Zhuo Fan dan Gu Santong tersenyum. Sementara yang pertama mengeluarkan nyala api biru di dahinya, yang terakhir memancarkan pendar kemerahan yang mengerikan.
Hum~
Kedua aura itu melepaskan gelombang energi, berpadu di udara dan menghancurkan formasi pasukan buas berkeping-keping.
Roar~
Binatang buas itu melenguh kesakitan, mengamuk ke segala arah. Para prajurit Quanrong memberi isyarat untuk mengendalikan mereka, sebuah usaha yang sia-sia.
Tuoba Tieshan dan para serigala terperanjat.
Zhuo Fan menyeringai, matanya memancarkan kilat liar saat ia memberi isyarat, "Bawa tubuh Marsekal. Kita menerobos!"
"Bentuk formasi, maju!" seru Dugu Feng. Pasukan Dugu menderu balik, melaksanakan perintah itu.
Tuoba Tieshan sama sekali tidak punya cara untuk mengadang mereka, terlebih saat pasukannya yang berintikan binatang spiritual sedang mengamuk. Pasukannya baru saja porak-poranda hingga tersisa sepersepuluh dari kekuatan mereka.
[Apa... yang baru saja terjadi?]
Ia menyaksikan Pasukan Dugu berjalan santai menembus barisan mereka, tak berdaya dan tertegun hingga tidak bisa melakukan apa pun. Lagipula, ia memang tidak bisa berbuat apa-apa.
Raja Bayangan datang ke sisinya, menunjuk ke arah dua orang di depan, "Panglima, merekalah pelahnya. Bunuh mereka dan binatang buasmu akan menjadi tenang."
Tuoba Tieshan berseru. Pasukan Dugu telah keluar dari kepungan di tengah kekacauan, sementara Zhuo Fan memasang senyum jahat dan merendahkan yang sangat dikenal oleh semua korbannya.
[Sebuah ejekan, ejekan keparat!]
Tuoba Tieshan mendapati keahlian Marsekal baru ini sangat aneh. Ia bisa mengerti mengapa Dugu Zhantian memercayakan pasukannya kepada bukan siapa-siapa ini.
Namun, gaya Zhuo Fan menyulut api kemarahan di dalam dadanya seperti yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain.
[Kalian anak busuk, bahkan Dugu Zhantian tidak pernah mengambil sikap seperti itu kepadaku, tapi kau berani melakukannya?]
"Serigala Pembantai, bawa anak buahmu dan tangkap kedua orang itu!" teriak Tuoba Tieshan.
Serigala Pembantai membungkuk, "Siap, Jenderal!"
Divisinya adalah satu-satunya yang siap bertempur.
Serigala Pembantai membawa ratusan ribu anak buahnya menyerang Zhuo Fan dan Gu Santong. Para prajurit berpakaian putih itu tampak seperti Asura, memadukan Yuan Qi dan niat membunuh mereka.
Serigala Pembantai memimpin serangan, mengibaskan tombak halberdnya yang perkasa dan membuat udara di sekitarnya bergetar.
Zhuo Fan tampak terkejut.
Ini adalah pertama kalinya ia menghadapi sebuah formasi. Serigala Pembantai seorang diri sama sekali tidak berarti bagi dirinya atau Gu Santong, hanya dengan sejumput jari maka ia akan lenyap.
Namun dengan para prajurit di belakangnya yang menggabungkan Yuan Qi mereka, mereka melepaskan tekanan yang bahkan lebih besar daripada Tubuh Berlian Sembilan Naga milik Huangpu Tianyuan.
Menghadapi terjangan seperti itu seorang diri, ia akan dicabik-cabik berkeping-keping.
Sementara Gu Santong tertawa, menikmati keunggulan tubuh makhluk suci yang tangguh, "Waktu yang tepat. Biarkan aku mencobanya!"
"Tahan, Sanzi kecil, kau mungkin tidak akan sanggup menahan ini juga." Zhuo Fan menahan bahunya, "Lagipula, medan perang, sesuai definisinya, berarti pertempuran kelompok, pertempuran otak bukan otot. Semakin mencolok kekuatan sebuah formasi, semakin telak kelemahannya, yaitu mobilitasnya. Ha-ha-ha..."
Mata kanan Zhuo Fan memancarkan kilau keemasan, "Mata Dewa Kehampaan, Berpindah!"
Whoosh~
Zhuo Fan dan Gu Santong telah lenyap.
Lonjakan kekuatan Serigala Pembantai sama sekali tidak mengenai sasaran.
Bum!
Satu-satunya korban di sini adalah sebuah bukit di kejauhan, yang kini memiliki celah menganga yang sangat besar.
Serigala Pembantai menurunkan tombaknya dan melihat sekeliling dengan kebingungan.
Tuoba Tieshan dan para komandan lainnya sama-sama terdiam seribu bahasa.
Whoosh!
Suara tajam terdengar dan Tuoba Tieshan merasakan hawa dingin di lehernya lalu membeku di tempat.
Hal yang sama terjadi pada para komandan serigala, menoleh ke belakang dengan kaku.
Zhuo Fan dan Gu Santong telah muncul di hadapan mereka, menodongkan ujung pedang Dugu Zhantian tepat di leher sang panglima.
"Panglima!"
Para serigala panik. Kapan dia berada di belakang mereka? Kenapa mereka tidak bisa merasakannya? Dan, yang lebih penting, bagaimana dia melakukannya?
Raja Bayangan adalah satu-satunya orang di sini yang menyadari trik licik Zhuo Fan yang melanggar batas jarak aman itu.
[Pertama kau meremehkan musuhmu dan sekarang kau dikejutkan karena kepalamu disandera. Bagaimana cara kalian bertarung?]
"Jangan bergerak sedikit pun..." ancam Zhuo Fan dan para serigala itu langsung berdiri mematung.
Zhuo Fan menyeringai kepada semua orang di sana sebelum menoleh ke sanderanya, "Panglima Tuoba, aku memegang kendali atas dirimu sekarang. Nasibmu ada di tanganku. Katakan padaku, apakah Marsekal baru ini layak mendapatkan perhatian penuh darimu?"
Tuoba Tieshan tersentak, "Yang muda melampaui yang tua. Aku tak terkalahkan seumur hidupku namun harus jatuh ke tanganmu pada bentrokan pertama kita. Dugu Zhantian akan merasa tenang mengetahui Pasukan Dugu berada di tangan yang tepat."
"He-he-he, aku tersentuh. Aku telah banyak mendengar tentang Panglima Tuoba dan Marsekal Dugu sebagai Dewa Perang di era ini dan sangat ingin melihat kalian dengan mata kepalaku sendiri. Tapi melihat bagaimana kau tertipu begitu mudahnya, kau ternyata tidak sehebat itu. Kau sama sekali bukan tandinganku!"
"Ulangi lagi kata-katamu itu!" bentak Tuoba Tieshan.
Para Komandan Serigala membalas, "Keparat sombong, seorang prajurit akan memilih mati daripada menanggung malu. Apakah begini cara Dugu Zhantian melatihmu?"
"Ha-ha-ha, pertama-tama, aku tidak pernah dilatih di bawah didikan Dugu Zhantian. Dia pernah ingin agar kita bekerja sama tapi kita terjebak di sisi yang berlawanan. Jika bukan karena peristiwa tak terduga ini di mana mereka kekurangan kepemimpinan yang cakap, aku juga tidak akan menerimanya. Dan kedua, aku hanya menyatakan fakta."
Zhuo Fan melanjutkan dengan senyum lebar, "Raja Bayangan di sini adalah orang yang paling mengenalku. Jika Panglima Tuoba adalah musuh bebuyutanku, kepalanya sudah lama melayang. Ha-ha-ha, sebagai bentuk penghargaan atas rasa hormatmu kepada Marsekal Dugu tercinta, aku akan melakukan hal yang sama. Sampai jumpa."
Zhuo Fan dan Gu Santong kembali lenyap, muncul sejauh satu mil jauhnya.
Tuoba Tieshan merasa terpukul, meskipun ia sudah bebas.
Ia telah diremehkan, dianggap bukan sebagai ancaman. Itulah satu-satunya alasan mengapa ia masih bernapas.
Dan hal itu membuatnya merasa hampa di dalam dada.
"Mati kau, bocah!" Serigala Pembantai menerjang ke arahnya bersama anak buahnya. Belum pernah ada orang yang mempermainkannya selama masa pengabdiannya yang panjang. Harga dirinya terluka parah.
Zhuo Fan tidak punya waktu untuk meladeninya. Menemukan Pasukan Dugu di kejauhan, ia memberi isyarat kepada Gu Santong.
"Tinju Melambung, Membelah Surga!"
Tinju imut itu menghantam udara dan bumi bergolak bagaikan lautan yang mengamuk.
Serigala Pembantai kewalahan menghadapi apa yang bisa dilakukan oleh seorang anak kecil. [Sama persis seperti formasi pertempuran...]
Ia segera memasang formasinya tepat pada waktunya agar bisa menahan serangan tersebut.
Ketika segala sesuatunya menjadi tenang, yang bisa mereka dengar hanyalah suara arogan Zhuo Fan, "Aku dibutuhkan di tempat lain, untuk urusan kemiliteran. Kita akan bertemu lagi di medan perang. Kalian bebas mengejarku, jika kalian merasa kepala kalian itu terlalu berat untuk pundak kalian."
[Sungguh bajingan yang sombong, lancang, dan keterlaluan!]
Itulah pemikiran yang ada di benak setiap orang.
"Raja Bayangan, sebenarnya siapa orang itu?" Tuoba Tieshan mengarahkan tatapan tajam ke sosok hitam itu, badai kemarahan berkecamuk di dalam hatinya.
Kepergian Dugu Zhantian menghadirkan kesepian yang tak tertahankan bagi seorang maestro militer sepertinya, tetapi kedatangan Zhuo Fan memperlihatkan kepadanya seorang lawan baru.
Raja Bayangan menghela napas, "Zhuo Fan, pendatang baru paling cemerlang di Tianyu sekaligus pelayan Klan Luo dari Kota Windgaze, delapan keluarga bangsawan. Licik, kejam, bermuka dua, dan sangat kuat, semua hal itu menjadikannya musuh terburuk di Tianyu. Yang Mulia mengirimku ke sini untuk menghadapi Pasukan Dugu agar kau bisa fokus menghadapi anak itu selanjutnya."
"Zhuo Fan..."
Mata Tuoba Tieshan menyipit, "Ini adalah lawan yang harus kuajak bertarung!"
Chapter 477 · 5m baca
Concluded
by Night Owl
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter