The Steward Demonic Emperor - Chapter 499 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 499 · 5m baca

Poisoned

by Night Owl

Para pelayan berlari ke sana kemari di Istana Kekaisaran. Lampu-lampu gantung dan dekorasi dipasang untuk menyambut suatu acara besar. Kendati demikian, tidak ada perayaan besar yang diadakan, karena suara kemeriahan tidak pernah terdengar keluar dari dinding Istana Kekaisaran.

Di tengah malam buta, bulan tergantung tinggi di langit dan Istana Kekaisaran bersinar bagai siang hari, memperampakkan empat orang di aula yang luas.

Sang kaisar duduk di singgasananya, putra mahkota di kursi sebelah kanannya, si tambun di sebelah kirinya, dan Putri Yongning duduk agak jauh di sebelah kiri.

Dua generasi dari Klan Yuwen berkumpul di sini untuk sebuah foto keluarga, sementara para pelayan berdiri bersiaga di sisi ruangan.

Memandang anak-anaknya, sang kaisar yang telah lanjut usia menunjukkan kebaikan. "Hari ini adalah hari ulang tahunku. Ini tidak sesemarak perayaan tahun lalu, tetapi suasananya penuh kedamaian. Sudah terlalu lama kita tidak duduk bersama sebagai sebuah keluarga."

"Ayahanda Kekaisaran, semoga Anda hidup seribu tahun, untuk mengurus negara kita dan hidup tanpa beban. Adalah suatu keistimewaan bagiku bisa berada di sini bersama Anda dan sekadar mengobrol santai," ujar Putra Mahkota sambil membungkuk.

Si tambun mengikuti, sementara Yongning masih cemberut, membuang muka dengan enggan.

Sang kaisar mulai berbicara, "Putra Mahkota, aku tahu kau selalu bertindak sesuai aturan, tetapi kita sedang berada di antara keluarga sekarang. Tidak bisakah kau melepaskan formalitas lama yang kaku dan kosong itu?"

"Aku mematuhi titah Ayahanda Kekaisaran." Putra Mahkota kembali membungkuk.

Sang kaisar menghela napas, terbebani oleh kekuasaan dan duka kekaisaran. Bahkan darah dagingnya sendiri memperlakukannya seperti orang asing.

Sebagai perbandingan, Yongning tidak pernah kesulitan melanggar batas berkali-kali berkat sifat cerianya. Hanya di dekat putrinya inilah kaisar tua tersebut merasa selayaknya seorang ayah, memanjakan anak-anaknya secara berlebihan.

Ia menoleh ke arah putri kesayangannya itu, sama sekali tidak keberatan bahwa Yongning selalu menentangnya...

"Yongning, apakah kau masih menyalahkanku? Sudah enam bulan berlalu."

"Ayahanda, Anda mendatangkan penjajah ke negeri kita, mencelakai rakyat kita, merusak citra Anda sendiri, dan masih menganggap itu semua bisa dibenarkan?" bantah Yongning.

Sang kaisar berkata, "Yongning, untuk mencegah dunia yang busuk ini mencemarimu, aku menyembunyikan banyak hal darimu. Satu hal yang harus selalu kau ingat, apa pun yang kulakukan, kulakukan untuk kalian semua, demi masa depan Klan Yuwen. Uhuk~"

Batuk sang kaisar memancing simpati Yongning, tetapi ia tetap bersikap keras dan menolak memaafkan ayahnya.

Sang kaisar tersenyum melihat tatapan cemas putrinya.

Ia menoleh dan menunjuk ke arah aula yang kosong, "Putra Mahkota, Cong'er, apakah kalian ingat perayaan ulang tahunku yang terakhir? Saat orang-orang luar, para pejabat, dan banyak lagi datang untuk menunjukkan rasa hormat. Jadi, mengapa hari ini begitu sepi?"

Keduanya memilih bungkam. [Bukankah itu sudah jelas?] Dengan begitu banyak peperangan yang terjadi silih berganti, faksi-faksi telah runtuh.

Namun, jika pertanyaan itu datang dari sang kaisar, hal itu tentu mengandung makna yang lebih dalam.

"Ayahanda, itu karena Quanrong menahan kita," jawab Putra Mahkota sambil membungkuk dengan senyum penuh kebanggaan. "Mengadakan jamuan makan saat ini sama saja dengan mendeklarasikan bahwa kita dan Quanrong bersekutu. Perayaan tertutup ini tidak sepadan dengan kebesaran Ayahanda, tetapi Anda selalu memikirkan gambaran besar dalam segala hal."

Sang kaisar mengangguk, "Putra Mahkota, kau selalu begitu bijaksana dan cermat dalam analisis serta urusanmu. Aku merasa tenang..."

Hati Putra Mahkota langsung mencelos.

Pujian kaisar itu menyiratkan perasaan yang tidak menyenangkan. [Cerdik atau bijaksana itu sama saja.]

[Tenang? Ha, budak yang mengurus segalanya sementara sang tuan hanya tinggal memberi perintah. Ayahanda pasti bermaksud...]

Mata Putra Mahkota memancarkan kilatan tajam.

"Cong'er, bagaimana menurutmu?" tanya sang kaisar.

Si tambun membungkuk. "Ayahanda, hamba percaya istana ini tampak sepi karena Anda telah menyingkirkan para pemberontak. Untuk mengembalikan kehidupan dan kemakmuran ke istana serta negara, kita harus mempromosikan orang-orang berbakat demi kesejahteraan rakyat dan mengembalikan kejayaan kita di masa lalu."

Sang kaisar mengangguk, "Cong'er, matamu jeli. Bagus, bagus, ha-ha-ha..."

Sang kaisar kembali duduk di singgasananya.

Wajah Putra Mahkota tampak semakin suram tiap detiknya.

[Demi Tuhan, Ayahanda sedang menguji kebijakan kita, bukan menilai bagaimana kita menangani situasi ini. Ini adalah kesalahan penilaian yang fatal. Ayahanda pasti lebih menyukai si bungsu sekarang.]

Putra Mahkota menekan rasa amarahnya, lalu kembali duduk dengan muram.

Sang kaisar memberi isyarat agar perjamuan dimulai, menikmati makan malam keluarga yang menyenangkan. Semua orang tampak bahagia, kecuali Yongning yang memilih untuk mengabaikan ayahnya yang dianggap sebagai pengkhianat.

Sang kaisar tetap menatapnya dengan tatapan penuh kasih yang sama.

"Uhuk~"

Batuk yang hebat membuat wajah kaisar menjadi pucat. Seorang pelayan bergegas menghampiri dengan membawa semangkuk obat, "Yang Mulia, silakan minum obat Anda."

Sang kaisar meminumnya hingga tandas. Satu detik ia merasa lebih baik, namun detik berikutnya ia memuntahkan darah hitam, dengan kabut hitam melayang di sekitar wajahnya.

"Racun!" gerang sang kaisar.

Si tambun memeriksa dengan hati-hati dan Yongning menjadi panik, bergegas ke sisi ayah tercintanya sambil berlinang air mata, "Ayahanda, mengapa ada racun di dalam obat ini?"

Si tambun dan Yongning memelototi pelayan tersebut, tetapi pelayan itu sudah kehilangan akal karena ketakutan hingga hampir mengompol di celana.

Meracuni kaisar adalah kejahatan tingkat tinggi. Tentu saja ia akan panik.

Sebuah suara datar terdengar, "Ayahanda, usia Anda sudah lanjut dan sudah sepatutnya menyerahkan tahta. Aku meminta Anda untuk mengambil keputusan."

Putra Mahkota berdiri dengan bangga, menepuk debu yang tidak ada di bahunya.

"Kau!" Sang kaisar bergetar, berita ini sungguh menghancurkan.

Dengan senyum liciknya yang akhirnya terungkap, Putra Mahkota mengakui perbuatan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, "Benar, ini aku! Aku menyuruh seseorang memasukkan racun ke dalam obatmu, racun tingkat 7. Begitu racun itu meresap, tidak ada obat penawarnya."

"Kenapa, Kakak sulung, kenapa Kaka harus meracuni Ayahanda?!" ratap Yongning, sementara si tambun juga melotot tajam ke arahnya.

Putra Mahkota mengejek, "Yongning, ayahanda benar, kau terlalu naif. Semakin sedikit yang kau tahu, semakin baik."

"Aku ingin tahu! Katakan padaku alasan apa yang mendorongmu menempuh jalan pembunuhan raja dan ayah sendiri!" seru Yongning.

Putra Mahkota tersenyum sinis, "Kau benar-benar ingin tahu? Baiklah, akan kukatakan padamu. Kau menyebut ini pembunuhan ayah dan raja. Tapi, apakah Ayah tercinta pernah menganggapku sebagai seorang anak? Aku hanyalah pion dalam permainan-permainannya."

"Bagaimana kau bisa berbicara seperti itu tentang Ayahanda Kekaisaran?! Beliau mungkin mendatangkan penjajah ke wilayahnya, tetapi beliau tidak pernah memperlakukanmu dengan salah sekali pun!" tangis Yongning, dipenuhi rasa tidak percaya.

Putra Mahkota menunjuk kaisar yang telah diracun, wajahnya berubah gelap, "Tanyakan padanya, apakah beliau tidak pernah melakukannya."

Yongning menatap ekspresi jijik di wajah kaisar. "Oh? Coba katakan, Putra Mahkota, kapan aku pernah memperlakukanmu dengan salah?"

"Kau benar-benar ingin aku mengatakannya atau kau hanya ingin memahami pemikiranku?"

Putra Mahkota mencibir, "Tidak masalah, akan ku jelaskan. Kau menjadikanku Putra Mahkota di negeri ini tanpa ada niat sedikit pun untuk menyerahkan tahta kepadaku. Aku hanyalah perisai bagi si bungsu."

Putra Mahkota mengibaskan tangannya ke arah si tambun. Tubuh tambun itu bergetar kaget.

Sang kaisar berkata, "Lanjutkan."

"Ayahanda, semua orang mengincar posisi Putra Mahkota. Anda mengangkatku sejak dini dan memusatkan perhatian semua orang kepadaku agar si bungsu dapat dengan mudah mengisi peran masa depannya."

Putra Mahkota menyipitkan mata, "Kaisar adalah penguasa tertinggi dan tahu betul setiap hal kecil yang terjadi di Tianyu. Selama beberapa dekade, hanya si bungsu yang berkelana di berbagai wilayah. Anda sepertinya tidak menyukainya, memberinya tugas-tugas terberat, padahal sebenarnya Andalah yang paling menyayanginya. Anda menjauhkannya demi melindunginya. Semua tugas yang Anda pilihkan untuknya adalah untuk membentuknya agar layak menduduki tahta. Sementara Putra Mahkota yang agung ini masih terjebak dengan target di punggungnya, menarik kebencian semua orang, untuk akhirnya dibuang begitu saja pada akhirnya."

Mata Putra Mahkota memerah. Dua orang lainnya merasa benci dan enggan percaya, namun tetap menoleh ke arah sang kaisar dengan tertegun.

Namun sang kaisar hanya balas menatap Putra Mahkota...

Gunakan ← → untuk pindah chapter