Zhuo Fan menarik sudut bibirnya, mengungkapkan rencana besarnya kepada Baili Jingwei yang sedang murka, "Perdana Menteri, mustahil bagi Istana Iblis untuk berkembang tanpa menarik sedikit perhatian. Namun, beberapa dekade lalu, sengaja kusembunyikan agar Perdana Menteri menyadarinya, bahkan sampai membiarkan mata-matamu menyusup masuk. Ingin tahu alasannya?"
Baili Jingwei sepucat kertas, napasnya terengah-engah hingga tak mampu berucap sepatah kata pun.
"Cukup sederhana, karena aku menginginkan kendali. Bukan hanya atas diriku sendiri, tetapi juga atas orang lain."
Zhuo Fan berkata, "Jika kau tetap berada di dalam kegelapan mengenai Istana Iblis, maka kau akan mengerahkan seluruh kekuatan melawan negeri-negeri ini dan kami akan memicu pemberontakan, meski itu tidak akan membuahkan hasil yang baik. Kita berdua tahu bagaimana akhir perang dunia pertama. Hanya dengan beberapa patah kata yang menakutkan darimu, para pemimpin negeri-negeri itu dengan senang hati mengikuti titahmu. Kau langsung pulang untuk memadamkan api dan menjaga keutuhan kekaisaran. Tak peduli seberapa besar kerusakan yang terjadi, semuanya bisa dibangun kembali pada waktunya. Kekaisaran akan tetap bertahan!
"Jadi, aku sengaja membiarkan laporan itu bocor padamu bahwa Istana Iblis itu nyata, bahkan membiarkanmu mengirim mata-mata untuk memberimu ilusi kendali di seluruh lini, padahal aku yang memegang kendali penuh. Dengan Istana Iblis yang menjadi duri dalam dagingmu, kau tidak akan pernah mengerahkan seluruh pasukanmu ke sini. Aku mengatur pergerakan mata-matamu untuk mengendalikan seberapa cepat tindakanmu. Jika kau tetap serakah seperti pada perang terakhir, kau hanya akan menyerang ketika semuanya sudah sempurna."
Napas kasar Baili Jingwei semakin memburu dan ia bersandar pada Baili Yuyun untuk mendapatkan sokongan. Namun, tatapan matanya yang penuh amarah tak pernah lepas dari Zhuo Fan.
Zhuo Fan melanjutkan, "Kau tidak akan pernah bergerak kecuali kau memiliki informasi intelijen yang cukup, jadi aku membiarkan informasi itu mengalir sedikit demi sedikit kepada mata-matamu dan menuntunmu untuk percaya bahwa kitalah yang memegang kendali. Itu sebenarnya hanyalah siasat mengulur waktu, karena aku belum siap. Begitu aku siap, aku membiarkan mata-matamu mendapatkan pangkat yang tepat dan mempelajari informasi lebih banyak. Itu pun hanya terbatas di area pusat, karena informasi apa pun tentang keempat negeri akan membuat taktik kota kosong gagal, ha-ha-ha..."
"Lalu kenapa kau membuat Wu Randong memberontak dengan seluruh pasukan bayangannya? Apakah itu untuk mengalihkan perhatianku?" bentak Baili Jingwei.
Zhuo Fan tersenyum, sementara Wu Randong menyeringai lebar, "Perdana Menteri Baili, itulah yang membuat Penguasa Istana begitu cemerlang. Kau mengejar negeri-negeri itu dan memalsukan situasi area pusat, dengan tujuan menjebak kami semua. Jika aku tidak muncul, Raja-Raja Pedangmu yang lain akan ditempatkan di sini sia-sia, dan pada akhirnya kau akan mengirim mereka bertempur ke negeri-negeri itu dan menyadari kebenarannya. Selama Istana Iblis bertahan di area pusat, kau tidak akan pernah bisa tenang dan rencanamu tidak akan maju, membuat masalah di keempat negeri itu cepat atau lambat menarik perhatianmu.
"Jadi, kami dikorbankan demi memberi ketenangan pikiran bagimu. Dalam kebahagiaanmu, kau tidak pernah repot-repot memeriksa situasi perang di negeri-negeri lain, dan langsung melangkah ke tahap berikutnya, memancing Penguasa Istana kami serta musuh-musuh lainnya. Kau mengumpulkan seluruh pasukannya di area pusat, membuat wilayah perbatasan tanpa pertahanan. Hal ini membuat pasukan dari tiga negeri yang kaukira telah kalah berhasil menerobos jauh ke dalam kekaisaranmu. Sungguh cara yang bagus untuk menjerumuskan diri sendiri ke dalam kegagalan, membuat musuh menyerang dari dalam dan luar dari segala penjuru. Dibandingkan dengan yang terakhir kali, Perdana Menteri, kau telah kalah telak, ha-ha-ha..."
"Begitu ya, keberadaan Istana Iblis di area pusat ternyata hanya kedok untuk operasimu di keempat negeri."
Baili Jingwei mengangguk, lalu wajahnya berkedut lebih kencang, "Zhuo Fan, kau memang hebat. Aku akui kekalahanku dan kau mendapatkan penghormatanku sepenuhnya."
Baili Jingwei melontarkan kata-kata terakhir itu dengan penuh kebencian, namun rasa hormat itu tetap ada.
Zhuo Fan adalah satu-satunya orang di dunia yang mampu selangkah lebih maju dari yang lain.
Kebenciannya lahir dari ketidakberdayaannya semata, sementara rasa hormatnya adalah tulus.
Raja Pedang Zither menghela napas, beralih menatap Zhuo Fan, "Mampu mengalahkan rencana seratus tahun Baili Jingwei di setiap langkahnya, ia benar-benar pria yang mengerikan."
Yang lain saling bertukar pandang dengan ekspresi muram.
"Jangan berpikir kalian sudah menang. Kekaisaran ini tidak akan jatuh. Ia akan bertahan demi alasan yang sangat kuat!"
Baili Jingwei meraung, menunjuk ke arah para tahanan, "Kalian ingin menyelamatkan mereka, maka aku akan menghabisi mereka lebih dulu. Mari kita lihat berapa banyak yang bisa kau lindungi sendirian! Para pembela kekaisaran, para Raja Pedang, bunuh mereka. Buat kemenangannya berakhir dengan kepahitan!"
"Baik, Tuan!"
Keenam Raja Pedang Baili melesat menyerang para tahanan. Shangguan Feiyun sempat ragu pihak mana yang harus ia bela, namun mengingat Zhuo Fan telah merendahkannya, ia akhirnya bergabung dengan para Raja Pedang dari wilayah pusat.
Danqing Shen dan yang lainnya berteman baik dengan Zhuo Fan, belum lagi mereka telah melakukan pekerjaan luar biasa.
[Aku tidak mendapatkan apa-apa, bahkan dia tidak melirikku sama sekali. Buat apa aku memihak padanya? Huh!]
Shangguan Feiyun bertekad untuk memihak kekaisaran terlepas dari apa pun nasibnya kelak.
Ia tidak punya pilihan lain.
Wus!
Raja Pedang Zither mengangkat Baili Jingwei dengan mencengkeram lehernya, lalu berteriak, "Baili Jingwei, suruh mereka berhenti!"
"Huh, aku tidak mau. Aku mungkin mati, tetapi Zhuo Fan akan kalah di tanganku di sini. Ia mendapatkan kemenangan besar, sementara aku akan meninggalkan luka abadi di hatinya, ha-ha-ha..."
Baili Jingwei tertawa sinis, membuat Raja Pedang Zither tak berdaya.
Para Raja Pedang mendengarkan Baili Jingwei karena perintah Baili Yutian, sementara mereka sendiri tidak peduli dengan nasibnya, atau apakah sang kaisar akan selamat. Mereka tidak akan berhenti kecuali pria itu sendiri yang memerintahkannya.
Raja Pedang Zither menghela napas cemas ke arah Zhuo Fan.
[Penguasa Iblis Kegelapan itu memang kuat, mampu menghadapi semua Raja Pedang itu, tapi mereka fokus membunuh orang-orangnya. Dia tidak mungkin bisa mengawasi mereka semua, apakah dia sanggup melindungi begitu banyak orang?]
Raja Pedang Zither tahu bahwa Zhuo Fan peduli pada beberapa orang di sana. Jika salah satu dari mereka mati, hatinya pasti akan terluka.
Raja Pedang Zither langsung melesat maju, berniat membantu. Danqing Shen dan Dewa Pedang Anggur sudah lebih dulu berada di sana.
Namun karena mereka semua adalah Raja Pedang, kecepatan mereka sedikit tertinggal dibandingkan ketujuh orang itu.
Hu~
Angin kencang menerjang Murong Xue saat Baili Yuyun menampilkan senyum kejam. Saat kekuatan mengerikan menerpa Ling Yuntian, Bali Yuyu melirik Zhuo Fan, dan memutuskan bahwa pria ini pantas mati karena reaksinya yang lamban.
Ia tidak berniat membunuh siapa pun yang dipedulikan oleh Zhuo Fan atau berselisih dengannya.
Baili Jingwei pasti akan sangat murka jika ia tahu.
[Bali Yuyu, pengkhianat busuk, kenapa kau malah mengincar Ling Yuntian yang bahkan tidak dipedulikan sama sekali oleh Zhuo Fan?]
Namun saat ini ia terlalu dibutakan oleh dendam hingga tidak menyadari bahwa ada pengkhianat lain di kubunya.
Niat membunuh menyelimuti panggung eksekusi dan para tahanan, membuat mereka merasakan dinginnya kematian di tenggorokan mereka. Mereka menatap Zhuo Fan dengan tatapan memohon, namun pria itu hanya berdiri terpaku bagaikan patung.
Semua orang hampir menangis.
[Kawan, bukankah kau datang untuk menyelamatkan kami? Paling tidak berpura-puralah sedikit.]
Bang~
Saat kekuatan para Raja Pedang semakin mendekat, cengkeraman kematian semakin erat meremas hati mereka. Zhuo Fan bertindak seolah-olah ia telah menelantarkan mereka ketika sebuah suara ledakan bergema di telinga mereka.
Ketujuh Raja Pedang itu mundur saat melihat tujuh sosok berdiri di hadapan mereka untuk menghadang.
"Xue'er, kau tidak apa-apa?"
Seorang pria berpakaian merah berdiri di samping Murong Xue, mengenakan lencana awan api di pinggangnya. Gadis itu bersorak, "Kakak!"
"Shangguan Feixiong, akhirnya kau muncul juga!" Shangguan Feiyun menatapnya tajam.
Shangguan Feixiong menangkupkan tangan, "Feiyun, apakah kau baik-baik saja abad ini?"
Shangguan Feiyun mengamatinya, lencana giok di pinggang pria itu menarik perhatiannya—lencana berbentuk gunung.
"Ayah, serahkan Baili Jingtian kepadaku. Aku punya urusan yang harus diselesaikan!"
"Hati-hati."
Sang ayah mengenakan lencana bergambar sungai, sementara putranya mengenakan pakaian hitam dengan lencana bergambar taring.
Pria berpakaian hitam lainnya, seorang pemuda, memiliki gambar matahari di bagian belakang jubahnya. Ia berbalik menatap mereka, "Aku juga punya urusan. Biarkan dia melawanku!"
"Kenapa harus kau?"
"Aku lebih kuat darimu!"
"Cih..." Pemuda berencana taring itu mendengus.
Zhuo Fan tetap berdiri diam selama ini, sementara orang-orang di sekitarnya terpana melihat sosok-sosok familiar yang telah menghilang sejak akhir perang pertama.
Hanya para murid Istana Iblis yang bersorak gembira melihat kedatangan mereka, "Kelima Raja Dharma dan para utusan kita telah tiba!"
Dengan hadirnya seluruh ahli, pertarungan penentuan terakhir pun akhirnya bisa dimulai...
Chapter 1162 · 5m baca
Last Showdown
by Night Owl
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter