Beyond the Timescape - Chapter 514 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 514 · 10m baca

But I’m His Master!

by Er Gen

Kata-kata sang Kapten membuat Xu Qing teringat kembali saat melihat sang Guru di Area Terlarang Zombie. Beliau berada di dalam formasi mantra yang mengindikasikan tingkat kultivasinya mirip dengan Sir Bloodsmelter. Sepenuhnya yakin dengan kebijaksanaan sang Kapten, ia pun mengangguk.

Melihat Xu Qing menyetujui sarannya, alis sang Kapten menari-nari ke atas dan ke bawah. "Jadi, kita harus pergi berbicara dengan Guru. Tentu saja, kita tidak bisa mengirim pesan suara, kita juga tidak bisa meminta Pengadilan Pendekar Pedang untuk menyampaikan pesan kepada beliau..." Sang Kapten mengedipkan matanya beberapa kali. "Kita harus menipu Guru agar datang menemui kita! Barulah kita bisa menjelaskannya secara langsung."

"Jadi...?" tanya Xu Qing dengan ragu. Ada sesuatu dari tatapan di mata sang Kapten yang terasa mengkhawatirkan.

"Jadi... kita harus membuat rencana yang sangat matang untuk memastikan Guru dengan antusias bergegas datang ke sini dengan kecepatan penuh!" Sang Kapten berdehem. "Pertimbangkan semuanya, Adik Junior kecil. Kau mungkin berpikir bahwa memberi tahu beliau salah satu dari kita sekarat adalah tipuan yang sempurna. Tapi kita butuh sesuatu yang masuk akal. Jika kita bilang aku hampir mati, beliau mungkin akan mengabaikan segalanya dan langsung melesat ke sini. Bagaimanapun juga, Guru paling menyayangi diriku. Tapi... aku bisa bertahan hidup hanya dengan kepalaku saja tanpa tubuh. Jadi, yang harus dilakukan Guru hanyalah berpikir sejenak dan beliau mungkin akan menyadari kalau itu hanya tipuan."

Dengan wajah tanpa ekspresi, Xu Qing berkata dengan tenang, "Bukankah kita bisa mengiriminya pesan sandi?"

"Sandi? Tentu saja tidak! Apa kau pikir kita punya sistem kata sandi rahasia atau semacamnya? Kita tidak punya!" Sang Kapten menghela napas, melirik Xu Qing dari sudut matanya, lalu melanjutkan, "Sayangnya, kau harus berkorban demi kelompok kita, Adik Junior kecil. Agar semuanya tampak sangat nyata, kau harus setuju untuk tidak melawan. Tenang saja, aku tidak akan memukul terlalu keras. Kau mungkin akan pulih dalam waktu seminggu."

"Paling parah, aku hanya akan mematahkan kakimu di beberapa tempat, menusukmu beberapa kali, menghancurkan delapan puluh atau sembilan puluh tulangmu yang lain, dan memercikkan sedikit otakmu keluar. Hal semacam itu. Mengengingat sudah berapa kali kita melakukan ini, aku sudah cukup ahli dalam hal ini."

"Hal yang paling penting adalah, ketika Guru melihatmu, beliau sama sekali tidak curiga kalau ini adalah sebuah tipuan. Setelah itu, kita akan menjelaskan seluruh situasi dengan cara yang sangat logis. Semuanya pasti akan berjalan dengan lancar. Santai saja. Aku sudah menangani hal semacam ini berkali-kali di masa lalu."

Sang Kapten terkekeh kelam, dan praktis berjoget ke sana kemari. Kapan pun ia membuka segel, ia merasa perlu menegaskan otoritasnya sebagai Kakak Sulung di hadapan Xu Qing. Terutama mengingat kultivasinya sempat sedikit tertinggal di belakang Xu Qing. Hal itu saja sudah cukup membuatnya ingin menegaskan dominasinya secara besar-besaran.

Menanggapi sang Kapten, Xu Qing mengangguk dan mengeluarkan pedang perintahnya. Setelah membayar biaya yang diperlukan, ia mengirimkan pesan suara kepada tetua agung di Pengadilan Pendekar Pedang di Prefektur Penerima Kaisar.

"Maaf mengganggu Anda, Tetua Agung, tapi saya berharap Anda bisa menyampaikan pesan kepada Guru saya."

Sambil menatap mata sang Kapten, ia terus mengirimkan pesan tersebut dengan pedang perintahnya. Namun, ini adalah jenis pesan yang tidak bisa didengar orang lain bahkan jika mereka berdiri di dekatnya.

"Katakan kepada Guru saya bahwa Kakak Sulung saya bertekad untuk menikahi seorang troll awan yang ditemuinya di ibu kota wilayah ini. Saya sudah mencoba membujuknya untuk mengurungkan niat itu, tapi dia tidak mau mendengarkan saya. Pernikahannya tiga hari lagi. Kakak Sulung saya tidak berani mengatakan apa pun kepada Guru kita, jadi secara resmi saya mengundang Guru ke pernikahan tersebut."

"...." Tetua agung mendengarkan pesan itu, lalu tiba-tiba tertawa. Jelas sekali ia bisa membaca maksud terselubung di balik pesan itu. "Gurumu pasti akan sangat senang mendengar berita ini."

"Terima kasih banyak, Tetua Agung!" jawab Xu Qing dengan sungguh-sungguh. Ia menyimpan pedang perintahnya dan menatap Kakak Sulung yang tampak curiga.

"Kenapa aku merasa ada sesuatu yang mencurigakan sedang terjadi, Adik Junior kecil? Apakah kau mengirim pesan itu persis seperti rencana yang kita sepakati?"

Menatapnya balik dengan sungguh-sungguh, Xu Qing berkata, "Kau seharusnya lebih memercayaiku, Kakak Sulung."

Sang Kapten masih belum sepenuhnya yakin, namun ia tetap menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya. Dengan mata yang berkilat-kilat, ia berkata, "Baiklah, kalau begitu. Aku akan sedikit melonggarkanmu, Adik Junior kecil. Ingat, aku baru saja menerobos, jadi aku sangat tangguh saat ini. Ini adalah kesempatan yang sempurna untuk berlatih." Sang Kapten bersiap untuk bergerak.

Namun kemudian Xu Qing menggelengkan kepalanya. "Kakak Sulung, pesan yang aku kirim mengindikasikan bahwa aku telah diracuni, dan aku tidak tahu cara melenyapkan racun tersebut."

Xu Qing mengeluarkan tanaman beracun dari tas penyimpanan miliknya dan memasukkannya ke dalam mulut. Sang Kapten tertegun menatap Xu Qing.

Xu Qing balas menatapnya dengan polos. "Tidak mungkin Guru akan percaya kalau aku terluka. Itu terlalu... biasa. Jadi aku bilang aku diracuni. Seperti yang kau tahu, aku ahli dalam jalan racun. Jadi jika aku tidak bisa melenyapkannya, itu jelas merupakan racun yang sangat berbahaya."

Selanjutnya, Xu Qing mengeluarkan beberapa bubuk racun dan menelannya.

Sang Kapten memperhatikan. Ia masih yakin Xu Qing sedang mengerjainya, tetapi di sisi lain, ia harus mengakui bahwa apa yang dikatakan Xu Qing ada logikanya. Selain itu, Xu Qing jelas sudah memakan banyak racun tadi.

Namun kemudian sang Kapten teringat pada situasi-situasi sebelumnya, dan ia mengedipkan matanya beberapa kali. Sebuah senyuman penuh teka-teki tersungging di wajahnya. "Bagus juga usahamu, Adik Junior kecil. Apa kau benar-benar berpikir aku akan tertipu oleh trik itu?" Ia terkekeh sarkastik, lalu meregangkan tubuhnya secara dramatis. "Bahkan dengan menggunakan portal teleportasi, mustahil untuk melakukan perjalanan dari Prefektur Penerima Kaisar ke sini lebih cepat dari tiga hari. Baiklah. Aku tidak akan memukulumu. Teruskan memakan racun itu. Makanlah sepuasmu. Aku akan pergi sekarang. Aku harus mengumpulkan beberapa laporan intelijen tentang Area Terlarang Dewa."

Dengan itu, sang Kapten melipat kedua tangannya di belakang punggung. Berlagak sangat puas dan sangat percaya diri, ia berbalik untuk pergi.

Xu Qing memandangnya pergi sambil menggelengkan kepalanya dan terus memakan racun.

Sang Kapten dengan tenang berjalan keluar dari paviliun pedang dan kembali ke kota. Akhirnya, ia menemukan sebuah gang. Menyelinap masuk, ia menatap tangan kanannya. Di telapak tangan itu terdapat bola mata yang memproyeksikan gambar Xu Qing sedang memakan racun.

Dia masih makan? Jangan bilang dia menyadari aku menempatkan bola mata di sana. Tidak, itu tidak mungkin. Setelah melepaskan segel terbaru, tidak mungkin si kecil Ah Qing bisa merasakanku melakukan hal seperti itu. Sang Kapten kemudian ragu-ragu. Aku akan terus mengawasinya sebentar lagi.

Dua hari berlalu. Hari itu kini sudah malam menjelang hari di mana seseorang bisa tiba di ibu kota wilayah jika mereka bergegas dengan kecepatan penuh dari Prefektur Penerima Kaisar. Sang Kapten berjalan santai memasuki paviliun pedang Xu Qing sambil mengelus perutnya dengan puas. Ia duduk di hadapan Xu Qing.

Wajah Xu Qing benar-benar tanpa ekspresi. Ada bercak-bercak hijau kehitaman di seluruh tubuhnya, dan ia tampak seperti telah diracuni dengan parah.

Sang Kapten masih merasa curiga. Namun selama dua hari terakhir ia telah mengamati Xu Qing dan mencatat bahwa juniornya itu terus-menerus memakan racun. "Eh... ayolah, Adik Junior kecil, tidak perlu berlebihan begitu!"

"Ketika Guru muncul dan mengetahui bahwa kita menipunya," kata Xu Qing dengan suara lantang, "beliau pasti akan sangat marah." Xu Qing mengeluarkan tanaman beracun lagi dan mulai mengunyahnya. "Oleh karena itu, semakin parah penampilanku, semakin kecil kemarahan beliau."

Sang Kapten mulai merasa cukup gugup, dan mulai bertanya-tanya apakah analisis Xu Qing benar. Jika ya, maka fakta bahwa Xu Qing bekerja begitu sungguh-sungguh untuk melakoni aktingnya sebenarnya menunjukkan bahwa ia menghormati Guru.

Ternyata, memang ada seni dalam hal menipu, dan rupanya, Xu Qing tahu betul tentang hal itu. Singkatnya, cara Xu Qing bertindak akan memastikan Guru menjadi tidak terlalu marah. Jika itu terjadi, dan sang Kapten dalam kondisi yang sangat bugar dan sehat... maka Guru akan menganggap itu sebagai tanda ketidakhormatan. Bagaimanapun juga, terlepas dari alasan menipu Guru, seseorang harus melakukannya dengan cara yang benar. Jika hanya melibatkan satu orang saja, sehingga tidak ada pembanding dengan orang lain, maka itu tidak masalah. Tapi bukan itu kasusnya di sini.

Setelah mencapai titik ini dalam alur pemikirannya, sang Kapten menatap Xu Qing dengan penuh kepedihan. Di luar, langit sudah mulai menjadi terang. Sambil mengatupkan giginya, sang Kapten mengulurkan tangannya ke arah Xu Qing.

"Beri aku racun!"

Xu Qing menatapnya balik dengan penuh kebingungan. "Kau ingin juga?"

Penuh dengan kesedihan dan kejengkelan, sang Kapten melanjutkan, "Berikan padaku!"

Xu Qing tanpa bersuara mengeluarkan beberapa racun dan menyerahkannya kepada sang Kapten.

Sang Kapten mengambilnya, memejamkan mata, dan memakannya. Hampir seketika itu juga, wajahnya berubah menjadi hijau kehitaman. Melihat Xu Qing masih memakan racun, ia melolong dalam hati dan melakukan hal yang sama.

Dan dengan demikian, waktu pun berlalu. Dua hari kemudian, hari sudah terang ketika batu giok transmisi milik Xu Qing bergetar. Xu Qing mengangkatnya, dan suara Guru Ketujuh terdengar bergema.

"Kalian berdua ada di mana?"

Mendengar suara Guru Ketujuh, sang Kapten mulai memasukkan lebih banyak racun ke dalam mulutnya hingga ia gemetar dari ujung kepala hingga ujung kaki dan terengah-engah.

Melirik sang Kapten, Xu Qing mengirimkan balasan yang mengindikasikan bahwa mereka berada di paviliun pedangnya. Kemudian ia melambaikan tangannya untuk membuka pintu.

Tidak lama kemudian, Guru Ketujuh muncul tanpa suara di luar paviliun pedang. Rasanya hampir seperti beliau dilukis di sana oleh kuas raksasa yang tak terlihat. Dengan wajah tanpa ekspresi, beliau masuk.

Xu Qing mencoba berdiri, tapi hanya berhasil memuntahkan seteguk darah beracun. Menundukkan kepalanya, ia berkata, "Guru..."

"Akting yang bagus. Kau tahu kalau menipu Guru itu salah, kan? Namun, sepertinya kau telah mengonsumsi racun selama berhari-hari demi meyakinkan aktingmu itu." Tatapan Guru Ketujuh melembut saat menatap Xu Qing. "Hm. Ya, itu sikap yang benar."

Ketika sang Kapten melihat hal itu, ia berusaha bangkit, namun berakhir dengan muntah.

Guru Ketujuh tersenyum dingin, berjalan mendekat, dan menendang sang Kapten. Suara gedebuk terdengar saat sang Kapten melayang ke udara dan kemudian mendarat di atas pantatnya dalam posisi duduk.

"Kemampuan aktingmu tidak sebaik itu. Coba lihat dirimu! Kau hampir tidak memakan racun sama sekali. Kenapa kau tidak belajar satu atau dua hal dari Adik Juniormu?"

"Guru, aku sangat merindukanmu!" kata sang Kapten, mengabaikan pantatnya yang nyut-nyutan untuk menatap Guru Ketujuh dengan penuh memelas.

Di sisi lain, Xu Qing hanya menonton dengan ekspresi kesakitan, seolah-olah ia ingin mengatakan sesuatu namun tidak berani.

Guru Ketujuh mendengus dingin. Setelah sekali lagi melototi sang Kapten, beliau beralih menatap Xu Qing, dan sekali lagi, tatapannya melembut. "Kakak Keempat, kau tidak pernah menjadi tipe anak yang suka berbohong. Mengingat hal itu, sudah jelas Kakak Sulungmu yang memaksa dalam semua urusan ini. Masuk akal, mengingat Kakak Sulungmu adalah penjahat kambuhan."

Xu Qing menundukkan kepalanya. "Guru, Kakak Sulung dan saya memikirkan ide ini bersama-sama."

"Bahkan sekarang pun kau masih mencoba membela Kakak Sulungmu?" Mata Guru Ketujuh meluap dengan pujian. Beliau dengan cepat mengeluarkan beberapa pil penawar racun yang sangat mahal dan menyerahkannya kepada Xu Qing. "Cepat makan itu. Anak malang. Kau ini terlalu jujur."

Dengan itu, Guru Ketujuh berbalik dan kembali melototi sang Kapten. "Coba lihat dirimu! Kakak Sulung macam apa kau ini? Aku tidak percaya kau tega memaksa Adik Juniormu melakukan semua ini. Jika kau ingin aku datang ke sini, kau cukup mengirim pesan sandi! Adik Juniormu menjadi murid jauh lebih lambat darimu, jadi dia tidak tahu semua kata sandi itu. Tapi kau tahu kan, bukan? Bukankah akulah secara pribadi yang mengajarkannya kepadamu ketika aku mengajakmu dalam semua misi bertahun-tahun lalu? Apa, kau baru saja melepaskan segel lain jadi kau merasa hebat sekarang? Atau kau hanya berharap untuk mendapat hukuman berat lagi?"

Sang Kapten bergidik dan menggelengkan kepalanya. Lalu ia menyadari Xu Qing menatapnya tanpa suara, dan ia berdehem dengan canggung.

Sementara itu, Xu Qing tidak menunjukkan ekspresi apa pun di wajahnya saat ia memasukkan pil penawar racun itu ke dalam mulutnya dan menelannya. Ia juga mengeluarkan beberapa tanaman obat dan memakannya. Beberapa saat kemudian, racun di dalam tubuhnya telah lenyap. Selama dua hari di mana ia terus-menerus memakan tanaman beracun, ia telah menggunakan prinsip-prinsip saling memperkuat dan menekan untuk meracik kombinasi racun yang tepat dengan hati-hati. Hasilnya, yang harus ia lakukan hanyalah mengonsumsi tanaman obat yang tepat, dan racun itu langsung dinetralkan.

Tetapi sang Kapten hanya memakan satu porsi racun, yang langsung mengubah wajahnya menjadi hijau kehitaman. Ketika sang Kapten melihat bahwa Xu Qing sudah kembali normal, matanya mendelik lebar, dan ia membuka mulutnya untuk berbicara.

"Cukup!" kata Guru Ketujuh, memotong ucapan sang Kapten. "Katakan. Kenapa kalian berdua bersusah payah menipu Guru agar datang ke sini?"

Sang Kapten tampak seperti hendak mulai memberikan penjelasan, namun Guru Ketujuh melototinya tajam. "Kau diam saja. Mendengar suaramu saja sudah membuatku kesal!"

Tampak terluka, dan sedikit depresi, sang Kapten berpikir, Yang kulakukan hanya membuka segel! Aku hanya mencoba menegakkan otoritas di hadapan si kecil Ah Qing. Bagaimana bisa semuanya berakhir seperti ini...?

"Kau jelaskan, Kakak Keempat."

Tampak sangat hormat, Xu Qing menjelaskan semuanya secara rinci. Ia bahkan menceritakan kepada sang Guru tentang jari dewa, dan bagaimana jari itu telah mengubah dirinya.

Itu adalah pertama kalinya sang Kapten mendengar detail seperti itu, dan matanya terbelalak lebar.

Guru Ketujuh kembali melototi sang Kapten. Meskipun Guru Ketujuh tidak tampak terkejut dengan apa yang diceritakan Xu Qing kepadanya, jika kau memerhatikan beliau sangat dekat, kau akan melihat kelopak matanya berkedut beberapa kali. Ketika Xu Qing selesai, Guru Ketujuh mendengus dingin.

"Kalian berdua benar-benar melakukan beberapa hal yang berani di Inti Emas. Dan kalian bahkan berkomplot melawan para dewa! Untungnya, Kakak Keempat, kau dengan cerdik berpikir untuk memberi tahu Gurumu tentang semua ini. Aku sudah mengerti situasinya sekarang. Mulai sekarang, jangan pikirkan hal itu lagi. Masuk saja ke dalam Area Terlarang Dewa dan bertindaklah seperti biasa."

Dengan itu, Guru Ketujuh berbalik untuk berjalan keluar. Setelah memberikan satu lirikan tajam lagi kepada sang Kapten di tengah jalan, beliau memudar menjadi ketiadaan.

Ketika Guru Ketujuh muncul di ibu kota wilayah, auranya disembunyikan, dan beliau berjuang keras mengendalikan napasnya. Gelombang kejutan yang masif menghantam pikiran dan hatinya.

Aku merekrut monster sungguhan sebagai muridku...

Kemudian, beliau mulai tertawa puas. Ekspresi bangga memenuhi wajahnya.

Tapi aku Gurunya!

Kembali ke paviliun pedang, sang Kapten menatap Xu Qing dengan mata berkaca-kaca. "Adik Junior kecil, pesan apa yang sebenarnya kau kirim ke Guru? Beliau tampak kesal begitu melihatku."

"Jadi, Kakak Sulung, ternyata memang ada kata sandi," kata Xu Qing dengan tenang.

"Hehehe, tidak apa-apa," kata sang Kapten sambil bangkit berdiri. Sambil memeluk Xu Qing, ia mengeluarkan sebuah kristal yang tampak sangat familiar. Ia menekannya ke tangan Xu Qing. Menampilkan senyuman tulus yang penuh dengan kasih sayang keluarga, ia berkata, "Adik Junior kecil, aku tadi hanya bercanda denganmu! Apa kau tidak merasakan kepahitan dan rasa sakit di medan perang mulai mereda? Sejak kita kembali, aku sangat mengkhawatirkanmu!"

Xu Qing menatap sang Kapten, terpana.

Sang Kapten balas tersenyum, matanya penuh kehangatan dan kebaikan. "Oh, kau! Kau menganggap semuanya begitu serius! Wajahmu selalu tanpa ekspresi! Dan itu terutama terjadi saat kau sedang terluka di dalam. Itu benar-benar bukan cara yang tepat untuk menghadapi sesuatu."

"Kau tidak sendirian, kecil Ah Qing. Kau memiliki leluhur. Kau memiliki Guru. Kau memiliki aku. Kau memiliki Kakak Kedua dan Kakak Ketiga! Kami semua peduli padamu. Kita adalah keluarga! Oleh karena itu, kau tidak perlu memendam semuanya sendirian sepanjang waktu. Kau bisa berbicara dengan kami!"

"Aku bilang sebelumnya bahwa kita harus menjelajahi dunia bersama-sama. Aku serius tentang itu. Dan bukan hanya kau dan aku. Kita semua, sebagai sebuah keluarga! Bersama-sama, menjelajahi dunia!"

Pada saat itu, sang Kapten benar-benar tampak seperti seorang kakak laki-laki yang bisa diandalkan. Hati Xu Qing membuncah oleh kehangatan. Ia benar-benar tersentuh.

Lalu sang Kapten berdehem. "Dan itulah sebabnya aku ingin tahu apakah kau bisa menyingkirkan racun ini untukku!"

Gunakan ← → untuk pindah chapter