Bersembunyi di dalam aura makhluk-makhluk nyamuk yang tak terhitung jumlahnya membuat Wang Lin hampir mustahil untuk ditemukan, tetapi semakin jauh ia masuk ke dalam Alam Abadi Angin, ia menjadi semakin waspada. Kecepatan kawanan nyamuk itu melambat drastis saat mereka terbang lebih dalam ke dalam Alam Abadi Angin.
Saat mereka bergerak maju, Wang Lin jelas merasakan angin di Alam Abadi Angin menjadi semakin kencang. Angin itu bagaikan tangisan ratapan dari jutaan jiwa. Suaranya menggelegar membelah bumi, dan pada saat yang sama, angin tersebut membentuk pusaran-pusaran yang bergerak melintasi Alam Abadi Angin.
Makhluk-makhluk nyamuk itu tampaknya sangat menyukai angin, terutama pusaran-pusaran tersebut. Wang Lin telah melihat banyak pusaran yang berisi ratusan makhluk nyamuk di dalamnya terdorong ke kejauhan. Gemuruh guntur bergema di seluruh dunia, dan terkadang tidak dapat dibedakan apakah angin yang menggerakkan nyamuk-nyamuk itu atau nyamuk-nyamuk itulah yang membentuk angin.
Saat ia terus maju, tanah Alam Abadi Angin yang runtuh secara bertahap muncul di hadapan mata Wang Lin. Pecahan-pecahan tanah yang runtuh itu tampak seperti cermin yang pecah. Pecahan-pecahan tersebut dipisahkan oleh celah-celah, dan beberapa celah begitu lebar hingga terbentang menembus kehampaan.
Ada reruntuhan dan puing-puing yang tak terhitung jumlahnya di atas daratan-daratan tersebut, beserta banyak bangunan yang telah runtuh. Setiap kali angin lewat, ia tampak merenggut sebagian darinya, dan bangunan-bangunan itu perlahan-lahan lenyap tertelan angin seiring berjalannya waktu.
Melihat segala sesuatu di hadapannya, Wang Lin tidak kuasa menahan rasa sunyi yang melanda hatinya. Dalam hampir 2.000 tahun kultivasinya, ia telah pergi ke Alam Abadi Hujan, Alam Abadi Petir, dan kini ia berada di Alam Abadi Angin.
Pengalamannya begitu mendebarkan; sedikit sekali orang yang bisa menandingi apa yang telah ia lalui.
Alam Abadi Hujan memberi Wang Lin kesan bahwa tempat itu rusak parah, dan sangat sulit untuk menemukan jejak Alam Abadi di masa lalu. Yang tersisa hanyalah kepedihan karena dijarah berulang kali oleh para kultivator.
Alam Abadi Petir berbeda jika dibandingkan dengan Alam Abadi Hujan karena kerusakannya tidak separah itu. Meskipun tempat itu juga runtuh, ia masih bisa merasakan kekuatan dan keperkasaan Alam Abadi Petir di masa lalu.
Namun, baik itu Alam Abadi Hujan maupun Alam Abadi Petir, keduanya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Alam Abadi Angin. Karena keberadaan makhluk nyamuk, para kultivator jarang datang ke tempat ini setelah keruntuhannya, menyebabkan dunia ini tetap utuh terjaga. Hanya deru angin yang bergema sendirian di seluruh Alam Abadi Angin.
Keseluruhan Alam Abadi Angin memberi Wang Lin perasaan sunyi dan kesepian yang tiada akhir, seolah-olah tempat ini telah dilupakan selama bertahun-tahun yang tak terhitung jumlahnya. Hanya ratapan angin yang menemani tempat ini.
Wang Lin melihat sebidang tanah terbesar di Alam Abadi Angin melayang di hadapannya. Tanah itu memancarkan aura kuno seolah-olah telah melewati kehidupan selama bertahun-tahun yang tak terhitung jumlahnya.
Terdapat sebuah gerbang batu raksasa di pusat benua besar tersebut. Gerbang batu ini memiliki tinggi ratusan ribu kaki. Bahkan dari jarak jauh, seseorang dapat dengan mudah melihatnya sekilas.
Kawanan nyamuk tempat Wang Lin berada berhenti. Duduk di atas raja nyamuk, Wang Lin menatap gerbang batu raksasa di kejauhan, dan pikirannya bergetar seolah-olah ia telah kehilangan kesadaran dirinya. Ia kehilangan seluruh indranya; bahkan ratapan angin sepertinya menghilang, dan ia bahkan lupa bahwa dirinya sedang duduk di punggung raja nyamuk. Satu-satunya hal yang tersisa di matanya adalah gerbang batu yang tak terlukiskan itu!
Sebuah perasaan tentang waktu perlahan-lahan memenuhi benua pikiran Wang Lin. Pada saat ini, ia tenggelam dalam dimensi waktu. Ia perlahan-lahan kehilangan dirinya saat menyaksikan transformasi dunia, menyaksikan masa-masa berlalu, menyaksikan lanskap yang terus berubah.
Kurang tepat jika menyebutnya sebagai gerbang batu, karena benda itu hanyalah sebuah bingkai raksasa. Tampak seperti seseorang yang menempatkan sebuah tiang pendek di antara dua pilar masif ini untuk membentuk wujud sebuah pintu. Benda itu berdiri menjulang di atas tanah dan tetap tak tergoyahkan dihempas angin.
Memandang ke arah gerbang batu tersebut, Wang Lin seolah kembali ke dalam kesadarannya setelah waktu yang lama. Ia menarik napas dalam-dalam dan perlahan kembali normal, tetapi pandangannya masih terkunci pada gerbang batu raksasa di kejauhan.
Ia tidak asing dengan gerbang batu ini; ia telah melihatnya beberapa kali dalam hidupnya...
Gerbang batu ini adalah gerbang yang terbentuk saat Bead Penentang Surga diaktifkan. Keduanya terlihat persis sama, tanpa ada perbedaan sedikit pun. Jika memang ada perbedaan, itu adalah gerbang dari Bead Penentang Surga adalah gerbang yang sesungguhnya dan bukan sekadar bingkai.
Setelah merenung sejenak, Wang Lin melihat sekeliling. Tempat ini sudah merupakan bagian dalam dari Alam Abadi Angin. Melangkah lebih jauh berarti memasuki pusat Alam Abadi Angin. Wang Lin merasa sedikit enggan untuk pergi saat ia menatap pintu raksasa itu. Ia melompat turun dari punggung raja nyamuk, menginjak angin, dan berjalan di dunia itu melangkah maju sel demi sel.
Raja nyamuk mengikuti di belakangnya, dan di sekelilingnya terdapat hampir 5.000 makhluk nyamuk yang membentuk awan merah menutupi langit.
Wang Lin merasa seolah-olah ada daya tarik yang tak dapat dijelaskan pada pintu raksasa ini. Ia perlahan melangkah di udara dan mendekati gerbang tersebut. Aura megah dari gerbang itu menjadi semakin kuat.
Jika seseorang berdiri di hadapan gerbang itu dan mendongak, ia bahkan tidak akan bisa melihat puncaknya. Perasaan sunyi yang kuat menyelimuti area tersebut seolah-olah ada pusaran tak kasat mata dengan gerbang raksasa itu sebagai pusatnya, berputar secara perlahan. Karena pusaran ini, tercipta kesan seolah-olah ada lapisan kabut di sekitar gerbang. Sulit dideteksi dari kejauhan, tetapi ketika berada dekat, kabut itu sangat mudah dirasakan.
Wang Lin berdiri di atas tanah dan mengangkat kepalanya untuk melihat gerbang raksasa itu. Pikirannya bergetar saat ia secara tidak sadar menyebarkan indra ilahinya ke arah gerbang tersebut.
Saat indra ilahinya menyebar ke sana, sebuah gemuruh menggelegar bergema di benaknya seolah-olah petir meledak di telinganya. Ini menciptakan hantaman kuat yang menyingkirkan seluruh kabut dan membiarkan gerbang raksasa itu tampak dengan jelas di hadapan mata Wang Lin.
Apa yang dilihatnya bukan lagi sebuah gerbang, melainkan sesosok makhluk!
Makhluk ini memiliki jiwa. Rasanya ia telah ada terlalu lama dan perlahan-lahan memperoleh kesadaran. Ketika indra ilahi Wang Lin menyebar ke sana, ia tampak menyatu dengan makhluk itu, dan pada detik itu juga, Wang Lin seolah melupakan eksistensinya sendiri.
Waktu perlahan berlalu. Wang Lin berdiri di sana tanpa bergerak. Ia berada dalam kondisi yang sangat aneh; kondisi ini sangat mirip dengan saat ia memahami mantra aslinya yang pertama, Malam Terbelah, di atas tebing tepi laut.
Ada sebuah pepatah kuno: para kultivator berjalan melintasi surga dan menyesuaikan surga sebagai hati mereka sendiri. Hanya dengan cara itulah mereka dapat merengkuh langit dan bumi serta memahami apa itu dao! Meskipun hal ini terdengar rumit, ia memiliki alasannya tersendiri.
Bagaikan seorang pelukis yang belum pernah melihat puncak tertinggi, lautan mahakuasa, atau berbagai warna kehidupan; bagaimana ia bisa melukis gunung-gunung bagaikan kahyangan, lautan bagaikan naga, atau hubungan antarmanusia?
Hanya setelah melihat secara langsung dan mengalaminya sendiri, seseorang dapat melukis gunung dan laut dengan jiwa untuk menciptakan karya-karya agung yang akan diwariskan dari generasi ke generasi.
Kultivasi memiliki logika yang sama, itulah sebabnya semua murid dari sekte-sekte besar akan pergi keluar untuk memahami surga begitu tingkat kultivasi mereka mencapai titik tertentu.
Namun, para pelukis tetaplah manusia, dan sebagian orang tidak akan tersentuh oleh langit atau bumi. Mereka tidak pernah mendapatkan pemahaman apa pun dan hanya mampu meninggalkan jejak kaki yang perlahan-lahan akan lenyap ditelan waktu.
Ada pula orang-orang yang memperoleh pemahaman dari melihat langit dan bumi, gunung dan laut, bahkan dari para nelayan yang menebar jala mereka. Meskipun jejak kaki mereka juga akan tersapu, pemahaman yang mereka peroleh akan tetap tinggal di dalam hati mereka dan dibawa serta ke mana pun.
Kultivasi pun seperti ini, dan beberapa kultivator tidak merasakan pemahaman apa pun. Tidak peduli seberapa banyak yang mereka lihat, semuanya sia-sia belaka.
Beberapa kultivator telah memadukan langit dengan hati mereka dan menjadikannya pemahaman mereka sendiri. Pada saat ini, Wang Lin berhasil menangkap gerbang batu itu di dalam hatinya! Inilah salah satu dari tiga alam agung, Alam Shi!
Shi adalah sumber dari segala ciptaan!
Dulu, ketika Wang Lin memperoleh pencerahan di tebing tepi laut, ia sedang mengamati langit, bumi, dan laut. Ia menangkap semua itu di dalam hatinya dan membawanya serta untuk menciptakan mantra aslinya yang pertama, Malam Terbelah!
Hari ini, di Alam Abadi Angin, di bawah gerbang raksasa ini, Wang Lin merasakan perasaan itu lagi. Ia tenggelam dalam alam yang aneh ini dan hendak secara tidak sadar menangkap gerbang batu ini ke dalam hatinya lalu membawanya pergi.
Ia tidak berniat menggunakannya untuk menciptakan mantra kedua setelah Malam Terbelah. Sama seperti saat di tebing tepi laut dulu, ia tidak berpikir untuk menciptakan Malam Terbelah dan memamerkannya kepada dunia.
Tubuhnya berdiri di sana, dan auranya perlahan menyatu dengan gerbang hingga ia benar-benar lenyap di dalamnya. Pada saat ini, jika ada seorang kultivator yang datang dan menyebarkan indra ilahi mereka, mereka sama sekali tidak akan mampu mendeteksi keberadaan Wang Lin.
Bahkan jika mereka berdiri tepat di samping Wang Lin, jika mereka hanya mencoba mendeteksi seseorang tanpa melihat dengan mata kepala sendiri, mereka sama sekali tidak akan menyadari kehadiran Wang Lin.
Aura dan seluruh vitalitas Wang Lin lenyap tanpa jejak! Raja nyamuk masih melayang di udara, tetapi saat aura Wang Lin menghilang, matanya dipenuhi oleh kebingungan. Ia menatap ke bawah ke arah Wang Lin dan merasa semakin kebingungan.
Ia bisa melihat tuannya dengan jelas, tetapi aura tuannya telah lenyap sepenuhnya. Bahkan ikatan samar di antara mereka pun terputus.
Raja nyamuk meraung dan melesat menghampiri Wang Lin. Tampaknya hanya dengan melakukan hal inilah ia bisa tetap tenang. Saat ia meraung, makhluk-makhluk nyamuk di sekitarnya langsung mengepung area tersebut.
Saat aura Wang Lin lenyap, jauh di dalam Alam Abadi Angin, terdapat sebuah benua kecil. Langitnya temaram dan suara berdengung bergema tanpa henti. Seluruh dunia dipenuhi oleh makhluk-makhluk nyamuk yang tak terhitung jumlahnya.
Makhluk-makhluk nyamuk itu meraung. Mereka berkerumun dengan padat, hingga mustahil untuk melihat ujung dari kawanan tersebut.
Di atas benua itu berdiri sebuah patung batu berbentuk manusia. Tiba-tiba, proses pembatuan di sekitar matanya mulai berbalik. Batu di sekitar mata itu mencair dengan cepat dan mata tersebut perlahan-lahan terbuka.
"Ada sembilan hukum di dalam gerbang batu itu, diurutkan dari yang terkuat hingga yang terlemah. Hukum manakah yang mampu ia pahami..."
Chapter 1242 · 7m baca
After Sundered Night
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter