Renegade Immortal - Chapter 1607 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 1607 · 6m baca

Li Muwan

by Er Gen

Wang Lin menatap wanita berwajah dingin itu, lalu pandangannya beralih pada bayi yang terbungkus kain selimut. Setelah merenung sejenak, dia mengangguk.

Ekspresi wanita itu tetap acuh tak acuh dan matanya seolah menyiratkan angin musim dingin. Dia menatap Wang Lin dan dunia di belakangnya.

"Namamu begitu mashyur di Planet Suzaku, aku bahkan telah mendengarnya jauh-jauh dari Xue Yue. Tuan adalah seorang cendekiawan agung yang telah membantu banyak kultivator memahami dunia.

"Aku datang hari ini demi anak ini." Wanita itu menunduk menatap bayi yang sedang tidur itu. Ada secercah kelembutan di dalam mata dinginnya.

Rasa dingin dalam suaranya sedikit mereda saat ia menatap bayi dalam gendongannya dan berkata, "Semua orang bilang Tuan telah menembus hakikat dunia, memahami karma, bersikap netral terhadap hidup dan mati, serta berjalan di antara yang nyata dan palsu. Maukah Tuan memberi anak ini jalannya sendiri?

"Kedua orang tua anak ini meninggal saat ia lahir. Aku kebetulan lewat saat melihatnya; tubuhnya sudah kaku dan berada di ambang kematian. Aku merasa iba lalu memeriksanya lebih dekat, dan aku mendapati bahwa dia memiliki bakat yang luar biasa. Ada aura lima elemen di dalam tubuhnya. Jika dia selamat, dia akan menjadi matahari bagi Planet Suzaku!

"Namun, hidupnya akan berliku-liku. Aku mahir dalam ilmu ramal dan meramalkan bahwa anak ini akan menghadapi sebuah malapetaka. Karena aku telah menemukannya, aku pun ikut terseret dan akan menjadi seseorang yang membantunya melewati malapetaka tersebut.

"Semakin dia tumbuh, malapetaka hidup dan mati itu menjadi semakin jelas. Kultivasiku terbatas, jadi aku hanya bisa menggunakan mantraku untuk mencegahnya tumbuh, menjaganya tetap dalam wujud bayi.

"Aku dengar Tuan adalah orang yang bijak, makanya aku datang memohon bantuanmu..." Suara wanita itu terdengar dingin saat ia berucap pelan.

Tepat pada saat itu, kilatan petir menyambar di langit disusul suara gemuruh guntur. Suara guntur itu tampaknya terlalu keras hingga membangunkan bayi yang sedang tidur tersebut. Dia membuka matanya yang jernih dan mulai menangis.

Bahkan setelah guntur reda, tangisan bayi itu masih terus menggema.

Wang Lin menatap sang bayi dan berkata dengan lembut, "Biar aku yang menggendongnya."

Wanita itu merenung sejenak sebelum menyerahkan bayi tersebut kepada Wang Lin. Wang Lin menggendong bayi itu dan menatapnya lekat-lekat.

Ini adalah seorang bayi perempuan. Meskipun sedang menangis, dia sangat menggemaskan. Tampaknya ada titik merah yang terukir di dalam jiwanya.

Air mata mengalir dari matanya dan membasahi kain selimut di sekitarnya.

Aneh sekali. Anak perempuan itu menangis kencang di dalam pelukan wanita tadi saat terbangun, tetapi di dalam pelukan Wang Lin, tangisannya perlahan-lahan mereda. Mata polosnya terbuka lebar menatap Wang Lin.

Wajah tua Wang Lin perlahan-lahan tersenyum dan tangan kanannya dengan lembut mengusap hidung bayi perempuan itu. Bayi perempuan tersebut langsung tertawa riang.

Wang Lin bertanya dengan lembut, "Siapa namanya?"

Wanita itu merenung sejenak sebelum menjawab, "Orang tuanya meninggal lebih awal, jadi aku pun tidak tahu. Selama bertahun-tahun, aku tidak pernah memberinya nama. Bagaimana kalau Tuan yang memberinya nama?" Suaranya masih menyisakan sedikit nada dingin.

Wang Lin menatap bayi perempuan yang sedang tersenyum dan tertawa gembira itu. Samar-samar ia merasakan aura yang familiar dari bayi perempuan ini. Setelah sekian lama, Wang Lin mendongak menatap hujan.

Jarak pandang terhalang oleh hujan. Sesaat kemudian, seekor kupu-kupu warna-warni terlihat sedang berteduh dari angin dan hujan.

Jika sayap kupu-kupu itu basah karena hujan, ia tidak akan bisa terbang.

Jika tubuh kupu-kupu itu diterpa angin, rasanya bagaikan angin topana bagi manusia.

Melihat kupu-kupu di bawah daun itu, mata Wang Lin memancarkan pencerahan. Ia menatap kupu-kupu itu dalam-dalam untuk waktu yang lama.

"Mari kita beri nama dia Kupu-Kupu Merah... Kupu-kupu di tengah hujan dengan cahaya merahnya yang terang dan lembut, yang akan menjalani hidupnya dengan bangga dan cemerlang."

Kata-kata Wang Lin terdengar lembut dan menyiratkan perasaan yang tak bisa dijelaskan saat ia menunduk menatap bayi perempuan tersebut. Bayi perempuan itu seolah mampu memahami perkataan Wang Lin dan tertawa semakin gembira.

"Aku tidak menguasai mantra dan tidak tahu bagaimana cara membantunya menghindari malapetaka hidup dan matinya. Aku telah melihat sesuatu dalam mimpiku, dan aku akan menggambarkannya untukmu. Jika kau bisa memahaminya, mungkin itu dapat mengatasi malapetaka hidup dan matinya." Wang Lin menghela napas sambil menyerahkan kembali bayi perempuan itu kepada wanita dingin tersebut. Ia mengangkat tangan kanannya ke arah hujan dan berjalan menuju meja batu di dalam paviliun. Ia memejamkan mata seolah-olah sedang mengenang sesuatu dan mulai menggambar sebuah pola yang rumit.

Pola ini adalah sebuah formasi. Formasi ini sangat rumit, dan itu membuat wanita asal Xue Yue tersebut terkejut. Dia mengingatnya baik-baik.

Setelah sekian lama, Wang Lin menyelesaikan goresan terakhirnya dan membuka matanya.

"Setelah kau memahami ini, ambil sehelai rambut bayi perempuan itu dan letakkan di dalamnya..." Ekspresi Wang Lin tampak rumit saat menatap ke langit. Awan gelap mulai berarak pergi.

Pola di atas meja itu perlahan-lahan puyar bersama angin dan tidak terlihat dengan jelas lagi. Wanita dari Xue Yue itu memejamkan mata sejenak sebelum membungkuk hormat kepada Wang Lin. Dia menggendong bayi itu dan berjalan melangkah ke tengah hujan.

Wang Lin tidak menoleh ke arah punggung wanita itu. Ia menatap paviliun dan mengamati hujan yang mulai mereda. Ada kebingungan di dalam matanya.

"Karma... Apakah karma ini nyata seperti kehidupan masa lalu... Atau palsu dan aku hanya menyelesaikannya sendiri..." Wang Lin tidak mengerti. Hujan berhenti di luar paviliun dan sebuah pelangi muncul.

Kupu-kupu yang tadi berteduh di bawah daun dari terpaan hujan terbang ke udara. Ia terbang di hadapan Wang Lin lalu melesat pergi ke kejauhan.

Sambil menghela napas, Wang Lin berjalan keluar dari paviliun. Ia berjalan menuju ke kejauhan ke arah laut.

Pada tahun ke-15 setelah meninggalkan Zhao, Wang Lin telah tiba di dekat laut. Dia naik sebuah kapal dagang yang berlayar di antara dua benua. Dia hendak pergi melihat dunia di seberang sana.

Lautannya begitu luas tak bertepi dan megah. Angin berhembus dan ombak menggulung di samping kapal dagang. Berdiri di atas kapal, Wang Lin menghirup aroma angin laut sementara rambut putihnya berkibar. Angin samudra berhembus, tetapi ia tidak mampu meniup pergi jejak-jejak waktu.

Matahari dan bulan di atas laut memiliki keindahannya sendiri. Ini adalah pertama kalinya Wang Lin pergi ke laut, tetapi dia sama sekali tidak merasa terganggu. Dia menatap air laut dan sebuah aura memenuhi tubuhnya.

Langit di atas laut dipenuhi sekelompok burung camar yang terbang berputar-putar. Matahari yang cerah menyelimuti seluruh lautan.

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan... Setelah lima bulan, kapal dagang itu telah sepenuhnya memasuki bagian dalam laut. Saat angin berhembus dan para pelaut menyanyikan lagu khas mereka, Wang Lin menampilkan senyuman.

Pada suatu hari di bulan keenam, saat fajar menyingsing ketika matahari baru saja mulai terbit, Wang Lin terbangun oleh segala keributan di luar. Dia berjalan keluar dan melihat para pelaut yang telah bersamanya selama setengah tahun berlutut di atas geladak. Mereka sedang memuja ke arah timur.

Wang Lin melihat ke arah sana dan tubuhnya bergetar hebat.

Di permukaan laut sebelah timur, di tengah langit yang berkabut, sebuah bayangan ilusi muncul.

Gambaran itu memperlihatkan kawah gunung berapi yang sedang meletus. Gunung itu bergemuruh dan dua retakan besar yang menyerupai dua naga saling melilit muncul. Itu tampak seperti sebuah pertanda.

Lahar yang tak berujung menyembur keluar dan kepulan asap membubung, menutupi langit di dalam bayangan tersebut.

Tidak ada suara sama sekali, itu hanyalah sebuah bayangan. Pemandangan gunung berapi yang meletus itu membuat semua orang di atas kapal berlutut.

Dari kejauhan, bayangan ilusi itu menyatu dengan dunia. Pemandangan itu tampak sangat nyata namun sekaligus memancarkan kesan kabur. Hal itu membuat orang-orang tidak bisa membedakan apakah itu nyata atau palsu.

Saat Wang Lin menatap dunia ilusi tersebut, pikirannya bergemuruh.

"Nyata dan palsu... Nyata dan palsu... Buku itu mengatakan bahwa lautan memiliki roh bernama Shen dan napasnya menciptakan fatamorgana... Pemandangan ini... Pemandangan ini... apakah ini nyata atau palsu... Apakah ini benar-benar ada di suatu tempat atau hanya sebuah ilusi semata."

"Wahai roh laut, janganlah murka... Wahai roh laut, janganlah murka..." Orang-orang fana itu bergetar dan berlutut di atas tanah saat melihat pemandangan yang tidak dapat dipahami ini. Hati mereka bergidik. Meskipun ini bukan pertama kalinya mereka melihatnya, mereka jarang menyaksikannya.

Legenda kuno mengatakan bahwa jika seseorang melihat ilusi di laut, itu karena roh laut sedang marah dan akan menghukum semua makhluk hidup di lautan...

Wang Lin sedang melamun, jadi dia tidak melihat bahwa orang-orang fana itu telah bangkit berdiri dan melemparkan sejumlah besar kargo ke dalam laut. Mereka berusaha memberikan kurban kepada roh laut dan meredakan kemarahannya.

"Ini pasti palsu. Benda ini tidak ada, ini adalah ilusi sepenuhnya. Hal seperti ini tidak mungkin muncul di dunia ini. Ini bukanlah sesuatu yang terjadi di suatu tempat di dunia ini...

"Ini pasti seorang kultivator abadi yang sedang berkultivasi di dasar laut, dan mantranya yang menyebabkan semua ini!" gumam Wang Lin. Dia telah menembus hakikat kebenaran dunia, tetapi apa yang dilihatnya sekarang sungguh tak terbayangkan.

Wang Lin menarik napas dalam-dalam dan bergumam, "Palsu... Ini palsu..." Namun, suaranya tiba-tiba terhenti dan matanya melebar. Tangan kanannya tanpa sadar terangkat untuk menunjuk ke arah gunung berapi ilusi di kejauhan dan ketidakpercayaan memenuhi matanya.

"Ini... Dia..."

Di dalam bayangan ilusi itu, saat asap hitam memenuhi dunia, seorang wanita muncul. Dia mengenakan pakaian putih, dan meskipun bukan kecantikan nomor satu, dia memancarkan perasaan yang lembut. Rambut panjangnya tergerai dan menari selaras dengan pakaiannya. Dia tampak seperti sesepuh surgawi yang muncul dari debu.

Wanita itu berjalan keluar dari awan hitam dan tangan indahnya menunjuk ke bawah. Gunung berapi yang sedang meletus itu bergetar dan menunjukkan tanda-tanda padam.

Ketika Wang Lin melihat wanita itu, dia seolah kehilangan seluruh tenaganya dan terpaku di tempat. Rasa sedih yang tidak masuk akal melonjak dan menyapu sekujur tubuhnya bagaikan badai. Seluruh tubuhnya tenggelam dalam kesedihan dan dua baris air mata mengalir dari matanya.

"Itu dia..." Tubuh Wang Lin tadinya memang sudah tua, tetapi sekarang menjadi jauh lebih tua lagi. Dia bersandar pada sisi kapal sambil menatap wanita berpakaian putih di dalam ilusi tersebut. Tatapannya seolah berlangsung selama ke abadian.

Gunakan ← → untuk pindah chapter