Ditambah lagi, dengan semua harta magis yang bersinar terus-menerus dan pihak Sekte Langit Awan sendiri yang telah mengatakan bahwa metode apa pun boleh digunakan, tak seorang pun yang dapat melihat tembus pembatasan Wang Lin.
Begitu pembatasan itu mengenai pilar, Wang Lin dapat dengan jelas merasakan sepotong batu giok yang memancarkan cahaya keemasan dan perlahan-lahan terbang keluar.
Mata Wang Lin berbinar dan pembatasannya mendarat di atas potongan giok tersebut. Seketika, kecepatan batu giok itu melambat drastis. Pada saat yang sama, ia melepaskan pembatasan lain dan kali ini, pembatasan itu mendarat pada sebuah pil di dalam pilar. Pil tersebut mulai memancarkan cahaya keemasan dan dengan cepat terbang keluar dari pilar, lalu mendarat di tangan seorang pemuda di atas panggung.
Orang itu tertegun dan tiba-tiba berteriak kegirangan. "Ini... aku... aku lulus!!"
Pada saat itu, mata pria paruh baya dari Sekte Awan terbuka lebar. Ia menatap pil tersebut, lalu dengan cepat melompat dan mendarat di depan si pemuda.
Tanpa berkata-kata, ia melambaikan tangannya dan pil itu terbang ke telapak tangannya. Ia memeriksa pil tersebut dengan cermat, lalu menatap sang pemuda yang tampak begitu gembira. Setelah merenung sejenak, ia berkata, "Selamat untukmu. Kau tidak perlu mengikuti ujian lagi dan akan langsung menjadi murid dalam Sekte Langit Awan. Kau bisa naik ke gunung untuk menemui pemimpin sekte. Jaga pil ini baik-baik. Ketika kau bertemu dengan gurumu, berikan ini sebagai hadiah. Sayangnya, ini adalah pil berbasis api. Jika itu adalah elemen lain, aku pasti akan menjadi gurumu!"
Mata murid itu memancarkan rona kegembiraan. Ia mengangguk dengan cepat dalam balutan rasa antusias yang meluap-luap.
Ekspresi Wang Lin tetap tenang, namun hatinya bergeming. Di balik kabut hitam, ia hanya melihat tiga hal: pil, giok, dan sebuah token.
Sudah jelas bahwa ketiga benda ini memiliki arti yang berbeda. Menerima pil berarti seseorang akan langsung menjadi murid, dan menerima giok berarti seseorang lulus ujian ini. Apa yang akan terjadi jika seseorang mendapatkan token tersebut?
Wang Lin merenung sejenak, namun ia tidak bertindak lagi. Ia harus sangat berhati-hati karena tindakan pertama bisa dianggap sebagai kebetulan, tetapi jika ia menggunakannya berturut-turut, itu akan terlihat mencolok. Jika ia sampai ketahuan, semua usahanya akan sia-sia.
Berdasarkan analisis Wang Lin terhadap ekspresi pria paruh baya tersebut, ia percaya bahwa dalam ujian rekrutmen yang hanya diadakan setiap 30 tahun sekali ini, hampir tidak ada seorang pun yang mendapatkan pil. Ia menduga kebanyakan orang hanya mendapatkan sepotong batu giok.
Pria paruh baya itu perlahan berkata dengan nada datar, "Hanya tersisa waktu satu jam sebelum batas waktunya habis. Aku bisa memberitahu kalian sekarang bahwa di dalam pilar tersebut terdapat empat benda: sepotong batu giok, sebuah pil, sebuah token, dan sebuah tungku pil."
"Di antara keempat benda tersebut, siapa pun yang mendapatkan giok berarti lulus ujian ini. Siapa pun yang mendapatkan pil akan langsung menjadi murid dalam. Siapa pun yang mendapatkan token dapat menukarkannya dengan pil peringkat 3 apa pun, selain pil yang membuat kalian langsung menjadi murid dalam."
"Jika salah satu dari kalian mendapatkan tungku pil, maka kalian akan menjadi segelintir orang yang beruntung yang akan menjadi murid pemimpin sekte. Namun, dalam 8.000 tahun sejak Sekte Langit Awan didirikan, baru ada 6 murid yang berhasil mendapatkan tungku pil tersebut. Aku berharap, di antara kalian, akan ada yang ke-7."
"Begitu kalian menjadi murid pemimpin sekte, kalian dapat menggunakan pil sesuka kalian dan kalian akan diperkenalkan pada bidang Alkimia yang jauh lebih mendalam."
Begitu kata-kata itu diucapkan, semua pemuda di atas panggung menarik napas dalam-dalam dan menatap ke arah pilar. Di mata mereka, pilar itu melambangkan kekayaan seumur hidup.
Ketika Wang Lin mendengar kata-kata itu, ia sempat tertegun. Ketika ia memeriksa bagian dalam pembatasannya tadi, hanya ada tiga benda di sana. Tidak ada tungku pil di dalam. Setelah merenung sejenak, Wang Lin tidak terus mengamati, melainkan melepaskan sebuah pembatasan dan menarik keluar sebuah pil.
Dengan kilatan cahaya keemasan, sebuah pil biru segera terbang keluar dari pilar dan langsung disambar oleh Wang Lin.
Bukannya Wang Lin tidak bisa mendapatkan token tersebut, tetapi ia tidak ingin terlalu mencolok. Jika bukan karena fakta bahwa mendapatkan pil akan langsung menjadikannya murid dalam, ia pasti akan memilih batu giok saja.
Setelah melihat warna pil tersebut, mata pria paruh baya itu tiba-tiba berbinar. Ia merampas pil itu dari tangan Wang Lin. Setelah mengamati Wang Lin sejenak, ia tersenyum dan berkata, "Apakah kau bersedia mengambilku sebagai gurumu?"
Wajah Wang Lin memperlihatkan rona ketakutan, namun di balik ketakutan itu terselip secercah kegirangan. Ia pun mengangguk cepat.
Pria paruh baya itu tersenyum dan berkata, "Berdirilah di sampingku sampai akhir, nanti aku akan membawamu naik gunung untuk menemui pemimpin sekte."
Wang Lin dengan cepat dan hormat mengikuti pria paruh baya itu ke sudut panggung. Wajahnya dipenuhi oleh rasa takut dan ekstase, namun ia mencibir dalam hati. Ketika ia melihat ekspresi kecewa sang pria paruh baya saat murid sebelumnya mendapatkan pil elemen api, Wang Lin mulai mengamati pria paruh baya itu dengan cermat. Ia memperkirakan secara kasar bahwa pil yang diinginkan pria paruh baya itu adalah pil elemen air. Bagaimanapun juga, bahkan jika elemen lainnya tidak cocok, pil itu tetap bisa digunakan, kecuali jika ia memang membutuhkan elemen air, yang merupakan kebalikan dari api.
Hasilnya, Wang Lin secara sengaja memilih pil elemen air karena jika analisisnya benar, pria paruh baya itu akan terlalu senang untuk menyelidiki terlalu dalam mengapa dua pil muncul secara beruntun.
Dalam satu jam berikutnya, tiga orang lagi dipilih. Di antara ketiga orang itu, salah satunya adalah gadis yang berjalan bersama Wang Lin ke tempat ini.
Waktu hampir habis. Pria paruh baya itu mendongak ke langit dan bersiap mengumumkan hasilnya, tetapi pada saat yang sama, seluruh pilar kabut gelap mulai bergolak hebat. Awan gelap mulai bermunculan di langit dan petir menyambar bagaikan ular perak yang menari-nari.
Pada saat yang sama, terjangan raung gemuruh terdengar dari dalam kabut dan ujung sebuah tungku pil raksasa mencuat dari sudut kabut.
Ujung tungku ini berwarna ungu dan memiliki ukiran naga hitam yang dirantai. Mata naga itu dipenuhi dengan kemurkaan dan rasa enggan yang kuat. Ia menatap ke langit dan melepaskan beberapaa raungan.
Pada saat itu, sebuah kekuatan tak kasat mata dari dalam kabut mendorong mundur semua orang yang berada di atas panggung, kecuali pria paruh baya tersebut, Wang Lin yang berada di sampingnya, dan seorang pemuda berwajah lemah. Pemuda berwajah lemah itu menatap ujung tungku pil dengan tatapan kosong, tak mampu berkata-kata.
Wang Lin terkejut. Ia memperhatikan tungku pil itu dengan cermat dan bisa melihatnya diselimuti oleh lapisan cahaya hitam. Setiap kali tungku pil itu bergerak sedikit, lapisan cahaya hitam tersebut semakin memudar.
"Kuali! Ini adalah Kuali Naga!" Pria paruh baya yang berdiri di samping Wang Lin menampilkan ekspresi serius.
Namun, pada saat yang sama, tungku pil itu tiba-tiba bergetar hebat dan tidak jadi terbang keluar, melainkan perlahan menyusut kembali ke dalam kabut. Bersamaan dengan itu, sebuah token emas terbang keluar dari kabut dan mendarat di tangan pemuda berwajah lemah tersebut.
Pria paruh baya itu menghela napas. Ia melihat kejadian ini setiap 30 tahun sekali, namun tungku pil itu tidak pernah berhasil keluar dari pilar.
"Kirim semua orang keluar dari gunung Sekte Langit Awan. Siapa pun yang mendapatkan sesuatu, ikuti aku naik ke atas gunung." Setelah pria paruh baya itu selesai berbicara, ia menoleh ke arah Wang Lin dan mencengkeram ikat pinggang Wang Lin. Ia melompat menghampiri pemuda yang mendapatkan token dan mengangkatnya juga, lalu membawa keduanya naik ke gunung.
Di belakangnya terdapat tiga murid Sekte Langit Awan. Mereka membawa ketiga orang beruntung yang lulus ujian menuju puncak gunung.
Wang Lin terus mengawasi keadaan sekitarnya. Saat pria paruh baya itu bergerak semakin cepat, gunung itu pun semakin dekat. Kemudian, mereka tiba-tiba melewati sebuah penghalang seperti gelombang air dan seluruh pemandangan di hadapan Wang Lin berubah seketika.
Deretan hutan hijau yang subur dan lanskap pegunungan tiba-tiba lenyap, dan yang terbentang di hadapan Wang Lin adalah sebuah bangunan megah yang dihiasi dengan ukiran batu giok yang sangat indah. Bahkan Wang Lin, yang telah berpengalaman melanglang buana, tidak bisa menahan diri untuk tidak menarik napas kagum dan berpikir bahwa Sekte Langit Awan benar-benar kaya raya.
Meskipun tidak semua rumah terbuat dari giok, lebih dari 80% bangunannya terbuat dari batu giok alami. Jika semua itu diubah menjadi batu spiritual atau potongan giok, jumlah totalnya pasti sangat tak terbayangkan.
Pada saat yang sama, karena banyaknya batu giok, tempat ini secara alami memiliki energi spiritual yang sangat pekat. Ia menarik napas satu kali dan langsung merasakan sensasi yang amat nyaman. Setelah menganalisisnya sejenak, Wang Lin menyimpulkan bahwa berkultivasi di sini selama satu hari bisa disamakan dengan 3 hari berkultivasi di luar.
Wang Lin melihat ke arah orang-orang lain yang juga terpilih dan mendapati bahwa mereka semua juga tampak terpana. Mereka menatap pemandangan di hadapan mereka dengan ekspresi aneh.
Saat mereka melewati penghalang seperti gelombang air tadi, para murid di belakang pria paruh baya mulai melonggarkan pegangan tangan mereka. Setiap orang yang datang untuk bergabung dengan Sekte Langit Awan telah memiliki harta terbang milik mereka sendiri. Begitu para murid Sekte Langit Awan melepaskan pegangan pada orang-orang yang mereka bawa, setiap orang naik ke atas harta terbang masing-masing dan mengikuti di belakang pria paruh baya tersebut.
Kecepatan rombongan itu tidak terlalu cepat. Wang Lin tertegun sedikit lebih lama, lalu melihat sekawanan bangau terbang mendekat dari kejauhan. Di punggung bangau-bangau itu duduk beberapa wanita cantik. Para wanita ini mengenakan jubah berwarna pelangi, membuat mereka tampak seperti kupu-kupu yang sedang menari, yang mau tak mau membuat siapa pun berpaling untuk melihat ke arah mereka.
Ketika bangau-bangau itu semakin dekat, salah satu wanita berkata dengan suara yang merdu dan jernih, "Kakak seperguruan Zhou, apakah mereka ini para murid baru?"
Wanita itu sangat menarik, dengan segala pesona kecantikan papan atas. Ia juga memiliki sebuah tahi lalat kecil di sudut bibirnya, yang membuatnya terlihat sangat menawan.
Pria paruh baya itu tertawa kecil dan berkata, "Benar. Kali ini, selama rekrutmen, ada 6 orang yang lulus."
Tatapan wanita itu menyapu kelompok tersebut, memancarkan sebagian dari pesonanya yang tersembunyi. Tatapannya akhirnya berhenti pada gadis yang berjalan bersama Wang Lin ke sekte tadi, lalu ia tersenyum. "Sangat cantik. Jika dia dilihat oleh guru, dia pasti akan diterima sebagai murid."
Begitu wanita itu selesai berbicara, para wanita yang bersamanya mengalihkan pandangan mereka ke arah sang gadis. Setelah saling mengobrol sebentar di antara mereka sendiri, mereka semua pergi menaiki bangau dengan senyuman yang menawan.
Chapter 212 · 7m baca
Luxury
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter