“Kamar ini akan menjadi milikmu mulai sekarang, sepupu.”
Zhuo Fan membuka pintu dengan sedikit derit, menunjuk ke ranjang yang sama tempat wanita itu dirawat sebelumnya, seraya melempar candaan.
Sambil mengerutkan hidungnya, gadis itu menatapnya dengan pandangan yang dalam dan penuh rasa terima kasih.
Setelah berkeliaran di jalanan bagaikan anjing liar selama berhari-hari, dia kini kembali ke tempat di mana dia bisa memulihkan diri dengan tenang. Siapa pun akan merasa tersentuh pada titik ini, merasa bahwa tempat ini sudah seperti rumah sendiri.
Dengan sedikit gestur tangan yang elegan, Zhuo Fan mempersilakannya masuk lalu berlalu pergi.
Melihatnya berjalan pergi, gadis itu berteriak, “Aku melihatmu dan putramu bersenang-senang di kota akhir-akhir ini.”
Langkah Zhuo Fan terhenti, ia mengerutkan kening dan menoleh ke belakang, “Maksudmu kami tidak boleh melakukannya?”
“Kau sangat baik pada putra tersayangmu itu.” Gadis itu berkata, “Dari sepuluh hari yang kau habiskan berkeliling Kota Flying Cloud, orang-orang bisa melihat seberapa dekat hubungan kalian berdua.”
Zhuo Fan bertanya, “Namanya juga seorang ayah. Apa ada yang salah dengan itu?”
“Tapi kau bilang kau menelantarkan Istrimu.” Gadis itu menatapnya dengan penuh keraguan, “Melihat kedekatanmu dengan putramu, tidak mungkin kau tega melakukan hal seperti itu kepada ibunya.”
Zhuo Fan menyipitkan mata, “Perempuan ya perempuan, anak ya anak. Laki-laki sangat paham perbedaan di antara keduanya. Apa yang diketahui oleh gadis kemarin sore sepertinya?”
Sambil memutar bola matanya, Zhuo Fan beranjak pergi, tatapannya menyiratkan kepedihan sembari menggelengkan kepala.
Gadis itu merasa kesal karena ejekan tersebut, namun kemudian ia berpikir dari sudut pandang lain. Zhuo Fan bertindak tidak menentu dalam berbagai hal, sikapnya berubah dalam sekejap mata, yang membuatnya tampak misterius dan menyimpan banyak rahasia di matanya.
Alih-alih masuk ke kamarnya, gadis itu justru berjalan ke bagian belakang rumah...
Bulan menggantung di langit di tengah lautan bintang, menerangi kegelapan malam.
Di halaman belakang, Gu Santong duduk di sebuah meja batu, bermain dengan mainan kayu; terlihat sangat menggemaskan. Usianya mungkin sudah tiga abad, namun sifat keanak-anakannya tidak pernah berubah.
Terutama beberapa hari terakhir ini, karena Zhuo Fan lebih mementingkan bersantai di kota daripada bekerja, dia bisa merasakan kasih sayang kebapakan setelah sekian lama. Hal itu memunculkan kembali sisi kekanak-kanakan yang selama ini ia pendam, merengek kepada Zhuo Fan untuk dibelikan mainan-mainan bagus.
Ia sedang menikmati hidupnya hingga tiba-tiba sesosok gadis muncul di belakangnya.
Gu Santong mengerutkan kening, tetapi pura-pura tidak tahu dan tetap melanjutkan mainannya. Zhuo Fan terus berpesan agar dia pura-pura bodoh dan bertingkah seperti anak kecil polos.
“Gu Santong, ya kan?”
Gadis itu memamerkan senyum cerah kepada bocah itu, memperhatikan mainannya, “Wah, bagus sekali! Apakah ayahmu yang membelikannya untukmu?”
Melirik ke arahnya, Gu Santong menjawab dengan ketus, “Cepat katakan apa maumu, atau tidurlah sana!”
Ugh!
Gadis itu membeku mendapati sambutan yang begitu tidak ramah, wajahnya berkedut kaku.
[Kenapa dia sangat menyebalkan?]
[Tunggu, ini bukan salah anak itu, tapi orang yang tinggal dengannya; pria itu memberikan pengaruh buruk. Aku harus bersabar.]
Menelan amarahnya, gadis itu memasang wajah ramah lalu berkata, “Santong, kau tidak boleh bicara begitu padaku. Itu tidak sopan.”
“Siapa yang akan bersikap sopan kepada wanita yang mencoba membunuh kami berdua?” Gu Santong membalas sengit.
Pff!
Ia hampir menyemburkan darah karena marah, tubuhnya bergetar hebat.
[Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kata-kata mereka berdua sangat tajam, selalu menyebalkan, dan itu benar-benar membuatku darah tinggi!]
[Bukan itu masalahnya di sini, karena semua ini adalah salah pria itu, bukan anak ini. Aku harus tetap kuat!]
Wajah gadis itu berkedut-kedut tak karuan, menampilkan ekspresi yang bahkan lebih buruk daripada menangis, “Nak, tidak bisakah kau menggunakan kata-kata yang lebih lembut? Aku hanya ingin bertanya padamu—”
“Cepat katakan!” bentak Gu Santong.
Merasa geram, gadis itu menggertakkan giginya, “Ha-ha-ha, Nak, kau benar-benar bersemangat ya. Kalau begitu aku akan langsung pada intinya. Apakah ayahmu benar-benar meninggalkan ibumu?”
Gu Santong tertegun sejenak, lalu menghentikan permainannya. Ia mengangguk, jawabannya terdengar dingin, “Ya.”
Gadis itu tampak kecewa, hasil akhirnya di luar dugaannya.
“Apakah kau menyukai Ibumu?”
“Ya.”
“Tidakkah kau membenci ayahmu atas apa yang telah dilakukannya?”
“Tidak.”
“Kenapa?” Gadis itu tertegun.
Gu Santong terdiam sambil menatap mainan di tangannya. Ia menghela napas, “Jika ayah tetap tinggal bersama ibu, ibu pasti sudah mati. Menurutmu apa yang seharusnya dia lakukan?”
[Apa?!]
Gadis itu berdiri terpaku tanpa kata.
“Sanzi kecil, apakah kau bermain di sana? Kau seharusnya sudah di tempat tidur pada jam segini!” Seruan Zhuo Fan terdengar dari kejauhan.
Gu Santong mengabaikan gadis itu dan berjalan menuju kamar Zhuo Fan, “Ayah memanggilku. Aku harus pergi.”
Penampilan Gu Santong yang masih anak-anak namun memiliki postur tegap membuat gadis itu terpaku dalam keheningan.
[Putranya memang mirip ayahnya, tapi tidak separah itu.]
[Sepertinya dia tidak sekejam yang ia tunjukkan…]
Sementara itu, Gu Santong masuk ke kamar dan mendapati Zhuo Fan sedang duduk di meja, menatapnya dengan ekspresi jengkel sekaligus sedih. “Untuk apa kau menceritakan banyak hal padanya?”
“Aku hanya tidak ingin dia mengutukmu setiap kali kalian bertemu.”
“Apa masalahnya? Aku juga bukan orang suci dan aku sudah dikutuk lebih sering dari yang bisa dihitung.”
“Tapi aku tidak ingin mendengar siapa pun mengutuk ayahku.” Gu Santong naik ke atas ranjang dengan ekspresi bosan, “Dulu aku menghajar siapa saja yang mengutukmu, tapi karena kau tidak ingin aku berkelahi, aku tidak mau mendengar orang-orang mengutuk ayahku.”
Zhuo Fan menatapnya lekat-lekat lalu mengangguk.
[Anakku…]
Keesokan paginya, Zhuo Fan dan Gu Santong bangun dengan tubuh yang segar usai berkultivasi, menyambut datangnya hari baru.
Gu Santong tersenyum, “Ayah, wanita itu sudah kembali. Apa kita masih akan mengerjainya?”
“Tentu saja, semakin santai kita, semakin baik. Ikan yang sebenarnya belum juga memancing, ha-ha-ha…” Zhuo Fan mengangguk.
Gu Santong bersorak gembira, memperlihatkan sifat aslinya sebagai seorang anak kecil.
Zhuo Fan mengangguk, menikmati momen kebapakan yang langka ini.
Namun sosok lembut gadis itu tiba-tiba muncul di hadapannya.
Zhuo Fan bertanya, “Sedang apa kau? Aku dan Sanzi kecil mau pergi keluar.”
“Baguslah, kalau begitu ajak aku sekalian.” Gadis itu tersenyum cerah.
Zhuo Fan mengerutkan kening, “Kenapa?”
“Benar, aku dan ayahku sedang bersenang-senang, untuk apa mengajakmu, mau jadi pengganggu ya?” Gu Santong menolaknya mentah-mentah, memperjelas posisinya.
Gadis itu menggerakkan hidungnya yang mungil, mengerucutkan bibir ke arah bocah itu, lalu beralih kepada Zhuo Fan dengan nada memaksa, “Siapa yang tahu kalau kau tidak akan melaporkanku begitu kalian keluar? Makanya aku harus mengawasimu.”
Menyipitkan mata, Zhuo Fan terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum lebar.
“Baiklah, kalau Nona ingin ikut, silakan saja. Asalkan kau tidak salah paham.”
“Salah paham tentang apa?”
Gadis itu merasa penasaran, namun balasan Zhuo Fan hanyalah sebuah senyuman penuh arti…
Sejam kemudian…
“Oh, Tuan Gu, kau membawa putramu bermain lagi. Sungguh ayah yang luar biasa, menghabiskan hari-harimu bersama anakmu. Dan sekarang kau bahkan membawa nyonya…”
“Wah, nyonya Tuan adalah wanita tercantik di dunia. Pantas saja dia bersembunyi di rumah begitu lama, ha-ha-ha…”
Ketiganya berjalan menyusuri jalanan diiringi berbagai sapaan yang ditujukan kepada mereka. Zhuo Fan hanya membalasnya dengan senyuman dan anggukan.
Gadis itu tersipu malu hingga wajahnya semerah tomat.
Ia kini menyadari apa yang dimaksud Zhuo Fan tadi dan menggerutu, “K-kenapa kau tidak bilang apa-apa? Aku bukan Istrimu, tapi sepupumu!”
“Tidak ada gunanya meladeni orang-orang banyak bicara ini. Mereka akan tetap mengatakan apa saja sesuka mereka. Dan aku juga tidak ingin meladeni para penjual itu.”
Zhuo Fan tersenyum menyeringai, matanya terus memindai sekeliling. Berdasarkan perhitungannya, gadis itu telah bersembunyi selama beberapa hari terakhir, membuat teman-temannya kesulitan menemukannya. Sekarang setelah dia berjalan di siang bolong, mereka seharusnya bisa melakukan kontak.
Itulah salah satu alasan mengapa ia menerima untuk membawanya serta, sebagai umpan.
“Berhenti, siapa kalian?”
Sebuah patroli lewat dan menghalangi jalan mereka. Gadis itu menegang, bersiap untuk kabur, namun Zhuo Fan menahannya.
Sambil tersenyum, Zhuo Fan yang mengambil alih pembicaraan, “Kami adalah keluarga Gu dari rumah di dekat sini.”
Mengambil selembar giok komunikasi, pria itu membacanya lalu melambaikan tangan mempersilakan, “Oh, keluarga Gu yang baru, Gu Yifan, Gu Santong, dan Gu Qingyan. Kalian boleh lewat.”
Pasukan patroli itu kembali melanjutkan tugas mereka.
Gadis itu tertegun.
[Mereka membiarkan kita lewat semudah itu?]
Zhuo Fan dengan mudah menebak isi pikirannya, “Apakah kau lupa kita sudah mendaftarkan diri beberapa hari lalu? Giok itu berisi potret dan detail data diri kita. Di Kota Flying Cloud ini kita adalah keluarga beranggotakan tiga orang.”
“Lalu untuk apa selama ini aku berkeliaran seperti tikus ketakutan?” Gadis itu merasa bodoh sendiri.
Zhuo Fan mengangkat bahu, “Ya, kenapa kau malah kabur? Itulah yang disebut berwajah penuh dosa…”
“Mencurigakan…”
“Tunawisma…”
Ayah dan anak itu menikmati saat-saat menggoda gadis yang sedang tersipu malu itu. Tak satupun dari mereka menyadari sepasang mata sedang mengawasi dari sudut gelap…
Chapter 858 · 6m baca
A Family of Three
by Night Owl
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter