The Steward Demonic Emperor - Chapter 71 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 71 · 7m baca

Got An Egg

by Night Owl

Nyala api biru itu sekecil nyala lilin, berkedip-kedip ditiup angin di depan dahi Zhuo Fan.

Namun, di setiap ayunannya, mata Raja Singa Berapi itu bergetar, seolah ia sedang melihat ajalnya sendiri.

Ia lantas menarik cakarnya dan kabur dengan cepat dalam wujud bola api. Ia berlari pontang-panting tanpa harga diri, bahkan hampir saja terpeleset di beberapa titik.

Seekor binatang spiritual level 6, sang penguasa di jajaran Pegunungan Binatang, kini melarikan diri bagaikan anak kucing sementara seluruh persendiannya gemetar ketakutan.

Sambil mengerutkan kening, Zhuo Fan menyentuh dahinya, tetapi nyala api biru itu telah menyusup masuk ke dalam.

Ia hanya merasakan kehangatan samar dan menyimpulkan bahwa api itu terhubung dengan sang ahli yang muncul di alam kesadarannya dan menyentuh bagian itu.

"Hei, Zhuo Fan," Xie Tianyang mengguncang lengannya seraya bertanya, "J-jujur padaku, apakah kau benar-benar yakin kalau kau ini manusia?"

"Omong kosong, kalau bukan manusia, lalu apa aku ini, siluman?" Zhuo Fan menepis tangan Xie Tianyang.

"Aku belum pernah melihat manusia membuat binatang spiritual level 6 ketakutan hanya dengan tatapan mata." Xie Tianyang menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri dan melanjutkan, "Apa kau lihat betapa takutnya dia saat melihatmu? Seolah-olah dia takut kau akan memakannya mentah-mentah."

"Sebagai saudara, kau berhutang penjelasan padaku. Berapa banyak rahasia yang kau sembunyikan?"

Zhuo Fan memutar bola matanya lalu beralih menatap Xue Ningxiang, "Kita tidak pernah menjadi saudara!"

Xie Tianyang membeku, lalu ia tersenyum canggung. Namun, ia semakin dibuat penasaran oleh Zhuo Fan.

Mendekati Xue Ningxiang, mereka melihat wajah gadis itu basah oleh air mata saat ia menatap Burung Lark Petir. Singa itu memang tidak merenggut nyawanya, tetapi sang burung sudah terlanjur terluka parah dan tak tertolong.

Tidak seperti Xie Tianyang, ia mengabaikan Raja Singa Berapi yang kabur dan memeriksa luka-luka sang burung.

"Dia tidak akan bertahan." Zhuo Fan menyalurkan Yuan Qi-nya untuk memeriksa kondisi burung itu lalu menghela napas.

Rencananya untuk mendapatkan Burung Lark Petir kini pupus sudah.

"Kakak Zhuo, bisakah kau menolongnya?" Xue Ningxiang menatapnya dengan mata berkaca-kaca, namun Zhuo Fan hanya bisa menghela napas.

Sebagai Kaisar Iblis, ia punya segudang cara, tetapi dirinya yang sekarang sedang lemah.

Xue Ningxiang mulai menangis tersedu-sedu, air matanya menetes di wajah Burung Lark Petir.

Burung itu membuka matanya dan menoleh ke arah lain.

Xue Ningxiang menyadarinya dan melihat sebutir telur tidak jauh dari sana. Namun, telur itu hangus kehitaman.

Burung Lark Petir telah mengerahkan seluruh tenaganya tadi, tetapi tidak mampu menangkis setiap bola api yang datang.

"Dia menginginkan anaknya. Ayo kita cari." Isak Xue Ningxiang.

Zhuo Fan dan Xie Tianyang mencari di sekitar tempat itu dan tak lama kemudian menemukan empat butir telur yang gosong dan tak bernyawa.

"Bukankah ada satu lagi?" tanya Xue Ningxiang dengan cemas.

Keduanya menggelengkan kepala. Telur terakhir itu hilang. Mereka tidak dapat menemukannya di mana pun.

Xue Ningxiang merasa sangat sedih, berlutut di hadapan Burung Lark Petir sambil terisak, "Maafkan kami, kamilah yang telah melukaimu."

Burung Lark Petir terus menatap keempat telur yang hangus itu dengan mata berlinang air mata. Kemudian, matanya berkedip dan ia menggerakkan tubuhnya yang besar.

Dari bawah tubuhnya, telur terakhir menggelinding keluar. Utuh tidak rusak, meskipun masih ada beberapa bekas gosong di permukaannya.

Zhuo Fan menatap Burung Lark Petir cukup lama dan mengangguk dalam diam.

Meskipun dipaksa berlari kocar-kacir oleh Raja Singa Berapi, ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia memastikan untuk melindungi satu butir telur tanpa diketahui siapapun.

Dan ketika ia ambruk, ia menggunakan tubuhnya untuk menyembunyikan telur tersebut. Jadi, bahkan jika ia mati, telur itu akan tetap selamat. Ia mengorbankan nyawanya demi melindungi sang buah hati.

Memikirkan hal ini, Zhuo Fan menumbuhkan rasa hormat yang mendalam kepada burung tersebut.

Dengan suara ciutan, Burung Lark Petir menatap Zhuo Fan, atau lebih tepatnya, kening Zhuo Fan. Kemudian ia menoleh ke arah telurnya dengan tatapan penuh harapan.

"Kau ingin aku membawanya?" tebak Zhuo Fan.

Burung itu mengangguk, matanya dipenuhi kehangatan untuk sang telur.

Zhuo Fan memungut telur itu dan menghela napas, "Telur ini hangus parah, dan bahkan jika menetas, ia tidak akan bisa hidup lama. Kecuali..."

Ia membisikkan sisanya ke telinga Burung Lark Petir. Burung itu sempat terperanjat sejenak sebelum akhirnya mengangguk penuh rasa terima kasih.

Beralih menatap anaknya, Burung Lark Petir memejamkan mata dengan tenang. Ia kini bisa beristirahat dengan tenang karena tahu Zhuo Fan akan merawat anaknya.

Xue Ningxiang melihat napas terakhir burung itu meninggalkan raga dan menangis sejadi-jadinya.

Zhuo Fan dan Xie Tianyang menghela napas. Mereka tidak menyangka gadis itu begitu penuh belas kasih, bahkan terhadap seekor binatang spiritual.

Paling-paling mereka hanya akan menaruh sedikit rasa hormat, tetapi tidak akan pernah merasa begitu hancur karenanya.

"Uh, Ning'er, dia sudah tiada. Jangan terlalu bersedih," bujuk Zhuo Fan.

"Ya, aku tidak tahu kalau kau akan begitu welas asih pada Burung Lark Petir ini padahal baru pertama kali bertemu!" Xie Tianyang tertawa hambar sambil menggaruk kepalanya, tidak tahu bagaimana cara menghibur gadis itu.

Xue Ningxiang menyeka air mata dan hidungnya, "K-kalian salah paham. Burung ini memang malang, tapi aku tidak menangis karenanya. Aku jadi teringat rumahku. Kehadirannya mengingatkanku pada ayahku yang melindungiku di setiap langkah, merawatku..."

Keduanya tersenyum masam.

[Sepertinya gadis ini sedang bernostalgia. Pantas saja dia begitu tersentuh.]

"Uh, kalau bukan untuk burungnya, kalau begitu aku ambil bangkai Burung Lark Petir ini ya." Zhuo Fan merasa canggung saat memasukkan bangkai itu ke dalam cincin spasialnya, namun Xue Ningxiang hanya mengangguk.

Xie Tianyang justru tersulut amarah, "Hei, kenapa kau bisa memiliki seluruh bangkai binatang spiritual level 6 itu sendirian?"

Seekor binatang spiritual adalah harta karun itu sendiri. Terutama bangkai binatang spiritual level 6, yang sangat bagus untuk bahan pemurnian. Bahkan Tujuh Klan Besar jarang mendapatkan barang seperti itu, dan Xie Tianyang sangat mendambakannya.

Melirik ke arahnya dengan sebelah mata, Zhuo Fan berkata, "Kau sendiri melihatnya menyerahkan telurnya padaku. Bangkainya juga sama saja. Kau tetaplah di sini bersama Ning'er, aku akan segera kembali."

Ia langsung pergi sebelum sempat didebat oleh Xie Tianyang. Xie Tianyang sebenarnya ingin mengikuti Zhuo Fan, namun melihat kondisi Ning'er, ia mengurungkan niatnya. Ia mengkhawatirkan keselamatan gadis itu; meninggikannya sendirian di tengah hutan bukanlah tindakan bijak. Meskipun kehadiran dirinya pun sebenarnya tidak membawa banyak perbedaan.

Whoosh!

Di sebuah tempat terpencil, Zhuo Fan mengeluarkan telur tersebut, bangkai Burung Lark Petir, dan beberapa batu hitam.

Ia mulai mengalirkan Yuan Qi-nya hingga telapak tangannya menyala kemerahan.

Ini adalah api Yuan Qi paling dasar milik seorang kultivator. Lemah dalam pertarungan, namun berguna dalam pemurnian. Dan batu-batu hitam itu adalah batu spasial yang biasa digunakan untuk membuat cincin penyimpanan.

Batu-batu ini sangat langka meskipun seluruh tambang batu spasial dikuasai oleh Tujuh Klan Besar dan keluarga Kekuasaan Kekaisaran. Namun berkat dukungan Paviliun Naga Terselubung dan keluarga Kekaisaran terhadap Klan Luo, ia berhasil mendapatkan beberapa.

Dan sekarang, ia berencana untuk memurnikan cincin penjinak binatang.

Pembuatannya jauh lebih rumit daripada cincin penyimpanan, dan sekte-sekte besar memegang kaku metode pemurnian benda tersebut. Selain itu, cincin ini bahkan mampu menyimpan energi spiritual.

Karena binatang spiritual dipelihara oleh energi spiritual dunia, mereka adalah bahan terbaik untuk memurnikan benda-benda semacam itu.

Sebagai buktinya, telur ini berasal dari Burung Lark Petir, dan energi spiritual dari induknya akan membantu telurnya pulih. Jika bukan karena ini, Zhuo Fan tidak yakin apakah ia bisa menetaskannya.

Sekarang setelah Burung Lark Petir mati, ia sangat butuh menetaskan telur itu dan menjadikannya makhluk iblis miliknya demi bisa memasuki Ngarai Petir.

Untuk alasan inilah Zhuo Fan membisikkan beberapa patah kata kepada Burung Lark Petir yang sekarat. Dan burung itu setuju begitu tahu tubuhnya yang tak bernyawa bisa membantu anaknya hidup.

Bagaimanapun juga, ini adalah cara Zhuo Fan menunjukkan rasa hormat kepada sang induk. Lagipula, ia tetap akan melakukan tindakan ini terlepas dari apa pun keputusan burung itu.

Zhuo Fan menunjuk ke depan dan kobaran api membubung tinggi, memfuse (melebur) bahan-bahan tersebut dengan gerakan tangan berkecepatan tinggi diiringi senyum kepuasan.

Ia sudah hampir mencapai tujuannya.

Di tengah malam, bintang-bintang berkelip terang sementara Xue Ningxiang dan Xie Tianyang mengamati mereka dengan rasa bosan setengah mati. Karena ini adalah wilayah kekuasaan Burung Lark Petir, tidak akan ada binatang spiritual level 6 yang berkeliaran di sini. Ini adalah tempat paling aman bagi mereka.

Suara gesekan memecah keheningan dan Zhuo Fan muncul di sebelah mereka.

Xue Ningxiang berlari menghampirinya dengan gembira sementara Xie Tianyang mengamatinya dari atas sampai bawah, "Apa yang kau lakukan dengan bangkai itu?"

Sambil mengangkat bahu, Zhuo Fan menjawab terus terang, "Kukoyak jadi delapan dan kupakai."

Xue Ningxiang terkejut mendengarnya dan Xie Tianyang buru-buru menenangkannya, "Ning'er, tidak apa-apa. Memang begitulah cara memperlakukan bangkai binatang spiritual. Tapi aku penasaran benda apa yang berhasil dia buat darinya."

Xie Tianyang tahu Zhuo Fan adalah seorang penguasa formasi sekaligus alkemis, jadi menjadi seorang pandai pemurnian di saat bersamaan bukanlah hal yang mustahil. Karena Zhuo Fan pergi seharian penuh, ia menduga Zhuo Fan telah memurnikan sesuatu.

"Hei, tahukah kau kalau hari ini adalah ulang tahun Ning'er yang ke-16? Dia tadi teringat keluarganya saat Burung Lark Petir melindungi telurnya dan itu membuatnya menangis."

Zhuo Fan menatap lekat-lekat ke arah Xue Ningxiang, yang pipinya merona merah dengan kepala tertunduk.

"Ha-ha-ha, karena hari ini hari ulang tahunnya, kalau begitu aku akan memberinya hadiah." Zhuo Fan mengeluarkan sebuah cincin yang dialiri sambaran petir kecil di permukaannya. Kemudian ia meraih tangan Xue Ningxiang dan menyematkan cincin itu di jarinya.

"Ini adalah cincin penyimpanan yang kuciptakan dari Burung Lark Petir, Cincin Petir. Aku punya satu dan kau punya satu. Keduanya dibuat sebagai satu kesatuan, dan saling terhubung satu sama lain."

Zhuo Fan mengangkat tangannya dan percikan api menyala di cincin miliknya.

Xue Ningxiang merasa sangat gembira di dalam hati dan tersipu malu saat ia menyodorkan kepalan tangannya yang berhiaskan cincin tersebut. Zhuo Fan melakukan hal yang sama dengan tangannya dan kedua cincin itu mengeluarkan suara letupan kecil.

Xie Tianyang dipenuhi rasa iri dan berteriak, "Zhuo Fan, b-berikan aku satu juga."

"Sudah habis!" jawab Zhuo Fan datar, "Emangnya ini hari ulang tahunmu juga?"

"Bukan, tapi kau harus memberiku satu! Atau... kalian berdua... cincin pasangan." Wajah Xie Tianyang memerah panas. Ia tidak lagi peduli pada nilai Cincin Petir tersebut, melainkan fakta bahwa Zhuo Fan dan Xue Ningxiang mengenakan sepasang cincin yang unik...

Menyadari niat terselubung itu, Zhuo Fan menghela napas dalam hati, "Kita sudah melalui susah senang bersama, jadi tentu saja aku juga membuatkan satu untukmu."

Zhuo Fan lantas melemparkan sebuah cincin padanya. Xie Tianyang mengenakannya dengan gembira lalu menyatukan tinjunya dengan kepalan tangan Xue Ningxiang.

Masing-masing dari mereka mendapatkan Cincin Petir yang hanya akan bereaksi jika cincin pasangannya berada di sekitar mereka.

Zhuo Fan bertanya dengan serius, "Hadiah apa yang kau berikan pada Ning'er?"

Xie Tianyang terlonjak kaget dan menggaruk kepalanya karena ia tidak membawa satupun barang berharga. Tiba-tiba, ia menoleh ke arah Tikus Penggali dan menunjuknya, "Ning'er suka bermain dengannya, jadi kuberikan dia padanya."

"Pergi sana, dia sudah lama bukan milikmu lagi," sergah Zhuo Fan.

Xie Tianyang mendengus kesal, "Bukankah itu semua karena ulahmu?"

Keduanya mulai bertengkar sementara Xue Ningxiang berdiri dengan tenang di samping mereka sambil tersenyum. Sambil menatap Cincin Petir di jarinya tanpa sadar, ia berharap waktu berhenti agar mereka bertiga bisa tetap hidup tanpa beban.

Setelah malam yang panjang, mereka mulai melakukan perjalanan pulang pagi-pagi sekali keesokan harinya.

Namun sejauh belasan ribu mil jauhnya, seekor burung berukuran raksasa mengawasi setiap gerak-gerik mereka. Nyala api biru membungkus tubuhnya dan di setiap kepakan sayapnya, ia terbang semakin dalam menuju kedalaman Pegunungan Binatang...

Gunakan ← → untuk pindah chapter