Pewaris Takhta menghela napas dan meninggalkan ruangan belakang. Ia butuh waktu untuk membiasakan diri dengan tingkat pemahaman Xu Qing yang luar biasa dan di luar nalar.
Begitu Xu Qing sadar kembali, guntur di langit temaram atas Pegunungan Kehidupan Pahit perlahan memudar, dan tekanan mencekam itu pun lenyap. Kejadian tersebut telah menarik banyak perhatian di daerah itu, dan banyak orang berspekulasi mengenai apa yang sebenarnya sedang terjadi. Namun, selain orang-orang di Apotek Jiwa Hijau, tak seorang pun yang tahu bahwa semua itu ulah Xu Qing.
Saat Xu Qing mengetahui segala hal yang terjadi selagi ia fokus bermeditasi, ia merasa ngeri, sekaligus menaruh rasa hormat yang jauh lebih dalam kepada sang Pewaris Takhta.
Hanya butuh satu petunjuk saja dan aku berhasil memahami semua itu. Dewa Bara memang pantas disebut sebagai Dewa Bara….
Hari-hari berikutnya, ia fokus memulihkan diri. Di saat yang sama, ia beberapa kali keluar untuk melakukan percobaan dengan kartu as burung gagak emasnya.
Waktu pun berlalu hingga setengah bulan kemudian.
Suatu sore, Xu Qing pergi keluar dan menemukan sebuah lembah tak jauh dari kota berdinding bata lumpur itu. Setelah memasuki lembah tersebut, ia memeriksanya dengan teliti untuk memastikan tempat itu aman. Setiap kali hendak menguji kartu as burung gagak emasnya, ia selalu pergi ke lokasi yang berbeda-beda.
Kartu as baru ini memiliki kekuatan yang luar biasa hebat. Terlebih lagi, sedikit saja kehilangan kendali akan membuatnya mengamuk liar bagaikan kuda muda yang berontak. Akibatnya, wujud burung gagak emas itu akan meredup. Setiap kali hal itu terjadi, burung gagak emas tersebut hampir layu dan runtuh. Oleh karena itu, Xu Qing mengamatinya dengan sangat cermat setiap kali ia melakukan uji coba. Dengan membatasi kekuatannya pada kisaran tertentu, ia bisa memastikan daya tersebut sanggup ditanggung oleh sang burung gagak emas.
Dengan beberapa puluh penyesuaian lagi, aku pasti bisa menguasainya dengan benar.
Ia melepas pakaiannya yang compang-camping, menyisakan celana pendek saja. Menatap tubuhnya yang hampir telanjang, ia meringis tak berdaya.
Selalu seperti ini setiap saat. Aku harus bisa mengendalikannya….
Menyūsun kembali pikirannya, ia memejamkan mata sejenak dan merenungkan apa yang baru saja dipelajarinya. Sesaat kemudian, matanya terbuka, memancarkan kilau yang terang. Ia dengan cepat membentuk gestur mantra dengan tangan kanannya, membuat aura yang mengejutkan meledak darinya.
Tato burung gagak emas muncul di punggungnya, berputar-putar dengan dinamis. Tato itu kini menutupi sebagian besar tubuh bagian atas Xu Qing. Burung gagak emas yang digambarkan dalam tato totem itu tampak bernyawa, memancarkan gelombang aura yang mengerikan. Aura tersebut berubah menjadi badai yang menyapu ke segala arah, melayukan tanah dan melelehkan batu-batu besar sejauh ribuan meter ke segala penjuru. Lautan api tercipta di area itu, sesuatu yang tak mampu disentuh oleh angin. Seolah-olah api tersebut berada di luar hukum alam serta hukum magis langit dan bumi.
Xu Qing berdiri di tengah lautan api, tubuhnya sedikit bergetar, perhatiannya terfokus penuh saat ia mengendalikan tato totem penjelmaan yang mewakili jiwa nasuha burung gagak emasnya. Inilah metode pengendalian yang sedang ia kembangkan. Jika wujud itu berubah secara eksternal, ia tidak akan bisa mengendalikan kekuatannya. Namun, jika perubahan itu terjadi pada tubuhnya sendiri, hasilnya akan jauh lebih baik.
Saat ia mengerahkan kendalinya, tato totem itu bergerak dengan kecepatan yang kian meningkat. Pada akhirnya, bentuk aslinya tak lagi terlihat dengan jelas. Yang tampak hanyalah sesuatu yang menyerupai tombak gelap. Detailnya sulit dilihat, dan begitu tombak hitam itu terbentuk, ia memicu gelombang aura mengerikan yang melonjak keluar dari tubuh Xu Qing.
Pada saat ini, Xu Qing sama sekali tidak menggunakan kekuatan eksternal dari burung gagak emas. Semuanya dibentuk oleh jiwa nasuha burung gagak emas itu sendiri, dan tekadnya yang menakutkan melampaui gabungan kekuatan yang sebelumnya ditunjukkan oleh ketiga belas jiwa nasuhanya. Cukup untuk dikatakan, bahkan seorang ahli pencari Dao pun akan dibuat tertegun oleh pemandangan ini. Dari situ terlihat betapa tak terduganya kekuatan kartu as jiwa nasuha burung gagak emas ini. Padahal, saat itu ia hanya melepaskan secuil dari kekuatan tabu burung gagak emas. Itu juga merupakan batas kemampuannya saat ini. Karenanya, mudah dibayangkan betapa besar kekuatan yang bisa ia manfaatkan nanti saat basis kultivasinya semakin meningkat.
Dengan pemikiran tersebut di benaknya, ia mendongak dan menempatkan tangan kanannya di dada tempat gagang tombak hitam ilusi itu berada. Dengan genggaman erat, ia menariknya!
Sebuah tombak hitam buram perlahan muncul dari tato di tubuh Xu Qing.
Begitu tombak itu terhunus di udara terbuka, warna-warna liar berkelebat di langit dan bumi. Guntur bergemuruh. Xu Qing mengabaikan semuanya. Di genggamannya terdapat sebuah tombak hitam yang tampak bagaikan naga yang mampu menghancurkan dunia. Ia mulai mengayunkannya.
Tanah bergemetar. Batu-batu besar hancur berkeping-keping. Lembah itu bergetar hebat.
Tombak hitam itu tampak seperti sebuah tombak, tetapi juga menyerupai seekor burung gagak emas. Ia dikelilingi oleh kobaran api, dan terlebih lagi, di ujungnya terdapat kilatan ketajaman kedua. Itulah Pedang Sang Kaisar! Pedang Sang Kaisar yang sama yang pernah ditelan oleh burung gagak emas! Berkat penyesuaian yang dilakukan Xu Qing, pedang itu kini telah menjadi bagian dari kartu as miliknya.
Gemuruh yang tercipta memicu riak-riak gelombang yang menyebar ke segala arah. Xu Qing menarik napas tajam dan sedikit terhuyung di tempatnya. Kendati demikian, pikirannya tetap jernih. Setelah memastikan burung gagak emas itu mampu menanggung semuanya, matanya bersinar karena gembira. Setelah itu, ia bersiap untuk pergi.
Namun, saat itulah sebuah suara tenang terdengar dari atas.
“Tidak buruk sama sekali!”
Begitu ucapan itu berkumandang, Pewaris Takhta melayang menembus riak-riak yang dipancarkan oleh tombak hitam tersebut. Saat ia mendekat, riak-riak itu memudar hingga tak seorang pun akan menyadari keberadaannya.
“Senior!” ucap Xu Qing penuh hormat sambil menangkupkan tangan dan membungkuk. Ia dengan senang hati menerima bimbingan apa pun dari sang Pewaris Takhta. Entah itu malapetaka ketiga di masa lalu, pertumbuhan jiwanya setelah pertarungan maut di kuil gereja, atau bantuan mengenai struktur dasar teknik kelas kekaisaran yaitu burung gagak emas, semuanya membuktikan bahwa tempaan yang diberikan oleh Pewaris Takhta sangatlah efektif.
Hanya dalam beberapa bulan, Xu Qing telah meruntuhkan wujud lamanya dan terlahir kembali. Dan tentu saja, kehebatan bertarungnya jauh melampaui sebelumnya.
“Sepertinya kau sudah pulih dari cedera. Oleh karena itu, sudah saatnya kita melangkah ke tahap selanjutnya!” Pewaris Takhta mendekati Xu Qing dan mengamatinya, matanya tajam namun hatinya penuh dengan kekaguman. Di dalam hati, ia merenungkan bahwa anak ini memiliki salah satu tingkat pemahaman paling tinggi yang pernah ia saksikan.
Dan ia sangat tertarik untuk mengasah batu permata yang belum diasah ini. Mengingat satu ucapannya yang bernada santai telah memicu komplikasi serius, ia memutuskan bahwa di masa depan, ia harus lebih berhati-hati dengan apa yang ia katakan. Meskipun demikian, ia akhirnya bisa mengatasi rasa terkejutnya yang tadi, dan kini justru merasa bangga.
Memberikan nasihat kepada anak ini pasti membuat Sang Guru pusing tujuh keliling. Tentu saja, itu karena tingkat kultivasinya yang masih rendah. Aku berbeda. Hanya aku yang benar-benar mampu membimbing murid seperti ini. Gurunya sebenarnya tidak terlalu mumpuni untuk tugas ini.
Menatap Xu Qing, Pewaris Takhta berkata dengan tenang, “Xu Qing, kau melakukan pekerjaan dengan baik dalam meraih pencerahan berkat nasihatku. Kau tidak menyerah. Kerja bagus. Kita para kultivator harus menghadapi kesulitan secara langsung. Kita harus gigih bagaimanapun kondisinya. Hanya dengan begitu kita dapat menumbuhkan semangat yang benar-benar mendominasi. Hanya dengan begitu kita dapat memiliki tekad yang diperlukan untuk menentang langit dan bumi!
“Baiklah, sekarang setelah kau memiliki kartu as untuk jiwa nasuha burung gagak emasmu, hal berikutnya yang harus kita lakukan adalah mendalami jiwa nasuha racun tabumu!”
Mata Xu Qing bersinar terang. Sejujurnya, ia tidak perlu menunggu Pewaris Takhta menyuruhnya untuk mulai meneliti jiwa nasuha yang lain. Setelah apa yang terjadi dengan burung gagak emas, ia sudah berencana untuk melakukan hal itu. Sayangnya, masing-masing jiwa nasuhannya adalah entitas yang independen, dan setiap entitas berbeda satu sama lain. Belum tentu apa yang telah ia pelajari dari burung gagak emas bisa diterapkan begitu saja pada jiwa nasuha yang lain.
Oleh karena itu, setelah mendengar perkataan Pewaris Takhta, Xu Qing dengan hormat berkata, “Mohon berikan bimbingan Anda, Senior!”
Dengan mata yang memancarkan antisipasi, ia menatap sang Pewaris Takhta.
Melihat tatapan itu, Pewaris Takhta tersenyum. “Xu Qing, aku bisa merasakan kekuatan dewa di dalam racunmu.”
Xu Qing mengangguk.
“Racun luar biasa seperti itu pastilah memiliki potensi yang tak tertandingi. Mengingat racun itu tidak ada di zamanku, zat itu mungkin tercipta saat aku disegel. Itulah sebabnya aku tidak begitu akrab dengannya.” Tatapan Pewaris Takhta berubah menjadi penuh makna saat ia memandang Xu Qing. “Namun, aku pernah melihat racun tabu yang bahkan jauh lebih mematikan darimu. Faktanya, bisa dibilang aku telah melihat racun terkuat yang pernah ada di daratan Purba yang Dihormati! Kurasa kau juga bisa menyimpulkan… bahwa kau pun pernah melihatnya!”
Jelas ada makna mendalam di balik ucapan sang Pewaris Takhta. Mendengar hal itu, Xu Qing bergidik, dan tiba-tiba mulai mencoba memikirkan apa maksud dari perkataan tersebut. Namun, jawabannya seolah tertutup kabur dari jangkauannya, membuat ia kesulitan untuk memahaminya.
Ketika Pewaris Takhta merasakan bahwa Xu Qing sedang kesulitan, ia merasa sangat bangga di dalam hatinya.
“Xu Qing,” ucapnya tenang, “tengadah ke langit. Lihatlah melampaui langit temaram pada sesuatu yang menggantung di sana abadi. Lihatlah… wajah dewa yang hancur itu!”
Dengan perasaan terguncang, Xu Qing mendongak menatap kanopi langit. Meskipun langit di Wilayah Moonrite tampak gelap—tidak seperti langit di wilayah-wilayah lain—garis besar wajah dewa yang hancur itu masih dapat terlihat dengan samar.
“Lihatlah wajah hancur itu. Mengapa setiap kali hē membuka matanya, semua makhluk hidup meratap dalam kesedihan? Mengapa tempat-tempat yang hē tatap berubah menjadi wilayah terlarang? Itu karena tatapan tersebut mengandung racun! Oleh karena itu, mengapa kau tidak menirunya?
“Mengapa kau hanya melepaskan versi sederhana dari racun tabumu? Mengapa menyebarkannya dengan kekuatan angin? Mengapa menggabungkannya dengan metode-metode manfaatanmu yang lain? Semua itu adalah tindakan manusia fana, bukan tindakan seorang dewa! Menggunakan pikiran manusia fana untuk melepaskan racun seorang dewa? Tentu saja, itu tidak akan berhasil.
“Belajarlah darihīm. Masukkan racunmu ke dalam tatapanmu. Jika kau bisa melakukannya, bahkan hanya dalam skala kecil sekalipun, maka kekuatan racun tabumu, mirip seperti burung gagak emas, akan mengalami peningkatan yang mengguncang langit dan merobohkan bumi!”
Xu Qing berjuang untuk bernapas secara teratur. Kata-kata sang Pewaris Takhta terlalu mengejutkan dan telah membuka wawasannya. Umpatan itu bagaikan sambaran petir di dalam otak yang merobek seluruh pola pikirnya yang lama.
Benar juga! Ketika mata wajah yang hancur itu terbuka, tingkat mutagen di sana menjadi semakin kuat. Dan secara struktural… racun milikku pun sama! Jika aku bisa melakukan hal itu….
Jantung Xu Qing berdegup kencang saat rangkaian pemikiran itu berkembang pesat. Sesaat kemudian, ia menatap sang Pewaris Takhta, matanya memancarkan rasa hormat yang tak tertandingi. Cara Pewaris Takhta mengatur persoalan dan metode analitisnya membantunya melihat segala sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda. Di masa lalu, Xu Qing tidak pernah mampu melakukan hal ini. Bahkan bantuan dari Guru Ketujuh pun tidak pernah membawanya mencapai tingkat pemahaman yang begitu tinggi.
“Ribuan terima kasih, Senior!” seru Xu Qing penuh semangat sambil membungkuk dalam-dalam.
Melihat ekspresi Xu Qing dan memahami emosi di baliknya membuat Pewaris Takhta tersenyum. Sekali lagi ia merasa sangat bangga. Ya, penilaianku terhadap gurunya sudah sangat tepat. Hanya aku yang mampu mendidik batu permata mentah seperti ini!
“Kalau begitu, lanjutkan sendiri dari sini. Cari pencerahan dari apa yang baru saja kuutarakan. Tempat ini bukan lokasi yang buruk. Bekerjalah di sini selama tiga hari. Jika kau tidak dapat membuat kemajuan apa pun, temui aku.”
Pewaris Takhta memasang beberapa mantra pelindung yang akan bertahan selama tiga hari. Sambil menangkupkan tangan di belakang punggung, ia pergi dengan penuh kebanggaan.
Xu Qing berdiri terpaku di tempatnya untuk waktu yang cukup lama sebelum akhirnya duduk bersila dan memejamkan matanya.
Tapi, bagaimana caranya memasukkan kekuatan racun tabu itu ke dalam tatapanku…?
Melepaskan kekuatan racun tabu, ia mengalirkan daya tersebut langsung ke dalam matanya.
Chapter 615 · 8m baca
The Heir Apparent’s Way Of Setting Things Up
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter