Boom~
"Atas perintah Perdana Menteri, mundur..."
Teriakan yang jauh lebih keras daripada lolongan maut bergema di medan perang. Kedua belah pihak bertempur dengan sengit sementara keempat Raja Pedang mengeluarkan jurus pamungkas mereka.
Orang-orang ini menjelajahi medan perang untuk menyampaikan perintah terbaru dari Baili Jingwei.
Saat hendak melancarkan serangan lain, Shangguan Feiyun tiba-tiba berhenti, "Kita hampir menang dan sekarang kita malah menarik pasukan? Apa yang dipikirkan Baili Jingwei?"
"Kita pasti kalah dalam pertempuran ini." Melodi yang menenangkan itu pun berhenti seiring ucapan Raja Pedang Zither.
Shangguan Feiyun meraung tak terima, "Di mana letak kekalahan kita? Semuanya berjalan sesuai rencana kita dan kita hampir berbaris memasuki wilayah utara. Bagaimana bisa ini disebut kalah? Baili Jingwei juga berjanji membantuku menyerang wilayah timur. Sekarang kita malah mundur tepat saat musuh hampir tumbang? Aku tidak bisa menerimanya!"
"Lalu? Ini adalah perang antara wilayah pusat dengan keempat wilayah. Karena Perdana Menteri Baili memerintahkan gencatan senjata, tidak ada lagi yang akan bertarung. Silakan saja kalau kau ingin menghadapi keempat wilayah itu sendirian, ha-ha-ha..." Danqing Shen ikut menimpali.
Dewa Pedang Anggur tersenyum meringis, tampak begitu bersemangat saat menyusul, "He-he-he, gencatan senjata itu bagus. Aku tidak perlu membunuh lagi dan mencari musuh dengan para kawan lama itu."
Raja Pedang Zither melirik sekilas lalu pergi setelah menyimpan zithernya. Shangguan Feiyun adalah satu-satunya orang yang kesal dengan perkembangan ini, namun ia tetap menarik pasukannya, meskipun ia mengibaskan lengan bajunya dengan jengkel.
Perintah Perdana Menteri menyebar ke mana-mana dan pertempuran pun berhenti, membuat Kekaisaran Bintang Pedang menarik mundur pasukan mereka.
Medan perang segera menjadi senyap bagai kuburan, kehilangan seluruh hiruk-pikuk suara senjata dan teriakan...
Di pihak wilayah utara, dua ratus susunan pertahanan telah hancur dan mereka kehilangan lebih dari setengah pasukan. Penghalang terakhir mereka pun hampir runtuh dan setelah itu mereka pasti akan dibantai habis.
Panglima Tertinggi Luo Yunhai tampak tegang, basah oleh keringat, dan merasa tidak percaya dengan kekuatan seorang Raja Pedang. Mereka berhasil bertahan selama enam hari pertama murni berkat pertahanan mereka. Namun begitu keempat Raja Pedang turun tangan, rasanya dunia runtuh menimpa mereka.
Ia menggertakkan giginya dan berteriak, "Bertahanlah! Satu hari lagi! Semuanya, bertahanlah! Kita harus mengulurkan waktu untuk pasukan kita. Kita tidak boleh membiarkan mereka melewati kita dan merusak rencana Panglima Besar!"
Boom~
Ledakan yang terjadi tiba-tiba itu menenggelamkan suaranya. Semua prajurit gemetar saat menghadapi musuh yang tak kenal ampun, membuat kata-kata Luo Yunhai tak diindahkan.
Menghela napas panjang, ia menggelengkan kepalanya. Semua taktik dan strategi runtuh pada titik ini, menyisakan pertahanan sebagai satu-satunya pilihan. Pada akhirnya, kekuatanlah yang paling penting. Kata-kata penyemangatnya tidak akan mengubah kenyataan tentang siapa yang kalah atau siapa yang mati.
Whoosh~
Ledakan-ledakan itu berhenti begitu saja, membuat Luo Yunhai terkejut. Tuoba Tieshan berlari menghampiri dengan ekspresi gembira, "Panglima Luo, berita bagus! Mereka mundur. Tentara Bintang Pedang menarik diri. Kita selamat dari gempuran ini, ha-ha-ha..."
"Mereka pergi?" Luo Yunhai tertegun, lalu ia menoleh ke arah Kepala Pelayannya, "Pelayan Zhuge, apa yang sedang mereka rencanakan? Kenapa tiba-tiba mundur begitu saja?"
Zhuge Changfeng merenung dalam-dalam atas perkembangan yang tiba-tiba ini.
Seorang prajurit bergegas datang dan membungkuk, membawa sebuah giok komunikasi, "Kepala Klan, Tuan Leng mengirim pesan!"
Menyambar dan membacanya, Luo Yunhai membanting giok itu ke tanah, meledak dalam amarah, "Sialan! Para tetua bangka itu..."
"Ada apa, Kepala Klan? Apa yang terjadi?" tanya Zhuge Changfeng dengan terkejut.
Luo Yunhai menarik napas dalam-dalam, wajahnya berubah murka saat ia meludah, "Tuan Leng bilang para tetua bangka itu memerintahkan mundur tepat saat Pedang Tak Tertandingi hampir mati."
"Apa?!"
Zhuge Changfeng mendesak, "Bagaimana dengan Pelayan Zhuo? Apa katanya?"
Luo Yunhai menghela napas, "Saudara Zhuo tertangkap oleh iblis laut saat mengejarnya dan sekarang menghilang. Keputusan ini sepenuhnya ulah para tetua itu!"
"Jadi begitu."
Zhuge Changfeng mengangguk, menatap ke arah neraka sunyi tempat kedua belah pihak telah berdarah dan mati. Matanya bersinar saat ia berkata, "Sepertinya para petinggi itu telah mencapai kesepakatan tersembunyi. Perangnya sudah berakhir."
"Bagaimana bisa ada perdamaian?!"
Luo Yunhai meraung, dirundung kepedihan, matanya merah menyala, "Kita kehilangan lebih dari setengah pasukan kita! Hanya ada empat puluh juta orang yang tersisa dari kita. Dan Tuan Leng bilang kita mengorbankan hampir enam puluh juta orang untuk melemahkan Pedang Tak Tertandingi. Kita kehilangan seratus juta orang, setara dengan tiga wilayah. Dengan para tetua bangka menyerah begitu saja sekarang, lalu bagaimana cara kita bertahan saat mereka menyerang lagi nanti?
"Korban jiwanya sangat besar dan kita telah membayar harga yang sangat mahal. Siapa yang akan bertanggung jawab? Apakah mereka mati begitu saja tanpa arti?"
Tuoba Tieshan juga tidak dapat menerima berita itu dengan baik. Hanya Zhuge Changfeng yang menghela napas dan mengangguk seraya menjelaskan, "Kepala Klan, izinkan aku bicara terus terang. Aku pernah menjadi Perdana Menteri sebuah dinasti dan tahu persis apa yang dipedulikan oleh orang-orang berkuasa ini, karena aku pernah melayani seorang kaisar sendiri. Memanfaatkan momen menghilangnya Pelayan Zhuo, kompas moral mereka, Baili Jingwei menyerang titik terlemah mereka, memegang kendali atas mereka dan memaksa mereka menghentikan perang tanpa syarat. Mengenai apa yang sangat mereka khawatirkan, ha-ha-ha; berpegang teguh pada kekuasaan. Mengenai kekuatan keempat wilayah dan kerusakannya, mereka tidak terlalu peduli. Bukankah keempat wilayah telah melahirkan begitu banyak ahli hanya untuk menjaga keselamatan mereka?
"Kepala Klan, aku akan jujur padamu. Para pemimpin keempat wilayah ini mungkin berasal dari sekte terhormat dan agung bagai dewa, tetapi mereka berkubang dalam nafsu kekuasaan, tidak mampu bangkit melampaui dunia fana. Mengharapkan mereka mengabaikan segalanya dan memberikan segalanya demi Dao adalah hal yang mustahil. Mereka mungkin bersedia mengorbankan nyawa mereka, namun ada beberapa hal yang mereka anggap jauh lebih berharga daripada nyawa. Jauh lebih berharga daripada nyawa kita! Pelayan Zhuo dulu sering bilang bahwa hasratlah yang menahanmu. Selama bertahun-tahun, keempat wilayah takut pada cendekiawan lemah itu, Baili Jingwei, justru karena alasan ini.
"Baili Jingwei adalah seorang ahli manipulator hasrat orang lain. Satu-satunya orang yang bisa melawannya dalam hal ini adalah Saudara Zhuo."
Luo Yunhai mengangguk paham lalu meneteskan air mata, "Omong-omong, aku merindukan Saudara Zhuo, Pelayan Zhuge. Dia mungkin menghilang, tetapi aku ingin menemukannya bersama Kakak. Dan saat aku menemukannya, aku tidak akan pernah membiarkannya pergi lagi."
Zhuge Changfeng tersenyum, "Aku tahu Kepala Klan merasa sedih, tetapi sebaiknya jangan menemui Pelayan Zhuo dengan sikap cengengmu seperti dulu, ha-ha-ha..."
"Berhenti menggoda!"
Luo Yunhai mendeliknya tajam.
Jauh di Laut Utara, di dalam wilayah Ao Laut Penyegel Surga, Zhuo Fan masih pingsan, terbaring di atas laut yang membeku, tampak kuyu dan lemah.
Qiao'er menjaganya dengan penuh kekhawatiran. Ao Laut juga mencemaskannya, mengabaikan luka-lukanya sendiri. Mereka berdua gagal menyadari bahwa tidak ada rasa sakit yang lebih besar daripada hati yang layu.
Zhuo Fan telah tenggelam ke dalam jurang yang dalam. Terserah padanya untuk bangun atau tidak...
Sebuah tetesan air jatuh ke dalam air, menciptakan riak. Di ruang yang gelap gulita, seorang pria berdiri di sebelah kolam dengan ekspresi hancur.
Tidak ada apa pun di sekelilingnya, hanya kehampaan. Mata Zhuo Fan, dalam segala hal, tampak mati.
Sebuah tangan tua muncul saat itu, mendarat di bahunya.
Zhuo Fan bahkan tidak berkedip sama sekali.
Senyum tipis muncul saat seorang pria bungkuk berjalan ke sisinya untuk duduk, "Ha-ha-ha, kau kembali. Bukankah sudah kubilang jangan datang ke tempat gelap ini? Kau tidak akan pernah bisa keluar."
"Siapa... kau?"
Zhuo Fan berbalik dengan kaku hanya untuk melihat siluet dalam kegelapan. Kemudian ia teringat, "Kau... itu..."
Orang tua itu mengangguk dan sebaris gigi putih tampak di dalam kegelapan, "Ya, sudah kubilang terakhir kali bahwa aku akan datang setiap kali kau muncul di sini untuk menghentikanmu agar tidak menyerah. Terakhir kali karena kau hampir mati, tapi kali ini jauh lebih berbahaya. Hatimu, tekadmu sudah mati."
"Maaf, membuatmu melihatku lagi."
"Apa kau bahkan tidak berniat bertanya siapa aku?"
"Tidak ada gunanya. Lagipula aku tidak perlu tahu." ucap Zhuo Fan, matanya yang kesepian membuatnya tampak seperti mayat.
Orang tua itu menggelengkan kepalaku, "Akan sangat disayangkan jika kau begitu cepat merindukan kematian. Aku membantumu melindungi kehidupan gadis itu. Jika kau ingin melihatnya lagi, hiduplah dan temui dia di Domain Suci!"
"Apa?!" Zhuo Fan bergetar hebat, terkejut.
Hanya dengan gigi putihnya yang terlihat, orang tua itu tampak memudar, namun cahaya berpendar melayang di sekelilingnya, "Ingat bagaimana kukatakan padamu untuk menerima segala hal tentang orang yang kaupedulikan? Aku juga begitu. Aku tidak akan pernah membiarkanmu tenggelam ke dalam kehampaan. Tapi kurasa ini akan menjadi yang terakhir kalinya. Aku tidak bisa melindungimu lagi mulai dari sini. Jagalah dirimu baik-baik!"
Orang tua itu berubah menjadi cahaya berpendar dan memudar...
Chapter 1111 · 5m baca
Care
by Night Owl
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter