Melihat keadaan kelompok yang tampak berantakan itu, Jian Qingying tidak bisa menahan diri untuk tidak berseru, "Chichi! Apa yang terjadi pada kalian semua!"
"Qingying..." Mo Chichi menatap ke arah mereka, matanya dipenuhi kebingungan dan keputusasaan. "Dia sudah mati... Xu Zhengming... dia sudah mati!"
Mendengar ini, mata Luo Ye langsung membelalak lebar. Jika diamati baik-baik, pria berwajah bayi bernama Xu Zhengming itu memang tidak ada di antara rombongan mereka!
"Mati? Bagaimana dia bisa mati?" teriak Jian Qingying.
Mo Chichi mengendus, terisak-isak saat ia berbicara, "Dia... dia didorong keluar oleh Tian-ge dan akhirnya mati..."
Ekspresi Ye Tingyu berubah menjadi dingin, dan tatapannya ke arah Zhang Tiande menyiratkan penilaian yang tajam.
"Mo Chichi! Berhenti berteriak!" Merasa kedoknya terbongkar, wajah Zhang Tiande memerah karena marah. "Dia sudah mati, ya sudah! Kalau dia tidak mati, kita semua yang akan mati! Mengorbankan satu orang demi menyelamatkan lebih banyak nyawa, apa yang salah kulakukan?!"
"Cukup! Kenapa kau membentaknya?!" Jian Qingying tidak tahan melihat sikap Zhang Tiande terhadap Mo Chichi dan meninggikan suaranya untuk menenggelamkan pria itu. Ia menatap Mo Chichi dan mengulurkan tangan tanpa ragu. "Chichi, lupakan mereka. Kemarilah!"
Mo Chichi mengusap matanya dan langsung berjalan ke sisi Jian Qingying tanpa menoleh ke belakang. Seluruh tubuhnya gemetar, wajahnya pucat pasi. Hati Jian Qingying terasa perih melihat pemandangan itu; ia langsung menarik gadis itu ke dalam pelukannya, menghiburnya dengan lembut, "Chichi, jangan takut. Aku di sini."
Melihat hal ini, mata Zhang Tiande mendelik. "Sialan kau! Aku sudah menyelamatkanmu! Untuk apa kau menangis seolah-olah aku ini penjahatnya!"
"Memangnya kau bukan?" Ye Tingyu melangkah maju, menghadapi Zhang Tiande secara langsung. "Hari ini kau bisa mengorbankan Xu Zhengming demi bertahan hidup; besok kau bisa mengorbankan orang lain agar tetap hidup. Bukankah wajar jika Chichi takut pada seorang oportunis egois sepertimu? Kenapa kau malah berlagak tidak bersalah di sini?"
Mendengar nada bicara Ye Tingyu yang dingin, wajah Zhang Tiande memerah karena murka, pembuluh darah menonjol di lehernya. "Berhentilah bersikap sok suci, sialan! Kau tidak tahu apa yang kami lalui! Monster itu terus mengejar kami! Mo Chichi hampir saja tertangkap! Kalau aku tidak mendorong Xu Zhengming keluar untuk memberi makan monster itu, dia sudah pasti mati! Dia benar-benar tidak tahu diuntung!"
Mendengarkan berbagai alasan Zhang Tiande, Ye Tingyu akhirnya tidak bisa menahan tawa. "Jadi, kau membunuh seseorang di depan Chichi, dengan harapan bisa menyentuh hatinya? Agar kau bisa memanipulasi emosinya agar menuruti setiap kata-katamu?"
Zhang Tiande membalas, "Aku melakukannya demi menyelamatkannya! Itu untuk kebaikannya! Itu adalah saat-saat antara hidup dan mati, bagaimana bisa aku berpikir panjang?!"
Mendengar ini, ekspresi Ye Tingyu seketika berubah menjadi sedingin es. "Untuknya? Berhentilah berdrama, Zhang Tiande. Kita sudah kenal cukup lama secara online; siapa yang tidak tahu seperti apa sifatmu? Menggoda perempuan di mana-mana... jangan dikira aku tidak tahu niat busukmu. Bahkan di dunia maya pun kau sering melontarkan candaan tidak senonoh kepada Chichi, tetapi saat itu semua orang menganggapmu teman dan menegurmu beberapa kali dengan asumsi kau tidak akan mengulanginya lagi. Tapi sekarang, lewat tindakanmu ini, jangan salahkan aku jika aku memikirkan hal terburuk tentangmu."
"Apa niat aslimu menyelamatkan Chichi? Kau sendiri yang paling tahu. Orang sepertimu adalah tipe yang paling egois. Kau menyelamatkan Chichi hari ini hanya karena dia lebih berguna bagimu daripada Xu Zhengming. Jika suatu saat nanti ada sesuatu yang lebih penting bagimu yang datang, bukankah kau juga akan mencampakkan Chichi?"
Ye Tingyu menarik napas panjang. "Aku bersyukur Chichi masih berpikiran jernih dan tidak terpengaruh oleh apa yang kau sebut sebagai 'tindakan penyelamatan nyawa' yang dibumbui rasa terima kasih palsu. Kalau tidak, di masa depan, dia mungkin akan selalu berada di bawah belas kasihan hewan sepertimu."
Setelah mendengar rentetan kalimat panjang dari Ye Tingyu, Zhang Tiande sangat marah hingga hampir kehabisan napas. Sambil menunjuk ke arah Ye Tingyu, ia mengatupkan giginya dan berkata, "Baiklah, Ye Tingyu, lidahmu tajam sekali ya! Aku tidak bisa menang melawanmu! Sialan, kita jalan masing-masing saja! Kalau kita bertemu lagi di dalam permainan, jangan salahkan aku jika aku tidak segan-segan!"
"Qiao! Xie! Lu Xuan! Ayo pergi!"
Zhang Tiande, memimpin ketiga orang lainnya, hendak menuju ke arah bangunan-bangunan yang lebih tinggi. Pada saat itu, Bei Qi tiba-tiba angkat bicara, "Apakah kalian tidak butuh aku untuk menunjukkan kamar kalian?"
"Cih! Kami tidak butuh!" cerca Zhang Tiande sengit. "Kami tidak akan bertanya padamu! Kami bisa tanya pada orang lain, sialan!"
Setelah berkata demikian, mereka berempat pergi begitu saja tanpa menoleh ke belakang. Menyaksikan sosok mereka yang semakin menjauh, Luo Ye mengerutkan kening dan tidak bisa menahan diri untuk bertanya kepada Ye Tingyu, "Kak, apakah benar-benar tidak apa-apa memutus hubungan dengan mereka serapat ini?"
Ye Tingyu melirik sekilas ke arah punggung Zhang Tiande dan yang lainnya dengan tenang, lalu berkata ringan, "Aku tidak akan pernah berani mempercayakan punggungku kepada orang-orang yang moralnya buruk."
Luo Ye masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi Ye Tingyu memotongnya.
"Chichi, ceritakan pada kami, selain mendorong seseorang sampai tewas, apa lagi yang dilakukan Zhang Tiande selama permainan?"
Mo Chichi bergidik ngeri. Ia menghapus air matanya dan berkata dengan suara bergetar, "Zh-Zhang Tiande terus memegangiku dengan tidak sopan... Di awal permainan, Qiao Huan dan Lu Xuanlah yang mencari petunjuk... tapi Zhang Tiande terus menempeliku, mengatakan hal-hal seperti 'nikmati saja saat ini', ingin aku menjadi pacarnya, dan memaksa agar setelah kita keluar nanti, aku harus ikut dengannya..."
Mendengar perkataan Mo Chichi, mata Jian Qingying melebar karena tidak percaya. "Apa yang sebenarnya dipikiran Zhang Tiande?! Dia masih saja memikirkan nafsu di situasi SEPERTI INI? Belum lagi dia sudah melecehkanmu!"
Xiao Hua membetulkan letak kacamata di hidungnya. "Beberapa orang memang tidak bisa membedakan prioritas dalam situasi semacam ini. Mungkin memang dasarnya watak mereka sudah buruk. Lingkungan yang penuh teror ini justru memaksa Zhang Tiande untuk melepaskan topengnya sepenuhnya."
"Dia mungkin sudah terbiasa hidup enak. Kurasa dia tidak benar-benar menyadari betapa seriusnya situasi ini, ya?"
> Melihat Mo Chichi yang masih gemetar, Luo Ye tiba-tiba menyadari sesuatu.
Saat itu, ketika Mo Chichi menatap ke arah mereka... itu jelas-jelas sebuah permohonan tolong.
Sulit untuk membayangkan seberapa besar keputusasaan yang harus dialami Mo Chichi selama permainan tersebut. Jika mereka tidak tahu seperti apa karakter Xie Fei dan Qiao Huan, seandainya kelompok itu tidak turun tangan tepat waktu, Mo Chichi mungkin benar-benar akan...
Memikirkan hal itu, Luo Ye tidak kuasa menahan desahan napasnya. "Sampah seperti itu... Lupakan saja. Memutus hubungan adalah keputusan terbaik."
Li Qinghuai menggelengkan kepala. "Kejadian ini membuktikan kalau kita tidak bisa menilai orang dari penutupnya saja. Zhang Tiande sebelumnya berhasil menipu semua orang; bahkan aku pun tidak melihat gelagat mencurigakan apa pun darinya."
"Sudahlah. Lebih baik mengetahui sifat asli seseorang lebih cepat daripada terlambat." Jian Qingying menjulurkan lidahnya ke arah kepergian Zhang Tiande. "Lupakan dia. Ayo kita pergi memilih kamar kita! Bukankah Bei Qi-ge bilang dia akan mengantar kita?"
Bei Qi merasa terhibur dengan tingkah Jian Qingying. "Kau cepat tanggap juga ya, anak muda. Baiklah, akan kuanter kalian. Jenis tempat seperti apa yang kalian cari? Kalian ada tujuh orang. Apakah kalian ingin tinggal bersama?"
"Kami pasti ingin..." Ye Tingyu baru saja akan berbicara, lalu terhenti. Secara bersamaan, pandangan semua orang beralih ke arah Lin Jianying.
Lin Jianying tampak tidak nyaman di bawah tatapan serentak mereka dan akhirnya buka suara. "Berhentilah menatapku seperti itu. Aku akan tinggal bersama kalian."
Jian Qingying tersenyum cerah. "Baguslah! Aku tahu kau tidak akan tega meninggalkan kami, Shadow."
> Tampaknya merasa malu atas ucapan Jian Qingying, Lin Jianying memalingkan wajahnya dan dengan diam-diam berjalan ke barisan paling belakang kelompok itu. Mengikuti pola kebiasaannya, Luo Ye juga mundur dan berjalan berdampingan dengannya.
Dalam perjalanan menuju bangunan-bangunan bertingkat tinggi tersebut, Jian Qingying mulai mengobrol dan mengajukan banyak pertanyaan kepada Bei Qi.
"Omong-omong, kami pergi begitu lama. Apakah kau benar-benar menunggu di sini selama beberapa jam?" Jian Qingying mengerjap-ngerjapkan matanya, menunggu jawaban Bei Qi.
Bei Qi terkekeh pelan. "Anak muda, waktu di dalam area perumahan dan waktu di dalam sebuah level itu berjalan secara independen. Apa yang terasa seperti berjam-jam bagi kalian hanyalah sekejap mata bagi pengamat di luar. Bagiku, aku hanya mengalami momen saat kalian pergi dan momen saat kalian kembali. Hmm, itu sekitar setengah jam? Cukup untuk tidur siang singkat."
"Oh, begitu rupanya." Jian Qingying menangkup pipinya, merenung. "Jadi di pulau ini, waktu hanyalah konsep yang relatif."
"Bisa dibilang begitu." Bei Qi mengangguk. "Waktu di pulau ini memang sudah kacau sejak awal. Jika kita berhasil menyelesaikan kesembilan level dan kembali ke dunia nyata, mungkin tidak ada waktu sama sekali yang terlewatkan."
Sambil mereka berbincang, sebuah gedung berukuran besar muncul dalam pandangan. Bei Qi memimpin ketujuh orang itu masuk ke dalam sebuah lift. Lift tersebut ternyata sangat luas, bahkan tidak terasa sesak meskipun diisi oleh banyak orang.
Akhirnya, lift berhenti di lantai sepuluh.
Bei Qi memimpin mereka keluar dan berjalan hingga ujung koridor, lalu berhenti di depan sebuah pintu. Ia memasukkan kode elektronik bawaan. Disusul bunyi bEEP, pintu pun terbuka.
"Baik semuanya, silakan masuk."
Bei Qi masuk terlebih dahulu, diikuti oleh Luo Ye dan yang lainnya.
Ketika mereka melihat bagian dalam ruangan yang terang dan luas, mereka tidak bisa menahan diri untuk tidak menarik napas karena takjub.
Unit tersebut memiliki tata letak dupleks dua lantai. Ruang tamu di lantai bawah memiliki jendela kaca besar dari lantai ke langit-langit dengan pencahayaan alami yang sangat baik. Meskipun langit di luar selalu mendip, ruangan tersebut tetap terang dan lapang, sama sekali tidak terasa menyesakkan.
Lantai bawah memiliki empat kamar tidur, dua ruang keluarga, satu dapur, dan dua kamar mandi. Lantai atas memiliki ruang penyimpanan, beberapa kamar tidur, dan kamar mandi. Ruangannya lebih dari cukup untuk ditinggiali oleh ketujuh orang itu dengan sangat nyaman.
Melihat ekspresi puas mereka, Bei Qi langsung menghancurkan ketenangan itu. "Begitulah kenyataannya di pulau ini... kondisi tempat tinggalnya luar biasa bagus. Kurasa ini mungkin cara pulau untuk memberikan sedikit kenyamanan terakhir bagi para pemain?"
Mendengar ini, wajah mereka langsung merosot. Bei Qi tidak bisa menahan tawa. "Hanya bercanda, bercanda! Biar kuberi tahu, air panas di sini tidak terbatas. Kebutuhan sehari-hari dan bahan makanan akan selalu diperbarui di dalam kulkas dan lemari. Jika kalian punya permintaan khusus, ingatlah untuk mempostingnya di bagian masukan forum. Pengiriman nirawak akan mengantarkannya langsung ke depan pintu kalian."
Ia kemudian berjalan ke ruang tamu, mengambil sebuah kalender dari atas meja kopi, dan menunjukkannya kepada semua orang.
"Lihat lingkaran merah pada kalender ini? Ini adalah pengingat kapan seseorang telah mencapai batas waktu wajib level mereka. Jika kalian menginginkan tantangan yang lebih hidup, kalian bisa memilih tanggal-tanggal ini. Tapi aku tidak menyarankan itu. Kalian harus tahu, orang-orang yang menunggu hingga saat-saat terakhir biasanya adalah mereka yang lebih penakut dan kurang berpengalaman. Jika kalian butuh rekan setim, kalian bisa mencarinya di forum."
"Tetapi untuk kelompok yang sekuat kalian... Kurasa kalian tidak akan benar-benar butuh mencari rekan setim tambahan."