Ada apa itu? Benda apa itu tadi?
Seluruh tubuh Luo Ye tersungkur di atas pagar pembatas, separuh badannya menjulur melewati tepi anjungan. Seandainya Lin Jianying dan Bei Qi tidak segera mencengkeramnya, dia mungkin sudah jatuh terpeleset dari anjungan itu. Sayangnya, Mo Chichi juga tidak “berkelakuan” baik. Dia begitu panik sampai-sampai tak ada yang bisa menariknya kembali.
Pada akhirnya, Lin Jianying hanya bisa menahan Luo Ye, sementara Bei Qi memegangi Mo Chichi. Namun, ini bukanlah solusi jangka panjang, karena saat ini mereka berdua berada dalam kondisi yang sangat tidak normal. Jika ini terus berlanjut, akibat akhirnya adalah mereka berempat akan jatuh bersama-sama!
Bei Qi tahu betapa gawatnya situasi ini, jadi dia langsung berteriak dengan sekuat tenaga, “Ye Tingyu! Kakak Song Shan! Cepat kembali! Dua orang kita sudah setengah gila di sini!!”
Karena aula itu cukup luas, suaranya nyaris tidak terserap atau terhalang oleh apa pun. Belum lagi, Bei Qi bisa dibilang berteriak dengan segenap kekuatannya. Dua kelompok lainnya mungkin belum pergi terlalu jauh. Dalam situasi seperti ini, mereka harus meminta bantuan kepada mereka.
Benar saja, tidak lama setelah suara Bei Qi mereda, derap langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari koridor. Sosok dari kedua kelompok itu muncul di aula. Ketika Ye Tingyu melihat postur aneh dari kelompok empat orang Lin Jianying, dia pun balas berteriak, “Ada apa?! Apa yang sedang kalian lakukan?!”
Melihat Ye Tingyu masih sempat-sempatnya bertanya, Bei Qi tidak bisa menahan diri untuk meratap dengan keras, “Jangan pedulikan apa yang terjadi! Cepat naik ke sini! Luo Ye dan Xiao Mo sedikit gila!”
“Aku sudah tidak sanggup menahan lagi!!”
Yang lain akhirnya menyadari betapa seriusnya situasi tersebut. Mereka tidak berani menunda dan langsung berlari ke atas anjungan. Berkat insiden tak terduga ini pula, ponsel di tangan mereka terus menerus berdering. Namun saat ini, tak seorang pun peduli berapa banyak bayaran yang sedang mereka kumpulkan.
Karena Luo Ye dan Mo Chichi yang sedang kalap itu sangat mungkin adalah masa depan mereka sendiri.
Pada saat ini, kondisi Luo Ye dan Mo Chichi sama sekali tidak membaik. Sebaliknya, keadaan mereka semakin parah. Mo Chichi bahkan mencakar wajah Bei Qi saat pemuda itu berusaha menahannya, membuat Bei Qi menjerit kesakitan. “ADUH! Pelan-pelan!”
Kerumunan orang berdiri di atas anjungan ini, dan anjungan yang tadinya luas itu mendadak menjadi sangat sesak. Semua orang berada dalam kekacauan total, situasinya benar-benar berantakan. Luo Ye dan Mo Chichi masih terus berteriak tanpa henti, membuat siapa pun merasa jengkel dan gelisah.
“Sebenarnya apa yang kalian lihat?!” Anak laki-laki dari kelompok Song Shan, Li Xiang, akhirnya tidak dapat menahan diri untuk membentak, “Katakan dengan jelas! Benda apa sebenarnya itu?! Apa yang kalian ingin kami lakukan? Apa yang bisa kami buat agar kalian…”
“Berhenti berteriak, Li Xiang! Apa kamu ingin memprovokasi mereka semakin menjadi-jadi?!” Kakak perempuan Li Xiang, Li Man, dengan tajam menghentikan adiknya. “Jangan pusingkan itu dulu. Mari kita bawak turun mereka berdua. Paling tidak, kita harus membawa mereka turun ke lantai bawah. Mungkin begitu sampai di bawah, mereka akan…”
Saat dia berbicara, ucapannya tiba-tiba terhenti seketika. Karena pada saat ini, Li Man juga menolehkan kepalanya dengan kaku ke arah lantai bawah.
“…Benda apa itu?”
Pandangan mata Li Man menjadi kosong, dan tubuhnya tanpa sadar condong ke luar. Dan dia tentu bukan satu-satunya yang menunjukkan reaksi tidak normal ini!
“Ada sesuatu di sana!”
“Benda apa itu?”
“Lihat… Cepat lihat!”
Seruan-seruan kaget bersahutan seiring semakin banyak pemain yang jatuh ke dalam kondisi kalap. Baik itu Ye Tingyu, Xiao Hua, maupun Song Shan, semuanya tanpa sadar terjerumus ke dalam ilusi tersebut. Pagar anjungan sudah dipenuhi sesak, tubuh para pemain saling berdesakan, hampir seperti gerombolan zombi yang mengerubungi benteng kota.
Yang mengejutkan, Lin Jianying dan Bei Qi justru menjadi dua orang terakhir yang terkena “infeksi” aneh ini. Sungguh aneh. Luo Ye dan Mo Chichi, yang datang bersama mereka, jelas-jelas sudah kehilangan akal sehat jauh lebih awal.
Setelah itu, giliran Lin Jianying yang akhirnya tumbang.
“Di sana… benda apa itu?”
Lin Jianying menatap ke suatu arah tertentu dan bergumam pada dirinya sendiri.
Namun, meskipun kesadarannya sudah mulai melayang, dia tetap mencengkeram erat Luo Ye dari awal hingga akhir, menolak membiarkan pemuda itu benar-benar jatuh dari anjungan.
Melihat hal ini, satu-satunya penyintas yang tersisa, Bei Qi, merasa situasi itu konyol dan tidak bisa menahan diri untuk tertawa terbahak-bahak. Lagipula, semua orang sudah gila sekarang, jadi tidak akan ada yang peduli dengan apa yang dilakukannya.
“Kamu sudah separah ini tapi masih saja tidak mau melepaskannya. Lin Jianying, kamu benar-benar…”
Bei Qi menolehkan kepalanya, dan langsung membeku seketika.
“Eh… apa… benda apa itu?”
Begitu Luo Ye sadar kembali, pemandangan di sekitarnya sudah berubah total.
Luo Ye memegang keningnya, hatinya dipenuhi oleh perasaan yang bercampur aduk. “Ini lagi… Jadi di dalam game ini, pingsan itu cuma cara untuk transisi adegan?”
Mengeluh pun percuma, yang terpenting sekarang adalah beradaptasi dengan lingkungan saat ini secepat mungkin. Namun, ruangan tempatnya berada sekarang sangatlah sempit, tampak seperti sel penjara kecil untuk menahan para penjahat. Di sana hanya ada sebuah tempat tidur tunggal berukuran satu meter, sebuah meja kecil, dan sebuah jendela berjeruji besi kecil yang letaknya sangat tinggi—begitu tinggi sampai-sampai Luo Ye tidak bisa menjangkaunya meski dengan berdiri.
“Semakin aku lihat, semakin tempat ini mirip penjara… Lupakan saja. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?” Luo Ye duduk di depan meja kecil itu dan melihat beberapa lembar kertas A4 tergeletak di atasnya. Seperti yang bisa ditebak, salah satunya adalah yang disebut sebagai “kertas aturan.”
“Game di dalam game? Seperti level keempat lagi?” Luo Ye merasakan sedikit sakit kepala, namun dia tetap mengambil kertas aturan tersebut dan mulai membaca.
[Para pemain, silakan ambil pena di tangan kalian dan tuliskan sebuah “kata benda” atau “frasa benda” yang terdiri dari tidak lebih dari dua kata pada salah satu selembar kertas A4. Setelah menulisnya, lipatlah kertas tersebut dan masukkan melalui jendela kecil. Seseorang akan menerimanya untuk kalian.]
[Setelah kertas itu diterima, pintu untuk meninggalkan tempat ini akan muncul, dan kalian boleh pergi. Jangan khawatir tentang siaran langsung. Ingat, kalian selalu berada di bawah sorotan kamera.]
“Sebuah kata benda, siaran langsung…” Menatap kertas aturan yang hanya berisi beberapa kata ini, Luo Ye terdiam. Dia memejamkan mata dan memaksa dirinya untuk langsung memasuki mode berpikir.
Aturan ini terlalu samar. Untuk sejenak, Luo Ye sama sekali tidak tahu harus mulai dari mana. Kenapa mereka harus menuliskan kata benda? Kata benda seperti apa yang harus dia tulis? Fungsi apa yang akan dimiliki kata benda ini? Mengingat mereka sudah jatuh ke dalam “sandiwara di dalam sandiwara,” apa yang akan game ini tuntun untuk mereka lakukan selanjutnya? Bagaimana cara mereka keluar dari tempat ini?
…Kenapa tingkat kesulitannya menjadi begitu tidak masuk akal hanya dengan menaikkan satu bintang saja? Perasaan tidak tahu apa-apa ini benar-benar jauh lebih tidak nyaman daripada harus menghadapi hantu ganas secara langsung.
Setelah memikirkannya matang-matang, Luo Ye akhirnya memutuskan untuk menghadapi segala sesuatunya selangkah demi selangkah. Dia mengambil pena dan kertas, lalu menuliskan sebuah kata benda yang dirasanya memiliki makna tertentu.
“Mata emas.”
Mata emas menyerupai amber adalah ciri paling mencolok dari dirinya maupun Ye Tingyu. Jika kata benda ini tidak melanggar aturan, maka mungkin…
Setelah menuliskan kedua kata itu, Luo Ye menarik napas dalam-dalam dan melipat kertas tersebut. Kemudian dia berjalan menuju jendela dan berusaha bangkit sekuat tenaga dengan berjinjit, mencoba mengirimkan kertas itu keluar.
…Dia juga ingin tahu “benda” seperti apa yang akan mengambil kertas ini dari tangannya.
Apakah itu hantu, atau… manusia?