Dua tahun setelah ayahnya pergi, ibu Wang Lin tertidur dan tidak pernah bangun lagi. Wajahnya tampak bahagia, seolah-olah ia telah bertemu dengan ayah Wang Lin dalam mimpinya. Mereka bersatu kembali dan tidak ingin kembali.
Ada seseorang yang mendekapmu saat kau masih bayi. Tidak peduli seberapa lelahnya dia, dia akan tetap membisikkan kata-kata penenang kepadamu sampai kau tertidur dan berhenti menangis.
Ada seseorang yang mengkhawatirkanmu mengompol saat tidur dan takut kau masuk angin. Dia mengabaikan waktu tidurnya sendiri dan terbangun beberapa kali sepanjang malam untuk memeriksa tempat tidurmu guna melihat apakah basah.
Ada seseorang yang menahan rasa lelahnya demi bangun pagi untuk membuatkanmu sarapan agar kau tidak kelaparan saat tumbuh dewasa dan belajar.
Ada seseorang yang hanya makan kepala dan ekor ikan setelah tahu kau menyukai ikan. Saat kau tersenyum dan bertanya mengapa dia tidak memakan bagian daging ikan itu, dia akan tersenyum dan menjawab bahwa dia lebih suka makan kepala dan ekornya. Kau mempercayainya.
Ada seseorang yang merapikan dan menambal pakaianmu saat kau tumbuh besar. Ada beberapa bercak merah pada jarum-jarum itu yang sulit untuk kaulihat.
Ada seseorang yang tetap menatapmu dengan pandangan yang sama bahkan setelah kau dewasa. Dia akan menatapmu dalam diam, berbahagia dalam diam, tersenyum dalam diam hingga akhirnya dia menutup mata lelahnya dalam diam.
Orang ini dipanggil “ibu”.
Ada seseorang yang lain. Saat kau masih bayi, dia mengangkatmu tinggi-tinggi ke udara hingga kau menggantikan matahari dan menjadi segalanya baginya.
Ada seseorang yang lain. Sebelum kau bisa berjalan dan masih sering terjatuh, dia menggenggam tanganmu. Dia tertawa sembari membantumu mengambil langkah pertama dalam hidupmu.
Ada seseorang yang menggenggam tanganmu menelusuri gunung dan sungai saat kau tertawa gembira. Saat kau mendongak, kau akan merasa bahwa dialah gunung itu, dialah langit itu.
Ada seseorang yang melihatmu begitu serius ketika ibumu berkata dia menyukai kepala dan ekor ikan. Kemudian melihatmu menyisihkan kepala dan ekor itu untuk ibumu, sementara dia hanya duduk di sana menatap istrinya dengan tatapan penuh penyesalan dan kelembutan.
Ada seseorang yang bersikap tegas saat kau bertumbuh dewasa hingga hampir membuatmu merasa kesal. Namun, seiring bertambahnya usia, kau perlahan-lahan akan melihat cinta yang sebelumnya tidak bisa kaulihat di balik mata yang tegas itu.
Ada seseorang yang berbaring di atas tempat tidur dengan mata yang perlahan menutup namun dipenuhi rasa takut dan ketidakberdayaan. Namun, pelukanmu dan kata-katamu yang lembut membuatnya merasa seperti anak kecil, seperti saat kau masih kecil dan dia mengangkatmu ke udara. Dia tidak lagi merasa takut dan tak berdaya, melainkan merasakan kehangatan saat mengembuskan napas terakhir di dalam pelukanmu.
Orang ini dipanggil “ayah”.
Wang Lin duduk di hadapan makam kedua orang tuanya dan air matanya mengalir. Dia tertawa dan menangis. Kenangan itu terukir di dalam benaknya dan dia tidak akan pernah melupakannya. Dia tidak sedang meminum anggur, tetapi pada saat ini, rasanya ia sedang mabuk.
Di dalam mimpinya, di kehidupan yang lain, dia tidak bisa meratapi kepergian orang tuanya. Dia tidak bisa memeluk jasad ayahnya saat beliau tiada. Dia tidak bisa mencium kening ibunya sebelum wanita itu tertidur.
Di kehidupan ini, dia bisa melakukannya.
Jika seorang pria memiliki istri dan anak-anak, maka meskipun rasa sakit karena kehilangan orang tua begitu besar, dia masih memiliki seseorang untuk bersandar. Namun, jika seorang pria tidak memiliki istri dan anak, kesedihannya mampu menyelimuti dunia.
Mulai sekarang, tidak akan ada lagi pelukan yang bisa menghangatkan jiwanya saat dia kelelahan.
Mulai sekarang, tidak akan ada lagi senyuman yang bisa melenyapkan kepedihan ini saat dia merasa kesepian.
Mulai sekarang, di seluruh dunia ini, hanya ada sosoknya seorang diri yang menatap matahari terbit dan terbenam dalam diam.
Wang Lin menjaga makam itu selama tiga tahun, hingga seluruh rambutnya memutih. Tubuhnya tidak lagi tegap melainkan sedikit membungkuk. Tubuhnya memancarkan aura kuno dan jejak sang waktu.
“38 tahun…” Ada kerutan di wajahnya. Dia kini adalah seorang lelaki tua yang hampir berusia 60 tahun.
Kekayaan Besar bahkan sudah lebih tua lagi. Dia memegang tongkat dan berdiri di belakang Wang Lin. Dia menatap pergelangan tangan kanannya dalam diam, dan setelah sekian lama, dia mengangguk pelan.
“Kehidupan, berapa banyak rentang 38 tahun yang bisa ada… Aku tidak tahu tentang orang lain, tetapi bagiku, seharusnya tidak ada yang berikutnya,” bisik Wang Lin sambil berlutut di hadapan makam orang tuanya dan bersujud.
“Apakah kau masih ingat kuil tua itu…” Wang Lin bangkit dan menoleh ke arah Kekayaan Besar, yang tampak seperti tidak sanggup berjalan terlalu jauh lagi.
“Di kuil tua itu, aku bilang aku kekurangan seorang pelayan pembawa buku dan kau mengikutiku.” Wang Lin memperlihatkan senyuman saat menatap Kekayaan Besar. Selama 38 tahun ini, Kekayaan Besar telah menemaninya sepanjang jalan.
“Kekayaan Besar masih bisa menjadi pelayan pembawa buku.” Kekayaan Besar memutar bola matanya dan menyeringai.
“Kau sudah tua dan aku sudah tua… Namun, masih ada hal-hal yang ingin kulakukan… Kekayaan Besar, tolong jaga rumahku. Tunggu aku, tunggu aku kembali.” Wang Lin mendongak menatap langit dan melihat burung putih itu.
“Aku masih kurang sedikit pemahaman tentang dunia ini. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku mendatangi negara-negara berbeda di Planet Suzaku. Saat aku kembali, mungkin aku tidak akan mendapatkan apa pun, mungkin juga aku akan memeroleh pencerahan.”
Pada musim semi tahun ke-38, Wang Lin meninggalkan desa pegunungan itu seorang diri. Kekayaan Besar tinggal, menanti kepulangan Wang Lin dalam diam. Mungkin itu akan terjadi dalam 10 tahun, mungkin dalam 20 tahun, atau mungkin sepanjang sisa hidup.
Wang Lin duduk di dalam kereta kuda dan meminum anggur seorang diri sementara kereta itu menjauhi Gunung Heng Yue. Beberapa bulan kemudian, kereta itu tiba di perbatasan Zhao, tempat Wang Lin turun. Dia melepaskan kusir kereta itu dan mengambil napas dalam-dalam. Dia menoleh ke belakang, memandang Zhao, lalu melangkah maju, melewati perbatasan.
Ini adalah pertama kalinya dia meninggalkan Zhao seumur hidupnya. Dia tidak tahu ke mana masa depan akan membawanya, tetapi dia tidak memikirkannya. Dia hanya tahu bahwa jalan itu akan selalu berada di bawah telapak kakinya.
Tepat saat dia melangkah maju, beberapa berkas cahaya melintas di atasnya. Dia tidak mendongak melainkan dengan tenang terus berjalan ke depan.
Suara lembut terdengar dari berkas-berkas cahaya di atas sana. Suara itu berasal dari seorang wanita cantik di antara beberapa cultivator. Selain kecantikannya, dia sangat menawan, dan pesona itu sama sekali bukan buatan melainkan alami.
Dia berhenti di udara dan menatap ke bawah pada Wang Lin yang sedang berjalan menjauh. Alisnya berkerut dan matanya dipenuhi kebingungan.
“Ada apa, Junior Sister Liu?” Seorang cultivator di sampingnya membuka mulut karena terkejut.
“Tidak apa-apa. Kalian kembalilah ke sekte lebih dulu. Aku memiliki urusan pribadi,” ucap wanita cantik itu dengan lembut. Dia tidak lagi memerhatikan mereka dan terbang turun.
Cultivator yang tadi berbicara tampak terkejut dan hendak mengikuti.
“Senior Brother, aku ingin sendirian.” Suara wanita itu terdengar lembut namun penuh ketegasan. Cultivator itu berhenti sejenak dan merenung sebentar. Kemudian dia pergi bersama sisa kelompok itu, yang juga tampak kebingungan.
Wang Lin berhenti dan membalikkan badan. Dia menatap ke langit saat berkas cahaya yang indah itu mendekat. Cahaya tersebut berhenti seratus kaki darinya dan berubah menjadi seorang wanita cantik berbusana ungu.
Wanita itu sangat rupawan. Kecantikannya adalah sesuatu yang belum pernah Wang Lin lihat seumur hidupnya. Dia beberapa kali lebih cantik daripada Zhou Rui.
Namun, Wang Lin tidak termenung. Dia telah melihat menembus segalanya dan mengejar kebenaran dunia; dia memiliki pemikirannya sendiri. Di matanya, meskipun wanita itu cantik, begitu dia memejamkan mata dan masuk ke dalam tanah, dia tidak akan berbeda dari wanita lainnya.
Wanita itu menatap Wang Lin yang sudah tua, menatap rambut putih dan wajahnya yang keriput, serta matanya yang jernih. Setelah sekian lama, dia membungkuk hormat sedikit.
“Senior, aku melihatmu beberapa dekade lalu. Sekarang kita bertemu untuk kedua kalinya, apakah Anda masih mengingatku?”
Wang Lin menatap wanita di hadapannya dan mulai merenung. Setelah sekian lama, dia tersenyum dan menggelengkan kepala, lalu berkata dengan suara serak, “Aku lupa.”
“Karena Anda sudah lupa, biarlah itu terlupakan. Senior, aku tidak tahu mengapa, tetapi aku selalu merasa seperti kita pernah bertemu di suatu tempat sebelumnya. Bukan hanya kali ini, tetapi juga waktu itu. Aku ingin tahu, siapa nama Anda?” tanya wanita itu dengan lembut dan diiringi senyuman.
Wang Lin tetap tenang dan perlahan berkata, “Orang tua ini bernama Wang Lin.”
“Wang Lin?” Wanita itu mengerutkan kening dan berpikir keras untuk waktu yang lama.
“Apakah Anda sarjana agung Zhao, Wang Lin?”
“Orang tua ini memang benar.” Wang Lin mengangguk. Tatapan matanya memancarkan aura kuno. Pandangannya begitu dalam, seolah-olah merangkum seluruh dunia.
“Aku pasti salah ingat…” Wanita itu berpikir lama sekali dan tetap tidak bisa memikirkan dari mana perasaan akrab serta rasa sakit yang menusuk itu berasal. Dia menatap Wang Lin dan tidak mengerti mengapa perasaan itu justru semakin kuat saat dia memandangnya. Wajah tua pria itu membuatnya merasakan tusukan di lubuk hatinya dan kesedihan yang tak terkatakan.
“Permisi, selamat tinggal.” Wanita itu menghela napas. Dia berbalik untuk pergi dengan kebingungan di matanya dan rasa sakit di dadanya.
Wang Lin berkata pelan, “Bolehkah aku tahu, siapa nama Nona muda?”
Wanita itu berhenti dan membalikkan badan. “Liu Mei.” Di balik matanya yang indah, dia memperlihatkan senyuman manis yang sanggup membuat jantung seseorang berdegup kencang. Setelah ragu sejenak, dia mengeluarkan sebuah pil dari kantong penyimpanan miliknya.
“Anda semakin menua, pil ini bisa membantumu menjaga energi. Merupakan takdir kita bisa bertemu, jadi ini adalah hadiah dariku untukmu. Selamat tinggal.” Liu Mei meletakkan pil tersebut. Awan muncul di bawah kakinya dan dia terbang ke udara, tampak begitu cantik.
“Apakah ini kehidupan masa lalu atau reinkarnasi, ataukah ini sebuah mimpi… Atau tidak sama sekali… Liu Mei, Liu Mei… Wanita dari mimpiku yang menyadarkanku dari rasa sakit…” Wang Lin menatap pil itu. Dia menyembunyikan isi pikirannya dengan sangat baik.
Setelah sekian lama, hingga wanita itu sudah berada jauh di sana, Wang Lin tiba-tiba mendongak. Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk melontarkan sebuah raungan.
“Liu Mei, kau harus ingat. Tidak peduli apa pun, entah itu kehidupan selanjutnya, reinkarnasi, atau sebuah mimpi, jangan mendekati seorang cultivator bernama ‘Wang Lin!’ Jangan mengenalnya, jangan mendekatinya…”
Liu Mei sudah pergi dan Wang Lin tidak tahu apakah wanita itu mendengarnya. Dia menggunakan seluruh tenaganya hingga suaranya menjadi serak dan sama sekali tidak ada lagi jejak berkas cahaya itu.
Chapter 1605 · 7m baca
Liu Mei
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter