Renegade Immortal - Chapter 6 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 6 · 4m baca

Insults

by Er Gen

Tie Zhu terdiam saat Wang Zhuo berkata dengan nada meremehkan, “Sudah kubilang dari awal kalau anak ini tidak punya bakat sama sekali. Yang dia lakukan hanya mempermalukan keluarga kita. Aku lolos ujian pertama, jadi aku tidak melihatnya sampai belakangan. Beberapa hari kemudian, aku dengar dia gagal di ketiga ujian tersebut. Lebih baik dia tidak usah pergi sekalian. Aku jauh lebih berharap anak paman keempat yang pergi.”

Paman keempat Tie Zhu mengerutkan kening dan berkata, “Wang Zhuo, sekalipun kau akan menjadi dewa, apa yang kau tahu tentang kemampuan anakku? Lancang sekali!”

Ada kilatan dingin di mata Wang Zhuo. Dia tertawa kecil, namun tidak mengatakan apa-apa.

Ayah Tie Zhu tiba-tiba tampak menua lebih dari 10 tahun dan jatuh lemas ke kursinya. Ibu Tie Zhu juga sangat terkejut, tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Ia bertanya, “Tie Zhu, apa… apa ini benar?”

Tie Zhu menggigit bibirnya hingga berdarah. Ia jatuh bersujud ke lantai beberapa kali. Dengan suara berbisik ia berkata, “Ibu, Ayah, Tie Zhu tidak dipilih oleh para dewa. Aku minta maaf, aku…. aku akan membalas budi kalian berdua di kehidupan selanjutnya.”

Ibu Tie Zhu menyadari putranya sudah berada di ambang keputusasaan. Ia buru-buru berlari dan membantu Tie Zhu berdiri. Sambil berbisik ia berkata, “Nak, jangan khawatir. Mau bagaimana lagi kalau memang tidak dipilih oleh para dewa? Tahun depan masih ada ujian distrik. Sayang, jangan terlalu menyiksa dirimu sendiri. Jangan lakukan hal-hal bodoh juga. Ayah dan Ibumu masih mengharapkanmu untuk mengantar kami ke pemakaman nanti.”

Ayah Tie Zhu tersadar dari linglungnya. Ia menyadari kondisi mental Tie Zhu saat itu. Jatinya bergetar, dan ia buru-buru menghampiri putranya. Memeluknya dengan cemas ia berkata, “Tie Zhu, kau tidak boleh melakukan hal-hal bodoh. Dengarkan Ayah. Mari kita pulang dan belajar giat untuk ujian distrik tahun depan.”

Para kerabat di sekitar buru-buru menjauh dari keluarga Tie Zhu. Mereka berkumpul seolah-olah sedang menonton pertunjukan, bergosip dan melontarkan komentar tentang peristiwa yang sedang terjadi di hadapan mereka.

Paman keenam Tie Zhu mencibir, “Aku sudah tahu sejak dulu anak Tie Zhu ini tidak punya bakat. Bagaimana mungkin dia bisa dibandingkan dengan Wang Zhuo?”

“Betul sekali. Karena hal ini sudah pasti terjadi, kenapa tadi berlagak seolah-olah dia sudah diterima? Memalukan sekali. Lao Er, umurmu sudah sesواد ini. Bagaimana bisa kau masih melakukan hal bodoh seperti itu. Pantas saja Ayah tidak memberimu bagian warisan waktu itu,” ucap paman ketiga Tie Zhu dengan nada sarkas.

“Kalau kau tanya padaku, cerita yang bilang anak ini sudah pintar sejak kecil itu sebenarnya hanya buatan belaka. Mungkin karena Lao Er tahu kalau dirinya sendiri adalah pecundang. Dia mencoba mengangkat reputasi anaknya dengan berbohong, dan sekarang belangnya ketahuan,” ucap paman kelima Tie Zhu dengan ekspresi wajah yang memburuk.

Seorang kerabat wanita mendengus, “Dari tiga anak yang pergi ikut ujian, hanya dia sendiri yang gagal. Tie Zhu adalah anak terburuk di Keluarga Wang kita. Bibi kedua, tadinya kubilang kau sangat beruntung bersuamikan paman kedua. Tapi sepertinya keberuntunganmu akan terus meredup sisa hidupmu.”

Bibi kelima Tie Zhu juga mencibir, “Bukannya begitu? Waktu aku pergi melihat Tie Zhu beberapa hari yang lalu, aku sempat heran bagaimana mungkin dia bisa dibandingkan dengan Wang Hao dan Wang Zhuo.”

Kerabat wanita lainnya berkata tanpa ampun, “Aku sudah melihat sejak awal kalau anak Tie Zhu itu tidak punya bakat. Coba lihat saja ibu dan ayahnya. Mana mungkin mereka bisa melahirkan anak yang hebat? Di keluarga Wang kita, hanya anak-anak dari paman tertua dan paman ketiga yang bisa diandalkan. Tie Zhu, cih, dari namanya saja sudah terdengar seperti orang bodoh.”

“Aku benar-benar buta waktu itu, hampir saja menjerumuskan putriku ke dalam lubang api. Untung saja kita tahu lebih dulu kalau Tie Zhu tidak dipilih oleh para dewa. Putriku pasti akan membenciku selamanya jika aku menikahkannya dengan dia. Ibu Tie Zhu, mari kita lupakan saja semuanya. Karena Tie Zhu-mu tidak akan menjadi dewa, siapa yang mau menikahkan anak perempuan mereka dengannya? Bukankah itu ibarat katak yang mengincar daging angsa?”

Dalam sekejap, semua kerabat itu berubah menjadi orang-orang yang sombong. Mereka terus-menerus melancarkan rentetan penghinaan kepada keluarga Tie Zhu.

Dibandingkan dengan situasi sebelumnya, situasinya bagaikan bumi dan langit. Bahkan ada kerabat yang sampai hati meminta kembali hadiah-hadiah yang pernah mereka berikan. Melihat wajah pucat kedua orang tuanya, Tie Zhu mengepalkan tinjunya erat-erat. Mendengar semua penghinaan itu membuat andaikata ia bisa, ia lebih memilih mati.

Ayah Wang Zhuo tertawa dalam hati, lalu mencibir, “Lao Er, bukankah sudah kubilang kalau untuk menjadi murid dewa, kau butuh takdir yang mendukung? Bagaimana mungkin ada peluang kecuali jika kau punya bakat seperti anakku? Tapi kau justru mempercayainya mentah-mentah. Sekarang kau malah membuat anakmu ingin mati! Apa ada perlunya berbuat segitu?"

Ayah Tie Zhu tidak bisa menahan amarahnya lagi. Ia berteriak, “Wang Tianshan, tutup mulutmu! Dulu di ranjang kematiannya, Ayah meninggalkan sebagian warisannya untukku. Kalian bersekongkol dengan kerabat lain untuk merampasnya dariku, dan sekarang kalian malah ada di sini menghinaku. Apakah kau benar-benar mengira aku, Wang Tianshui, akan terus diam dan menerimanya begitu saja?”

“Dan kalian semua juga. Tadi kalian dengan gembira memberiku selamat, dan sekarang kalian berada di sini menghina kami. Putra kami sudah dalam kondisi seperti ini, tapi kalian masih saja memperkeruh keadaan. Apakah kalian semua ini masih manusia?”

Wang Tianshan tertegun sejenak lalu berkata, “Kenapa malah mengungkit masa lalu? Aku memperingatkanmu dengan niat baik bahwa anakmu tidak punya bakat, tapi kau malah marah padaku. Hmph, dengan ayah sepertimu, putranya pun tidak akan jauh beda!”

Semua penghinaan yang diarahkan kepada Wang Lin yang sedang terpukul ibarat duri yang menusuk hatinya. Ia memandang semua orang dengan dingin dan mengukir wajah-wajah mereka ke dalam lubuk hatinya.

“Kalian, aku akan melawan kalian sampai mati.” Ayah Tie Zhu tidak dapat menahan amarahnya lagi dan mengambil sebuah kursi. Paman keempat Tie Zhu bergegas maju dan menghentikannya sambil berbisik, “Kakak, jangan bertindak gegabah. Kakak tertua punya banyak pelayan. Dengarkan aku, jangan pedulikan dia.”

Paman keempat Tie Zhu mendelik ke arah Wang Tianshan dan berkata, “Kakak tertua, apa itu cara bicara yang pantas? Aku tidak mau mendengarkan ini lagi. Jika kau berani terus menghina kakak keduaku, jangan salahkan aku jika tidak peduli lagi dengan ikatan keluarga. Meskipun Keluarga Wang ini besar, aku punya banyak teman selama perjalananku. Jangan dorong aku untuk menghancurkan segalanya.”

Wang Tianshan bergumam beberapa patah kata. Ia tetap merasa segan pada paman keempat yang memiliki banyak koneksi luas.

“Lao Si, apa yang kau katakan itu tidak masuk akal. Kami tidak salah saat menunjukkan bahwa anak Lao Er tidak punya bakat apa pun. Apa salahnya kami, generasi yang lebih tua, menegur yang lebih muda? Ucapanmu itu terlalu tidak masuk akal,” ucap paman ketiga keluarga itu dengan nada tidak senang.

Gunakan ← → untuk pindah chapter