguh luar biasa. Bahkan Lembah Neraka dan Hutan Riang pun tidak berani berkutik di hadapanmu, ha-ha-ha..."
Seorang pemuda berusia dua puluhan mengekor di belakang tetua itu. Tingkat kultivasinya berada di puncak Tahap Pemurnian Tulang. Namun, nada bicaranya sama sekali tidak mencerminkan rasa hormat dan etika yang seharusnya ditunjukkan kepada tiga orang penting yang hadir di ruangan itu.
Wajah ketiganya langsung berubah kelam, kemarahan mereka perlahan memuncak, tetapi mereka memilih untuk menahan diri.
Pemandangan ini pasti akan mengejutkan siapa pun. Tiga ahli Alam Surga Mendalam diperolok oleh seorang anak kemarin sore di Tahap Pemurnian Tulang. Dan mereka bahkan tidak melawan, meskipun nada bicara pemuda itu sangat tidak sopan.
Tetua kelima, yang terkenal memiliki tabiat mudah marah, juga memilih bungkam. Pemandangan yang bahkan akan sulit dibayangkan oleh murid-muridnya sendiri.
"Tetua Yan, sebaiknya Anda menegur murid Anda. Dia sepertinya sama sekali tidak punya tata krama. Apakah begini cara seorang junior berbicara kepada para tetuanya?" ucap tetua kelima dengan nada tidak senang.
Namun, tetua berjubah hijau itu hanya mengelus jenggotnya sambil tersenyum. "Tetua kelima Lembah Neraka, untuk apa berdebat dengan seorang anak kecil? Itu sama sekali tidak pantas bagi statusmu, ha-ha-ha..."
"Benar, kau jelas-jelas tidak bersikap layaknya seorang senior. Jadi, untuk apa aku harus memperlakukanmu seperti itu?" Suara lancang pemuda tersebut dibumbui dengan nada mengejek.
Tetua kelima bergidik, wajahnya memerah menahan amarah, sangat ingin mencabut kepala si bodoh dari tubuhnya. Namun, ia berhasil meredam emosinya dan kembali mengepalkan kedua tangannya.
Disertai suara retakan, sebagian meja di hadapannya hancur berkeping-keping menjadi serbuk.
Lin Zitian melirik ke arah tetua kelima yang sedang marah sambil mendesah dalam hati. Ia menyimpan keraguan saat menatap tetua berjubah hijau itu, lalu memaksakan sebuah tawa, "Ha-ha-ha, aku tidak pernah menyangka pertemuan kecil seperti ini akan mempertemukan empat dari tujuh sekte besar. Dengan kehadiran Tetua Yan, pertemuan ini pasti akan berjalan lancar!"
"He-he-ha, Lin Zitian, kau tidak perlu berbasa-basi padaku. Aku tahu kalian semua tidak pernah sejalan denganku. Tapi, siapa yang menyuruh kalian menamainya Pertemuan Seratus Pil? Apakah kalian pikir acara ini layak menyandang nama 'Seratus Pil' jika aku, Raja Pil Kejam, tidak hadir?"
Tetua berjubah hijau itu sama sekali tidak menghormati Lin Zitian dan bahkan mengejeknya hingga membuat Lin Zitian memalingkan wajah karena kesal.
Pengawas Peoni tampak sangat murka, tetapi di balik kemarahannya tersimpan kebencian yang mendalam.
"Tetua Yan Song," sergah Pengawas Peoni sengit, "Kediaman Bunga yang Melayang sepertinya tidak pernah mengirimkan undangan kepada Aula Raja Pil. Jadi, untuk alasan apa Anda datang kemari tanpa diundang?"
"Ha-ha-ha, Pengawas Peoni, kau masih saja berapi-api seperti dulu!"
Dengan kilatan hijau di matanya, Yan Song mendengus. "Di Kekaisaran Tianyu, aku bisa pergi ke mana saja tanpa ada seorang pun yang berani menghentikanku! Sekarang aku sudah berada di Kota Bunga Melayang milik kalian, apa kalian mau mengusirku?"
"Kau..."
Ia bersiap untuk menyerang, tetapi Lin Zitian menghentikannya. "Pengawas Peoni, tenanglah."
Sambil melirik Yan Song dengan penuh kewaspadaan, Lin Zitian mendesah seraya menatap wanita itu. "Sebelum Penguasa Kediaman datang, berhati-hatilah agar situasi tidak semakin memburuk!"
Pengawas Peoni mendengus kesal, lalu memalingkan tubuhnya, membuat Lin Zitian sedikit bernapas lega.
"Ha-ha-ha, Pengawas Peoni itu seperti gadis kecil, suka mendendam. Jadi, sungguh menghairankan bagaimana kau bisa menjadi seorang pengawas? Guru, ucapanmu memang benar. Sekumpulan perempuan tidak akan pernah bisa menyelesaikan apa pun. Kediaman Bunga yang Melayang adalah yang paling payah di antara tujuh sekte besar," ejek pemuda itu.
Pandangan ketiga orang di ruangan itu menajam seketika. [Raja Pil Kejam ini benar-benar terlalu arogan, dan muridnya pun meremehkan siapapun yang ia lihat.]
Perbincangan 'ramah' mereka terhenti ketika sebuah suara terdengar dari luar pintu.
"Adik kecil, Kediaman Bunga yang Melayang mungkin hanya berisikan para wanita, tetapi tempat ini telah berdiri kokoh di Kekaisaran Tianyu selama ribuan tahun. Kediaman ini memiliki prinsipnya sendiri, bukan sesuatu yang bisa dikritik sembarangan oleh siapa pun."
Seorang wanita cantik bergaun biru melangkah masuk dengan anggun—Pengawas Iris, Qin Caiqing!
"Kakak Perguruan, kau sudah kembali!" seru Pengawas Peoni, kembali mendapatkan rasa percaya dirinya. "Dari mana saja kau? Seseorang telah menerobos masuk tanpa diundang dan aku tidak berdaya menghentikannya."
Pandangan Pengawas Peoni langsung tertuju pada Yan Song, namun Qin Caiqing hanya tersenyum tenang. "Bukankah seharusnya kau mengurus murid kesayanganmu itu terlebih dahulu? Aku pernah menyuruhmu untuk mendidik muridmu dengan benar, bukan malah mencoreng reputasi Kediaman Bunga yang Melayang."
"Siapa yang telah menyinggung perasaannya?"
Sambil menggelengkan kepala, Qin Caiqing hanya bertepuk tangan pelan.
Dua murid perempuan membawa Xiao Dandan masuk, yang saat itu masih terbalut pita biru. Lekuk tubuhnya yang terekspos jelas langsung menarik tatapan penuh gairah dari pemuda tadi.
Disusul oleh dua murid lainnya yang memapah Lin Tianyu dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Tianyu!"
Lin Zitian langsung melompat ke sisinya, tatapannya berubah menjadi sangat mematikan. "Siapa yang telah melukainya?"
Pemuda tadi menyela sebelum sempat dijawab, "Guru, apakah cedera anak itu sangat parah?"
"He-he-he, itu terlalu ringan untuk dikatakan parah. Kalau tidak mati, paling-paling dia menjadi cacat. Pelakunya benar-benar tidak tahu batasan." Yan Song menikmati kemalangan orang lain.
Pemuda itu tertawa meremehkan. "Murid Hutan Riang bahkan tidak bisa menerima satu pukulan pun. Dan gurunya pun tidak ada bedanya."
Lin Zitian mengatupkan giginya rapat-rapat, menatap tajam ke arah pemuda itu.
Qin Caiqing tersenyum tipis. "Adik kecil itu keliru. Orang yang dihadapinya adalah seorang pemuda yang bahkan jauh lebih muda, yang kekuatannya berada di atas semua murid jenius dari tujuh sekte besar. Adik kecil adalah murid Tetua Yan, tapi kurasa kau pun akan menemui nasib yang sama."
Pemuda itu mengerutkan kening, wajahnya dipenuhi rasa tidak terima. Qin Caiqing tersenyum penuh misteri dalam hati.
"Kakak Perguruan, kenapa kau tidak membawanya kemari? Apakah dia lebih kuat darimu?" tanya Pengawas Peoni penasaran.
Sambil menggelengkan kepala, Qin Caiqing berkata, "Mungkin tidak, tapi kau tahu sendiri sifatku, aku tidak suka ikut campur urusan orang lain. Jika seseorang mengganggu muridku, aku akan turun tangan, tapi..."
Qin Caiqing mendesah saat melihat Xiao Dandan. "Dandan, jelaskan semuanya. Dan berbicaralah sejujurnya. Aku sudah tahu semua yang sebenarnya terjadi."
"Baik, Bibi Perguruan!"
Xiao Dandan mengangguk sambil terisak, lalu menceritakan kembali kejadian tersebut.
Orang-orang di ruangan itu hanya bisa mendesah mendengar akhir cerita itu. Tentu saja bukan karena rasa simpati pada Klan Dong yang dipermalukan, sebab tidak satupun dari tujuh sekte besar peduli pada orang-orang rendahan semacam itu. Di mata mereka, kaum sekutu hanyalah budak.
Murid-murid mereka pun memiliki pemikiran yang sama. Bahkan mungkin ada yang jauh lebih kejam daripada Xiao Dandan. Hanya berkat aturan ketat Kediaman Bunga yang Melayang terhadap para muridnya saja yang membuat mereka sedikit lebih tertahan.
Namun, yang kini memenuhi benak semua orang adalah tindakan Zhuo Fan.
Bukan hanya menghentikan penghinaan yang diterima Klan Dong, pemuda itu justru membalikkan keadaan dan mempermalukan balik Xiao Dandan beserta tunangannya dengan cara yang sangat keji.
Tetua kelima tidak kuasa menahan diri untuk tidak menghubungkan kejadian ini dengan sesosok figur yang sudah tidak asing lagi baginya.
Bukankah tindakannya sangat mirip dengan Zhuo Fan yang telah membunuh tetua ketujuh?
Ia mengelus jenggotnya perlahan sambil berkata, "Ha-ha-ha, ada apa dengan Kekaisaran Tianyu ini? Berawal dari ulah Zhuo Fan, kini semakin banyak orang yang mulai meremehkan tujuh sekte besar, dan berani menyerang murid-murid kita secara terus-menerus. Jika kita tidak segera mengendalikan mereka, tidak akan ada lagi yang merasa takut pada kita."
"He-he-he, bukankah semua ini terjadi karena ketidak kompetenan Lembah Neraka? Kalian bahkan belum berhasil menemukan bocah kurang ajar itu sampai sekarang. Kalian membuat kami, enam sekte besar lainnya, ikut terlihat tidak becus!" ejek Yan Song.
Tetua kelima tidak marah, ia justru menoleh ke arah pemuda di belakangnya sambil tersenyum. "Ya, ini semua memang salah kami. Tapi, bagi seorang tetua yang ikut campur dalam konflik antar-murid, bukankah itu jauh lebih memalukan? Lin Zitian, sayang sekali kau tidak membawa murid lain untuk membalaskan dendam Tianyu sekaligus menyelamatkan reputasi gadis Dandan itu."
Pemuda tersebut langsung melompat ke hadapan Xiao Dandan sebelum sempat dijawab oleh Lin Zitian, lalu meraih lengannya. "Ayo pergi bersamaku, aku akan membalaskan dendammu!"
Begitu kalimat singkat itu terucap, keduanya langsung pergi, membuat tetua kelima tersenyum lebar.
"Kurang ajar! Bocah itu benar-benar tidak punya sopan santun. Dia bahkan mengabaikan keberadaanku dan membawa pergi muridku begitu saja!" Bibir Pengawas Peoni bergetar karena marah.
Yan Song melambaikan tangannya sembari melangkah pergi, "Ha-ha-ha, di dunia ini, takdir seorang wanita adalah jatuh ke dalam pelukan seorang pria. Kediaman Bunga yang Melayang tidak akan bisa bertahan selama ini tanpa adanya hal itu!"
Setelah Yan Song pergi, mata tetua kelima menyipit tajam, dan ia pun memutuskan untuk ikut beranjak. "Tua bangka itu pasti juga telah merasakannya..."
Pengawas Peoni tampak kebingungan. "Kenapa semuanya jadi pergi?"
Lin Zitian mengerutkan kening, menatap Qin Caiqing dengan pandangan penuh arti. "Pengawas Iris, apakah kau yakin pemuda pembuat onar itu bukanlah iblis bernama Zhuo Fan?"
"Apa? Dia itu Zhuo Fan?" seru Pengawas Peoni terkejut.
Mata Qin Caiqing memancarkan kilatan aneh. "Aku kurang yakin. Bocah itu memang luar biasa, tapi rasanya belum cukup kuat untuk membunuh para ahli Alam Surga Mendalam!"
"Mungkin dia hanya berpura-pura..." Lin Zitian kemudian tertawa kecil. "Sekarang aku mengerti kenapa bahkan Raja Pil Kejam pun tidak sabar ingin menyaksikan pertarungan ini. Jika anak itu benar-benar Zhuo Fan, maka murid di samping Raja Pil itu sama saja sedang mencari mati! Pada saat itu..."
"Yan Song pasti akan bertindak. Meskipun..." Sudut bibir Lin Zitian membentuk lengkungan misterius. Qin Caiqing melanjutkan kalimatnya, "Masih belum pasti apakah Zhuo Fan mampu membunuh orang yang bahkan jauh lebih keji daripada You Guiqi. Bagaimanapun juga, dia dijuluki Raja Pil Kejam bukan tanpa alasan!"
Lin Zitian mengangguk pelan sambil bergumam, "Aku hanya berharap dia benar-benar Zhuo Fan..."
Chapter 96 · 6m baca
Vicious Pill King
by Night Owl
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter