“Kalau kebetulan orang itu tidak ada di sini, apakah kau akan pergi?”
“Iya.”
“Dan kalau orang itu menyuruhmu pergi, kau juga akan pergi?”
“Iya.”
Pastor itu merinding mendengar respon yang begitu patuh. Tadinya dia pikir bisa lega sekarang lukisan terkutuk itu sudah hilang, ternyata ketaatan membuta itu hanya beralih ke target lain. Satu-satunya keberuntungan adalah sekarang objeknya adalah manusia yang bisa diajak bicara, bukan selembar kertas?
Lagipula, melihat ada kesatria yang menemaninya, sepertinya dia tamu dari pihak Tuan Gabriel, dan Tuan Gabriel adalah orang yang akan patuh kalau Uskup yang menyuruh.
Pastor itu segera menghadap Uskup Jabaniya dan menyampaikan informasi ini. Mendengar hal ini, Uskup Jabaniya sangat memuji ketelitian sang pastor.
“Sepertinya dewi Rachel telah memberi imbalan atas keyakinanmu.”
“Tidak seberapa, Yang Mulia.”
Dia cukup puas bisa mendapatkan perhatian Uskup dengan ini. Uskup Jabaniya menyampaikan terima kasih pada pastor yang berguna itu dan buru-buru mendekati Evangeline dengan sikap yang natural.
“Kalau dipikir-pikir, aku belum berterima kasih pada nona itu atas pemadaman apinya.”
“Yang Mulia, sisanya biar saya yang urus.”
Pastor yang cekatan itu langsung melanjutkan pembicaraan. Uskup Jabaniya menyerahkan tugas sisanya pada pastor dan menuju ke arah Evangeline. Seperti kata pastor, orang-orang memang semuanya sedang melihat nona itu. Anehnya dia tidak menyadari tatapan-tatapan tajam dan penuh semangat itu sampai sekarang.
Uskup Jabaniya sendiri terpana oleh pandangan Evangeline dan menyadari alasannya. Terlalu wajar baginya mendapat perhatian karena keberadaan yang begitu hidup. Memandangnya adalah hal yang natural dan benar seperti logika itu sendiri, itulah sebabnya dia begitu terlambat menyadarinya.
Uskup itu tersenyum ramah dan membungkuk diam-diam. Biasanya, orang dengan pangkat Uskup jarang menundukkan kepala, tapi Uskup Jabaniya adalah orang yang bisa menundukkan kepala kapan saja demi citranya.
Di balik wajahnya yang tenang, dia sedang menghitung. Namanya siapa tadi? Rafaela bilang… Oh iya. Rohanson.
“Nona Rohanson, terima kasih banyak telah menyelamatkan kesatria Kuil kami. Kami akan mengganti air suci yang kau gunakan untuk memadamkan api.”
“Dengan senang hati kuterima.”
Keluarga Viscount Rohanson? Itu nama yang belum pernah dia dengar sebelumnya, baru disebut sekali terkait kasus Donau. Apakah dia majikan dari wanita yang diculik Donau Blue? Tapi sekarang dia terlibat lagi dengan lukisan Donau. Bahkan ada kebakaran kali ini, persis seperti sebelumnya.
Uskup Jabaniya mengangkat topik utama tanpa menunjukkan kecurigaan yang dia rasakan.
“Para jemaat yang lain sepertinya masih shock, jadi kami berencana mengantar mereka ke tempat istirahat.”
Dia sengaja berbicara lebih keras supaya orang-orang di dalam bisa mendengar. Evangeline mengangguk acuh, seolah tidak tertarik kenapa dia menceritakan ini padanya.
Begitu izin Evangeline diberikan, langkah kaki mereka mulai bergerak. Orang-orang yang tidak bergeming meski Uskup meminta dengan sungguh-sungguh menjadi domba yang jinak hanya dengan satu anggukan dari putri seorang Viscount.
Uskup Jabaniya menyaksikan pemandangan ini dengan sangat tertarik, dan Rafaela adalah satu-satunya yang merasa tidak nyaman.
‘Seberapa banyak yang sudah dia ketahui?’
Saat melapor tentang kematian Donau waktu itu, aku juga sudah menyerahkan laporan tentang Evangeline Rohanson. Setidaknya beruntung aku belum membuka semuanya. Fakta bahwa Evangeline adalah pemilik faksi sihir, catatan yang ditemukan di sisa-sisa Donau, dan rumor tentang kebangkitan Evangeline hanya diketahui Kapten dan Rafaela.
Uskup Jabaniya tidak punya banyak informasi. Namun meski kurang informasi, siapapun bisa menyadari bahwa Evangeline tidak biasa saat berhadapan dengannya. Sang Uskup juga sepertinya berencana menyelidiki kaitan Evangeline dengan kejadian ini, karena dia mendekati Rafaela dan berbisik pelan.
“Apakah semua lukisan benar-benar habis terbakar?”
“Iya. Sudah hancur total.”
“Apa penyebab lukisan-lukisan itu terbakar?”
Seperti yang diduga. Karena sama-sama kejadian kebakaran dan orang-orang yang terlibat juga sama lagi, dia pasti menganggap ini mencurigakan.
“Aku tidak tahu. Pastinya orang-orang itu tidak mungkin yang membakar.”
“Bagaimana dengan Nona Rohanson?”
“Dia bersamaku.”
“Karena itu kata-katamu, aku dengan senang hati akan percaya.”
Apa orang tua ini mengira kita bersekongkol? Nadanya seperti tahu aku berbohong tapi untuk sementara akan membiarkannya. Dia pikir pasti ada kaitannya dengan Evangeline Rohanson.
“Para jemaat juga ada di sana, jadi bisa langsung tanya pada mereka.”
“Bagus. Pertama, mari dengar cerita orang-orang itu. Aku penasaran berapa banyak cerita berguna yang akan mereka punya. Meski aku ragu mereka akan berkata jujur dalam kondisi seperti itu.”
Yah, orang-orang yang tadinya terobsesi dengan lukisan seperti fanatik sekarang sudah menjadi domba jinak Evangeline, jadi wajar dia penasaran apa yang terjadi. Meski orang-orang berkata jujur, mungkin dia tidak akan percaya, mengira mereka akan berbohong untuk membela Evangeline. Tapi sungguh, Evangeline tidak melakukan apa-apa.
“Dan Tuan Michel datang lebih lambat dari aku.”
“Yang Mulia, bolehkah aku permisi dulu? Sepertinya lebih baik segera menidurkan Tuan Michel. Tuan Uriel juga pasti lelah.”
Rafaela merasakan tatapan tajam dan buru-buru membersihkan tenggorokan untuk memotong pembicaraan. Evangeline Rohanson sedang menatap mereka dengan menakutkan.
“Astaga. Aku tidak memikirkan itu. Serahkan pembersihan padaku dan pergilah duluan. Nona Rohanson harus menerima air suci, jadi harus ikut denganku…”
“Ah. Nona muda harus ikut dengan kami juga. Kapten ada hal yang ingin didiskusikan dengannya. Aku akan menyiapkan air suci untuknya sebelum dia pergi. Yang Mulia tidak perlu repot-repot, jadi aku harap bisa menyampaikan pesannya terlebih dahulu.”
Orang tua licin ini! Apa yang dia rencanakan untuk dibisikkan pada Evangeline Rohanson dengan memisahkannya sendirian?
Setidaknya melegakan bahwa Evangeline tidak akan terjebak skema orang itu. Berapa banyak orang yang lengah karena wajah ramah itu dan langsung masuk ke mulutnya?
Untungnya, pengawal Evangeline memutuskan mengikuti sang Uskup.
“Kalau begitu mari kita pergi, nona.”
Uriel menggendong Michel di punggungnya. Rafaela memandang Michel yang tak sadarkan diri, tenggelam dalam pikiran, lalu hati-hati berbicara.
“…Maaf atas salam yang terlambat. Terima kasih telah menyelamatkan Michel. Dia tidak sadarkan diri, tapi berkat air suci, tidak ada luka-luka. Terima kasih banyak.”
“Terima kasih, nona.”
Hal-hal yang mencurigakan memang mencurigakan, tapi fakta bahwa kita mendapat bantuan adalah benar. Aku bahkan tidak tahu berapa botol air suci yang digunakan. Berapa harga segitu?
Rafaela membersihkan tenggorokannya dan mengubah topik.
“Tapi apa tidak apa-apa hanya mengirim Jelly sendirian?”
“Jelly tidak apa-apa.”
“Nona, kau melakukan hal yang tepat mengirim Jel…, pengawalmu sebagai gantinya. Lebih baik tidak terlalu dekat dengan Uskup. Meski terlihat seperti itu, dia punya kepribadian yang cukup buruk.”
Rafaela berusaha menenangkan hatinya yang bersemangat.
Tidak butuh waktu lama untuk mencapai Aula Kesatria. Uriel punya stamina cukup untuk berlari dengan mudah meski menggendong pria dewasa di punggung, jadi tidak perlu sengaja melambat.
Setelah memasuki gedung, Uriel berhenti di depan tangga. Sementara ruang tamu membutuhkan naik ke atas, ruang perawatan terletak di lantai 1.
“Kalau begitu aku akan menitipkan Tuan Michel di ruang perawatan dan kembali.”
“Uriel…, tolong perlakukan Michel seperti manusia, bukan bagasi.”
“Ah. Aku akan mengantarnya ke sana dan kembali.”
Apa yang harus kulakukan dengannya? Rafaela memegangi kepalanya sambil menyaksikan Uriel menghilang dengan santai.
Akhirnya, aku tiba di depan ruang tamu. Sekarang Gabriel akan keluar begitu aku membuka pintu. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum masuk.
Aku sedang menghipnosis diriku sendiri. Baiklah, mulai sekarang, aku adalah seorang player.
Aku harus melakukan yang terbaik untuk memainkan Gabriel dan menarik kembali citra villainess yang disebut Daisy.
Aku hanya memikirkan lolos dari menjadi villainess, tapi tidak pernah menduga akan berakhir bermain game dengan hati pria. Mari berpikir positif. Bisakah sembarang orang memainkan game seperti ini? Itu yang dilakukan protagonis wanita. Aku juga sudah sedikit menyimpang dari takdir villainess. Genrenya adalah villainess possession, jadi tidak bisa dihindari.
“Kapten, aku sudah membawa Nona Rohanson.”
Setelah Rafaela mengetuk, dia membuka pintu. Di dalam, selain Gabriel, ada dua kesatria dan Kanna serta Hena yang duduk.
“Nona Rohanson.”
“Nona!”
Gabriel berdiri dari tempat duduknya dan menyapaku dengan membungkuk diam-diam, dan di belakangnya, Kanna melompat dan bergegas ke pelukanku. Wa-wah kaget.
“Itu berbahaya.”
“Maaf…”
Kami hampir jatuh ke belakang bersama. Aku menepuk kepala Kanna yang menjadi murung setelah hanya satu kali dimarahi.
Tapi anehnya, Hena yang biasanya akan menghentikannya, diam-diam tetap membisu. Hena meletakkan tangannya di lutut, terkepal erat, dengan kepala tertunduk.
“Hena?”
“Iya, nona.”
Dia menjawab segera saat dipanggil, jadi sepertinya tidak sedang melamun…? Kalian berdua bertengkar? Saat kulihat Kanna dengan penasaran, Kanna berbisik pelan.
“Kakak mendengar sesuatu yang aneh tadi.”
“Apa?”
“Aku tidak bisa mendengarnya, tapi dia sudah seperti ini sejak mendengar apa yang dikatakan seseorang bernama Daisy.”
Aku mengalihkan pandangan dari Hena ke samping.
Gabriel juga mendengar dari Daisy, tapi untungnya, dia tampak baik-baik saja. Dia pasti mendengar tentang villainess Evangeline dari Daisy… Apa dia hanya tidak menunjukkannya?
Ah! Aku benar-benar tidak menduga akan muncul rintangan bernama Daisy dalam rencana lolos villainess-ku yang tidak sempurna tapi cukup berjalan baik. Tunggu, tunggu sebentar. Rintangan? Karakter yang tiba-tiba muncul? Kalau begitu ini…