Langit berwarna biru dengan cahaya tipis yang berpendar menembus bumi. Dunia itu dipenuhi dengan energi spiritual selestial dan para makhluk selestial indah yang terbang melintasi angkasa.
Seluruh dunia diliputi kedamaian saat para makhluk selestial yang tak terhitung jumlahnya terbang di udara, saling berbincang satu sama lain. Mereka tertawa dan menunjuk-nunjuk seolah sedang membicarakan sesuatu.
Bumi terhampar luas dengan puncak-puncak gunung dan sungai-sungai yang mengalir di atas tanah. Energi spiritual selestial menyebar di daratan, dan dari kejauhan, terlihat kabut selestial menyelimuti area tersebut, membuat tempat ini tampak begitu indah.
Di atas tanah, makhluk selestial yang tak terhitung jumlahnya duduk bersila, tampak membentuk sebuah formasi. Formasi ini membentang hingga puluhan ribu kilometer, melibatkan begitu banyak makhluk selestial.
"Menyampaikan kehendak Alam Selestial Kuno untuk memperbaiki gerbang selestial dan menyambut para dewa selestial kuno yang sejati!" Suara penuh wibawa bergema di langit dan menyebar ke seluruh Alam Selestial.
Begitu suara itu berhenti, para makhluk selestial di dalam formasi membentuk segel dengan tangan mereka dan menyalurkan energi spiritual selestial ke dalam formasi tersebut. Hal ini menyebabkan bumi bergemuruh.
Segala sesuatu mulai berpilin dan riak yang kuat perlahan menyebar. Seiring menyebarnya riak tersebut, energi spiritual selestial yang pekat datang dari gunung dan sungai. Semua energi spiritual selestial memasuki riak itu dan membuatnya meluas lebih jauh lagi.
"Gunakan gunung bagian timur untuk membentuk sisi kiri gerbang selestial!"
Suara itu bergema sekali lagi sementara para makhluk selestial yang tak terhitung jumlahnya melantunkan mantra secara bersamaan. Sebuah gunung penembus langit di sebelah timur tiba-tiba runtuh. Gunung itu melayang ke udara dan terbang mendekat sembari hancur berkeping-keping.
Saat bergerak maju, gunung itu terus runtuh dan berubah menjadi pilar persegi sebelum mendarat di atas bumi.
Bumi bergetar hebat dan suara itu kembali bergema.
"Gunakan gunung bagian barat untuk membentuk sisi kanan gerbang selestial!"
Sebuah gunung menjulang di barat turut bergerak. Gunung itu berubah menjadi pilar persegi dan mendarat di atas tanah.
"Gunakan jajaran pegunungan selatan untuk membentuk bagian atas gerbang selestial!"
Di bagian selatan Alam Selestial, terdapat jajaran pegunungan menyerupai naga. Saat suara itu bergema, jajaran pegunungan yang tak berujung ini bergetar. Seolah-olah kepala naga terangkat ke udara ketika pegunungan itu terbang menghampiri!
Jajaran pegunungan itu secara bertahap runtuh saat mendekat, lalu mendarat tepat di atas kedua pilar tersebut!
Suara itu tiba-tiba bergema sekali lagi. "Gunakan tanah dari utara untuk membuat pintu selestial!" Alam Selestial di utara bergetar hebat dan retakan-retakan muncul. Seiring bumi yang bergetar, sebidang tanah berbentuk persegi panjang terbelah!
Potongan tanah persegi panjang ini secara perlahan terbang mendekat dan terus menyusut sebelum berubah menjadi pintu raksasa di antara ketiga pilar tadi!
"Kurbankan demi para selestial!"
Begitu pintu itu selesai dibuat, hampir seluruh makhluk selestial mengeluarkan raungan yang mengguncang bumi. Pada saat yang sama, riak yang telah menghimpun energi spiritual selestial dalam jumlah besar melesat ke arah pintu tersebut.
Gemuruh bagai petir terdengar. Seiring menyusutnya riak itu, sejumlah besar energi spiritual selestial memasuki pintu tersebut. Hal ini membuat pintu itu memancarkan aura layaknya gerbang selestial sungguhan!
"Alam Selestial Kuno memerintahkan agar ketika gerbang selestial terbuka, ranah selestial akan turun!"
Pemandangan berubah sekali waktu. Rasanya waktu telah berlalu cukup lama. Alam Selestial tetaplah Alam Selestial, namun tempat itu tak lagi memiliki pesona seperti sebelumnya. Bau amis darah menyebar di penjuru Alam Selestial diiringi jeritan penuh penderitaan. Bumi bergetar dan terus meretak.
Langit menjadi keruh seolah-olah tinta telah dituangkan ke dalam air dan membuatnya menjadi gelap gulita. Di kejauhan, sekitar belasan makhluk selestial tampak terbang mendekat, tetapi tiga makhluk di barisan belakang tiba-tiba bergetar. Tubuh mereka meledak menjadi hujan darah dan daging yang jatuh ke bumi.
Jeritan menyayat hati terus bergema.
Belasan makhluk selestial itu berjuang mati-matian mencapai pintu dan bersujud di tanah. Salah satu dari mereka meraung ke arah pintu, suaranya terdengar pilu dan dipenuhi kesedihan,
"Gerbang selestial telah berdiri selama 40.000 tahun. Mengapa dewa selestial sejati dari Alam Selestial Kuno tidak kunjung datang?"
Pintu batu raksasa itu tampak sama persis seperti saat pertama kali dibangun, tanpa ada perubahan sedikit pun. Pintu yang terbentuk dari daratan itu masih tertutup rapat, tanpa celah sekecil apa pun, apalagi terbuka.
Tepat saat raungan itu menggema, beberapa makhluk selestial yang bersujud di tanah bergetar, mata mereka dipenuhi rasa takut. Detik berikutnya, tubuh mereka meledak dan darahnya memerciki orang-orang yang tersisa. Itu adalah pemandangan yang mengerikan.
"Dulu, Alam Selestial Kuno meninggalkan pesan bahwa Alam Selestial Angin akan menghadapi malapetaka besar. Demi melawan malapetaka itu, kami membangun gerbang selestial ini. Sekarang malapetaka telah tiba, mengapa dewa selestial kuno tidak menyelamatkan kami?"
Ratusan makhluk selestial muncul di cakrawala. Banyak dari mereka tewas bahkan sebelum sempat tiba dan bersujud di tanah. Semakin banyak makhluk selestial yang berdatangan. Mereka semua menatap pintu itu dan mengeluarkan ratapan keputusasaan.
"Jika dewa selestial kuno tidak mau menyelamatkan kita, maka kita akan menyelamatkan diri kita sendiri. Sekalipun aku mati, aku akan mati di Alam Selestial!" Seorang makhluk selestial tiba-tiba bangkit berdiri dan melesat ke langit dengan diliputi kegilaan. Namun, yang menantinya adalah ledakan dahsyat bagaikan petir.
Daging dan darahnya berserakan di tanah, bahkan ada yang menempel di pintu. Namun, jika dibandingkan dengan pintu itu, cipratan darah tersebut terlalu kecil.
Lebih banyak darah yang menumpahi para makhluk selestial di tanah. Mereka semua mendongakkan kepala, memperlihatkan sorot mata penuh kegilaan saat mereka menerjang ke langit!
"Sekalipun aku mati, aku akan mati di Alam Selestial!"
Saat para makhluk selestial terus terbang ke udara, gemuruh petir pun bergema. Makhluk-makhluk selestial itu meledak satu per satu; mereka sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk melawan kekuatan misterius tersebut!
Darah yang semakin banyak membasahi gerbang batu. Bercak-cakcak darah itu memancarkan suasana tragis.
Tepat pada saat ini, kegelapan di langit mulai bergerak. Kegelapan di atas Alam Selestial berkumpul dalam sekejap. Sebuah jari hitam raksasa muncul dari langit dan menghantam gerbang batu dengan kekuatan yang mengguncang surga!
Jari ini sangat besar, dan setiap kultivator yang menyentuhnya langsung tewas. Tak lama kemudian, jari itu menyerap seluruh kegelapan di langit, dan ujung jari tersebut bertabrakan dengan pintu yang terbuat dari daratan benua!
Bum, bum, bum!
Gemuruh menggelegar meredam segala suara di dunia. Di bawah kekuatan jari tersebut, retakan dalam jumlah besar muncul di pintu itu, lalu tiba-tiba pintu itu runtuh!
Pintu itu berkeping-keping!
Pada saat ini, bumi bergetar, dan seperti pintunya, daratan mulai retak. Di ujung Alam Selestial, lebih dari 10 bagian daratan robek terlepas.
Di bawah keruntuhan yang terus-menerus, Alam Selestial pun runtuh!
Bumi bergetar dan terbelah menjadi fragmen yang tak terhitung jumlahnya. Di tengah gemuruh petir yang bergema, Alam Selestial telah menjadi reruntuhan, namun keruntuhan itu tidak berhenti, malah menjadi semakin hebat.
Aura kehancuran menyebar luas dan menghancurkan semua makhluk hidup!
Setelah waktu yang cukup lama, bumi berhenti bergetar. Alam Selestial yang runtuh kini terbungkus keheningan; tidak ada satu suara pun yang terdengar darinya. Kegelapan di langit berangsur-angsur menghilang hingga tak meninggalkan jejak. Pintu raksasa itu telah kehilangan daun pintunya, menyisakan kerangkanya saja. Ia berdiri di sana, tak bergerak.
Pemandangan itu berubah lagi. Entah sudah berapa lama waktu berlalu, sebuah retakan besar muncul jauh di dalam Alam Selestial. Retakan ini lebarnya sekitar 100.000 kaki dan memancarkan cahaya mengerikan. Seseorang dapat samar-samar melihat bahwa itu adalah sebuah sistem bintang di sisi sebaliknya. Terdapat sebuah planet berwarna ungu di sana, yang dipenuhi oleh makhluk buas yang tak terhitung jumlahnya. Bagian yang paling mencolok dari mereka adalah mulut mereka yang besar!
Mereka bergegas masuk ke dalam retakan dan muncul di Alam Selestial Angin.
Wang Lin tersadar karena terkejut dan menatap gerbang batu raksasa itu. Pada saat itu, ia telah menyatu dengan gerbang batu tersebut dan melihat ingatannya. Mata Wang Lin berbinar saat ia terbang ke angkasa, menunggangi angin hingga tiba di puncak gerbang batu itu, lalu duduk bersila.
Dari posisi ini, ia dapat melihat Alam Selestial dari sudut pandang mata burung, dan angin di sini terasa jauh lebih ganas! Angin itu merobek tubuhnya bagaikan pisau dan membuat rambutnya berkibar hebat. Pakaiannya berkibar dan bergemeretak diterpa terjangan angin.
Mengambil napas dalam-dalam, Wang Lin memejamkan mata dan membenamkan dirinya ke dalam kondisi aneh itu sembari merasakan kekuatan dari pintu tersebut. Kali ini ia menyatu dengan pintu itu, dan bayangan samar sebuah pintu perlahan muncul di benaknya.
Ia berniat menangkap wujud pintu itu di dalam hatinya agar ia bisa membawanya pergi.
Namun, pintu yang muncul di dalam hatinya tidaklah jelas; bentuknya kabur dan tidak dapat terwujud sepenuhnya. Wang Lin perlahan merasakan delapan kekuatan aneh di sekitar pintu itu. Delapan kekuatan inilah yang membuatnya tidak mampu mencetak wujud pintu itu dengan jelas.
Gerbang batu ini berbeda dengan saat Wang Lin memahaminya di tebing tepi laut. Hanya ada satu hukum di sana saat itu, jadi ia tidak perlu memilih; ia bisa langsung membawanya pergi.
Namun, saat ini situasinya berbeda. Wang Lin merasa bahwa delapan kekuatan aneh ini adalah delapan hukum yang berbeda. Jika ia ingin mengambil semuanya, gerbang batu itu tidak akan mengambil bentuk kecuali ia bisa tinggal di sini selama bertahun-tahun yang tak terhitung jumlahnya. Kemudian, jika ia tidak mati dan bisa mencapai puncak tahap Nirvana Shatterer, ia mungkin memiliki kesempatan.
Sudah jelas Wang Lin tidak akan memilih jalan ini. Pikirannya mulai mengamati kedelapan hukum tersebut ketika ia menyadari sesuatu, dan tubuhnya sedikit bergemetar.
"Selain kedelapan hukum ini, ada satu hukum lagi!" Mata Wang Lin tiba-tiba terbuka dan menatap pintu batu raksasa di bawahnya.
Terdapat jejak perjalanan waktu pada gerbang batu ini. Ini adalah aura alami yang akan muncul ketika sesuatu telah berada di suatu tempat cukup lama. Tidak ada yang istimewa darinya; aura ini bahkan akan menjadi lebih kuat di beberapa planet kultivator kuno.
Namun, entah karena alasan apa, jejak waktu pada gerbang batu ini telah mengalami perubahan. Rasanya seperti evolusi dari ranah seorang kultivator; ia telah berevolusi dari "waktu" menjadi "keabadian!"
Waktu dan keabadian berasal dari sumber yang sama tetapi berada pada dua tingkat yang sama sekali berbeda!
Chapter 1243 · 6m baca
The Ninth Law
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter