Setelah Xu Tao pergi, kehidupan Wang Lin kembali tenang. Seolah-olah apa yang terjadi berlalu begitu saja bagaikan awan. Begitu berlalu, mereka tidak akan pernah kembali.
Wang Lin masih bangun pagi setiap hari dan membuka pintu tokonya untuk menunggu putra Da Niu membawakannya se kendi anggur. Ia kemudian akan duduk di sana dan mengukir sambil minum. Ia telah hidup seperti ini selama bertahun-tahun dan gaya hidup ini telah mendarah daging di dalam tulang belulangnya.
Ia jauh dari jalan pembantaian. Rasanya seperti dirinya yang dulu dan dirinya yang sekarang adalah dua orang yang benar-benar berbeda. Tidak ada lagi niat membunuh di dalam dirinya. Sebaliknya, ia memancarkan aura ketenangan, keberadaan layaknya manusia biasa.
Wang Lin tidak tahu domain apa yang pada akhirnya akan ia pahami, namun ia tidak terburu-buru seraya dengan tenang memahami tatanan langit.
Tujuh hari setelah Xu Tao pergi, pria itu kembali bersama seorang paruh baya yang memiliki rupa bagaikan bangsawan. Orang ini masuk ke dalam toko dengan penuh rasa hormat bersama Xu Tao. Tanpa memedulikan statusnya, ia berlutut dan bersujud sebanyak tiga kali.
Tatapan mata Wang Lin menyapu orang tersebut, namun ia tidak mengatakan apa pun. Ia bisa dengan mudah menebak bahwa orang ini adalah atasan Xu Tao, yang berarti inilah sosok mulia yang dicari-cari oleh kultivator bertelinga lebar itu.
Di mata orang biasa, sosok mulia itu adalah seseorang yang berada jauh di atas mereka, namun di mata Wang Lin, orang ini tidak lebih dari seekor semut. Meskipun orang ini memiliki sedikit kekuatan kultivasi, jika ia tidak mampu mencapai tahap Pendirian Yayasan, maka ia tidak akan bisa lepas dari siklus hidup dan mati.
Pria paruh baya itu tampaknya sudah mengetahui tabiat Wang Lin. Setelah selesai bersujud, ia mengeluarkan sebuah kantong penyimpan dan dengan hormat meletakkannya di atas meja. Kemudian, ia dan Xu Tao pamit pergi dengan penuh takzim.
Wang Lin masih belum mengucapkan sepatah kata pun. Baru setelah mereka pergi, Wang Lin mengangkat kepalanya. Ia mengambil kantong tersebut dan memindainya dengan indra ketuhanan miliknya, lalu mendapati ada sejumlah besar batu spiritual di dalamnya.
Ia melempar kantong itu begitu saja ke sisi toko, lalu menarik napas dalam-dalam dan melangkah keluar toko. Ia duduk di kursi di luar dan menatap langit biru serta awan putih sambil menikmati kehangatan matahari. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak memejamkan mata karena ia sangat menikmati kehidupan seperti ini. Jika orang tuanya masih hidup dan mereka bisa tinggal bersama di toko ini, maka ia tidak akan memiliki penyesalan apa pun lagi di sisa hidupnya.
Waktu berlalu dengan cepat dan lima tahun lagi terlewati...
Hari ini, ayah Da Niu akhirnya tidak bisa lagi menghindari siklus hidup dan mati. Toko pandai besi itu ditutup. Ada bendera-bendera putih di luar toko dan ratapan tangis terdengar bergelombang dari dalam.
Wang Lin berdiri di luar tokonya sendiri sambil menatap ke arah toko pandai besi itu. Ia mau tidak mau teringat pada pemandangan 20 tahun lalu di mana pemuda yang ramah itu mengundangnya ke rumah mereka untuk makan malam.
Wang Lin juga tidak bisa melupakan bagaimana pemuda ramah itu, karena ingin memperluas tokonya, datang kepadanya dan dengan agak canggung meminjam uang.
Selama 20 tahun lebih ini, Wang Lin bahkan tidak bisa mengingat berapa kali ia makan di rumah mereka. Namun, hidup dan mati bukanlah sesuatu yang bisa diubah oleh Wang Lin.
Menjadi tua dan mati karena usia tua adalah bagian dari pemahamannya tentang tatanan langit. Bahkan jika ia menggunakan metode yang menentang takdir untuk memperpanjang umur ayah Da Niu, itu hanya akan bertahan beberapa tahun sebelum pria itu akhirnya direnggut oleh siklus tersebut.
Tidak hanya itu, karena hal tersebut, jiwa ayah Da Niu akan menjadi lebih lemah di dalam siklus hidup dan mati.
Bagaimanapun juga, jiwa Da Niu sangat berbeda dari jiwa Wang Zhuo. Wang Zhuo adalah seorang kultivator, yang mana jalurnya sendiri sudah menentang langit. Hal ini memungkinkan Wang Lin mengambil jiwanya dan memasukkannya ke dalam tubuh seorang wanita hamil.
Namun ia tidak bisa melakukan hal itu pada ayah Da Niu.
Wang Lin berdiri di depan tokonya sendiri dan menghela napas. Sebuah bunga dengan kelopak hitam tiba-tiba muncul di tangannya. Ini bukanlah bunga biasa, melainkan bahan untuk Pil Pengusir Roh.
Jika seseorang yang fana baru saja meninggal dan jiwa mereka belum sepenuhnya tercerai-berai, maka bunga ini dapat membuat jiwa mereka menjadi lebih utuh dan memiliki kekuatan jiwa yang lebih besar. Ini memberi mereka peluang yang lebih baik untuk mendapatkan keluarga yang baik di dalam sungai jiwa.
Wang Lin berjalan perlahan menuju toko pandai besi. Di dalam toko, para bibi dan paman Da Niu sedang berduka. Atmosfer yang suram memenuhi seluruh ruangan.
Ayah Da Niu berbaring dengan damai di dalam peti mati di halaman belakang toko. Da Niu dan istrinya berada di samping peti mati tersebut. Mata Da Niu tampak merah. Sangat jelas bahwa ia baru saja menangis.
Di sisi lain berdiri seorang wanita lain. Dia adalah ibu Da Niu. Hatinya juga dipenuhi oleh kesedihan saat ia menatap suaminya di dalam peti mati dengan tatapan mata yang dipenuhi keputusasaan.
Wang Lin telah menyadari sejak lebih dari 20 tahun lalu bahwa hubungan di antara pasagan suami istri ini sangatlah mendalam.
Begitu Wang Lin melangkah masuk, semua orang menunjukkan ekspresi hormat. Di jalan ini, Wang Lin sangat dikenal.
Setelah ibu Da Niu melihat Wang Lin, wanita itu mengangguk pelan, berlutut, dan berbisik, "Janda Ceng Si memberi salam kepada Kakak Besar Wang."
Wang Lin menghela napas dan maju untuk membantunya berdiri. Setelah itu, ia menerima dupa dari seseorang di dekatnya. Setelah menyalakannya, ia memberikan penghormatan terakhir.
Saat ia memberikan penghormatan, langit menjadi gelap. Namun, kegelapan semacam ini tidak bisa dilihat oleh manusia biasa. Asap hitam muncul di atas tubuh ayah Da Niu. Asap itu berkumpul hingga akhirnya membentuk wujud ayah Da Niu. Ia memeluk tubuhnya sendiri seolah-olah ia merasa sangat kedinginan dan wajahnya tampak pucat. Sepertinya ia bisa menghilang kapan saja. Ia melihat sekeliling dengan bingung hingga tatapannya jatuh pada Wang Lin.
Tidak seorang pun yang bisa melihatnya selain Wang Lin, yang matanya berubah menjadi hitam dan putih. Wang Lin menatap lurus ke arahnya.
Wang Lin diam-diam menghela napas dan meremukkan bunga hitam di tangannya menjadi bubuk hitam. Saat bubuk itu lenyap, ia berubah menjadi bintik-bintik cahaya yang tak kasat mata bagi manusia biasa dan mendarat di tubuh ayah Da Niu. Ayah Da Niu langsung berhenti merasa kedinginan. Ia menatap Wang Lin dengan penuh rasa terima kasih.
Dirinya yang sekarang akhirnya mengerti bahwa orang yang telah menjadi tetangganya selama lebih dari 20 tahun ini bukanlah orang biasa. Jiwanya melayang di udara. Ia berlutut dan bersujud beberapa kali ke arah Wang Lin. Kemudian, dengan enggan ia menatap istri dan Da Niu sementara seluruh tubuhnya naik ke langit seolah-olah sedang menaiki tangga dan tak lama kemudian menghilang.
"Ayah, Ibu, aku melihat kakek!" Pada saat ini, sebuah suara kecil terdengar dari sudut ruangan. Putra Da Niu, yang sudah berusia sembilan tahun, menatap ke langit dengan ekspresi bingung.
Namun, tidak ada yang mempercayai ucapan seorang anak kecil. Setelah melihat tidak ada seorang pun yang mendengarkannya, ia mengerutkan hidungnya dan berhenti berbicara.
Wang Lin dengan penuh rasa sesal mengamati sekeliling. Tidak mungkin untuk melarikan diri dari siklus hidup dan mati. Ia menatap jasad ayah Da Niu sambil mengenang 20 tahun terakhir. Seorang pemuda bertubuh kuat yang semakin menua setiap tahunnya selama 20 tahun terakhir ini hingga akhirnya ia menemui ajalnya.
Ia menarik napas dalam-dalam dan tatapannya beralih ke ibu Da Niu. Saat pertama kali ia bertemu wanita itu, usianya baru awal 30-an. Sekarang usianya sudah lebih dari 50 tahun. Lebih dari 20 tahun waktu terukir di tubuhnya.
Pandangan Wang Lin beralih lagi. Kali ini, tatapannya jatuh pada Da Niu. Da Niu dulunya adalah anak canggung yang sering menjulurkan kepalanya ke toko Wang Lin. Sekarang ia telah menjadi seorang pria dewasa. Tidak hanya ia sudah menikah dan memiliki anak, tetapi ia bahkan sedang mengantarkan kedua orang tuanya ke liang lahat.
Sama seperti sebuah pohon kecil yang tumbuh perlahan selama 20 tahun lebih dan menjadi pohon kokoh yang mampu menghadapi segala cuaca.
Memikirkan hal ini, hati Wang Lin tiba-tiba menangkap secercah pemahaman. Perasaan pemahaman ini menjadi semakin dalam dan semakin pekat. Selama 20 tahun lebih menyamar menjadi manusia biasa, Wang Lin untuk pertama kalinya merasakan gerbang menuju pemahaman tentang tatanan langit.
Ia tidak tahu kapan ia meninggalkan toko pandai besi itu. Dalam keadaan linglung, ia duduk di depan tungku di tokonya dan menatap dinding. Pikirannya kosong. Satu-satunya yang tersisa adalah secercah indra ketuhanan.
Interaksi yang Wang Lin miliki dengan ayah Da Niu, ibu Da Niu, dan Da Niu terlintas di dalam benaknya. Penampilan ketiganya perlahan-lahan berubah sepanjang 20 tahun terakhir ini. Wang Lin merasakan energi tak kasat mata mengelilingi mereka, menyebabkan orang tua Da Niu perlahan-lahan menua dan Da Niu berangsur-angsur bertambah tua.
Wang Lin merasakan sesuatu bergeming di dalam pikirannya. Matanya memancarkan cahaya yang tak terbayangkan. Pada saat ini, ia bisa merasakan tubuhnya tiba-tiba mulai melayang. Tubuhnya perlahan-lahan melayang semakin tinggi dan semakin tinggi.
Saat ia melayang ke udara, ia melihat jutaan manusia, dan di sekitar manusia-manusia ini, ia melihat energi misterius itu lagi. Ia bisa melihat energi ini di sekitar bunga dan pepohonan. Energi itu ada di sekitar segala hal.
Kekuatan ini berasal dari langit dan Wang Lin secara bawah sadar ingin menemukan sumber dari kekuatan ini.
Lambat laun, ia merasa dirinya melayang semakin tinggi dan ibu kota itu menjadi semakin kecil. Tak lama kemudian, kota itu menghilang dan di hadapannya terdapat sebuah planet berwarna cokelat tanah.
Sayangnya, bahkan sampai sekarang, ia masih belum menemukan sumber dari kekuatan itu. Ia bisa merasakan kekuatan itu bahkan di dalam bintang-bintang. Tidak ada tempat yang tidak memilikinya.
Kepribadian Wang Lin sangatlah keras kepala. Jika ia tidak keras kepala, ia tidak akan menghabiskan waktu selama 400 tahun hanya untuk kembali ke Zhao demi membalas dendam pada keluarga Teng.
Selain keras kepala, ia juga memiliki tekad yang kuat. Ia tidak akan bisa melangkah dari seorang kultivator picik di masa lalu hingga ke titik di mana ia berada sekarang jika ia tidak memiliki tekad.
Kekerasan kepala dan tekad inilah yang membuatnya ingin menemukan sumber dari energi ini. Dirinya yang sekarang sepenuhnya mengandalkan insting untuk mengendalikan tindakannya.
Tubuhnya terbang semakin tinggi, namun sesaat sebelum ia terlalu jauh mengembara dari planet cokelat tanah itu, sebuah batu raksasa menyerupai meteor terbang melintas. Di atas batu raksasa ini duduk seorang lelaki tua berambut putih. Ketika ia melewati Wang Lin, ia berseru dan menunjukkan ekspresi yang sangat tertarik.
"Aku tidak menyangka ada seseorang yang bisa memahami begitu dalam di planet kultivator yang terbengkalai ini. Namun dengan kultivasi Jiwa Nascent-mu yang seadanya itu, bahkan jika kau menggunakan pemahaman ini untuk mencapai tahap Pembentukan Jiwa, yang terbaik adalah jangan terlalu serakah. Aku khawatir butuh waktu jutaan tahun bagi Dao Surgawi semacam ini untuk kau temukan sumbernya. Namun, ketika itu terjadi, tubuhmu sudah telanjur membusuk. Pernahkah kau memikirkan hal itu?"
Wang Lin terkejut sementara matanya dipenuhi kebingungan. Lelaki tua itu tertawa. Ia mengamati Wang Lin lekat-lekat dan berseru, "Namaku Tian Yunzi. Karena kita sudah bertemu, aku akan membuat sebuah kesepakatan denganmu. Jika kau bisa keluar dari planet kultivator yang terbengkalai ini dan datang mencariku di Planet Tian Yun, maka aku akan membiarkanmu menjadi murid kehormatan selama 100 tahun." Selesai berkata demikian, ia menunjuk dengan tangan kanannya dan tubuh Wang Lin bergetar. Wang Lin merasa seolah-olah tubuhnya didorong oleh kekuatan yang sangat besar. Ia dengan cepat didorong kembali turun ke planet berwarna cokelat tanah itu dan kembali ke dalam wilayah Aliansi Empat.
Ibu kota berubah dari titik kecil seukuran kuku jarinya dan terus membesar. Ia hampir seketika kembali ke tokonya di dalam ibu kota.
Pada saat ini, Wang Lin tiba-tiba membuka matanya. Seluruh tubuhnya dipenuhi keringat. Bersamaan dengan keringat itu, tercium pula bau amis yang sangat menyengat.
Sudah sangat lama sejak tubuhnya mengeluarkan bau busuk semacam ini. Terakhir kali adalah ketika ia mencapai tahap Pendirian Yayasan.
Pada saat ini, mata Wang Lin bersinar terang. Ia menarik napas dalam-dalam, mengambil sepotong kayu, dan mulai mengukir dengan hati-hati. Kali ini, Wang Lin mengukir selama sehari semalam.
Akhirnya, ketika ia menarik jarinya, ukiran pria paruh baya berbusana hijau cyan itu pun tercipta. Pada ukiran tersebut, terdapat petunjuk tentang Mengalirnya Waktu.
Ia memandangi ukiran itu dalam diam. Setelah sekian lama, ia meletakkannya di salah satu rak di sebelah ukiran pria paruh baya dan wanita tua.
Setelah menyelesaikan semuanya, ia bangkit dan pergi ke halaman belakang. Setelah membersihkan diri, ia mengenakan pakaian bersih dan kembali ke toko.
Setelah memahami tatanan langit kali ini, tingkat kultivasi Wang Lin melonjak dari tahap pertengahan Jiwa Nascent ke puncak tahap akhir Jiwa Nascent. Ia hanya berjarak secercah saja dari tahap Pembentukan Jiwa.
Hanya saja ketika ia memikirkan pemandangan tadi, ia tidak bisa menahan rasa takutnya. Jika bukan karena lelaki tua bernama Tian Yunzi itu yang mendorongnya kembali, ia pasti benar-benar akan tersesat dalam pencariannya akan sumber tersebut.
Jika hal itu benar-benar terjadi, maka satu-satunya akhir adalah kematiannya.
Memahami tatanan langit bukanlah hal yang damai. Hal itu dipenuhi dengan bahaya. Kali ini, Wang Lin akhirnya memahaminya.
Meskipun ia masih belum mencapai tahap Pembentukan Jiwa, pemahamannya tentang tatanan langit telah meningkat pesat. Ia yakin bahwa dirinya sudah tidak jauh lagi dari tahap Pembentukan Jiwa.
Ia kini telah selesai mengukir patung pria paruh baya dengan domain miliknya. Sangat jelas bahwa domain miliknya sedang meniru siklus hidup dan mati. Namun, dengan persepsi Wang Lin saat ini, ia bisa dengan mudah mengatakan bahwa jalur pria paruh baya itu hanyalah sebuah tiruan, jauh dari domain hidup dan mati yang sesungguhnya.
Itu karena Dao surgawi hidup dan mati ini bukanlah sesuatu yang bisa dipahami oleh para kultivator tahap Pembentukan Jiwa.
Pada saat ini, terdapat sebuah peta bintang di dalam pikiran Wang Lin. Peta bintang ini ditinggalkan oleh kultivator tua, Tian Yunzi. Di dalam peta tersebut terdapat sebuah planet yang beberapa kali lebih besar daripada Suzaku. Ini adalah planet milik lelaki tua Tian Yunzi itu.
Hanya saja, mustahil bagi Wang Lin saat ini untuk pergi ke sana. Ia menghela napas sambil menenangkan suasana hatinya dan kembali menjadi manusia biasa.
Namun di dalam benaknya, perasaan saat memahami dao hidup dan mati adalah sesuatu yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya...
Chapter 264 · 9m baca
Life and Death Domain
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter