The Steward Demonic Emperor - Chapter 90 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 90 · 6m baca

Scapegoat

by Night Owl

“Angin musim semi mendesir di tepian willow,

Aku berkendara untuk mencari pil.

Seseorang tak tahu siapa yang ia hadapi,

Semua karena ia tak bisa melihat lebih jauh dari ujung hidungnya sendiri!”

Itulah suara nyanyian seorang pemuda, yang sedang mengemudikan kereta kuncanya perlahan di atas jalan. Jika hantu-hantu dari Klan Qi yang baru saja tewas berada di sini, mereka pasti akan terkejut setengah mati.

Bukankah ini kereta kuda mereka? Bukankah pemuda itu adalah Song Yu? Bukankah dia sudah mati?

Namun, ada satu hal yang ganjil. Pemuda ini memasang senyum licik di wajahnya, cukup untuk membuat hantu paling malang sekalipun ketakutan.

Senyumannya sangat mirip dengan iblis yang memusnahkan seluruh Klan Qi tersebut.

“Hooo!”

Pemuda itu menarik kendali kuda saat ia menatap ke kejauhan, pada tiga aksara yang terukir megah di gerbang: Kota Bunga Melayang!

“Aku akhirnya tiba. Kuharap tempat ini memiliki ramuan penyelamat nyawa, atau benar-benar buang-buang waktu datang ke sini.” Pemuda itu menyeringai sambil melecutkan tali kekang.

Namun sebuah teriakan menghentikannya, “Berhenti!”

Mengikuti teriakan itu, enam orang muncul mengepungnya. Pemuda tersebut memindai mereka sekilas dan mengangkat sebelah alisnya, “Lembah Neraka?”

“Oh, tajam sekali pengamatanmu. Kau mengenali kami?” Sang pemimpin mengamati pemuda itu dengan takjub, “Dari penampilanmu, kau tampak seperti tuan muda dari suatu klan. Sebutkan namamu.”

Pemuda itu bertanya dengan bingung, “Bukankah Kota Bunga Melayang seharusnya dikelola oleh Gedung Bunga Melayang? Kenapa malah……”

“Sudah, tidak usah banyak bicara!” Sebuah suara penuh makian memotong perkataannya, “Cepat katakan sebelum kesabaranku habis. Jika tempat ini bukan milik Gedung Bunga Melayang, aku sudah membunuhmu karena begitu lambat menangkap situasi.”

Pemuda itu mengerutkan kening, matanya memancarkan niat membunuh sebelum akhirnya ia menekan emosi itu. “Aku adalah Song Yu dari Klan Song di Kota Hujan Malam. Ayah memerintahkan ku untuk berpartisipasi dalam Pertemuan Seratus Pil, ini adalah lencana klan ku.”

Ia mengeluarkan sepotong giok berukir dari balik jubahnya. Sang pemimpin memeriksanya lalu mengangguk. Sementara itu, anak buahnya menggeledah kereta kuda dan mereka pun ikut mengangguk.

“Bagus, kau boleh lewat. Tapi jika kau melihat pria ini, segera laporkan pada kami.” Pria itu melirik pemuda tersebut sambil melemparkan gulungan kertas sebelum beranjak pergi. Begitu orang-orang itu tak terlihat lagi, pemuda itu memandangi kertas yang terbentang dengan senyum sinis.

Itu adalah Perintah Bunuh Neraka untuk Zhuo Fan beserta sketsa wajahnya yang sangat akurat. Di bagian bawah kertas, tertera imbalan yang ditawarkan. Siapa pun yang memberikan petunjuk keberadaannya bisa menjadi vasal Lembah Neraka, dan siapa pun yang membawakan kepalanya akan menjadi pemimpin di antara seluruh klan vasal Lembah Neraka.

“Huh, mereka benar-benar tidak bisa melihat melampaui hidung mereka sendiri. Bagaimana mungkin kalian bisa menemukan seseorang yang bahkan tidak kalian kenali wajah aslinya?” cemoohnya sambil meremas perintah bunuh itu menjadi bola kertas lalu membuangnya begitu saja.

Tentu saja, pemuda ini adalah Zhuo Fan!

Setelah membasmi Klan Qi, ia sadar bahwa semua orang di Kekaisaran Tianyu akan tahu seperti apa wajahnya. Jadi, ia meracik pil kecil yang mengubah penampilannya menjadi Song Yu dan melanjutkan perjalanan ke Kota Bunga Melayang.

Cara ini akan bekerja sangat baik dalam mencari harta karun tanpa terganggu oleh orang-orang berpikiran sempit. Selain itu, mengenakan identitas tuan muda Klan Song juga akan membuat Lembah Neraka meraba-raba dalam gelap.

Saat memasuki kota, ia menyadari betapa megahnya tempat itu, sangat pantas menjadi markas utama Gedung Bunga Melayang. Kota ini memang benar-benar sebuah kota, tetapi wilayahnya sepuluh kali lebih luas daripada kota rata-rata.

Sebagai perbandingan, Kota Pandang Angin dan Kota Bentangan Biru tampak seperti desa kecil. Terutama jika melihat orang-orang di jalanan. Ada banyak tuan muda klan berkeliaran, tetapi perbedaannya adalah mereka semua berasal dari klan kelas satu. Para pewaris muda ini bahkan lebih penting daripada Kepala Klan atau tetua dari klan kelas tiga.

Hal ini membuat tuan muda kelas tiga—yang identitasnya sedang dipinjam oleh Zhuo Fan—tampak seperti seorang pengemis.

Sambil tersenyum pahit, ia melecutkan tali kekang untuk mempercepat laju keretanya. Lebih baik ia segera mencari tempat penginapan atau ia akan merasa kecil di tengah kerumunan ini.

Ia sempat mengira menyamar sebagai Song Yu akan sangat mudah. Namun begitu tiba di sini, ia baru tahu bahwa anggota klan kelas tiga adalah pemandangan langka karena kebanyakan orang di kota ini berasal dari klan kelas dua dan satu.

[Alih-alih membaur, aku malah menjadi orang paling aneh di sini!]

Kereta Zhuo Fan berderit menyusuri jalan sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah kedai.

“Pemilik, apakah ada kamar yang tersedia?” tanya Zhuo Fan kepada pria di balik meja kasir. Pria itu mendongak sejenak, lalu kembali menghitung keuntungannya.

[Hei, sekarang giliranmu yang tidak bisa melihat lebih jauh dari hidungmu sendiri!]

Zhuo Fan mulai merasa kesal dan memukul meja kaunter sambil membentak, “Ada kamar atau tidak? Kau pikir aku tidak punya koin untuk membayarnya?”

Kembali mendongak ke arahnya, si pemilik kedai berkata dengan nada santai, “Tunjukkan lencana klanmu.”

Zhuo Fan sedikit terkejut mendengarnya. [Bahkan penjaga kedai pun sekarang meminta lencana?] Namun ia tetap memilih untuk mengeluarkannya.

Pemilik kedai itu melirik sekilas lalu mencibir, “Hih, cuma Klan Song, klan kelas tiga.”

“Lalu apa masalahnya? Bukankah kau membuka tempat ini untuk mencari uang? Apakah koin-koin ku tidak diterima di sini?”

Sambil menggelengkan kepala, pemilik kedai itu menepuk bahu Zhuo Fan, dan dengan gaya menasihati seperti seorang bijak ia berkata, “Anak muda, ada gubuk reyot sejauh tiga mil di luar sana. Mereka tidak akan mengenakan biaya sepeser pun!”

Zhuo Fan mengerjap kaget, lalu kemarahan membara di matanya. “Pemilik kedai, bahkan aku tahu itu kawasan kumuh. Sekalipun aku berasal dari klan kelas tiga, aku tetap seorang tamu di kedai mu dan seharusnya diperlakukan selayaknya tamu.”

Pemilik kedai itu hanya menghela napas dan tidak memedulikannya lagi.

Tiba-tiba, suara tawa mengejek terdengar dari arah samping.

“Ha-ha-ha, Song Yu, si anak kampung! Kau datang ke Pertemuan Seratus Pil bahkan tanpa mengetahui aturan di Kota Bunga Melayang?”

Hati Zhuo Fan langsung mencelos, [Kenapa tempat pertama yang kukunjungi langsung mempertemukanku dengan orang yang mengenali Song Yu?]

Ia melihat seorang tuan muda berpenampilan mencolok turun dari tangga didampingi oleh empat tetua yang merupakan para ahli Penyulingan Tulang. Pemuda itu sendiri berada di tingkat ke-5 Tahap Penyulingan Tulang.

Di sebelah kirinya berdiri seorang gadis muda yang manis, bukan seorang kecantikan yang luar biasa tetapi cukup sedap dipandang. Namun gadis itu hanya menatap Zhuo Fan dengan tatapan jijik.

Zhuo Fan menyipitkan mata sementara otaknya berputar cepat melontarkan sumpah serapah, [Bocah sialan, kau memang pantas mati. Aku menghabiskan waktu setengah bulan bepergian bersamamu tapi kau tidak pernah memberitahuku tentang orang-orang yang kau kenal di sini. Seharusnya aku sudah bisa menduganya.]

Bagaimanapun juga, tuan muda itu melihat Zhuo Fan yang tampak tegang lalu tertawa, “Bocah, apa kau masih penakut seperti biasanya? Pantas saja adik kecilku tidak menyukainya!”

Seolah merespons ucapan itu, sang gadis mendengus dingin.

Zhuo Fan menjilat bibirnya yang kering karena canggung dan berkata, “Eh, Kakak memang benar. Karena kalian tidak menyambutku, aku akan pergi saja.”

“Hei, tunggu!”

Tepat saat Zhuo Fan berniat untuk kabur, tuan muda itu memanggilnya dengan wajah yang dihinggapi rasa curiga, “Aneh, ada yang tidak beres denganmu hari ini. Kakak ini dan Kakak itu, kenapa caramu memanggilku jadi terdengar begitu aneh?”

Zhuo Fan dalam hati mengutuk kesialannya, mengira penyamarannya terbongkar. Jika itu terjadi, Lembah Neraka akan datang menyerbu dan seluruh rencana hancur berkeping-keping.

Itu semakin membuatnya gatal ingin mematahkan leher si keparat ini.

“Oh, benar juga.” Tuan muda itu menyela gerutuan batin Zhuo Fan dengan memberikan penjelasan yang mulus, “Jangan bilang kau masih marah karena Wan’er menolak lamaran pernikahanmu dan merusak harga dirimu. Apakah kau separah itu sampai masih meratapinya setelah sekian lama?”

Mendengar itu, mata Zhuo Fan berbinar dan hatinya melonjak lega. Rasanya bagaikan orang hampir tenggelam yang berhasil meraih sebatang jerami penyelamat.

Ia seketika mengubah sikapnya dan memasang ekspresi pura-pura marah, “Huh, jangan sebut-sebut soal itu lagi! Urusan kita sudah selesai! Aku tidak ingin melihat kalian lagi selamanya.”

“Ck, di sinilah letak kesalahanmu. Kenapa kau malah menyeret-nyeret masalah antara kau dan adikku kepadaku?”

Tuan muda itu menggelengkan kepala, lalu matanya berbinar licik sembari berkata dengan nada sok akrab, “Jangan lupa, kita ini sudah seperti saudara karib, mengangkat tombak bersama dan berjuang bersama… he-he-he……”

Mendengar itu, Zhuo Fan langsung mengerti maksudnya. [Dari penampilannya, dia pasti tuan muda dari klan kelas dua. Bagaimana bisa Song Yu berteman dengannya? Dan dari kelihatannya, hubungan mereka sangat dekat.]

[Yah, kalau dipikir-pikir, ini mungkin tidak terlalu buruk.]

Senyum penuh nafsu Zhuo Fan mencerminkan senyuman pemuda itu, “He-he-he, pria sejati tidak perlu menyombongkan kejayaan masa lalunya. Kau tidak perlu mengatakannya!”

“Apa? Aku bertahan jauh lebih lama darimu. Aku bisa melalui delapan ronde sementara kau hanya lima……” Tuan muda itu kemudian membuat gestur meremehkan ke arah Zhuo Fan. Jika bukan karena kehadiran adiknya, ia pasti akan membongkar rincian yang jauh lebih cabul, “Huh, tiga hari tiga malam itu benar-benar surga dunia.”

Zhuo Fan melihat ekspresi wajahnya yang seolah tengah mengenang dan menyesuaikannya. Meskipun gadis di sana menunjukkan ketidaksukaannya melalui jawaban yang penuh jijik, “Menjijikkan!”

Gadis itu lantas melangkah keluar kedai, membiarkan kedua pria mesum itu tenggelam dalam khayalan kotor mereka sendiri……

Gunakan ← → untuk pindah chapter