Badlands Berambut Hijau bergetar hebat. Dari kelihatannya, ucapan sang Kapten telah melepaskan suatu tabu yang tak diketahui, menyebabkan kekuatan gurun yang menakutkan itu mendadak meletus.
Butir-butir pasir mulai melayang ke udara. Setiap butirnya bergetar saat wajah-wajah muncul dipermukaannya, mendongak ke langit dan mengaum penuh amarah. Suara auman itu berubah bagaikan guntur surgawi yang menggema di kanopi langit. Angin berpusar ke segala arah, mengubah jurang antara langit dan bumi menjadi lautan pasir.
Jika dilihat dari kejauhan, partikel pasir yang tak terhitung jumlahnya yang melayang ke udara menurunkan jarak pandang secara drastis. Saat angin mencengkeram pasir itu dan menyapu ke sana ke mari, suara gemuruh yang keras pun bergema. Butir-butir pasir saling menghantam, berubah menjadi abu, yang semakin memicu badai pasir yang terus membesar.
Wajah-wajah itu melolong kesakitan. Namun, saat mereka berkerumun, mereka perlahan-lahan membentuk sebuah wajah raksasa. Wajah itu tampak seperti seorang gadis muda. Dia tertawa, tetapi pada saat bersamaan juga menangis, dan suara itu memenuhi Badlands Berambut Hijau.
Mutagen menyebar, mengaburkan dunia. Seorang dewa telah tiba!
Langit dan bumi di Badlands Berambut Hijau menjadi gelap dan suram. Kesadaran ilahi menjadi tidak berguna, dan mata jasmani pun tidak dapat melihat dengan jelas. Hanya ada gemuruh yang tak berujung dan memekakkan telinga. Semua kultivator asli daerah itu bersembunyi di pegunungan lalu menyaksikan kejadian itu dengan terkejut.
Sulit untuk memastikan siapa yang melakukannya terlebih dahulu, tetapi tidak lama kemudian, semuanya bersujud ke arah wajah raksasa itu.
"Bunda Putih!"
Saat Xu Qing dan yang lainnya berlari menuju pintu keluar, para Penjaga Angin di sana tampak sangat bersemangat. Sambil berlutut, mereka mulai melantunkan sebuah kidung kuno.
"Bunda Putih telah bangkit, menikmati sungai berapi.
"Anak dewa datang kemari, membawa keselamatan di bumi.
"Semua makhluk terpesona, dalam kebingungan bergidik ngeri.
"Aku kan menjadi tanah, pengasuh yang memberi diri."
Lantunan itu bergema melintasi gurun, menyebar terbawa angin. Meskipun angin kencang itu sangat mengejutkan, angin tersebut tidak tampak terlalu berbahaya bagi para Penjaga Angin yang merupakan penduduk asli negeri ini.
Sebaliknya... para kultivator dari Katedral Bulan Merah yang berada di sana untuk mencari sumber siaran tidak punya pilihan selain mundur dari terjangan badai tersebut. Badai pasir itu seolah berniat melampiaskan seluruh kebenciannya kepada setiap orang luar di area tersebut. Hanya dalam sekejap mata, para kultivator katedral yang tak terhitung jumlahnya terlempar ke sana ke mari dengan ekspresi terkejut di wajah mereka. Beberapa kewalahan dan terkoyak berkeping-keping. Saat jiwa mereka dicabik-cabik, mereka melepaskan ratapan duka.
Bahkan sang pemimpin katedral tampak terkejut.
"Semuanya, mundur dari area ini!"
Tanpa ragu-ragu, ia memberi perintah agar para kultivator katedral mundur. Baru setelah mereka keluar dari gurun, mereka aman dari bahaya.
Setelah itu, sang pemimpin katedral, bersama dengan beberapa utusan dewa tingkat Pengembalian Kekosongan miliknya, menembus badai pasir bagaikan tombak, melesat langsung menuju pintu keluar tempat Xu Qing dan yang lainnya baru saja muncul.
Mereka semakin mendekat. Namun, saat mereka melanjutkan perjalanan, peristiwa dramatis yang terjadi di Badlands Berambut Hijau terus berlanjut. Saat pasir terus melayang ke udara, dan saat wajah raksasa itu semakin membesar, cakrawala gurun itu ambles ke bawah.
30 meter. 240 meter. 450 meter....
Yang mengejutkan, pada akhirnya, permukaan seluruh Badlands Berambut Hijau ambles sedalam 3.000 meter! Dari kejauhan, Badlands Berambut Hijau tampak seperti lautan pasir yang luas... dengan kehampaan di bawahnya.
Itu adalah sebuah cekungan raksasa, di dalamnya terdapat daratan kuno yang belum pernah terlihat sejak sebelum gurun tersebut terbentuk. Terdapat pula sejumlah gunung dengan berbagai ukuran. Beberapa di antaranya telah terkubur lama di dalam gurun dan tidak terlihat selama bertahun-tahun yang tak terhitung jumlahnya. Yang lainnya tampak menjulang di atas pasir gurun, seperti Pegunungan Kehidupan Pahit. Namun sekarang, tempat-tempat itu tersingkap seutuhnya. Dibandingkan dengan cekungan raksasa tersebut, gunung-gunung itu menyerupai paku raksasa yang menakutkan.
Tanahnya terbuat dari lumpur hitam pekat, dipenuhi dengan sisa-sisa pembusukan. Terdapat bekas luka yang tak terhitung jumlahnya di daratan itu, jurang dan lubang menganga yang seolah menunjukkan bahwa pertempuran hebat pernah terjadi di tempat ini pada masa lalu.
Transformasi dramatis itu melampaui apa pun yang dapat dibayangkan oleh para kultivator. Para kultivator pribumi Badlands Berambut Hijau merasa takjub, dan pada saat yang sama, mereka mendedikasikan diri untuk menyembah Bunda Putih dengan lebih khidmat lagi.
Lautan pasir itu bergolak, butir-butir pasir saling berbenturan dan hancur, menciptakan lebih banyak abu yang tercampur ke dalam angin. Perlahan-lahan, pasir itu tampak membentuk suatu wujud.
Mereka yang menyaksikannya mau tak mau mulai teringat pada sebuah legenda tertentu. Konon seluruh Badlands Berambut Hijau dulunya adalah sebuah cekungan raksasa, dan bertahun-tahun lalu sehelai rambut jatuh dari surga lalu berubah menjadi pasir, yang mengisi cekungan tersebut dan menciptakan gurun. Hari ini, legenda itu... terbukti benar. Lautan pasir yang melayang di udara terus mengambil wujud, hingga akhirnya berubah menjadi... sehelai rambut berwarna hijau!
Saat rambut itu muncul, pemimpin Katedral Bulan Merah beserta para pengikutnya merasakan guncangan hebat hingga ke lubuk hati mereka.
Seolah-olah waktu telah berhenti di Badlands Berambut Hijau. Hukum sihir terhenti, dan hukum alam membeku di tempatnya. Segala sesuatu menjadi senyap. Angin berhenti bertiup. Waktu berhenti berjalan. Segala sesuatu, baik yang bernyawa maupun tidak, berhenti bergerak. Kekuatan dewa menyebar.
Badlands Berambut Hijau langsung terisolasi, seolah-olah ia tidak lagi menjadi bagian dari Wilayah Moonrite. Sebaliknya, wilayah itu tersembunyi di dalam celah ruang-waktunya sendiri.
Sehelai rambut hijau itu menyusut, dengan cepat berubah menjadi seukuran sehelai rambut biasa. Rambut itu menghilang, hanya untuk muncul kembali... tepat di hadapan sang Kapten di dalam dunia yang terisolasi itu. Rambut itu melayang turun ke telapak tangannya. Kedua ujung rambut itu melewati kedua sisi tangannya dan terkulai perlahan.
Sang Kapten menoleh untuk menatap Xu Qing dengan senyum penuh misteri di wajahnya.
"Terkejut, Ah Qing kecil?"
Begitu Xu Qing melihat rambut itu, ia menyaksikan segala sesuatu yang terjadi sebelumnya di luar sana. Ia melihat transformasi dramatis, dan kemunculan cekungan raksasa itu. Wajar saja jika ia merasa terguncang. Mereka tahu bahwa ulah besar sang Kapten selalu menegangkan, tetapi yang ini benar-benar membuat bulu kuduk merinding.
Sambil menarik napas dalam-dalam, Xu Qing merendahkan suaranya dan berkata, "Kakak Sulung, apakah rambut itu berasal dari Dewa Sejati yang sama dengan yang kau katakan pernah bekerja sama denganmu di kehidupan lampau?"
Reaksi Xu Qing sangat menyenangkan hati sang Kapten. Ia senang segalanya kini tampak kembali berada di bawah kendalinya. Beginilah seharusnya jalannya aksi-aksi besar yang ia buat.
"Benar sekali," ujarnya sambil mengibas-ngibaskan rambut itu ke kiri dan ke kanan. "Individu ini memiliki temperamen yang sangat buruk, tetapi kepribadian yang sangat tinggi. Baik itu tempat persembunyian tubuh masa laluku, atau penyegelan yang dilakukan di sini, semuanya berkat bantuannya. Dan Badlands Berambut Hijau terbentuk dari salah satu helai rambutnya.
"Pada saat yang sama, ini adalah perangkat autentikasi yang ditinggalkan untukku. Suatu hari, ketika kesempatan itu tiba, aku dapat menggunakan kekuatan harapan dari semua makhluk hidup untuk mengubah Badlands Berambut Hijau kembali menjadi sehelai rambut ini, dan menggunakannya... untuk terhubung ke pintunya."
Sang Kapten melirik Sang Pewaris Tahta dan saudara-saudaranya, dan sangat senang melihat ekspresi serius di wajah mereka.
Sang Pewaris Tahta mengamati lekat-lekat rambut di tangan Erniu. "Kau bekerja sama dengan salah satu dari Tiga Dewa Matahari, Bulan, dan Bintang dari kaum Firemoon Darkheaven? Dewa Sejati Bulan Api?"
Sang Kapten terkekeh dan mengangguk dengan bangga. "Ketiga dewa sejati dari kaum Firemoon Darkheaven semuanya ingin memberiku muka. Namun pada akhirnya, aku memikirkan bagaimana spesies mereka adalah musuh bebuyutan kita bangsa manusia, dan oleh karena itu, aku menolak tawaran mereka.
"Namun, Bulan Kecil dengan tidak tahu malu meminta untuk membantu, dan aku akhirnya tidak punya pilihan selain menyetujuinya dengan setengah hati. Mengmikat kerja kerasnya, aku berjanji bahwa ketika saatnya tiba, aku akan memberinya beberapa potong daging Bunda Merah untuk dimakan."
Wajah Sang Pewaris Tahta tetap benar-benar tanpa ekspresi, seolah-olah ia tidak mendengar omong kosong sang Kapten. Putri Bunga Cerah mencibir, tetapi juga mengabaikan sang Kapten. Ning Yan dan yang lainnya telah mengalami cukup banyak kejutan hari ini, namun reaksi pertama mereka saat mendengar omongan besar Erniu adalah hal itu terdengar terlalu dibuat-buat. Xu Qing sudah terbiasa dengan hal semacam ini, dan tidak bereaksi sama sekali.
Melihat tidak ada yang mempercayainya, sang Kapten menghela napas lagi. "Ah, terserahlah. Dengar, aku berkata jujur. Suatu hari nanti, kalian semua akan menyadari bahwa apa yang dikatakan Chen Erniu sama sekali tidak bohong. Mereka benar-benar memohon padaku!"
Sang Kapten berdeham, dan dengan gaya angkuh tak berdaya yang meratapi betapa bodohnya orang lain, ia melangkah maju lalu melemparkan rambut itu ke dalam pusaran yang tercipta dari kekuatan harapan.
Rambut itu melayang di udara, dan saat menyentuh pusaran tersebut, pusaran itu tiba-tiba berhenti bergerak. Kemudian rambut itu tumbuh semakin panjang, membentang membentuk sebuah jalan setapak. Jalan itu panjang dan berliku, membentang jauh ke dalam kehampaan.
Di ujung jalan itu terdapat sebuah pintu kayu, sangat kuno, dan tampak sangat tidak membawa hoki. Kayu hitam itu dipenuhi dengan banyak bekas goresan yang sangat dalam, bahkan beberapa gumpalan daging. Yang paling mengerikan adalah darah hitam merembes keluar dari celah-celah pintu tersebut. Darah itu memancarkan sensasi pembusukan jahat yang luar biasa pekat.
Pintu itu juga memancarkan aura seorang dewa. Ketika Ning Yan dan yang lainnya melihatnya, mereka mengerang kesakitan saat tingkat mutagen mereka mulai meningkat. Penglihatan Xu Qing berkunang-kunang, dan pikirannya bergetar. Sang Pewaris Tahta dan saudara-saudaranya menatap pintu kayu hitam itu seolah-olah pintu tersebut merepresentasikan kedatangan seorang musuh berbahaya yang sudah di ambang pintu.
Hanya sang Kapten yang tampak santai. Melangkah ke dalam pusaran dan menapaki jalan yang dibuat dari rambut hijau itu, ia menoleh ke belakang menatap Xu Qing sambil menyeringai.
"Ingin ikut denganku untuk melihat-lihat, Ah Qing kecil?"
Xu Qing hendak menjawab ketika darah mulai menyembur keluar dari celah-celah pintu. Pada saat yang sama, suara gedoran yang keras dan bertubi-tubi mulai terdengar dari sisi seberang.
Brak-brak-brak-brak!
Suara itu sangat memekakkan telinga hingga mengguncang jiwa mereka.
Rupanya, entitas apa pun yang berada di sisi seberang telah merasakan kedatangan pendatang baru, lalu mulai memukuli pintu tersebut. Kekuatan itu membuat pintu bergetar hebat di setiap hantaman, dan kerusakan yang lebih parah pun muncul di permukaannya.
Gedoran yang tiba-tiba itu tampaknya membuat sang Kapten terkejut. Setelah berkedip beberapa kali, ia tetap tersenyum. "Sialan apa ini? Kenapa setiap orang yang dikurung sepertinya sangat hobi menggedor pintu dengan beringas?"
Di sisi lain, Kakak Kedelapan memelototi sang Kapten dan membentak, "Dia sedang mengutukmu."
Chapter 646 · 7m baca
A Green Hair the Path; Firemoon the Door
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter