Lin Hai terkejut bukan kepalang.
Teknik Mata Surgawi telah aktif dengan sendirinya untuk pertama kalinya sejak ia mempelajarinya.
Pria tua di hadapannya ini pastilah bukan orang sembarangan.
Saat Lin Hai mengamati lebih dekat, ia menyadari bahwa tubuh pria tua itu diselimuti oleh dua aura yang berbeda—satu berwarna merah dan satu lagi putih.
“Aura Haus Darah!”
“Aura Kebenaran!”
Nama-nama aura ini tiba-tiba muncul di benaknya, seolah-olah ia sudah selalu mengetahui keberadaan mereka.
“Aura Haus Darah pria ini sangat pekat. Ia pasti telah merenggut ribuan nyawa,” pikir Lin Hai, merasakan hawa dingin merayap di punggungnya.
Namun, meskipun Aura Haus Darah itu begitu kuat, Aura Kebenaran miliknya bahkan jauh lebih dahsyat, melilit erat Aura Haus Darah tersebut dan mencegahnya bocor sedikit pun.
Dengan Aura Kebenaran yang begitu kuat, sudah jelas bahwa pria tua itu bukanlah orang jahat. Kendati demikian, Aura Haus Darah yang begitu intens membuat Lin Hai menyadari bahwa identitas pria tua itu sungguh luar biasa.
Seketika itu juga, rasa hormat yang mendalam membuncah di dalam hati Lin Hai.
“Sebuah kehormatan bisa berbagi perjalanan dengan Anda, Tuan. Silakan masuk ke dalam mobil.”
Lin Hai membukakan pintu belakang mobil Land Rover miliknya dan memberi gestur agar pria tua itu masuk.
“Haha, anak muda yang menarik. Baiklah, aku terima tawaranmu,” kata pria tua itu sambil terkekeh.
“Tuan, izinkan saya memeriksa mobilnya terlebih dahulu,” seorang pemuda berambut cepak dengan postur tegap melangkah maju dari belakang pria tua itu.
“Tidak perlu. Pemuda ini terlihat bisa dipercaya,” sela pria tua itu, lalu langsung masuk ke dalam mobil.
Pemuda tadi dengan cepat membukakan pintu depan penumpang dan duduk di sana, memindai bagian dalam mobil dengan tatapan waspada.
“Xiao Wang, kamu tetap di sini dan tunggu truk derek. Xiao Wu dan aku jalan duluan,” instruksi pria tua itu kepada sang pengemudi sebelum memberi isyarat kepada Lin Hai untuk menyalakan mobil.
“Tuan, silakan pegangan yang erat,” ucap Lin Hai seraya menginjak pedal gas, dan mobil itu pun melaju dengan mulus meninggalkan tempat tersebut.
“Anak muda, mau ke mana kamu? Semoga kami tidak membuatmu mengambil jalan memutar.”
“Sebenarnya, ini kebetulan sekali. Rumah saya di Kota Lantian, Kabupaten Yutian. Memberi Anda tumpangan ini memang searah dengan tujuan saya,” jawab Lin Hai sambil menyetir.
“Oh?” Pria tua itu tampak terkejut, lalu bertanya dengan antusias, “Apakah kamu kenal seseorang bernama Lin Maocheng di kotamu?”
“Lin Maocheng?” Lin Hai menggelengkan kepala.
“Ah,” pria tua itu mendesah, jelas terlihat kecewa.
“Ngomong-ngomong, siapa namamu, anak muda?”
Namaku Lin Hai. ‘Lin’ seperti hutan, dan ‘Hai’ seperti samudra. Anda bisa memanggilku Xiao Lin.”
“Kamu juga bermarga Lin?” Pria tua itu tampak tertegun. “Marga saya Xiao. Kamu bisa memanggil saya Tua Xiao.”
Sambil mengobrol tentang berbagai hal, perjalanan terasa begitu cepat, dan tanpa terasa mereka telah tiba di Kota Lantian.
“Anak muda, kamu bisa menurunkan aku di alun-alun depan itu.”
“Baik.”
Tua Xiao keluar dari mobil dan menyerahkan sebuah kartu nama kepada Lin Hai.
Lin Hai meliriknya sekilas. Tertulis nama “Xiao Qingshan,” diikuti dengan nomor telepon. Singkat dan jelas.
“Xiao Lin, terima kasih atas tumpangannya. Jika kamu datang ke Beijing, hubungi aku.”
“Pasti!”
Tring!
Ponsel Lin Hai berdering menandakan notifikasi WeChat masuk.
Ia membukanya, dan matanya hampir keluar dari rongganya.
“Perbuatan baik diberi imbalan: 100 poin kebajikan!”
Apa? Poin kebajikan?
“Yes!” Lin Hai mengepalkan tinjunya karena gembira.
Meskipun 100 poin kebajikan tidak seberapa, yang membuatnya sangat antusias adalah kenyataan bahwa ia akhirnya tahu cara mendapatkan mata uang surgawi yang dibutuhkannya untuk Perdagangan Surgawi.
Rumah Lin Hai berada di Desa Xiaolinjiawan, sekitar lima kilometer dari kota.
Saat ia mengendarai mobil melewati pemandangan yang sangat dikenalnya, Lin Hai merasakan gelombang emosi yang kuat. Sudah hampir setengah tahun ia tidak melihat kedua orang tua dan adik perempuannya.
Hari sudah siang, dan para petani yang bekerja di ladang sedang berjalan pulang untuk makan siang.
Begitu memasuki desa, Lin Hai melihat sekelompok petani berusia empat puluhan dan limapuluhan berjalan di sepanjang jalan tanah sambil mengobrol dan tertawa.
Mendengar suara mobil di belakang mereka, para petani itu menoleh dan dengan cepat menepi untuk memberi jalan.
Screech!
Land Rover itu berhenti tepat di sebelah kelompok tersebut.
“Paman Wang, mau pulang?” Lin Hai menurunkan kaca jendela dan memanggil seorang pria berambut kusut.
Pria itu, Wang Zhu, tinggal dua rumah dari keluarga Lin Hai. Ia sering bermain dengan Lin Hai semasa kecil dan kerap mengajaknya makan di rumah ketika orang tua Lin Hai sedang tidak ada.
Wang Zhu terperanjat. Ia menatap Lin Hai lalu berkata dengan tidak percaya, “Eh, bukankah ini Xiao Hai? Sedang apa kamu…”
“Saya cuma pulang mau jenguk orang tua,” kata Lin Hai sambil keluar dari mobil dan menyapa warga desa lainnya. Meskipun ia tidak terlalu akrab dengan mereka, mereka semua saling mengenali karena berasal dari desa yang sama.
“Xiao Hai, bukankah kamu masih sekolah? Kok sudah bisa bawa mobil? Ini harganya pasti setidaknya seratus ribuan, kan?” Wang Zhu menatap mobil Land Rover itu dengan penuh iri.
“Ah, saya sambil kerja paruh waktu pas kuliah. Lumayan bisa nabung sedikit.”
“Xiao Hai, aku dari dulu sudah tahu kamu bakal jadi orang sukses.”
“Iya, Pak Tua Lin dan istrinya benar-benar beruntung.”
“Duh, andai saja anakku setengah mampu seperti Xiao Hai, aku pasti sudah senang bukan kepalang.”
Para warga tidak bisa berhenti mengagumi Land Rover itu dan memuji Lin Hai, yang membuat pemuda tersebut merasa sedikit salah tingkah.
“Paman Wang, naiklah. Saya antar.”
“Enggak usah, enggak usah, tidak apa-apa. Saya jalan kaki saja. Jaraknya dekat.”
“Ayo, toh searah.”
Wang Zhu ragu-ragu. Ia sebenarnya sangat ingin naik mobil yang tampak keren itu, tetapi ia melirik pakaiannya yang kotor karena tanah dan menggelengkan kepala.
“Lebih baik tidak usah. Bajuku kotor penuh lumpur. Nanti mobilmu jadi kotor.”
“Tidak apa-apa, Paman Wang. Nanti tinggal dicuci.”
Lin Hai membukakan pintu dan praktis mendorong Wang Zhu masuk ke dalam.
“Tapi cangkulku…” Wang Zhu duduk dengan canggung di dalam mobil, cangkulnya terlalu panjang hingga tidak bisa muat dengan nyaman.
“Ah, Erdan, bawa ini ke rumahmu dulu ya. Nanti bawakan ke aku pas mau balik ke ladang siang nanti,” kata Wang Zhu sambil menyerahkan cangkulnya kepada warga lain.
Mobil itu melaju, meninggalkan para warga yang menatapnya dengan tatapan iri.
Wang Zhu duduk dengan kaku di dalam mobil, melihat sekeliling dengan gugup, takut menyentuh apa pun karena takut merusak atau mengotorinya.
“Xiao Hai, mobil ini keren banget. Aku dulu pernah ngintip bagian dalam BYD S6 Bibi milikmu, tapi kelihatannya tidak sebagus ini,” puji Wang Zhu.
“BYD S6?” Lin Hai menggelengkan kepala. Jika Land Rover miliknya ditukar dengan BYD S6, mobil itu mungkin akan memenuhi seluruh jalan desa.
“Paman Wang, mampirlah ke rumah kapan-kapan,” kata Lin Hai saat Wang Zhu turun dari mobil. Ia lalu mengeluarkan sebungkus rokok Zhonghua dari bagasi dan meleparkannya kepada Wang Zhu.
“Ini…” Wang Zhu melihat merek rokok itu dan tertegun.
Ia tidak kuasa menahan desahan. Xiao Hai benar-benar sudah menjadi orang sukses sekarang.
Saat Lin Hai membelokkan mobilnya ke halaman rumah, ia melihat sebuah mobil BYD S6 berwarna perak kelas bawah terparkir di halaman.
Seketika itu juga, hatinya terasa tenggelam.
Orang-orang di dalam pasti mendengar suara mobil dan mengira tamu telah datang.
“Xiao Hai?” Seorang wanita berusia limapuluhan dengan rambut yang mulai memutih keluar dari rumah. Ia menatap Lin Hai lalu beralih ke mobil, wajahnya dipenuhi rasa terkejut.
“Ibu, aku pulang,” ucap Lin Hai dengan suara tercekat.
Baru beberapa bulan berlalu, tetapi keriput di wajah ibunya semakin dalam, dan uban di rambutnya pun semakin terlihat jelas.
“Xiao Hai pulang,” kata ibunya, Song Qin. Di sampingnya berdiri seorang pria berkulit gelap dengan punggung yang sedikit membungkuk, wajahnya langsung berbinar penuh senyum saat melihat Lin Hai.
“Ayah!” Air mata mengalir di pipi Lin Hai.
Ayahnya, Lin Wen, baru berusia awal limapuluhan, tetapi ia tampak seperti pria berusia enam puluhan. Lin Hai tahu, tanpa harus diucapkan, bahwa beban hidup telah membungkukkan punggung ayahnya. Demi dirinya dan adiknya, sang ayah telah menanggung terlalu banyak penderitaan.
“Anak ini, kenapa malah nangis?” Song Qin menepuk pundak Lin Hai. “Ayo masuk. Bibimu dan yang lain sedang ada di dalam.”
Mendengar kata bibi, hati Lin Hai mendadak mendingin.
“Wah, wah, lihat siapa yang datang—mahasiswa kebanggaan desa!” Sebelum Lin Hai sempat melangkah masuk, sebuah suara bernada sindiran menyambutnya.