The Steward Demonic Emperor - Chapter 1226 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 1226 · 5m baca

Crossing the Sea

by Night Owl

Chu Qingcheng menunduk, tampak salah tingkah. "Aku tadi tidak berpikir panjang, hanya terdorong untuk menghadapi bahaya apa pun demi menggantikanmu. Mengenai akibatnya, aku bahkan tidak peduli meskipun aku harus mati."

"Ha-ha-ha, kau sama sekali tidak berubah."

Memeluknya, Zhuo Fan mengelus punggung wanita itu sambil tersenyum.

Chu Qingcheng bersandar di bahunya, hatinya merasa puas hanya dengan berbaring di dalam pelukan itu. Tiba-tiba ia menangis dan berkata, "Jangan salah paham..."

"Salah paham tentang apa?" Zhuo Fan menatapnya dengan aneh.

Chu Qingcheng menjadi malu. "T-tentang He Xiaofeng itu. Aku tidak tahu kenapa seorang Saint, yang baru saja datang ke Sekte Awan Merah, tiba-tiba mendekatiku. Aku sudah bilang padanya kalau a-aku punya..."

"Punya seseorang?"

Chu Qingcheng tergagap, pipinya semakin memerah, sementara Zhuo Fan mengggodanya.

Chu Qingcheng hanya mengangguk pelan, lalu eksporinya berubah menjadi sedih. "Pria itu terus mendesak, mengabaikan perasaanku, bahkan menggangguku setiap hari. Seperti tadi, dia langsung menarikku dan tidak mau melepaskanku, lalu kebetulan aku bertemu denganmu di sini. Makanya kubilang jangan salah paham. Tidak ada apa-apa di antara kami."

"Aku tahu."

Mengelus rambutnya, Zhuo Fan tersenyum. "Seperti yang kukatakan, kau adalah milikku, tetapi bukan dalam artian kepemilikan semata. Aku selalu percaya bahwa kau pun merasakan hal yang sama terhadapku. Itulah sebabnya aku tidak pernah ragu sedetik pun, atau salah paham. Kau tidak perlu menjelaskan apa pun."

Tidak menyangka pria itu akan berkata demikian, Chu Qingcheng merasa dipenuhi kehangatan. Ia lalu memeluk Zhuo Fan lebih erat dengan senyuman penuh rasa syukur, "Zhuo Fan, terima kasih."

"Sudah sewajarnya."

Zhuo Fan menepuk punggungnya, sementara ia merasakan hawa membunuh mulai merayap dari lubuk hatinya.

[Saint itu pasti merencanakan sesuatu sampai begitu terobsesi pada Qingcheng. Apakah dia mengincar benda itu?]

Dengan kekuatan tingkat Saint-nya, membunuhnya di dunia luar mustahil dilakukan tanpa meninggalkan jejak. Namun di Laut Nether, siapa yang akan tahu?

Zhuo Fan menyipitkan mata, tatapannya memancarkan hawa dingin.

He Xiaofeng tidak akan pernah menduga bahwa serangga kecil yang ingin ia tindas di Laut Nether yang berbahaya justru memiliki rencana yang sama terhadapnya.

Pria itu pasti akan tertawa terbahak-bahak jika mengetahuinya.

[Seorang kultivator Tempa Tulang membunuh seorang Saint? Ha! Aku bahkan bisa duduk santai dan membiarkannya menyerangku, namun dia tetap tidak akan bisa mengoresku sedikit pun.]

Meski begitu, serangga kecil yang diincarnya ini memiliki gigitan yang tidak biasa...

"Aku tidak tahu kalau Laut Nether kini telah berubah menjadi sarang cinta."

Sebuah suara tua mendesah, kata-katanya bergema di udara.

Keduanya terperanjat, lalu melihat seorang kakek sedang berjalan di atas pasir pantai dengan keranjang bambu di punggungnya.

Meskipun suara pria tua itu pelan, mereka berdua mendengarnya dengan sangat jelas.

Alis Zhuo Fan berkedut. "Aneh sekali. Aku tidak tahu ada orang yang tinggal di sini."

"Laut Nether berkeliaran dengan jiwa-jiwa tersesat. Tidak ada manusia di sini, yang ada hanyalah jiwa!" Telinga pria tua itu berkedut seraya menatap mereka dengan senyuman ramah. "Atau, apakah kalian berdua ini manusia?"

Chu Qingcheng mendongak. "Tentu saja."

"Manusia memiliki fisik sebagai wadah bagi jiwa mereka, membuat mereka mustahil untuk datang ke sini. Yang ada di sini hanyalah jiwa-jiwa yang tersesat, entah itu dari binatang spiritual atau manusia; bukan jiwa seutuhnya, melainkan hantu."

Pria tua itu tersenyum tipis. "Kalian berdua saja yang belum menyadari kalau kalian sudah mati. Jiwa orang-orang mati akibat pertempuran mengerikan atau dari ledakan diri berbentuk berkeping-keping, yang perlahan-lahan disatukan kembali di Laut Nether. Kondisi itu juga disertai dengan hilangnya ingatan. Seiring berjalannya waktu, ingatan itu akan kembali kok, tidak usah terburu-buru, ha-ha-ha."

Zhuo Fan merenungkan kata-kata itu.

[Jadi, bahkan teknik ledakan diri pun tidak bisa melenyapkanmu, dan jiwamu bisa pulih di Laut Nether?]

Ia bertanya, "Senior, apakah semua orang yang jiwanya tercerai-berai bisa terbentuk kembali di sini?"

"Tidak selalu. Laut Nether tidaklah tak terbatas dan hanya dapat menampung jiwa berkeliaran dalam jumlah tertentu. Semuanya bergantung pada takdir." Pria tua itu menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Jiwa-jiwa pecah bernasib baik yang datang ke sini hanya memiliki secercah harapan untuk bertahan hidup dan berinkarnasi. Laut Nether berada di bawah kendali Nether Sovereign. Dia bisa menyelamatkan beberapa, tapi tidak pernah semuanya. Kodrat semua makhluk hidup adalah binasa, sementara reinkarnasi harus diperoleh. Orang mati seharusnya tidak menyimpan kebencian, karena memang begitulah jalannya."

Keduanya mengangguk.

[Ya, hidup membawa banyak cobaan yang melahirkan kebencian. Apakah singgasana pencerahan Nether Sovereign mampu membasuh kebencian ini?]

[Konon kabarnya Nether Sovereign mengendalikan hidup dan mati, hingga ditakuti bagaikan Raja Neraka. Mungkin, dia sebenarnya adalah sosok yang memiliki welas asih atau cinta yang besar.]

"Bagaimana kalian berdua bisa mati? Jika kalian ingin menyeberangi lautan, aku bisa memberi kalian tumpangan." Pria tua itu tersenyum.

"Menyeberangi Laut Nether?" Zhuo Fan mengerutkan kening.

Pria tua itu mengangguk, "Menyeberangi Laut Nether untuk melepaskan segala urusan duniawi. Kalian harus melepaskan segalanya dari alam kehidupan dan melewati Laut Nether agar memiliki kesempatan untuk berinkarnasi."

"Melepaskan?"

"Ingatan, perasaan, cinta, persahabatan, kebencian, kemarahan, balas dendam, keserakahan, semuanya."

"Apakah ada yang tidak ingin menyeberang?"

"Ada banyak yang seperti itu, memilih tinggal di sini, di Laut Nether. Banyak pasangan seperti kalian yang akhirnya menjadi mangsa bagi makhluk buas laut untuk menyerap energi jiwa mereka."

"Artinya menyeberang akan membuat kita terlahir kembali?"

"Penyeberangan membutuhkan waktu sebulan penuh, waktu di mana kalian melepaskan segala sesuatu dari masa lalu ke dalam airnya, demi kesempatan untuk terlahir kembali. Begitu kalian mencapai seberang, sisa-sisa masa lalu yang kalian pertahankan selama menyeberang akan menyebabkan jiwa kalian lenyap dari Laut Nether. Sangat langka mereka yang benar-benar layak untuk terlahir kembali."

Laut Nether ternyata hanyalah tempat transit, tempat seseorang melepaskan kehidupan masa lalu mereka. Dengan melepaskan segalanya, seseorang akan memulai lembaran baru yang bersih. Inilah sebabnya tidak ada seorang pun yang mengingat kehidupan masa lalu mereka.

Zhuo Fan tiba-tiba memikirkan sesuatu.

[Seni Jati Diri (True Self Art)?]

[Mungkinkah inti dari Seni Jati Diri adalah melepaskan?]

Zhuo Fan merasakan jantungnya berdegup kencang.

Pria tua itu berteriak, "Hei, kalian mau menyeberang atau tidak? Tinggal di sini hanya akan membuat energi yin yang pekat di Laut Nether menggerogoti jiwa kalian dan menyia-nyiakan kesempatan langka yang kalian dapatkan."

"Senior, kami bukan hantu, tapi sedang mencari singgasana pencerahan Nether Sovereign."

"Kalian datang ke sini dengan jiwa kalian?"

"Tepat sekali!"

"Huh, kalian ini malah mendatangi tempat terkutuk ini." Pria tua itu menunjuk ke arah lautan tak bertepi. "Sudah lama sekali aku tidak melihat jiwa yang masih hidup. Sekarang justru ada orang-orang serakah yang mati-matian ingin datang ke sini. Untuk mencapai singgasana pencerahan Nether Sovereign, kalian harus melewati area ini. Bukan hanya hantu-hantu binatang laut tak terhitung yang menanti kalian di sana, tetapi juga tiga ujian sebelum mencapainya. Banyak orang pemberani tewas di jalur ini. Aku tidak percaya pasangan semanis kalian juga menyimpan keserakahan seperti itu. Untuk apa? Bukankah kalian sudah bersama sekarang?"

"Sudah ada banyak orang lain di sini sebelum kami?"

"Kalian pikir kalian adalah satu-satunya orang yang cukup pintar memecahkan teka-teki sejak zaman kuno?" Pria tua itu mengangguk. "Seseorang harus memiliki otak dan keberanian untuk memecahkan teka-teki Nether Sovereign. Meskipun begitu, belum ada satu pun orang yang kembali. Kalau begitu, ha-ha-ha, kenapa kalian harus pergi juga?"

Aduh!

Hati Chu Qingcheng terasa sesak. Ia menatap pria tua itu dengan senyuman hangat, "Hei, senior, kami berubah pikiran. Kami tidak jadi pergi ke singgasana pencerahan Nether Sovereign, tapi ingin kembali. Bagaimana caranya?"

"Huh, sekarang kalian ingin kembali? Sudah terlambat untuk itu."

Pria tua itu menunjuk ke arah pantai. "Sangat sulit untuk masuk dan lebih sulit lagi untuk keluar. Kalian harus melewati singgasana pencerahan Nether Sovereign untuk bisa kembali, atau selamanya tinggal di sini sampai mati!"

"Maksudmu menyeberangi Laut Nether dan tiga ujiannya?"

"Ya, kalian sendiri yang meminta ini, bukan? Jadi jangan salahkan aku." Pria tua itu berkata dengan nada merendah.

Zhuo Fan tersenyum, lalu menoleh ke arah Chu Qingcheng yang tampak masam. "Tidak apa-apa. Selama kita bersama, hal lain tidak penting lagi. Kita sudah pernah melewati ini sebelumnya, bukan?"

"Benar."

Chu Qingcheng mengangguk, termotivasi besar, lalu berkata kepada sang kakek, "Bisakah Anda membantu kami menyeberangi lautan, menuju singgasana pencerahan Nether... eh, ke mana dia pergi?"

Pria tua itu sudah tidak ada.

Suaranya terdengar samar dari kejauhan, "Aku hanya menyeberangkan hantu, tidak pernah peduli pada mereka yang ditakdirkan datang ke sini. Jika langit menghendaki, kita akan bertemu lagi, ha-ha-ha..."

Tawanya yang tajam bergema di mana-mana, namun wujudnya sama sekali tidak terlihat...

Gunakan ← → untuk pindah chapter