Begitu Leon selesai menaruh semua item di [Trading House], ia sudah siap meninggalkan [Hub City].
Tidak ada lagi yang harus ia lakukan di sana.
Ia telah menyelesaikan event, menjual apa yang ingin ia jual, meningkatkan apa yang ia bisa, dan mempersiapkan segalanya untuk perjalanan di depan.
Berlama-lama di sana hanya akan membuang waktu. Jika ia ingin terus menjadi lebih kuat, ia harus melangkah maju: ke area berikutnya di [Lower Domain].
Dan tepat saat ia berbalik, bersiap untuk pergi—
Ding!
[“Sword of Darkness +4” milikmu telah terjual seharga 800 Eternal Coins.]
Leon bahkan belum sempat bereaksi sebelum notifikasi lain muncul.
Ding!
[Sub-bakat “Darkness Control (D-Level)” milikmu telah terjual seharga 2.000 Eternal Coins.]
Lalu yang lain. Dan yang lain lagi.
Pesan-pesan sistem terus bermunculan satu demi satu, setiap transaksi terjadi hampir secara instan.
Item-item yang baru saja ia daftarkan lenyap dari tokonya seolah-olah tidak pernah ada di sana sejak awal.
Leon berhenti berjalan dan dengan tenang membuka saldonya.
[Eternal Coins: 9.138]
Ia mengangguk pada dirinya sendiri. Jumlah itu lebih banyak daripada yang pernah ia pegang sekaligus dalam kehidupan sebelumnya pada tahap ini.
'Hanya tinggal beberapa ratus lagi,' pikir Leon, 'dan aku akan bisa meningkatkan [Storage Space] milikku lagi.'
Peningkatan itu saja akan membuat segalanya menjadi lebih mudah, lebih banyak ruang untuk peralatan, material, barang habis pakai, dan persediaan darurat.
Bagi seseorang seperti Leon, ruang penyimpanan bukanlah kemewahan. Itu adalah hal yang esensial.
Namun, di belakangnya, kekacauan mulai diam-diam terjadi.
"Apa-apaan ini?! Aku bahkan tidak sempat menekan tombol beli!"
"Apakah itu tadi gulungan sub-bakat sungguhan?!"
"Kau pasti bercanda?! Barang itu terjual seketika!"
Para pemain yang sedari tadi sedang melihat-lihat [Trading House] tiba-tiba bergegas menghampiri Leon.
Wajah mereka dipenuhi dengan rasa frustrasi, kegembiraan, dan ketidakpercayaan.
Beberapa tampak marah karena melewatkannya. Yang lain tampak putus asa, sudah membayangkan betapa jauh lebih kuat mereka jadinya.
Kerumunan kecil dengan cepat terbentuk di sekelilingnya.
"Hei, apakah nanti kamu akan menjual lebih banyak item?"
"Celestial, kan? Apakah kamu akan mengisi ulang stok?"
"Beri tahu kami sebelum kamu mendaftarkannya lain kali!"
Leon melirik mereka, ekspresinya tetap tenang seperti biasa.
"Tentu saja aku akan menjual lebih banyak," jawabnya singkat. "Hanya saja tidak akan mengumumkannya setiap saat."
Arti di balik kata-katanya langsung menohok mereka.
Jika mereka menginginkan item bagus, mereka harus terus-menerus mengawasi tokonya.
Beberapa pemain saling bertukar pandang, dan langsung membuka panel mereka kembali.
Yang lain mengangguk serius, seolah-olah mereka baru saja diberi misi penting.
Meski begitu, Leon sama sekali tidak peduli dengan reaksi mereka.
Yang terpenting adalah item-item itu telah terjual, dan terjual dengan cepat.
Banyak pemain membungkuk sedikit atau berterima kasih kepadanya, jelas-jelas antusias dengan gagasan bahwa mereka mungkin bisa membeli peralatan kuat darinya lagi di masa depan.
Bagi mereka, item seperti itu bukan sekadar peningkatan. Barang-barang itu adalah pembeda antara selamat dari zona berikutnya atau mati tak berdaya.
Emilia, yang sedari tadi memperhatikan seluruh kejadian itu, tiba-tiba mendekat.
"Menurutmu, berapa banyak yang akan kudapatkan jika aku menjual [Resurrection Stone] milikku?" tanyanya pelan. "Aku agak bangkrut..."
Leon menoleh perlahan ke arahnya, lalu tertawa.
"Itu akan menjadi ide terburuk yang pernah kudengar," ucapnya jujur.
Emilia mengerjap.
"Hah?"
"Tidak ada satu pun [Resurrection Stone] di [Trading House]," jelas Leon. "Tidak ada yang menjualnya. Sama sekali tidak pernah. Itu seharusnya sudah menjelaskan semuanya kepadamu."
Matanya melebar.
"Jadi maksudmu...?"
"Tak ternilai harganya," pungkas Leon.
Bahkan organisasi-organisasi kuat seperti [Fated Star], dengan banyak cadangan nyawa dan keuntungan yang tidak masuk akal, tidak akan begitu saja menyingkirkan item semacam itu.
Sebuah [Resurrection Stone] adalah kesempatan kedua dalam hidup. Menjualnya sama saja dengan memperjudikan masa depanmu.
Emilia menelan ludah dan dengan hati-hati memasukkannya kembali ke dalam inventarisnya.
"...Ya. Aku akan menyimpannya."
Setelah urusan itu beres, keduanya akhirnya meninggalkan alun-alun pusat [Hub City].
Leon tahu ini akan menjadi terakhir kainya ia datang ke tempat ini.
Saat mereka berjalan menuju gerbang kota, ia membuka panel pertemanan miliknya.
[Daftar Teman: 5]
Nama-nama yang sudah tidak asing lagi langsung muncul: David, Alice, Eleonore, dan Aaron.
Di samping nama masing-masing terdapat penanda lokasi yang sederhana: [Novice Village #1]
Leon menatapnya selama beberapa detik.
Ia tidak bisa melihat panel status mereka dari sini. Ia tidak bisa melihat level atau peralatan mereka. Namun, mengetahui di mana mereka berada saja sudah cukup.
Segera, mereka akan menuju ke [Novice Divine Temple].
Di kehidupan masa lalunya, mereka semua berbakat. Cukup kuat untuk membuat nama mereka dikenal. Cukup kuat untuk bertahan hidup jauh lebih lama daripada kebanyakan orang.
Mereka hanya mati karena nasib buruk dan keadaan di luar kendali mereka.
Kali ini, segalanya akan berbeda.
Leon tidak akan menggendong mereka, tetapi ia juga tidak akan mengabaikan mereka.
Ia bisa memberi mereka peralatan dan sedikit dorongan ke arah yang benar.
Selebihnya akan menjadi urusan mereka sendiri.
Sebagai contoh, jika Eleonore menerima [Vine Bow (Legendary)] dan buku keterampilan [Shadow Arrows], kekuatannya akan meroket. Dengan bakatnya, ia akan menjadi sangat kuat hingga menakutkan.
Bahkan para pemain dari dunia tingkat tinggi pun akan kesulitan melawannya.
Begitulah perbedaan yang bisa diciptakan oleh peralatan dan persiapan.
Manusia itu lemah dibandingkan ras lain. Itulah ke pahit dari dunia ini.
Kebanyakan manusia entah mati lebih awal atau menyerahkan diri kepada para dewa dan makhluk tingkat tinggi hanya demi bertahan hidup.
Leon sama sekali tidak berniat membiarkan hal itu terulang kembali.
"Baiklah," ujarnya sambil menutup panel. "Kita harus melewati satu zona sebelum mencapai kota berikutnya."
Ia membuka peta [Lower Domain]. Namun, begitu ia mencoba melihat ke depan, ia mengerutkan kening.
Area di luar posisi mereka saat ini tampak kabur. Terbatas.
"Tentu saja," gerutu Leon.
Tanpa ragu, ia merogoh [Storage Space] miliknya dan mengeluarkan lima [Skill Stones].
Kriet! Kriet! Kriet!
Ia menghancurkan semuanya sekaligus dan menyalurkan energi itu ke dalam satu keterampilan tunggal.
Ding!
[Selamat, kamu telah meningkatkan “Appraisal (Level 4)” menjadi “Appraisal (Level 5)”]
Deskripsinya tetap sama. Namun, Leon tahu betul untuk tidak menilai keterampilan itu dari kata-katanya saja.
Ia berjongkok dan menempelkan telapak tangannya ke tanah.
Fwoosh!
Informasi membanjiri penglihatannya.
Peta itu meluas secara dramatis, menyingkap area-area yang sebelumnya tertutup rapat.
Jalur, zona, penanda bahaya, semuanya terhampar dengan jelas.
Leon menegakkan tubuhnya.
"Bagus."
Saat ia menggulir ke depan, satu zona masif langsung menonjol.
Zona itu diwarnai hijau tua, dengan ikon tetesan air hijau kecil melayang di atasnya.
Namanya muncul dengan jelas: [Poison Forest]
Mata Leon menyipit. Ini adalah area wajib berikutnya.
Zona yang sangat berbahaya yang harus dilewati oleh semua pemain jika mereka ingin mencapai kota berikutnya.
Monster di sana sangat mematikan, lingkungan sekitarnya pun tidak bersahabat, dan racun ada di mana-mana.
Kendati demikian, Leon tidak ragu. Ada peluang di sana juga.
Tanpa membuang waktu, mereka berdua meninggalkan [Hub City] dan bergegas masuk ke alam liar.
Vision Enhancement! Darkness Barrier!
Leon langsung mengaktifkan kedua keterampilan tersebut.
Dunia menjadi lebih tajam seiring penglihatannya yang meningkat, dan penghalang kegelapan yang tebal menyelimuti tubuhnya. Ia tidak ingin mengambil risiko.
Mereka bergerak cepat, membelah medan terbuka hingga udara di depan mulai berubah.
Kabut hijau tebal tampak menjulang di kejauhan. Saat mereka mendekat, sebuah panel muncul.
Ding!
[Kamu akan memasuki “Poison Forest”, zona level 15 yang berbahaya.]
Emilia membeku.
"Oh tidak..." Wajahnya menjadi pucat. "Bukan racun..."
Leon meliriknya.
Setelah apa yang terjadi di gua, reaksinya sangat wajar. Racun bukan sekadar berbahaya, tapi juga menakutkan. Banyak pemain mati tanpa bahkan mengerti apa yang membunuh mereka.
Mereka bukan satu-satunya yang ragu-ragu. Beberapa pemain lain di dekatnya juga berhenti, ketakutan jelas terlihat di wajah mereka.
Meski begitu, tidak ada jalan lain ke depan.
"Zona ini wajib dilewati," kata Leon tenang.
Ia kemudian merogoh [Storage Space] miliknya dan melemparkan sesuatu ke arah Emilia.
Perempuan itu menangkapnya secara insting dan menunduk menatap benda di tangannya.
[Poison Antidote: Minum untuk menyembuhkan segala jenis racun.]
Matanya berbinar.
"Kamu masih punya ini?"
"Aku punya tiga," jawab Leon. "Digunakan satu padamu. Satu padaku."
Ia bisa mencari lebih banyak lagi di dalam hutan, tetapi ini bukan soal logika. Ini tentang ketenangan pikiran.
Bahu Emilia langsung mengendur seketika. Ia mengangguk mantap dan menggenggam botol kecil itu erat-erat.
"...Baiklah," ucapnya. "Ayo kita pergi."
Bersama-sama, mereka melangkah maju. Masuk ke dalam [Poison Forest].
Chapter 50 · 5m baca
Almost 10,000 Eternal Coins, To The Poison Forest
by Champion_Dreamer
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter