Ketika Master Burung Pipit Kelabu melihat dingin di mata Xu Qing, ia teringat pada musuhnya yang baru saja tewas. Sambil menarik napas dalam-dalam, ia mengangguk dan segera memimpin jalan.
Xu Qing mengikuti dengan wajah muram. Sang Kapten berada tepat di sampingnya, dan ia tampak telah melepaskan sifat sembrono dari sebelumnya. Meskipun sang Kapten bukanlah seseorang yang mudah iba terhadap manusia, berita barunya tadi berhasil menggerakkan hatinya juga.
"Manusia…." Ia mendesah dalam hati.
Dan dengan demikian, mereka bertiga merangsek semakin dalam ke wilayah terlarang itu.
Di dalam istana emas nun jauh di atas sana, sang bangsawan Bulan Api tersenyum lagi. Ia tampak puas.
Segalanya akhirnya mulai menarik. Bagaimana bisa Perburuan Besar disebut Perburuan Besar jika tidak ada darah yang tumpah dan nyawa yang melayang?
Waktu berlalu.
Dua hari kemudian di kedalaman wilayah terlarang, Xu Qing, sang Kapten, dan Master Burung Pipit Kelabu berdiri di puncak sebatang pohon besar, memandang ke kejauhan. Tempat yang mereka tatap diselimuti oleh kabut hitam tipis yang membuat area itu tampak terkunci dalam kesuraman abadi. Pepohonan di kawasan itu tampak layu dan cacat bagaikan monster iblis.
Di balik hutan yang meranggas itu terdapat jajaran gunung menjulang yang tak terhitung jumlahnya. Mereka tampak seperti 27 naga yang sedang meringkuk, saling bertautan membentuk jangkauan pegunungan yang menutupi hampir separuh wilayah terlarang. Beberapa gunung tersebut menyemburkan api hitam yang sesekali berkobar, mengirimkan asap hitam ke segala penjuru. Bahkan ada lava hitam yang mengalir menuruni lerengnya.
"Itu adalah gunung-gunung terlarang di dalam wilayah terlarang ini," ucap Master Burung Pipit Kelabu pelan.
Xu Qing merasakan hawa panas pada terpaan angin, dan matanya menyipit. Ia telah melihat banyak wilayah terlarang, dan secara umum, tempat-tempat itu bersuhu dingin. Ini sebenarnya adalah pertama kalinya ia melihat gunung berapi di dalam wilayah terlarang.
"10 gunung terakhir adalah gunung yang diperebutkan oleh para peserta umum Perburuan Besar. 17 gunung di barisan depan adalah gunung yang telah disisihkan. Adapun gunung yang dikhususkan untuk Pangeran Agung… itu adalah gunung kesembilan."
Master Burung Pipit Kelabu menunjuk ke arah salah satu gunung secara khusus.
Xu Qing melihat ke arah yang ditunjuk. Ia dapat merasakan begitu banyak aura di pegunungan tersebut, yang berasal dari berbagai peserta Perburuan Besar yang telah berkumpul di area itu. Ia merasakan keberadaan mereka di semua gunung, dengan mayoritas berada di 10 gunung terakhir, di mana auranya bercampur baur dengan pekat. Begitu pula halnya dengan gunung yang ditunjuk oleh Master Burung Pipit Kelabu. Dari apa yang bisa dirasakan oleh Xu Qing, para kultivator yang berkumpul di sini tampak siaga dengan pedang terhunus dan panah terentang. Sebagian besar dari mereka tampaknya memilih untuk menunggu alih-alih bertarung.
"Satu hari lagi, gunung-gunung terlarang itu akan bebas untuk direbut. Saat itu terjadi, pertarungan kacau pasti akan meletus." Mata Master Burung Pipit Kelabu memancarkan hasrat untuk bertempur. Gunung miliknya telah direbut jauh-jauh hari, dan kini berada di tangan Xu Qing. Ia tidak berani mencoba merampok Xu Qing, jadi ia berharap bisa mendapatkan gunung terlarang yang baru di sini.
Dalam perjalanan ke tempat ini, ia telah dengan sopan meminta izin kepada Xu Qing untuk mengambil sebuah gunung. Xu Qing pun menyetujuinya. Meskipun ia juga membutuhkan gunung-gunung terlarang, memang benar bahwa Master Burung Pipit Kelabu telah memberi mereka informasi yang sangat berharga.
"Rekan Daois Xu, yang perlu kita lakukan hanyalah bersabar selama satu hari lagi." Master Burung Pipit Kelabu mengerahkan basis kultivasinya, dan matanya pun bersinar. Ia tidak berencana untuk langsung bergerak. Baginya, itu adalah tindakan yang sia-sia. Merebut gunung sekarang berarti harus menunggu selama seharian penuh, yang akan memberi waktu bagi para kultivator lain untuk menyadari dan bersiap menyergap. Jelas hal itu akan membuat segalanya menjadi jauh lebih sulit dan berbahaya.
"Tunggu saja sampai hari terakhir berlalu. Begitu gunung-gunung terlarang itu diperebutkan, kita bisa menyambar masuk, merampok yang kita inginkan, dan kabur dari sini. Itulah jalannya kesuksesan yang paling masuk akal. Lagi pula, dengan semua gunung yang bebas direbut, orang-orang akan teralihkan perhatiannya."
Xu Qing memandangi gunung kesembilan, lalu beralih ke gunung-gunung lainnya. Dengan mata dingin, ia berkata, "Tidak perlu membuat segalanya menjadi begitu rumit."
Begitu selesai berucap, ia terbang ke udara dan melesat menuju jajaran pegunungan tersebut.
Di belakangnya, ekspresi Master Burung Pipit Kelabu berubah gentar. Ia tahu Xu Qing kuat, karena ia telah menyaksikannya sendiri. Namun, tampaknya pemuda itu tidak memiliki kekuatan bertempur yang cukup untuk melawan semua orang di sini sekaligus. Mengingat kekuatan bertempur Xu Qing, rencana awalnya akan menjamin keberhasilan hampir seratus persen untuk mendapatkan satu gunung terlarang. Mendapatkan dua gunung pun bukanlah hal yang mustahil. Tetapi menerobos masuk secara membabi buta hanya akan menarik terlalu banyak perhatian dan memasukkan terlalu banyak variabel rumit ke dalam situasi ini.
"Ini…." Merasa sangat gugup, ia hendak mengatakan sesuatu ketika sang Kapten tertawa dan melesat melewatinya.
"Kau ingin satu atau dua gunung," ujar sang Kapten. "Tetapi Adik Junior kecilku menginginkan semuanya."
"Semua?" Jantung Master Burung Pipit Kelabu berdegup kencang saat ia melihat Xu Qing terbang membumbung ke udara.
Xu Qing merogoh pundak kirinya, lalu menyentakkan tangannya ke luar. Tato totem di tubuhnya berkobar dengan api hitam yang dengan cepat menyebar menjadi lautan api di sekelilingnya. Pada saat yang sama, burung gagak emas terbang keluar dengan anggun ke dalam kobaran api, lalu mendongakkan kepalanya dan mengeluarkan pekikan melengking. Warnanya hitam pekat, dengan wujud umum menyerupai burung phoenix. Ekornya yang banyak terbentang luas, menarik perhatian seluruh kultivator yang sedang menunggu di 27 gunung tersebut.
Saat hal itu terjadi, Xu Qing mengulurkan tangan dan membuat gerakan merengkuh ke arah burung gagak emas. Burung itu memekik bangga saat ia berputar dan melesat ke arahnya. Saat mendekat, wujudnya meredup hingga berubah menjadi sebuah tombak hitam di dalam genggamannya. Kehadiran tombak itu membuat warna-warna di langit berkelebat liar dan sambaran petir bergemuruh berulang kali di area tersebut. Seolah-olah kanopi langit akan robek dibuatnya. Sebuah deru lolongan meledak entah dari mana, bagaikan peringatan untuk menolak kehadiran tombak tersebut.
Namun hal itu sama sekali tidak berguna. Mata Xu Qing semakin mendingin saat ia mengangkat tombak tabu itu. Kemudian, disaksikan oleh sang bangsawan di istana emas, Master Burung Pipit Kelabu yang tercengang, serta seluruh kultivator di 27 gunung, Xu Qing melemparkan tombak itu ke arah gunung kesembilan.
Tombak hitam itu melesat bagaikan naga tak terhentikan yang merobek langit, meninggalkan jejak hitam di belakangnya. Kilatan petir berkumpul di sekelilingnya, melingkari dan memperkuat kekuatannya. Semburan angin ribut menyapu ke segala penjuru. Tombak itu meluncur lurus menuju gunung kesembilan. Dengan kekuasaan yang luar biasa mendominasi, senjata itu menghantam puncak gunung, memicu suara gemuruh hebat yang memenuhi langit dan bumi. Gunung itu bergetar hebat saat gelombang kejut menyebar dari titik benturan tombak, dan percikan api beterbangan ke mana-mana, memenuhi seluruh penjuru gunung.
Para kultivator yang berkemah di gunung tersebut tampak terkejut bukan kepalang saat mereka terlempar mundur. Meskipun mereka murka, tak satupun dari mereka yang berani bertindak gegabah. Para kultivator di gunung-gunung lainnya menoleh dengan ekspresi serius. Cukup banyak dari mereka yang sudah menyimpan niat jahat.
Sementara itu, suara Xu Qing melayang turun dari atas.
"Menyerahlah. Dalam waktu tiga detik, semua orang yang masih tersisa di gunung ini akan dibasmi."
Tombak yang mendominasi dan kata-kata dingin itu sudah cukup untuk menggetarkan hati orang-orang bermental lemah. Namun, orang-orang ini adalah para Darkheavens Bulan Api yang berpartisipasi dalam Perburuan Besar, sehingga gertakan itu justru memicu niat membunuh mereka. Terutama mengingat mereka sedang berhadapan dengan seorang manusia.
Satu detik berlalu, dan kemudian sekitar separuh dari ratusan kultivator di gunung kesembilan terbang ke udara. Beberapa dari mereka bersuara.
"Sudah lama sekali sejak aku melihat manusia yang sesumbar dan sombong seperti ini."
"Kau terlalu memuji kemampuan dirimu sendiri."
"Aku benar-benar ingin melihat bagaimana cara kalian berencana membunuh kami semua jika kami menolak pergi."
Beberapa kultivator langsung menyerang ke arah Xu Qing yang melayang di udara. Dengan mata yang dipenuhi niat membunuh yang semakin pekat, Xu Qing mengangkat tangan kanannya dan mendorongnya ke arah para kultivator yang mendekat.
Ledakan dahsyat merobek udara saat tiga gunung terbalik muncul di atas lalu menimpa ke bawah. Satu berwarna merah darah. Satu membeku diliputi es. Satu lagi dipenuhi kobaran api. Bahkan hanya satu dari gunung-gunung itu saja sudah jauh melampaui gunung terlarang mana pun di area ini. Dan bentuknya yang terbalik membuat mereka tampak seperti pedang agresif, memancarkan tekanan yang luar biasa. Ini tidak lain adalah Withering Flame Demon Magic True Self Dao yang telah dikuasai oleh Xu Qing.
Tiga gunung terbalik itu meluncur turun ke arah para kultivator yang terbang dari gunung kesembilan. Tekanan yang menumpuk menciptakan fungsi segel yang menyebabkan darah menyembur keluar dari mulut para kultivator yang lebih lemah.
Meskipun demikian, ada cukup banyak kultivator yang lebih kuat di antara mereka. Faktanya, ada lebih dari dua puluh orang yang menerobos tekanan tersebut untuk melepaskan kemampuan dewa dan teknik magis mereka.
Sayangnya… Withering Flame Demon Magic True Self Dao bukanlah satu-satunya kartu As milik Xu Qing. Mantra itu hanya memiliki beberapa fungsi penyegelan terbatas, itu saja. Setalah itu, mata Xu Qing berubah menjadi hitam pekat. Tingkat mutagen di wilayah terlarang melonjak drastis. Racun tabu dengan cepat menumpuk di gunung kesembilan. Beberapa kultivator yang kurang beruntung langsung terkena dampaknya dan mulai menjerit histeris. Mengingat tingkat racun tabu Xu Qing, hanya butuh waktu sekejap mata bagi tubuh mereka untuk meleleh menjadi lumpur berdarah.
Dari luar, racun tabu Xu Qing mungkin dianggap wajar sifatnya. Namun di dalam wilayah terlarang, mutagen lokal justru memperkuatnya! Kabut beracun itu tumbuh dengan sangat pekat, menyebar dengan kecepatan tinggi. Digabungkan dengan efek penyegelan dari ketiga gunung tadi, racun itu membanjiri segala penjuru.
Semua kultivator yang tadi tidak meninggalkan gunung kini telah terjebak.
Dari kejauhan, orang-orang dapat melihat tiga gunung di atas dan daratan di bawah. Kabut itu menyerupai pilar raksasa, badai besar yang dipenuhi dengan lolongan kepedihan.
Namun, segel Xu Qing tidak terbatas sampai di situ saja. Ia melambaikan tangan kanannya, dan sekumpulan benang jiwa berwarna merah darah melesat keluar, memenuhi badai kabut serta memblokir jalur pelarian siapa pun yang mencoba kabur. Ia berniat membunuh semua kultivator yang hidup di gunung tersebut.
Racun itu semakin menguat. Lebih banyak mutagen berhamburan masuk dari wilayah terlarang di sekitarnya, memperkuatnya ke tingkat yang mencengangkan. Jeritan kesakitan terdengar semakin nyaring menusuk telinga. Orang bisa membayangkan keputusasaan para kultivator yang terjebak di dalam kabut saat tubuh mereka dengan cepat membusuk.
Racun Xu Qing adalah kekuatan seorang dewa. Faktanya, dalam keadaan tertentu, racun itu bahkan dapat menyerang dewa sungguhan. Meskipun Xu Qing tidak bisa mengerahkan seluruh kekuatannya, dengan berkat mutagen wilayah terlarang ini, hanya seseorang dengan basis kultivasi Dewa Membara (Smoldering God) yang mungkin bisa selamat dari gempuran tersebut.
Proses itu tidak berlangsung lama. Pada akhirnya, gunung-gunung Withering Flame Demon Magic True Self Dao runtuh dan lenyap, memperlihatkan bahwa masih ada empat atau lima kultivator yang masih hidup. Saat kabut beracun itu mereda, terlihatlah bahwa semua kultivator lainnya telah berubah menjadi genangan darah. Dari kejauhan, gunung kesembilan tampak dipenuhi oleh hujan darah. Dipadukan dengan warna hitam gunung tersebut, pemandangan itu terlihat berwarna keunguan. Sungguh tampak sangat mengerikan.
Segelintir kultivator yang sempat lolos itu kini menjerit kesakitan sementara daging mereka membusuk. Pada akhirnya, mereka pun turut meleleh menjadi lumpur berdarah.
Xu Qing mengabaikan mereka. Disaksikan oleh para kultivator di gunung-gunung lain dengan perasaan syok, ia melangkah menuju gunung kesembilan yang diguyur hujan darah. Menancapkan tombak di depannya, ia duduk bersila.
Angin bertiup, dipenuhi dengan bau anyir darah. Xu Qing menarik napas dalam-dalam. Itu adalah aroma akrab yang mengingatkannya pada pembantaian-pembantaian di masa lalu.
Ia mengarahkan pandangannya ke sekeliling. Segalanya terasa begitu sunyi.
Chapter 827 · 7m baca
Now THAT’S Xu Qing
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter