Climbing the Tower with Time-Stop Ability - Chapter 61 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 61 · 10m baca

Sub-Tower (7)

by 봡바봡

[Anda telah memasuki Lantai 9.]

Begitu aku berpindah ke Lantai 9, aku menghentikan waktu.

Apa yang kulihat adalah… sebuah batu.

Sebuah batu berbentuk balok memanjang seukuran manusia, melayang rendah sekitar selebar telapak tangan di atas tanah.

Jadi sekarang aku harus melawan sebuah batu?

Kami berada di lantai sembilan, jadi wajar saja jika ada sesuatu yang terasa ganjil.

Aku membayangkan batu itu mungkin mulai berputar seperti bor dan meluncur ke arahku begitu aku mencairkan kembali waktu…

Setelah merampungkan Konsentrasi Mental, aku langsung melancarkan Sambaran Api.

KABUUUM!

Bola-bola api menghantam batu itu secara telak.

Saat kobaran api mereda, batu itu telah lenyap.

Huh…? Apa aku berhasil mengenainya?

Belum.

Saat aku mengedarkan pandangan, kutemukan batu itu entah bagaimana telah melayang naik ke langit-langit di atas kepalaku.

“…?”

Aku sama sekali tidak melihatnya bergerak.

Apakah ia berteleportasi atau semacamnya?

Aku mencoba menembakkan skill lain.

Peluru Cahaya melesat meninggalkan jejak berpendar menuju batu itu, dan…

BRAM BRAM BRAM BRAM!

Serangan-serangan itu hanya menghantam langit-langit yang tak berdosa.

Kali ini aku melihatnya dengan jelas.

Tepat sebelum serangan itu mengenainya, batu itu lenyap.

Batu yang lenyap itu muncul kembali di udara di sebelah kiriku.

…Jadi ia benar-benar berteleportasi?

“Plli.”

Kupanggil Plli untuk menyerang batu tersebut.

Plli melompat dan mengayunkan cakar depannya yang besar ke arah batu itu.

Dan tentu saja, batu itu lenyap.

Ia muncul kembali di sisi kanan, rendah di atas tanah.

Seketika aku melihat batu yang berteleportasi itu, aku menghentikan waktu.

Usai merampungkan Konsentrasi Mental, aku menembakkan Sinar Penghancur.

Begitu sinarnya meredup dan aku memastikan batu itu tidak ada di sana, aku memindai area sekitar…

…dan mendapati batu itu telah muncul di belakangku.

Ia berhasil mengelak melalui teleportasi lagi, sama sekali tidak mengherankan.

Plli mengejar batu yang berteleportasi itu berputar-putar sementara aku terus menghujani dengan mantra. Kami mengulangi hal ini beberapa kali lagi.

Tak satupun serangan yang mendarat.

Aku berhenti sejenak untuk berpikir.

Sebuah batu yang bisa berteleportasi.

Batu itu sama sekali tidak menyerang atau melakukan serangan balik. Ia hanya menghindari seranganku dengan cara berteleportasi.

Sepertinya tidak ada waktu cooldown, jeda, atau batasan apa pun pada teleportasinya.

Yang berarti aku tidak bisa mendaratkan satu pukulan pun.

Lantai 9 sepertinya berfokus pada bagaimana cara mendaratkan serangan pada batu nakal ini.

Haruskah aku mencoba menyerang dari balik Penyembunyian?

“Diul.”

Aku mendekati batu itu sementara disembunyikan oleh kemampuan Diul.

Namun, saat aku melancarkan serangan, batu itu berteleportasi pergi seolah-olah sedang mengejekku. Gagal.

‘Apakah ada pola tertentu?’

Aku memunculkan ide lain.

Bagaimana jika ada pola pada tempat ia berteleportasi?

Aku bisa memprediksi lokasi berikutnya dan melancarkan serangan secara bersamaan, menyergapnya di tempat ia muncul.

Aku mulai menyerang batu itu lagi.

Ia muncul di sisi kiri, lalu kanan, di depanku, lalu di belakang.

Atas, lalu bawah, ketinggian sedang, jauh, dekat, terkadang tepat di depan wajahku…

Setelah mengamatinya berteleportasi lebih dari seratus kali.

Aku tidak menemukan pola apa pun.

Ia sepenuhnya acak, tidak peduli dari sudut pandang mana aku melihatnya.

Aku terus mencoba metode lain.

Aku menembakkan skill secara acak ke segala arah. Gagal.

Aku memasang Zona Membara terlebih dahulu dan terus menyerang, berharap batu itu akan berteleportasi ke dalamnya. Gagal.

Aku mencoba menyelinap dan menyentuhnya saja alih-alih menyerang. Gagal.

Gagal, gagal, gagal…

Aku mencoba setiap metode yang bisa kupikirkan, dan semuanya gagal total.

“Sialan.”

Aku mulai kehilangan kesabaran.

Sebenarnya apa yang harus kulakukan di sini?

Aku menenangkan diri dan memikirkannya kembali. Kemarahan tidak akan membantu.

‘Bagaimana ia bisa menghindari seranganku?’

Maksudku bukan teleportasinya itu sendiri.

Untuk menghindari serangan, batu itu harus ‘menyadari’ serangan tersebut terlebih dahulu, bukan?

Bagaimana sebenarnya batu itu menyadari serangannya dan menghindarinya?

Ia tidak menghindar lewat penglihatan, karena ia tidak punya mata. Dan Penyembunyian Diul juga tidak berhasil.

Saat aku berdiri dengan tangan bersilang, merenungkan hal itu, sebuah ide tiba-tiba melintas di benakku.

Vrrrrrr…

Aku menembakkan Peluru Cahaya lagi ke arah batu itu, tembakan kesekian kalinya yang kulayangkan hari itu.

Namun kali ini, aku tidak berniat untuk mendaratkannya. Aku berencana menghentikannya tepat sebelum benturan.

Peluru Cahaya itu melesat membelah udara dan berhenti tepat di depan batu. Dan…

“…!”

Batu itu tidak berteleportasi.

Seketika aku mencoba menggerakkan Peluru Cahaya itu lagi, ia langsung berteleportasi pergi.

“Ha.”

…Sekarang aku mengerti.

Aku akhirnya paham bagaimana batu ini menghindar.

Niatku terbaca sebelumnya, secara sempurna.

Dengan kata lain, ia membaca pikiranku.

‘Lalu bagaimana caranya aku bisa memukulnya?’

Menyerang tanpa niat untuk menyerang?

Aku mencoba menembakkan Peluru Cahaya lagi sambil berpikir, ‘Aku tidak akan menyerang batu itu.’

Batu itu berteleportasi pergi.

Yeah… cara itu tidak akan berhasil, bukan?

Bukannya aku bisa begitu saja memutuskan untuk tidak memiliki niat.

Jika batu itu membaca pikiranku sepenuhnya, mengecohnya adalah hal yang mustahil.

Kecuali aku bisa sepenuhnya mengecoh diriku sendiri terlebih dahulu.

…Jadi, jika aku bisa menyerang batu itu tanpa ada niat sedikit pun di baliknya…

Satu metode yang masuk akal terlintas di benakku.

Saat ini, batu itu melayang rendah di atas tanah, agak jauh di depanku.

Aku memejamkan mata.

Dan mulai berputar di tempat.

Aku berputar seperti orang gila untuk waktu yang lama. Hingga aku benar-benar kehilangan arah ke mana posisi batu tersebut.

…Baiklah, selesai. Aku sudah tidak punya petunjuk lagi.

Aku berhenti berputar dan mulai menembakkan skill secara membabi buta ke segala arah, 360 derajat penuh.

KABUUUM!

Karena aku tidak tahu di mana posisi batu itu, tentu saja aku tidak bisa tahu serangan mana yang akan mengenainya.

Dan jika aku tidak tahu, maka batu itu pun tidak akan tahu.

Aku terus melepaskan skill dengan pikiran kosong, dan tak lama kemudian sebuah pesan muncul.

[Lantai 9 telah diselesaikan.]

Kubuka mataku.

Melihat ke belakangku, kulihat batu itu telah hancur berkeping-keping di lantai akibat Sambaran Api.

Ha… berhasil!

Berjalan persis seperti yang telah kurencanakan.

Hanya Lantai 10 yang tersisa.

“Cukup menantang, ya.”

Itulah kesan yang kudapatkan setelah menuntaskan Lantai 9.

Dengan berbagai macam gimik yang tercampur di dalamnya, tingkat kesulitannya sama sekali bukan lelucon.

Tetap saja, tidak ada apa-apanya dibandingkan tingkat kesulitan Mimpi Buruk (Nightmare).

[Lanjutkan ke Lantai 10?]

Bos terakhir macam apa yang akan kutemui?

Menyelesaikan Lantai 10 akan memberiku hadiah khusus yang disebutkan oleh Menara.

Aku beristirahat dengan saksama, memulihkan Tekadku sepenuhnya, lalu memasuki Lantai 10.

Kehidupan dalam mode mudah (easy mode).

Begitulah cara,ku mendeskripsikan kehidupanku.

Karena aku memiliki kekuatan super.

Bukan sebagai metafora. Benar-benar kekuatan super harfiah.

Aku tidak menyadarinya saat masih anak-anak, tetapi seiring bertambahnya usia, aku mulai memahami bahwa diriku berbeda dari orang lain.

Kemampuan Menghentikan Waktu.

Meskipun itu tidak terlalu luar biasa, sungguh. Aku juga tidak bisa bergerak di dalam waktu yang terhenti.

Tetap saja, kemampuan sebanyak itu sudah lebih dari cukup untuk melibas kehidupan dengan mulus.

Setiap detik yang dimiliki orang lain, bisa kuperpanjang menjadi satu jam penuh waktu yang berguna, dan itu menjadikannya kemampuan yang sangat curang dalam hal belajar.

Saat mengikuti ujian, akulah satu-satunya yang tidak memiliki batas waktu. Sejak sekolah dasar hingga seterusnya, nilaiku selalu berada di peringkat teratas sekolah.

Lebih dari itu, kemampuan ini memiliki banyak kegunaan kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Kupikir aku mungkin bisa memanfaatkannya dengan baik dalam olahraga seperti sepak bola atau bisbol, tetapi aku tidak terlalu menyukai hal-hal fisik, jadi aku tidak pernah repot-repot menempuh jalan itu.

Aku tumbuh sebagai siswa teladan di buku teks, dan hari ini kebetulan adalah hari ujian CSAT (UTBK-nya Korea).

Seperti biasa, aku mengikuti ujian dengan hati ringan dan pulang ke rumah.

“Aku pulang.”

Setelah makan malam, aku mengunduh kunci jawaban dan mencocokkan hasil ujianku.

Hasilnya persis seperti yang diharapkan. Nilai sempurna.

Tentu saja, aku juga telah bekerja keras.

Bahkan tanpa tekanan waktu, mencetak nilai sempurna tetap membutuhkan kemampuan nyata untuk menyelesaikan setiap soal.

Aku bersenandung pelan sambil merentangkan tangan.

“Kedokteran Seoul? Kamu benar-benar lawan yang empuk.”

Ah, begitu mudahnya.

Tidakkah hati nuraniku terganggu karena berbuat curang sementara orang lain jungkir balik berusaha keras?

Yah, apa boleh buat.

Hidup memang tidak adil.

Dan lagi, untuk apa menyia-nyiakan anugerah seperti ini begitu ia diserahkan kepadaku?

Bagaimanapun, yang tersisa hanyalah menikmati diri sendiri sebentar, bersiap untuk wawancara kedokteran, dan selesai sudah.

Kehidupanku berjalan mulus sejauh ini, dan akan terus berjalan mulus.

Aku hendak membuka pintu kamarmu untuk membagikan kabar baik itu kepada keluargaku.

“…?”

Sensasi déjà vu yang samar menghantamku, dan aku terpaku dengan tangan masih memegang gagang pintu.

Apa itu tadi?

Rasanya hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya.

Setelah ini, gempa bumi terjadi… dan sebuah pesan muncul di depanku seperti dalam permainan video…

“Menara?”

Aku bergumam menyebut kata yang tiba-tiba muncul di benakku dan memiringkan kepala karena bingung.

Menara? Kenapa tiba-tiba ada menara?

Dan untuk apa pula ada gempa bumi di Korea secara tiba-tiba? Apa sebenarnya yang sedang kupikirkan?

“…Apakah aku mengalami mimpi aneh semalam?”

Perasaan aneh itu segera memudar, lalu aku mengangkat bahu acuh tak acuh dan melangkah menuju ruang tamu.

Aku dengan bangga mengumumkan nilai sempurna CSAT-ku kepada keluargaku.

“Aku baru saja memeriksa jawabanku. Sepertinya aku mendapat nilai sempurna.”

“…Oh Tuhan! Benarkah?!”

“Hahaha! Kerja bagus, Nak!”

“Haha, aku masih punya tahap wawancara tersisa. Harus bersiap untuk itu juga.”

Aku diterima di sekolah kedokteran, dan melanjutkan untuk menikmati tahun-tahun kuliahku bersama teman-teman.

Aku menjalani wajib militer sebagai tentara aktif selama masa kuliah. Masa tugas dengan cara itu jauh lebih singkat daripada harus masuk sebagai dokter militer setelah lulus, jadi kupikir itu adalah pilihan yang lebih baik.

Setelah lulus, aku bekerja sebagai residen penyakit dalam di sebuah rumah sakit universitas.

Aku menjadi dokter tanpa banyak kesulitan, dan kehidupanku terus berjalan mulus, persis seperti biasanya.

Pekerjaan bagus, gaji bagus, keseimbangan hidup dan kerja yang baik.

Aku mengajak orang tuaku berlibur ke tempat-tempat bagus di sana-sini, menggoda adik perempuanku yang entah bagaimana tetap tidak tumbuh dewasa meskipun usianya bertambah sambil menyisipkan sedikit uang saku, mulai berkencan dengan seorang junior yang sudah kukenal sejak masa residensi…

Itu adalah keseharian yang dipenuhi kebahagiaan kecil yang terus-menerus. Sungguh kehidupan yang indah!

“…Oppa? Apa yang sedang kamu pikirkan?”

Aku sempat melamun sejenak saat berjalan bersama pacarku di Taman Sungai Han.

“Ya, bukan apa-apa.”

Aku menatap hamparan rumput hijau yang subur.

Terkadang aku merasakan sensasi aneh ini.

Rasanya kehidupanku bukanlah hamparan hijau yang tenang dan rata seperti rumput di sana, melainkan sebuah perpaduan spektakuler dari setiap warna yang bisa dibayangkan…

Tapi itu tidak mungkin benar, bukan? Kehidupanku selalu berjalan mulus.

Aku puas dengan kehidupanku saat ini, namun untuk suatu alasan, dadaku terkadang terasa kosong. Aneh sekali.

Setelah berpacaran selama beberapa tahun, aku dan pacarku menikah.

Kami pergi ke Italia untuk bulan madu kami.

Kami sibuk mengagumi Menara Miring Pisa.

“Wah, bagaimana bisa benda itu tetap berdiri tanpa roboh? Betul kan, Oppa?”

“Aku tahu. Sungguh luar biasa.”

Pacarku—tidak, istriku, menggenggam tanganku erat-erat.

Aku menatap struktur bangunan yang menjulang tinggi itu untuk waktu yang lama, tenggelam dalam pikiran, sebelum akhirnya aku bersuara.

“Hei, ini mungkin terdengar agak aneh, tapi mau mendengarnya?”

“Hmm? Ada apa?”

“Aku terkadang memikirkan hal ini. Sebuah menara tiba-tiba muncul di dunia…”

“Menara? Menara yang seperti apa? Seperti menara ini?”

“Ya. Ngomong-ngomong, menara raksasa ini muncul, dan orang-orang mendakinya. Jika mereka tidak mendaki, dunia akan kiamat. Mereka masuk ke dalam, melawan monster, menghindari perangkap…”

Istriku terkikik geli.

“Memangnya itu apa? Apakah Oppa akhir-akhir ini sering bermain game semacam itu?”

“Lebih lucu lagi, akulah satu-satunya orang yang bisa mendaki menara tersulit yang tidak bisa ditaklukkan oleh orang lain. Mempertaruhkan nyawaku dan segalanya.”

“Kamu? Oppa yang menelan segenggam suplemen setiap hari agar tetap sehat?”

“Benar juga ya. Ngomong-ngomong…”

Tepat saat aku hendak mengatakan lebih banyak, ekspresi istriku berubah serius.

“Ah, sudahlah. Kita sedang berbulan madu dan Oppa malah terus membicarakan hal-hal aneh. Coba bedakan antara kenyataan dan game, ya?”

Ada apa ini?

Tiba-tiba dunia terasa tidak beres.

Aku menatap kembali ke arah menara itu dan bertanya.

“Hei, sebenarnya berapa jarak usia kita?”

“Apa? Tiga tahun. Kamu lupa hal itu juga sekarang?”

Itu benar-benar aneh…

Aku memiliki preferensi yang sangat kuat terhadap wanita yang lebih tua. Baik saat di SMA atau kuliah, aku hanya pernah berkencan dengan kakak tingkat…

Jadi bagaimana bisa aku berakhir dengan bertemu dan menikahi wanita ini?

Huh? Tunggu, sebenarnya siapa orang ini?

Aku menatap wanita tak dikenal yang namanya bahkan tidak bisa kuingat itu, lalu melepaskan tawa lemah.

“Hahaha…”

Sialan.

Semuanya kembali teringat.

“…Oppa? Kenapa tiba-tiba tertawa?”

Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Bagaimana caranya aku bisa keluar dari tempat ini?

Ini adalah mimpi.

Dan cara paling sederhana untuk bangun dari mimpi adalah…

“H-hei, mau ke mana! Oppa!”

Aku berlari kencang menuju Menara Miring Pisa.

Petugas keamanan mencoba menghalangiku. Aku berhasil meloloskan diri dari mereka dengan selisih tipis.

Aku masuk ke dalam menara dan menaiki anak tangganya.

Tunggu, apakah Menara Miring Pisa benar-benar memiliki tangga di dalamnya? Entahlah, tidak peduli, aku terus berlari.

“Hah… hah…”

Aku berhasil sampai di puncak.

Mengatur napas, aku memanjat pagar pembatas menara yang miring itu.

Di bawahku, orang-orang mendongak dan berbisik-bisik, sementara para penjaga yang mengikutiku ke atas berusaha dengan panik menghentikanku.

“Mohon tenang dan turunlah! Itu berbahaya!”

Tepat saat aku hendak melompat, langkah kakiku ragu-ragu.

Bagaimana jika akulah yang sebenarnya sudah kehilangan akal sehat?

Sisi mana yang merupakan kenyataan? Dunia ganjil di mana menara menjulang dari Samudra Pasifik, atau di sini?

Dengan pertimbangan yang wajar sekalipun, tempat ini adalah kenyataannya.

Lihatlah, setiap sensasi terasa begitu jelas seperti kehidupan nyata.

Sama seperti kebingungan yang mulai merayap kembali, bertanya-tanya apakah mungkin aku benar-benar sudah gila, sebuah gaung samar bergema di benakku.

…Berhenti main-main dan cepat keluar dari sana! Tuan bodoh!

Sensasi dua jiwa yang terhubung satu sama lain. Entah mengapa, hubungan itu terasa begitu familier.

“Ah…”

Dengan kesadaran itu, keyakinanku kembali, dan aku melepaskan tawa lega.

Benar. Kenyataan yang sebenarnya adalah sisi yang sana.

Aku sedang berada di tengah-tengah menyelesaikan Lantai 10 dari Sub-Menara kelima, lagipula.

“Trik macam apa yang dimainkan bajingan ini padaku?”

Hal pertama yang harus dilakukan, waktunya untuk bangun.

Aku merentangkan kedua tanganku lebar-lebar.

Dan menjatuhkan tubuhku ke depan, meluncur turun ke arah tanah.

Diiringi deru jatuh bebas yang memusingkan, tubuhku meluncur deras menuju trotoar. Dan…

KRAK!

Kubuka mataku.

Langit-langit berwarna hitam pekat tampak di hadapanku.

Saat aku bangkit duduk, aku merasakan sesuatu yang asing di kepalaku.

Aku merenggut benda itu dengan tanganku.

“…Sialan.”

Makhluk aneh mirip ubur-ubur yang bisa menyala dalam gelap, dengan tentakel yang menggeliat dengan cara yang sangat memuakkan.

Jadi benda inilah pelakunya.

Apakah makhluk ini telah menjebakku begitu aku memasuki Lantai 10? Aku sama sekali tidak punya ingatan tentang bagaimana hal itu bisa terjadi.

“Terima kasih untuk tidurnya, Keparat.”

Aku membanting ubur-ubur itu ke lantai dan menghancurkannya.

Bletak!

[Lantai 10 telah diselesaikan.]

Sebuah pesan muncul.

Aku menoleh ke arah Diul, yang melayang di udara di sebelahku.

“Terima kasih, Diul. Kamu terus memanggilku, ya.”

Barulah sekarang aku ingat bahwa dia terus memanggilku, menyuruhku untuk bangun dari mimpi.

Untung saja aku menyadarinya di detik-detik terakhir. Kalau tidak, aku mungkin benar-benar tidak akan pernah bangun.

Diul mengitari kepalaku beberapa kali seolah-olah sedang menggerutu, lalu melayang kembali masuk ke dalam gelang.

Aku menghela napas.

Boss yang menjebak korbannya di dalam mimpi…

Benar-benar hal yang sangat menyeramkan di luar sana.

Waktu yang kuhabiskan di dalam mimpi terasa begitu singkat, seolah-olah seluruh kehidupanku baru saja melintas di depan mataku.

Itu adalah jenis kehidupan yang mungkin benar-benar kujalani jika Menara itu tidak pernah muncul.

[Sub-Menara kelima telah diselesaikan hingga lantai terakhirnya.]

Bagaimanapun juga, itu adalah akhirnya.

Aku telah berhasil menyelesaikan Sub-Menara kelima tanpa insiden.

Aku bangkit berdiri dan menatap pesan-pesan yang bergulir masuk ke hadapanku.

[Hadiah khusus akan diberikan.]

[Silakan pilih salah satu dari opsi berikut sebagai hadiahmu.]

Pesan-pesan berikutnya menyusul.

Benar. Hadiahnya.

Aku telah bekerja keras, saatnya memanen hasilnya.

Sebenarnya apa ‘hadiah khusus’ ini, batinku bertanya-tanya?

“Jeng-jeng-jeng…”

Aku membuat efek suara sendiri dengan mulutku saat meninjau opsi-opsi tersebut. Dan.

“…Huh?”

Salah satu pilihan membuat mataku terbelalak lebar.

[1. Kekebalan Kutukan Menara]

[Item Khusus: Kekebalan Kutukan Menara]

Secara permanen memberikan kekebalan terhadap kematian akibat Kutukan Menara. Dapat digunakan pada seseorang selain Pendaki. Menghilang setelah sekali penggunaan.

Gunakan ← → untuk pindah chapter