Beyond the Timescape - Chapter 620 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 620 · 10m baca

Secrets of the Gods!

by Er Gen

Saat cahaya bulan merah pertama kali muncul di Tanah Tandus Berambut Hijau, angin pun mereda. Angin itu kembali pada keesokan harinya, berawal dari hembusan yang sangat pelan. Namun, pada hari ketiga, angin hijau itu bertiup begitu kencang sehingga bukit-bukit pasir hijau mulai bergeser, membuat gurun pasir tersebut menyerupai lautan. Angin itu seakan membawa ratapan segala makhluk hidup untuk memenuhi langit dan bumi.

Xu Qing terkubur setengah badan di dalam pasir, tak bergerak. Dia tampak seperti sesosok mayat. Namun, pikirannya masih hidup saat ia memikirkan tentang sifat manusia dan sifat keilahian. Itu adalah pertanyaan yang mendalam, dan Xu Qing merasa kesulitan untuk mencernanya. Terutama topik yang kedua... Bagaimanapun juga, dia bukan dewa. Sebagai manusia biasa, sulit untuk memahami keilahian para dewa.

Meski begitu, Xu Qing memiliki kelebihan tersendiri. Dalam dua puluh tahun usianya yang singkat, ia telah menyaksikan lebih dari cukup kejahatan, kepahitan, dan tentu saja, keburukan tak berkesudahan yang mampu dilakukan oleh manusia. Oleh karena itu, ia sudah memiliki pemahaman yang baik tentang sifat manusia. Dalam tiga hari yang telah berlalu, ia merenungkan kembali semua ingatannya, mencoba mengingat segala hal yang pernah ia alami.

Kecemasan. Kegilaan. Kanibalisme. Kekejaman.

Tentu saja, ada juga hal-hal yang indah dan menakjubkan, tetapi hal itu bagaikan percikan api yang mudah padam. Bagaimanapun, ia masih bisa mengingat bagaimana rasanya ketika percikan-percikan itu muncul. Contohnya, kedamaian dan ketenangan masa mudanya di Kota Peerless, atau kesan mendalam yang ditinggalkan oleh ayah dan ibunya. Ia tidak akan pernah melupakan kehangatan yang diberikan oleh Sersan Thunder serta emosi yang ditunjukkan oleh Duanmu Zang. Dan ada juga... sosok menjulang dari Penguasa Istana Kong Liangxiu. Ada banyak hal seperti itu.

Sifat manusia mencakup kebaikan sekaligus kejahatan. Sifat manusia juga melibatkan emosi yang terikat pada hal-hal lain, serta belenggu yang tercipta karenanya.

Ia memikirkan Tuhannya, si Kapten, Plumdark, Ling'er, dan semua orang lain yang telah ia kenal selama perjalanannya. Ia telah mengalami kebencian sekaligus rasa terima kasih, rasa jijik sekaligus sukacita.

Aku tadinya sendirian. Tapi sekarang... tanpa disadari, aku jadi memiliki banyak hal yang harus dipedulikan. Hal-hal itu juga menjadi belenggu, bagaikan benang tak terhitung jumlahnya yang terhubung menjadi jaring raksasa. Sifat manusia adalah sumber dari jaring itu. Itulah alasan mengapa aku merasakan kebahagiaan, kemarahan, kesedihan, dan kegembiraan.

Ia membuka matanya dan menatap ke langit. Ia mendengarkan angin yang merintih, yang baginya terdengar seperti tangisan seluruh makhluk hidup.

Sifat manusia mengandung segala harapan kita akan kehidupan, dan ketakutan kita akan kematian. Sejak kecil, aku selalu merasakan hasrat untuk terus hidup. Emosi kita, dan cara kita menjalani hidup, adalah aspek fundamental dari sifat manusia. Di Kota Peerless dulu, aku bahkan tidak mengerti apa itu pembunuhan. Aku tidak pernah mengkhawatirkan masa depan. Dan aku tidak pernah memikirkan konsekuensi dari tindakan yang kulakukan. Namun setelah mengalami asam garam kehidupan, aku berubah.

Saat Xu Qing tersesat dalam kenangannya dan menganalisis dirinya sendiri, pemahamannya tentang sifat manusia semakin mendalam.

Salah satu perbedaan antara sifat manusia dan sifat hewan adalah bahwa kita mampu menggunakan kendali diri.

Ia menatap lengannya yang telanjang dan mengenang kembali bagaimana ia tenggelam dalam kegilaan sebelumnya. Baginya, kemampuan untuk menahan diri berasal dari pengendalian diri. Namun, dari mana asal pengendalian diri itu? Ia merenungkan pertanyaan itu sejenak.

Aku memiliki kendali diri karena sistem moral yang kumiliki. Kurasa itu hanyalah salah satu karakteristik yang menjadikan kita manusia. Sifat manusia berputar di sekitar keteraturan. Sifat hewan adalah sebaliknya. Sifat itu kacau, dan hanya mengandalkan insting. Di tempat bernama Revered Ancient ini, itulah wujud eksistensi para hewan yang terinfeksi oleh aura dewa di atas sana.

Xu Qing merasa tercerahkan.

Namun, apa sebenarnya sifat keilahian itu? Keilahian?

Ia masih belum memahaminya. Namun, ia tahu bahwa tubuh yang dimilikinya sebenarnya adalah tubuh seorang dewa. Dan racun tabunya berasal dari wilayah dewa, sementara bulan ungu miliknya sebenarnya adalah sumber dewa.

Jika aku memenuhi tubuhku dengan kekuatan bulan ungu, maka sampai batas tertentu, bisa dikatakan bahwa keilahian itu ada di dalam diriku. Kecuali... itu bukanlah sesuatu yang aku sadari. Atau mungkin bisa dikatakan kalau itu tidak kasat mata. Bagaimanapun juga, aku ini manusia, bukan dewa.

Pangeran Mahkota ingin aku merasakan kelaparan dengan cara yang sama seperti yang dirasakan oleh Ibu Crimson. Apakah rasa lapar benar-benar kunci untuk membuka sifat keilahian? Apa yang menyebabkan kelaparan seorang dewa?

Xu Qing masih bingung. Saat ini, ia sebenarnya tidak merasa lapar. Tubuhnya sudah terbiasa bertahan hidup dalam kondisi lemah, dan sekarang hanya tinggal menunggu kematian datang.

Saat yang panjang berlalu, ia pun menghela napas. Ia tidak dapat menemukan jawabannya, dan ia juga tidak ingin hanya berbaring saja, jadi akhirnya ia berjuang untuk bangkit ke posisi duduk di atas pasir. Pada titik ini, para buas di padang pasir kembali aktif. Bahkan, ia bisa melihat salah satu jamur raksasa di kejauhan. Jamur itu sedang bergerak ke arahnya dengan penuh kebencian.

Energi mengerikan dan gejolak yang menakutkan terpancar dari jamur tersebut. Dari apa yang bisa dirasakan oleh Xu Qing, makhluk itu tidak berada di tingkat Nascent Soul, melainkan lebih mirip dengan fase penciptaan dao.

Tidak banyak jamur mengerikan seperti ini di Tanah Tandus Berambut Hijau. Namun, karena cara akar mereka membentuk siluet mirip manusia—seperti raksasa—hanya sedikit orang yang berani memprovokasi mereka.

Xu Qing telah menyadari hal itu sejak awal ketika ia pertama kali tiba di gurun ini.

Sayangnya, untuk sekadar duduk saja telah menghabiskan hampir seluruh sisa tenaganya yang sedikit. Dan lubang dangkal yang tertinggal di belakangnya setelah ia duduk kini sudah mulai tertimbun pasir kembali. Ketika Xu Qing menyadari hal itu, ia tertegun. Pikirannya berbinar seolah disambar oleh sambaran petir berkali-kali. Melupakan situasi berbahaya yang dihadapinya, ia menatap pasir yang menimbun kembali tempat ia berbaring tadi.

Tempat itu sedang ditimbun kembali. Saat aku berbaring di sana, aku adalah bagian dari gurun ini. Saat aku bangkit, aku meninggalkan tempat kosong. Oleh karena itu... pasir itu berhamburan kembali untuk mengembalikan tempat itu ke wujud aslinya. Jika aku mengumpamakan tempat kosong itu sebagai diriku, dan pasir itu sebagai sifat manusia... maka aku bisa mengibaratkan pasir pengganti itu sebagai keilahian...

Xu Qing berjuang untuk mengendalikan pernapasannya. Ia merasa telah menangkap sesuatu yang penting, dan kini sedang memikirkannya secara mendalam. Saat itulah ekor kalajengking besar muncul dari pasir di sebelah kirinya dan menghujam tubuhnya.

Kemudian makhluk itu mencampaknya ke samping, menyebabkannya terpelanting seperti layang-layang putus ke kejauhan.

Saat kemudian, tiga ekor kalajengking menggali keluar dari pasir, melesat ke arahnya, dan menancapkan taring mereka ke tubuhnya.

Xu Qing tidak mempedulikannya. Meskipun saat ini ia berada dalam kondisi yang sangat lemah, ia masih memiliki ketangguhan bawaan. Kalajengking-kalajengking itu tidak akan bisa merobek tubuhnya semudah itu. Meskipun rasa sakit melandanya, jalan pikirannya saat ini jauh lebih penting.

Saat kalajengking-kalajengking itu merobek-robek tubuhnya, ia memejamkan mata.

Jika aku menghilangkan sifat manusiaku, aku tidak akan memiliki kendali diri untuk menekan sifat hewanku. Tetapi jika aku menggantinya dengan sifat keilahian, maka aku bisa menggunakan keilahian untuk melampaui sifat hewan!

Jantung Xu Qing berdegup kencang. Sekarang ia mengerti.

Aku tidak perlu memahami keilahian. Aku hanya perlu memblendirnya ke dalam diriku dan merasakannya. Menggunakan sudut pandang seorang dewa untuk memahaminya. Pada titik itu, mungkin aku tidak akan bisa mengendalikan sifat hewanku. Tapi itu karena aku tidak perlu melakukannya. Sifat itu akan secara naluriah mendengarkan perintahku.

Oleh karena itu, Pangeran Mahkota sebenarnya sedang menyuruhku untuk menumpuk sifat manusia dan sifat keilahian secara bersamaan. Itu adalah sebuah kombinasi. Sebuah percampuran! Hanya saja, di mana letak unsur kelaparan dalam hal ini?

Xu Qing merasa bahwa ia telah menemukan solusi awal untuk masalah ini. Meskipun masih ada hal-hal yang belum sepenuhnya ia pahami, pada akhirnya ia harus membuat sebuah keputusan.

Haruskah ia mencoba gagasan barunya ini?

Sesaat kemudian, ia teringat akan nasihat pertama yang diberikan oleh Pangeran Mahkota menggunakan daun teh dan air. Lalu ia memikirkan eksperimen yang telah dilakukannya dengan burung gagak emas, serta inspirasi yang didapatkannya ketika Pangeran Mahkota menggunakan salah satu helai daun Sprouty untuk mendemonstrasikan suatu poin.

Daun teh dan air adalah sebuah campuran. Tapi kau masih bisa memisahkan keduanya. Dan meskipun helai daun Sprouty terpisah, daun itu tetaplah bagian dari Sprouty. Esensinya tetap sama. Dengan kata lain, jika aku mencoba gagasan ini, aku masih bisa membalikkannya jika diperlukan.

Mata Xu Qing bersinar dengan tekad bulat. Ia tahu bahwa, kecuali jika ia ingin melepaskan harapan untuk mengendalikan kekuatan bulan ungu, ia harus menempuh jalurnya.

Adapun cara untuk menyingkirkan sifat manusiaku...

Ia memejamkan mata. Menyingkirkan sifat manusianya berarti melepaskan kendali atas insting-instingnya.

Ia perlahan-lahan mulai melakukan perubahan itu. Tak lama kemudian, ia terengah-engah dan gemetar dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kemudian matanya terbuka, bersinar dengan kegilaan liar seekor binatang buas.

Ia tidak lagi mengendalikan instingnya. Ia tidak lagi membimbing tindakannya dengan pengendalian diri. Ia tidak lagi memikirkan moralitas, kejahatan, atau kebaikan. Ia tidak lagi memiliki rasa harga diri. Terlebih lagi, ia tidak memikirkan kenangan masa lalu, dan tidak lagi terpengaruh oleh emosi. Ia telah dibebaskan. Instingnya benar-benar bebas.

Raungan kehewanan meledak dari mulut Xu Qing. Dengan mata merah menyala, ia menatap kalajengking-kalajengking yang sedang merobek dagingnya.

Air liur menetes dari mulutnya saat rasa lapar yang tak bertepi bangkit di dalam dirinya. Ia tidak tahu dari mana ia mendapatkan tenaga itu, namun ia mengulurkan tangan, mencengkeram seekor kalajengking, lalu merobeknya dengan giginya. Pasir beterbangan ke mana-mana. Suara gemuruh menggema. Jeritan melengking terdengar selama waktu yang dibutuhkan untuk membakar sebatang dupa. Kemudian, sebuah sosok terlihat melesat keluar dari kepulan debu.

Tidak lain adalah Xu Qing. Rambutnya tampak kusut, dan ia terengah-engah. Wajahnya bersimbah darah. Lengan yang sebelumnya sempat ia gigit sebagian kini telah lenyap.

Namun hal itu tidak membuatnya melambat sedikit pun.

Ia tidak sedang berpikir. Ia digerakkan oleh insting semata. Dan ia ingin makan. Semuanya. Rasa lapar di dalam dirinya telah menjerumuskannya ke dalam keadaan gila. Namun itu bukan sekadar hasrat untuk melahap daging yang memenuhinya. Ada sesuatu yang lebih dalam yang ia butuhkan. Ia tidak yakin apa itu, namun ia bisa merasakan bahwa tubuhnya terasa sangat kosong. Seolah-olah ada sesuatu yang tak terlukiskan yang ia perlukan, sesuatu yang sedang bersembunyi darinya.

Dan semakin dalam hal itu bersembunyi, semakin hebat pula rasa laparnya. Rasa lapar itu berasal dari tubuhnya, tetapi juga dari jiwanya.

Tiba-tiba, tubuhnya berpendar dengan cahaya ungu! Itulah kekuatan bulan ungu! Kekuatan itu berfluktuasi tidak seperti sebelumnya, berkilau dengan terang. Kekuatan itu berada sangat dekat dengan Xu Qing, dan menjadi bagian dari dirinya lebih dari sebelumnya. Lingkungannya bergelombang dan berdistorsi. Langit dan bumi tampak kabur. Kekuatan seorang dewa bergemuruh, meledak keluar dari tubuhnya.

Pasir bergetar, dan angin hijau tersentak berhenti, lalu berembus ke arah berlawanan, tidak berani mendekatinya.

Sebuah melolong meletus dari mulut Xu Qing saat ia mulai berlari kencang langsung menuju jamur di kejauhan. Sebelumnya, ia akan membutuhkan seluruh tenaganya yang dilepaskan pada kondisi puncaknya, hanya untuk menembus permukaan jamur itu. Namun sekarang, lambaian tangannya saja sudah cukup untuk membuatnya retak seketika.

Jeritan kesakitan terdengar saat Xu Qing menerobos masuk ke dalamnya, melahap gigitan demi gigitan di sana-sini. Tangannya yang tersisa menyapu ke sana ke mari, meraih gumpalan demi gumpalan daging dan menyuapkannya ke dalam mulutnya.

"Lapar... sangat lapar..."

Jamur itu secara naluriah melakukan perlawanan. Akar-akar yang membentuk wujud raksasa di bawah jamur tersebut mencoba meraihnya. Energinya saja sudah cukup untuk menghancurkan seluruh jiwa nascent milik Xu Qing. Di masa lalu, ia pasti dipaksa untuk mengerahkan seluruh kemampuan demi membela diri. Tapi sekarang... tekanan yang datang dari akar-akar itu runtuh begitu saja bahkan sebelum sempat mendekatinya.

Jamur itu tidak bisa berbuat apa-apa pada Xu Qing. Gejolak mengerikan meletus dari dalam tubuhnya. Jamur itu menjerit kesakitan sekali lagi, namun Xu Qing terus saja makan suap demi suap.

Perut Xu Qing membuncit, namun sensasi lapar di dalam dirinya sama sekali tidak berkurang. Sebaliknya, rasa lapar itu justru semakin hebat. Pada akhirnya, seolah-olah setiap titik kosong di dalam dirinya telah bergabung, menciptakan sebuah lubang hitam raksasa yang mampu melahap segalanya.

Keilahian dari bulan ungu mulai berkelip dengan lebih dramatis lagi. Kehendak ungu menyebar ke sekelilingnya ke segala arah. Sumber dewa sedang meletus.

Gerakan Xu Qing melambat. Di tengah keadaan gilanya, mata merahnya kini mulai mendapatkan kembali kejernihan yang dingin. Rupanya, ia akhirnya mulai merasakan keilahian.

Itu adalah sesuatu yang berada di luar deskripsi. Xu Qing tidak sepenuhnya memahaminya, namun ia menyadari sensasi baru yang tiba-tiba itu muncul. Di dalam benaknya, saat ini sudah tidak penting lagi apakah Ibu Crimson akan muncul atau tidak. Bahkan tidak penting lagi siapa dirinya sebenarnya.

Emosi. Masa lalu. Kebaikan dan kejahatan. Rasa terima kasih dan dendam. Semua orang. Semua hal. Ia mengingat semua hal itu, namun pada saat ini, semuanya sama sekali tidak penting. Pandangannya terhadap segala urusan dan segala hal telah berubah.

Inilah sebabnya Pangeran Mahkota mengatakan bahwa jika aku berhasil, aku mungkin tidak lagi menjadi diriku sendiri. Karena ketika sifat keilahian menggantikan sifat manusia, hal-hal yang tadinya penting bagiku, bahkan orang-orang terdekat, akan menjadi tidak berarti.

Pikiran-pikiran itu melintas di benaknya dalam sekejap, dan seiring dengan itu, ia menyadari bahwa hal-hal tersebut tidaklah penting baginya. Begitu pula dengan tindakan memikirkan hal-hal itu. Angin yang merusak, mengikis, dan meluruhkan di sekelilingnya tidaklah penting. Langit dan bumi dipenuhi oleh ilusi-ilusi penuh kebencian. Dunia ini penuh dengan tulang-tulang dan mayat-mayat yang dipenuhi belatung. Dan tidak satupun dari hal-hal itu yang penting.

Wajah yang kabur dan hancur di langit telah berubah. Matanya menatap ke bawah, hampir seolah-olah matanya tidak pernah terpejam. Tapi itu juga tidak penting.

Yang penting adalah Xu Qing merasa lapar. Sangat lapar tanpa batas. Rasa laparnya tak bertepi, tanpa awal dan tanpa akhir. Ia akhirnya memahami sumber dari rasa laparnya.

Itu adalah insting untuk mengejar evolusi kehidupan. Itu juga merupakan perpisahan dengan masa lalu, namun pada saat yang sama, merupakan keengganan untuk berpisah darinya. Dalam proses menyingkirkan sifat manusianya dan meresapi dirinya dengan sifat keilahian, ia belum sepenuhnya kehilangan sifat manusianya. Itulah alasan mengapa lubang hitam yang tidak sempurna itu tercipta.

Jika aku ingin meredakan rasa lapar ini, aku harus menyempurnakan diriku. Aku harus sepenuhnya menyingkirkan sifat manusiaku. Aku belum melakukannya. Namun Ibu Crimson juga belum melakukannya. Kaisar Ancient Spirit juga belum. Sang Kapten juga... Itulah sebabnya mereka semua merasa lapar.

Xu Qing bertanya-tanya dengan hambar mengapa ia memikirkan hal-hal yang tidak penting. Dan kemudian ia dengan cepat menjernihkan pikirannya.

Namun, bahkan setelah itu, ia masih merasa bahwa hal-hal tersebut penting.

Kedua jenis pemikiran itu saling bentrok, menyebabkan pergolakan muncul di dalam matanya. Sesaat, matanya memancarkan ketidakpedulian. Di saat yang lain, matanya menampakkan sifat kemanusiaan.

Konflik itu membuat pembuluh darah menonjol di dahinya. Ia mengeluarkan raungan penuh penderitaan. Kejernihan di matanya memudar, digantikan oleh kegilaan. Kejar-kejaran terhadap insting yang sempurna kembali mendominasi, beserta usahanya untuk melenyapkan sifat manusianya sepenuhnya.

Xu Qing telah menjadi gila kembali. Cahaya ungu berkobar, bagaikan kedatangan seorang dewa. Ia melesat pergi menuju kejauhan. Ada lebih banyak makanan di sana. Tidak ada sisa jamur yang tertinggal. Ia telah memakan seluruhnya.

Gunakan ← → untuk pindah chapter