Zhuo Fan mengerti maksudnya dan langsung berkata, "Sekarang kita tidak perlu lagi cemas menghadapi Pengurus Sun, apa rencana Nona Muda selanjutnya?"
"Uh, kami berencana mencari perlindungan di Kediaman Cai!" Kapten Pang berbicara sebelum gadis itu sempat menjawab.
Kapten pengawal ini tidak lagi memperlakukan Zhuo Fan sebagai pelayan biasa, melainkan sebagai seseorang dengan kedudukan yang setara.
"Kamu harus tahu bahwa Tuan Muda dari Klan Cai memiliki ikatan perjodohan dengan Nona Muda."
"Hmm, Klan Cai dari Kota Pandang Angin?"
Zhuo Fan mengusap dagunya sambil mengangguk.
Berdasarkan ingatan tubuh ini, Klan Cai adalah klan terbaik di Kota Pandang Angin, dengan kekuatan yang setara dengan Klan Luo. Jika dia bisa menyerahkan kedua anak dari Klan Luo itu kepada mereka, maka dendam ini akan terselesaikan dan beban di hatinya akan berkurang. Mungkin itu bahkan bisa melenyapkan beban tersebut sepenuhnya.
Zhuo Fan mengangguk memikirkan hal itu, "Baiklah, ayo kita pergi ke Klan Cai."
Namun, sebelum itu dia melirik sekali lagi ke arah Gunung Angin Hitam, lalu bergumam, "Aku akan kembali."
Pada saat yang sama, di sebuah gua yang gelap di puncak Gunung Angin Hitam, seorang pemuda kejam duduk di atas sebuah kursi besar. Matanya memancarkan kekejaman saat menatap bawahannya, "Ada kabar tentang Pengurus Sun?"
"L-laporan Tuan Muda, Pengurus Sun bilang sebentar lagi dia akan mendapatkan ilmu bela diri itu." Bandit itu bergetar bagai daun, bahkan tidak berani menatap mata sang pemuda.
"Ha-ha-ha, enyah sana."
"Baik!" Bandit itu menyeka keringat di kepalanya, tidak membuang waktu sedetik pun untuk berlama-lama karena takut dimangsa.
Pemuda itu bangkit dan berjalan ke balik tirai di belakang kursinya. Seorang lelaki tua terbaring di sana, menatapnya dengan kemarahan yang menyala-nyala. Bibirnya bergeming namun tak sepatah kata pun keluar.
Pemuda itu menepuk tangan lelaki tua tersebut sambil tersenyum, "Guru, tenang saja, temanmu sudah berangkat lebih dulu dan sedang menunggumu. Begitu Telapak Naga Kembali tiba, aku akan menyatukan kalian berdua kembali sebagai sahabat lama."
Mata lelaki tua itu memerah mendengarnya, seolah ingin melahap pemuda itu hidup-hidup. Meski tubuhnya terus bergetar, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Sebagai tanggapan, tawa biadab dan kejam dari sang pemuda menggema ke seluruh penjuru gua...
Kota Pandang Angin adalah kota terbesar dalam radius seratus mil dan berjarak sepuluh hari perjalanan dari Klan Luo. Karena takut dikejar oleh bandit lain, Zhuo Fan dan yang lainnya mempercepat perjalanan dan berhasil mencapainya dalam lima hari.
Begitu memasuki kota, keramaian dan hiruk-pikuk langsung menyambut mereka, sekaligus memberikan sedikit ketegangan yang mencair. Segala tekanan yang menumpuk selama beberapa hari terakhir seolah lenyap begitu saja.
Sekarang setelah dia berada di tengah orang banyak, wajah tegang Luo Yunchang akhirnya menampakkan senyuman.
"Yunhai, lihat ke sana!" Sambil menarik tangannya, dia menunjuk ke arah sebuah stan pertunjukan sulap.
Kapten Pang merasa senang mengetahui kejatuhan klan Nona Muda tidak memadamkan semangat juangnya, "Saudara Zhuo Fan, sepertinya aku ingat kamu belum pernah datang ke Kota Pandang Angin."
Zhuo Fan hanya mengangguk.
Kapten Pang tertegun melihat reaksi itu.
Keramaian Kota Pandang Angin sangat terkenal di kawasan ini. Dia ingat terakhir kali datang ke sini, dia begitu bersemangat hingga tidak bisa tidur selama tiga malam. Mengapa seorang anak kampung yang belum pernah melihat kemegahan kota ini bahkan tidak bergeming sama sekali?
Tentu saja, bagaimana mungkin dia tahu? Di mata Zhuo Fan, tempat ini tidak ada bedanya dengan sebuah desa.
"Pang Tua, apakah Klan Cai jauh dari sini?" Menghadapi kesulitan bersama membuat mereka semakin akrab, bahkan mulai memanggil satu sama lain dengan sebutan saudara.
Luo Yunchang berbicara sebelum Kapten Pang sempat menjawab, "Kita tidak perlu terburu-buru ke sana. Aku dan Yunhai harus melakukan kunjungan resmi terlebih dahulu, baru setelah itu aku akan menemuimu. Untuk sementara, menginaplah di sebuah kedai."
"Merepotkan sekali!" gerutu Zhuo Fan.
Sambil tersenyum masam, Kapten Pang hanya mengangkat bahu, "Mau bagaimana lagi. Tidak ada yang sedang memburu kita sekarang. Jika kita langsung kesana sekarang, mereka akan menertawakan kita karena dianggap tidak tahu sopan santun."
"Baiklah, kalian pergi duluan." Zhuo Fan mendesah, namun tetap mengangguk.
Selama kakak-beradik itu selamat dan dia mendapatkan kebebasannya, menunggu sedikit lebih lama bukanlah masalah.
Setelah lima hari bersikap tenang, seseorang tidak bisa menahan emosinya lagi dan mulai berulah.
"Huh, budak bau. Kota Pandang Angin adalah wilayah kakakku. Makanya tunggu saja, lihat bagaimana aku akan membereskanmu." Luo Yunhai melipat kedua tangannya di dada dan mendengus sombong, kembali menjadi tuan muda yang kurang ajar seperti sebelumnya.
Bugh!
Namun dia tidak sempat menikmati kesombongannya itu, karena Zhuo Fan melancarkan sebuah tendangan telak ke pantatnya. Anak itu terpental sejauh satu meter dan mendarat dengan wajah mencium tanah.
"Tidak usah menunggu nanti, mari kita selesaikan sekarang."
Luo Yunchang bergegas menolong adiknya dan mendelik tajam ke arah Zhuo Fan, "Kenapa kamu selalu mempermainkan anak kecil?"
"Adikmulah yang butuh diberi pelajaran."
Zhuo Fan balas menatapnya lalu melambaikan tangan, "Pergilah sana. Setelah kalian menetap, jika kamu masih menatapku dengan tatapan tidak suka seperti itu, aku tidak akan ragu untuk meninggalkan kalian."
Luo Yunchang mendengus kesal dan pergi sambil memeluk adiknya.
Luo Yunhai menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak, wajahnya memerah seolah ingin menangis tetapi tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun.
Bahkan anak seusianya pun mengerti bahwa mereka berdua tidak memiliki kekuatan saat di hutan dan menderita di tangan pelayan yang kejam serta licik itu. Tapi sekarang mereka sudah berada di Kota Pandang Angin, wilayah kekuasaan kakaknya, situasinya sepertinya tidak banyak berubah. [Kenapa aku harus dihajar lagi oleh budak keparat itu?]
[Apakah budak ini tidak takut pada Langit dan Bumi sekalipun?] Luo Yunhai belum pernah melihat orang seperti dia di dalam Klan Luo.
Kapten Pang menyaksikan pemandangan itu dengan rasa kaget luar biasa, matanya hampir keluar dari tempatnya.
Bahkan dia tidak menyangka Zhuo Fan begitu berani dan kurang ajar hingga nekat menghajar tuan muda tepat di depan nona muda. Namun gadis itu tidak mengajukan protes ataupun melakukan perlawanan.
Nona muda sangat menyayangi adiknya, tidak pernah sekalipun bersikap keras padanya. Namun Zhuo Fan memperlakukan tuan muda dengan semena-mena tanpa mempedulikan perasaannya dengan begitu mudah dan terampil.
Sekarang dia mengerti kenapa tuan muda memandang Zhuo Fan bagaikan seekor tikus yang melihat kucing.
Sambil menyeka keringat di dahinya, Kapten Pang berkata, "Saudara Zhuo Fan, tuan muda adalah majikanmu. Jika bukan karena menghormati nona muda, lakukanlah demi menghormati calon suaminya kelak. Bagaimana bisa kamu menendangnya?"
Zhuo Fan tertawa kecil lalu mengangkat bahu. Tidak ada seorang pun yang menjadi majikan di matanya. Segala hal yang dilakukannya semata-mata untuk melenyapkan beban di hatinya.
Chapter 11 · 4m baca
Entering Windgaze City
by Night Owl
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter