Keheningan yang mencekam!
Semua orang menyaksikan dengan mulut ternganga pada pemandangan di hadapan mereka. Tidak ada seorang pun di sana yang pernah membayangkan seorang anak kecil di Alam Kondensasi Qi mampu memperdaya para ahli Pemurnian Tulang, bahkan membunuh salah satu dari mereka dalam sekali pukul.
Segala cemoohan dan rasa jijik yang mereka miliki terhadap Zhuo Fan kini berubah menjadi kewaspadaan yang luar biasa.
Si gemuk masih terpaku, menatap Zhuo Fan seolah otaknya mendadak konslet. Ia akhirnya sadar bahwa bukanlah dirinya yang menahan diri paling banyak dalam duel mereka tadi, melainkan Zhuo Fan.
"Bunuh keparat itu duluan!"
Disusul sebuah teriakan, para pria itu menerjang ke arah Zhuo Fan bersama-sama. Pikiran mereka kini sehati, tidak lagi berbeda pendapat. Mereka harus membunuh keparat yang mengerikan dan keji ini terlebih dahulu. Jika mereka membiarkannya sampai akhir, mereka yakin harus membayar harga yang sangat mahal, meskipun jumlah mereka jauh lebih unggul.
Mereka telah lama melupakan tujuan utama mereka dan kini mengarahkan senjata ke arah si keparat yang sedang memegang Bulan Liar dan berdiri di tengah genangan darah.
Sambil tersenyum masam, Zhuo Fan mendengus, "Aku memang mengharapkan ini!"
Detik berikutnya, ia melompat ke arah musuh pertama. Pria itu terkejut dan buru-buru mundur. Bahkan jika Zhuo Fan baru berada di Alam Kondensasi Qi dan tidak bisa melukainya, harta iblis tingkat tiga itu akan merobek tubuhnya semudah memotong mentega.
Pemimpin mereka menemui kematian yang mengenaskan akibat meremehkan Zhuo Fan, dan ia sama sekali tidak berniat membuat kesalahan yang sama.
Dengan mata terpaku pada lintasan Bulan Liar, si pembunuh menyeringai. Ia tahu cara menghadapi Zhuo Fan. Karena kecepatannya lebih unggul daripada Zhuo Fan, yang perlu ia lakukan hanyalah mewaspadai Bulan Liar, dan membunuh bocah ini akan menjadi hal yang sangat mudah.
Namun, tepat saat ia hendak melompat untuk menyerang, Bulan Liar memancarkan kilau perak. Cahaya itu melingkupi Zhuo Fan lalu melesat melewati tubuh si pembunuh.
Si pembunuh tidak tahu apa yang terjadi dan hanya bisa mendongak saat separuh tubuh bagian atasnya meluncur jatuh ke tanah sementara separuh bagian bawahnya tetap berdiri tanpa bergerak.
Saat terjatuh, ia masih bisa melihat wajah garang Zhuo Fan. Terutama matanya, begitu dingin dan tanpa ampun.
Semua orang tersentak ngeri saat melihat Zhuo Fan dengan perasaan takut yang mendalam.
Jika orang-orang mengira pembunuhan terhadap pemimpin mereka sebelumnya hanyalah hasil dari serangan diam-diam, kali ini pertarungan terjadi secara adil namun Zhuo Fan tetap mampu membunuh seorang ahli Pemurnian Tulang dalam sekejap.
Ketika cahaya perak itu kembali berkelebat, gerakannya begitu cepat sehingga tak satupun dari para pembunuh sempat bereaksi sebelum Zhuo Fan merobohkan korban berikutnya.
Kecepatan yang begitu mengerikan ditambah ketajaman ujung Bulan Liar membuat punggung para pembunuh basah oleh keringat dingin.
"Karena kalian berani datang mencari masalah di wilayahku..." Zhuo Fan menyipitkan mata ke arah setiap orang di sekelilingnya dan menggoreskan jarinya di leher sementara matanya berubah merah, "...Nyawa kalian taruhannya."
Seketika itu juga, wajah mereka semua pucat pasi dan melangkah mundur. Ketakutan yang mereka rasakan dari mata pemuda itu melipatgandakan teror yang telah mencekam mereka. Batas peran mulai kabur, membuat tidak jelas lagi siapa yang menjadi korban dan siapa pembunuhnya.
Peran antara pemburu dan mangsa kini telah berbalik.
Si gemuk menatap tatapan mendominasi Zhuo Fan dengan perasaan sangat terkejut. Kemudian, ia diliputi oleh perasaan akrab yang tiba-tiba—sebuah aura agung dan mengintimidasi yang biasanya hanya ia rasakan dari ayahnya sendiri.
Namun apa yang ia rasakan dari Zhuo Fan jauh lebih menekan. Seolah-olah siapa pun yang berani melawan pria ini pasti akan menemui ajalnya tanpa ada harapan untuk selamat.
Tekanan yang dipancarkan oleh kekuatan Zhuo Fan bahkan mampu membuat tubuhnya menggigil.
Melihat bahwa mereka tidak dapat menandingi Zhuo Fan secara individu, seorang pembunuh berteriak, "Jangan takut, ayo serang bersama-sama! Dia hanyalah bocah Kondensasi Qi yang mengandalkan harta iblis tingkat tiga. Jika kita mengepungnya, riwayatnya akan tamat."
Yang lain mengangguk saat ketakutan di wajah mereka mulai mereda; kini setelah memiliki rencana, mereka kembali menemukan secercah harapan.
Diiringi teriakan, para pembunuh menerjang ke arah Zhuo Fan, merapatkan kepungan jaring maut di sekelilingnya.
Sambil mencibir, Zhuo Fan maju tanpa rasa takut sambil menggenggam Bulan Liar. Targetnya menelan ludah dengan susah payah tetapi tidak mundur karena ada rekan di setiap sisinya yang melancarkan pukulan ke arah Zhuo Fan.
Jika Zhuo Fan terus mendesak maju, si pembunuh akan mati, tetapi begitu pula dengan Zhuo Fan di bawah serangan gabungan dari dua ahli Pemurnian Tulang.
Namun, jika ia malah mundur, itu hanya akan memperketat kepungan dan kematiannya hanyalah masalah waktu.
Zhuo Fan sama sekali tidak berencana mati dalam pertarungan ini, atau ia pasti sudah kabur sejak lama dengan bantuan peningkatan kecepatan dari Bulan Liar.
Wus!
Disertai kilatan perak, Zhuo Fan menghilang dari pandangan mereka dan pukulan-pukulan itu hanya mengenai udara kosong. Zhuo Fan kemudian mendarat tepat di hadapan pembunuh yang berdiri di belakang dua orang lainnya.
Tidak menduga hal ini, si pembunuh terkejut tetapi segera merasa gembira begitu melihat Zhuo Fan tidak menghadap ke arahnya. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan melayangkan pukulan ke punggung Zhuo Fan yang tidak terlindungi.
[Kepalamu adalah milikku, Nak.]
Namun sebuah kilatan cahaya perak melintas dan pria itu membeku.
Di ambang malapetaka, Zhuo Fan mengayunkan Bulan Liar di sekelilingnya dan melompat keluar dari lingkaran ketat mereka.
Adapun pria yang berada di belakang Zhuo Fan, ia hanya bisa menatap dengan mata terbelalak saat tubuhnya jatuh ke tanah menjadi dua bagian, dengan darah dan isi perut tumpah ke mana-mana.
Satu lagi!
Bahkan di bawah serangan gabungan mereka, Zhuo Fan berhasil keluar tanpa cedera dan merenggut nyawa satu rekan mereka lagi. Ketakutan di mata mereka semakin membumbung tinggi.
Sebelumnya mereka sempat menaruh harapan, berharap bisa membunuhnya dengan mengandalkan jumlah. Tapi harapan itu kini telah sirna.
"Monster macam apa dia sebenarnya? Sejak kapan Tujuh Klan Bangsawan memiliki orang seperti ini?" maki seorang pembunuh saat ia merasakan lututnya gemetar.
Sambil mencibir dalam hati, Zhuo Fan menyipitkan matanya dan membanjiri sekeliling dengan niat membunuh yang pekat.
Para pembunuh ini telah kocar-kacir, mereka kehilangan nyali dan bukan lagi sebuah ancaman. Sekarang adalah waktu yang paling tepat untuk menghabisi mereka.
Zhuo Fan maju menerjang dengan senyuman buas.
Cahaya perak berkelebat saat Zhuo Fan mengayunkan Bulan Liar, membuat anggota tubuh berhamburan di setiap lintasannya. Para pembunuh menjerit dalam upaya sia-sia mereka untuk menghindar, setelah kehilangan segala tekad dan keinginan untuk melawan.
Zhuo Fan bagaikan serigala di tengah kawanan domba, memuaskan nafsunya akan pembantaian dan pertumpahan darah. Bagi mereka yang sesekali masih memiliki semangat dan keberanian, Bayi Darah akan merasuk ke dalam tubuh dan melumpuhkan gerakan mereka. Hal itu mempermudah Zhuo Fan untuk mencabik-cabik mereka tanpa ampun.
Jika di hari lain, dengan kekuatan Zhuo Fan dan bantuan Bayi Darah, ia mungkin hanya bisa bertarung melawan seorang ahli Pemurnian Tulang saja. Jika yang lain ikut bergabung, ia akan kesulitan menanggapi serangan mereka, apalagi membunuh belasan orang sekaligus.
Namun keberuntungan berpihak padanya karena ia berhasil merampas Bulan Liar dari Sesepuh Yun, yang telah ia bunuh sebulan lalu.
Hal ini memberinya kepercayaan diri yang baru. Bulan Liar sama mematikannya dengan Bayi Darah bagi para ahli Pemurnian Tulang, atau bahkan mungkin lebih. Terutama jika memperhitungkan kemampuannya yang dapat meningkatkan kecepatan seseorang. Dan semua itu berlipat ganda karena Zhuo Fan memang sudah memiliki keahlian untuk melompati tingkat kultivasi.
Jika dipikir-pikir, ia benar-benar patut berterima kasih kepada Lembah Neraka karena telah melemparkan mainan sebagus ini ke pangkuannya.
Mendengar ratapan pilu para ahli Pemurnian Tulang, melihat kepala dan jeroan beterbangan ke sana ke mari, si gemuk tetap tertegun tanpa reaksi. Ia berdiri di sana menyaksikan tarian mengerikan yang dibawakan oleh Zhuo Fan dengan Bulan Liar. Melihat para pembunuh ini menangis dan memohon belas kasihan adalah sesuatu yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
Ia hampir tidak percaya bahwa pria yang pernah ia anggap sebagai saingan cintanya, pria yang ia tantang, ternyata memiliki kekuatan hingga ke tingkat ini.
Mengingat kembali duel mereka tadi, hal itu kini terasa seperti sebuah lelucon belaka.
Para ahli Pemurnian Tulang dibantai bagaikan hewan di hadapan si gemuk. [Aku, seorang kultivator Kondensasi Qi lapisan ketujuh, berani melayangkan tantangan, dan bahkan bersikap lunak kepadanya atas nama keadilan.]
"Huh, Yuwen Cong, tindakan lunakmu dan kotbah tentang keadilan itu ternyata sama sekali tidak ada artinya." Si gemuk menggelengkan kepala, merasa prihatin.
Ia telah melihat banyak rekan seusianya di antara tujuh klan yang merupakan para jenius, dan bahkan jika ia tidak lebih kuat dari mereka, ia yakin kekuatan mereka tidak jauh darinya.
Namun Zhuo Fan menunjukkan kepadanya hari ini apa arti pepatah 'di atas langit masih ada langit'.
Para jenius itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dirinya sampah belaka. Terlebih lagi, jurang pemisah itu begitu besar di usia yang begitu muda...
Long Kui menutup mulutnya, mengalami keterkejutan terbesar yang pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Ini adalah pertama kalinya ia melihat Zhuo Fan bertarung. Ia pernah mendengar tentang dirinya yang membunuh dua ahli Alam Surga Mendalam, namun keraguan tetap ada di hatinya. Gagasan itu terlalu luar biasa untuk dipercaya siapapun.
Tetapi menyaksikan pria itu bertarung hari ini, membuat nona muda itu terpana.
Kekejaman, tatapan angkuh itu, seolah-olah sesosok iblis telah turun—iblis yang mampu menebar ketakutan dan menundukkan bahkan para ahli Pemurnian Tulang sekalipun.
Wus!
Ketika Zhuo Fan akhirnya berhenti, Bulan Liar di tangannya meneteskan darah. Tanah kering di sekitarnya telah berubah menjadi genangan darah yang luas.
Seorang pembunuh menggigil saat menyaksikan ujung Bulan Liar jatuh dengan penuh teror. Kakinya telah buntung, namun rasa sakitnya tidak lagi dirasakan karena permohonan ampun adalah satu-satunya hal yang tersisa di benaknya.
Tanpa meliriknya sedikit pun, Zhuo Fan bertanya dengan dingin, "Siapa yang mengutus kalian?"
Mata Zhuo Fan sama sekali tidak memancarkan secercah pun rasa iba terhadap makhluk hidup di dunia ini, yang ada hanyalah kedinginan yang mutlak.
Si pembunuh melihat sekeliling untuk mendapati rekan-rekannya yang telah tewas dan rasa takut menyelimuti hatinya. Ia tidak tahu harus mulai dari mana untuk menggambarkan kebuasan dan kekejaman pemuda di hadapannya ini. Pemuda ini adalah, dalam segala artian yang sebenarnya, sesosok iblis.
Hati si pembunuh hancur berkeping-keping.
"I-ini..."
Namun suara siulan yang tajam tiba-tiba terdengar dan cahaya di mata si pembunuh seketika padam.
"Membunuh dengan niat tersembunyi, seorang ahli Alam Radiant!"
Zhuo Fan menarik napas dingin. Matanya yang sedari tadi sedalam sumur dan sedingin es kini memperlihatkan riak-riak kepanikan...
Chapter 45 · 7m baca
Slaughter
by Night Owl
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter