Keheningan ini sama persis seperti saat mereka berpamitan dan terbang meninggalkan Peng Lai. Sudah 100 tahun berlalu, tetapi pemandangan ini masih tetap sama.
Wang Lin terdiam karena dia tidak tahu harus berkata apa. Entah itu karena dia pernah bilang bahwa melupakan satu sama lain adalah pilihan terbaik, atau tentang bagaimana dia menemukan gelang Li Qianmei, Wang Lin tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Gelang itu telah menyelamatkan nyawa Wang Lin di Alam Tujuh Warna. Dia akan membalas kebaikan ini, tetapi tidak ada perasaan khusus di balik pembalasan budi tersebut.
Hatinya sudah mati dan hanya bisa menampung Li Muwan... Kecuali jika dunia ini hancur, kecuali jika saat kematian itu tiba, mungkin dia akan memilih jalan yang berbeda.
Namun, saat ini dia tidak bisa melakukannya. Atau agar lebih akuratnya, Li Qianmei sebenarnya belum benar-benar merasuki hatinya. Wang Lin hanya mengagumi Li Qianmei sebagai sesama kultivator. Hanya kemunculan gelang itu dan kebetulan takdir yang membuat rasa kagum ini menjadi sedikit rumit.
Wang Lin bahkan merasa bahwa kehebatan Li Qianmei seharusnya tidak diperuntukkan baginya. Mereka hanya saling mengenal lewat tiga pertanyaan, dan selain itu, mereka sama sekali tidak mengenal satu sama lain.
Mereka tidak melewati beberapa tahun bersama di Lautan Iblis, ratusan tahun penantian di Sekte Langit Awan, keterkejutan karena sekarat karena usia tua di lembah, atau alunan musik yang menemani 2.000 tahun kultivasi Wang Lin.
Tidak ada pula deru kesakitan yang mengguncang dunia dari Wang Lin ketika utusan para dewa tiba.
"Bahkan jika langit menginginkanmu mati, aku akan tetap membawamu kembali!!!" Ini adalah sebuah janji, ini adalah janji Wang Lin kepada seorang wanita.
Itulah sebabnya Wang Lin tetap terdiam saat berhadapan dengan Li Qianmei.
Hati Wang Lin terasa rumit terhadap Li Qianmei...
Li Qianmei menggigit bibir bawahnya dan berkata, "Bisakah kau menemaniku duduk sebentar..." Dia sedang duduk di atas rumput di halaman. Cahaya bulan jatuh menyinari tubuhnya, membuatnya tampak sangat cantik dan memikat.
Wang Lin duduk dengan tenang di samping Li Qianmei sambil menatap cahaya bintang yang terang di langit malam dan sinar bulan yang memesona. Saat dia duduk di sana, wangi tubuh Li Qianmei tercium oleh hidungnya, dan dia merasa sedikit rileks.
"Selama 100 tahun ini, apakah kau baik-baik saja..." Li Qianmei menunduk sementara jemarinya mempermainkan sehelai rumput hingga melingkar di jarinya.
Wang Lin berkata dengan lembut, "Biasa saja."
"Apakah kau melihat lukisan itu?" Li Qianmei tersenyum sambil menatap Wang Lin. Ada makna indah yang tersimpan di balik ketenangannya.
Tatapan Wang Lin jatuh pada wajah Li Qianmei, lalu dia dengan cepat mengalihkan pandangannya tanpa berkata apa-apa.
"Terima kasih atas pusakamu. Benda itu menemaniku di medan perang selama 100 tahun yang kesepian ini...." ucap Li Qianmei lembut sambil menatap Wang Lin.
Wang Lin membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun pada akhirnya ia memilih bungkam.
"Beberapa hari lagi, aku harus pergi..." Li Qianmei menatap Wang Lin. Matanya tampak bergetar, namun tatapannya justru semakin teguh. Dia terus menatap Wang Lin, sementara jemarinya tampak semakin melilit helai rumput itu erat-erat. Seolah-olah, bagaimanapun caranya, jari-jarinya sama sekali tidak ingin lepas.
Wang Lin merenung dalam diam sebelum berkata, "Aku... akan mengantarmu pergi."
Li Qianmei tersenyum tipis dan mengerjap. "Kukira kau sudah menjadi bisu."
Wang Lin tersenyum pahit dan menggelengkan kepalanya dalam diam.
"Kau bilang ingin mengantarku pergi terakhir kali, tapi jika aku tidak kembali untuk mencarimu, kau pasti tidak akan mengantarku." Mata Li Qianmei tampak semakin bergetar, namun ia tetap menatap Wang Lin.
Wang Lin menghindari tatapan Li Qianmei, lalu menatap lurus ke depan dan berbisik, "Kali ini aku yang akan mengantarmu."
Ada ekspresi kepahitan di wajah Li Qianmei. Dia menatap Wang Lin dan merasa pria itu begitu jauh. Meskipun berada tepat di sisinya, dia merasa Wang Lin begitu jauh, begitu jauh hingga tidak ada kekuatan yang bisa mendekatkannya.
Bagaikan seekor ikan yang menatap burung di langit. Ikan itu meneteskan air mata di dalam air, tetapi sang burung tidak dapat melihatnya... Karena yang memisahkan mereka adalah permukaan air yang tidak dapat ditembus.
Jika burung itu kebetulan mendarat di tepi sungai dan melihat ikan di dalam air, ia mungkin akan berhenti sejenak untuk menatap sang ikan, tetapi ia akan segera mengepakkan sayapnya dan pergi. Kepergiannya akan menimbulkan riak-riak kepahitan yang bergema di permukaan air, memengaruhi tubuh sang ikan.
"Setelah aku pergi kali ini, butuh waktu yang sangat lama bagiku untuk bisa kembali... Atau mungkin aku tidak akan pernah kembali..." bisik Li Qianmei di telinga Wang Lin, membuat pria itu semakin terdiam.
"Aku seorang anak yatim piatu. Guru yang memungutku. Pergi ke medan perang di Sekte Iblis adalah takdirku.... Jika aku tidak pernah kembali... Kuharap kau mengingat..." Li Qianmei melilitkan jemarinya pada rumput. Jari-jarinya bergetar lembut, semakin terjerat dengan erat.
Dia tidak mengatakan kepada Wang Lin bahwa sosoknya telah menjadi semakin jelas di dalam hatinya. Dia tidak mengatakan kepada Wang Lin bahwa dia telah mempertaruhkan nyawanya saat terluka parah demi mengambil kembali pena emas itu. Dia tidak mengatakan kepada Wang Lin seberapa besar tekanan yang harus dia tanggung untuk bisa datang ke sini!
Tubuhnya yang lemah tidak mampu menanggung tekanan ini. Hanya orang mati yang bisa meninggalkan medan perang di Sekte Iblis... Dan dia menahan tekanan dari Sekte Pemecah Surga, Sekte Iblis, di tengah pertempuran selama 100 tahun, namun tetap memutuskan pergi di tengah jalan demi menemui seseorang yang begitu jauh darinya...
Dia juga tidak mengatakan kepadanya bahwa akibat kepergiannya, ada banyak suara ketidakpuasan yang berbeda di dalam Sekte Pemecah Surga. Ada pula kecaman di dalam Sekte Iblis karena kepergiannya...
Dia juga tidak menceritakan kepada Wang Lin bahwa kepergiannya berarti dia telah melewatkan kesempatan untuk benar-benar masuk ke Sekte Iblis dan menerima ajaran mereka.
Dia tidak mengatakan semua ini, sehingga Wang Lin tidak mengetahuinya...
"Saat aku masih kecil, aku menyadari bahwa aku berbeda dari orang lain. Rambutku berwarna biru; tidak seorang pun di Lautan Awan yang memiliki warna rambut ini... Aku masih ingat bagaimana teman-teman bermainku dulu menertawakanku ketika aku masih kecil..." ucap Li Qianmei lembut dengan kegetihan di matanya saat ia mengenang masa kecilnya.
"Aku berkultivasi dengan sangat keras, dan Guru meracik banyak pil untukku. Dengan pil-pil ini, aku mampu mencapai tingkat kultivasi saat ini... Kultivasiku diberikan kepadaku oleh Guru, oleh Sekte Pemecah Surga... Aku harus pergi ke medan perang, itulah takdirku."
Li Qianmei tidak melepaskan tangannya yang terlilit rumput. Sebaliknya, ia mencabut rumput itu sehingga rumput tersebut tetap melingkar erat di jari-jarinya.
Dia berdiri dan merapikan rambut birunya. Dia menatap Wang Lin dan berkata dengan lembut, "Jika suatu hari nanti aku sudah tidak ada lagi, apakah kau akan ingat bahwa di dalam hidupmu, pernah ada seorang wanita bernama Li Qianmei yang sekadar lewat..."
Mendengar ini, Wang Lin merasakan sengatan rasa sakit di dadanya. Wajahnya sedikit pucat saat ia mendongak menatap Li Qianmei dan mengangguk pelan.
"Aku akan..."
Li Qianmei tersenyum, namun ada secercah kesedihan di balik senyuman itu. Dia menatap Wang Lin seolah ingin merekam pria itu sepenuhnya ke dalam ingatannya, atau... menghapusnya sepenuhnya dari ingatan...
Ada jarak yang sama persis dengan kepergian dan kepunahan, jarak itu tak terukur dan begitu jauh. Bagaikan ikan di dasar danau yang melihat burung pergi. Ia berjuang untuk melompat keluar dari air agar tidak lagi terhalang oleh penghalang itu. Namun, ia hanya sempat melihat sekilas sebelum akhirnya jatuh kembali ke dalam danau...
Wang Lin menatap Li Qianmei, dan rasa pahit di hatinya semakin menguat... Dia samar-samar teringat kembali saat dia membuka gerbang Manik Penentang Surga dan melangkah masuk. Rasanya seolah-olah dia telah melihat kehidupan masa lalunya. Pada akhirnya, dia melihat dirinya sendiri berubah menjadi seekor burung.
Dalam ingatannya yang kabur, dia seakan teringat bahwa sebagai seekor burung, dia pernah terpikat oleh seekor ikan berwarna cerah di dalam danau. Dia mendarat di tepi danau dan mengamati ikan itu dengan seksama...
Pada saat itu, ikan di dalam danau juga menatapnya.
Ditemani cahaya bulan, desahan Li Qianmei terdengar bagai angin sepoi-sepoi. Helaan napas itu menyebar ke seluruh halaman dan perlahan-lahan menghilang bersama sosoknya.
Melihat punggung Li Qianmei di bawah cahaya bulan, Wang Lin berkata pelan, "Terima kasih..."
"Untuk apa kau berterima kasih kepadaku?" Li Qianmei berhenti dan berbalik menatap Wang Lin. Ekspresinya masih tetap tenang.
Wang Lin merenung sejenak sebelum mengayunkan tangan kanannya, dan sebuah gelang pun muncul.
"Benda ini pernah menyelamatkan nyawaku sekali..."
Begitu melihat gelang itu, ketenangan yang digunakannya sebagai topeng runtuh seketika. Dia menatap gelang itu dengan tertegun, lalu perlahan-lahan sebuah senyuman terbit di wajahnya. Pada saat ini, dia tampak begitu memukau dan memesona.
Li Qianmei mengerjap dan berkata lembut, "Aku ingat... aku pernah membuangnya..."
"Tanpa sengaja aku menemukannya belakangan..." Ekspresi Wang Lin menjadi sedikit aneh. Bahkan dirinya sendiri hampir tidak percaya saat mengucapkannya.
"Oh, jadi kau tidak sengaja menemukannya." Ada binar senyum di tatapan Li Qianmei saat ia mengangguk.
"Aku mengembalikannya kepadamu." Wang Lin tahu Li Qianmei telah salah paham padanya, tetapi kesalahpahaman ini sulit untuk dijelaskan. Wang Lin bangkit berdiri, memegang gelang tersebut, berniat mengembalikannya kepada Li Qianmei.
"Kau yang menemukannya. Jika kau mengembalikannya padaku, aku akan membuangnya lagi." Senyuman di wajahnya semakin melebar saat ia menatap Wang Lin lekat-lekat lalu beranjak pergi.
"Ingat, kau berjanji akan mengantarku." Suara Li Qianmei terdengar lembut menyapa. Tubuhnya perlahan-lahan menghilang ditelan cahaya bulan saat dia kembali ke kamarnya di halaman.
Sambil memegang gelang itu, Wang Lin menghela napas. Lama kelamaan, dia menyimpan gelang tersebut, dan tatapannya beralih ke luar halaman.
Ada wanita lain yang berdiri di sana. Wanita ini adalah seorang kecantikan mutlak, dan dia juga sedang menatap Wang Lin. Dia tampak muram dan kesepian di bawah cahaya bulan, dan mereka pun saling bertukar pandang.
Tatapan itu membuat mereka merasa seolah-olah telah kembali ke Planet Suzaku dan Sekte Heng Yue. Ketika seorang wanita bernama Liu Mei yang lahir dengan akar spiritual air menatap ke dalam kerumunan dan melihat seorang pemuda bernama Wang Lin.
Chapter 1263 · 6m baca
The Fish and the Bird
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter