Di bawah langit senja itu, di atas gunung daging, di bawah beban kekuatan dewa yang luar biasa, Xu Qing berdiri menatap ke langit. Ketika ia melihat wujud jiwa Ling'er, ular putih kecil di lautan kesadaran Xu Qing merasakannya dan membuka matanya.
"Coo. Coooo…."
Merasakan panggilan dari pecahan jiwa yang seumbernya sama, Ling'er di langit bergetar dan mendongak.
Namun, delapan belas naga yang terbuat dari kabut hijau meluncur di langit memancarkan aura takdir yang kuat, menciptakan kekuatan kekangan yang memutuskan hubungan Ling'er dari sensasi tersebut.
Ketika aura takdir itu mengalir keluar, ular putih kecil di lautan kesadaran Xu Qing tiba-tiba berdenyut karena rindu. Naga-naga itu terbentuk dari aura takdir Roh Kuno. Mereka tampak sangat nyata, hingga ke sisik-sisiknya yang mirip aslinya. Meskipun spesies Roh Kuno telah dikutuk oleh dao surgawi, mereka tetaplah spesies legendaris yang juga dikenal sebagai Takdir Surga (Heavenfates), yang merupakan konvergensi dari aura takdir seluruh Alam Kuno yang Dihormati. Bahkan hingga hari ini, itulah takdir surgawi mereka.
Mata Xu Qing berkilat tajam. Mengingat mustahil untuk memanggil jiwa Ling'er ke sisinya, ia melompat turun dari gunung daging untuk menjemputnya. Naga-naga yang terbentuk dari aura takdir hijau itu melolong mengancam. Rupanya, hanya butuh satu perintah dari Kaisar Kuno, dan mereka akan menerkam serta melahap Xu Qing. Tak bergeming dengan pemandangan itu, Xu Qing terbang menuju jiwa Ling'er, memancarkan kekuatan bulan lembayung.
Naga-naga aura takdir itu bergejolak, namun tidak punya pilihan selain mundur darinya. Saat mereka mengalah, kekuatan kekangan itu memudar. Wujud jiwa Ling'er bergetar lagi, dan saat ia kembali merasakan panggilan kuat itu, Xu Qing muncul di hadapannya. Tanpa ragu sedikit pun, ia mengulurkan tangan kirinya dan mengambil jiwanya.
Saat tangannya bersentuhan dengan Ling'er, cahaya hitam di sekitarnya memudar. Pada saat yang sama, ular putih kecil di lautan kesadaran Xu Qing terbang keluar dari tubuhnya dan melesat ke dahi wujud jiwa tersebut.
Sebuah getaran merambat melalui Ling'er. Bulu matanya bergetar, dan ia mendongak. Hal pertama yang ia lihat adalah Xu Qing.
"Kakak Xu Qing... apakah ini mimpi...?" gumamnya dengan ekspresi bingung. Wujud jiwanya tampak sangat lemah. Jelas sekali, ia telah terpisah dari tubuh fisiknya terlalu lama.
"Jangan takut, Ling'er," ucap Xu Qing lembut. "Aku akan membawamu pulang."
Membawanya ke dalam dekapannya, Xu Qing mundur dengan kecepatan penuh. Pada saat yang sama, ia menghancurkan jimat giok yang diberikan oleh pemilik penginapan tua itu.
Di luar dunia utama Kaisar Roh Kuno, di wilayah Roh Kayu di Kabupaten Penyegel Laut, sang pemilik penginapan telah cemas menunggu selama berhari-hari di altar di atas Jurang Roh. Saat Xu Qing menghancurkan jimat giok itu, sang pemilik penginapan bergetar.
Wajahnya yang kusam dan berkerut gemetar ketika kekuatan harapan melonjak di dalam dirinya. Matanya yang merah menyala terbuka, memancarkan bentukan cahaya yang belum pernah ada sebelumnya. Tanpa ragu-ragu, ia melakukan gerakan mantra. Sebuah getaran melintasi tubuhnya, dan detak jantungnya meningkat. Saat darahnya memompa, kekuatan penyegel garis keturunan meledak dari dalam dirinya.
Energi roh dari para Roh Kayu mengalir keluar dari altar, dan akar-akar dari pohon besar di cekungan di atas terulur ke bawah menuju sang pemilik penginapan. Pemilik penginapan itu bergetar dari ujung rambut hingga ujung kaki saat pembuluh darahnya membengkak. Kemudian dahinya terbelah, dan sekumpulan tentakel yang menggeliat merayap keluar! Darah menciprat dari tentakel-tentakel itu, berkumpul di depan pemilik penginapan untuk menciptakan bola darah selebar sembilan meter yang menggeliat di hadapannya.
"Buka!"
Bola darah itu mulai berputar semakin cepat, mengunci lokasi jimat giok tersebut. Kemudian sebuah celah kecil terbuka! Itu adalah sambungan ke tempat jimat giok itu dihancurkan.
Saat energi kematian yang tak terbatas meletus dari celah itu, sang pemilik penginapan dengan penuh semangat melihat ke dalam. Hal pertama yang ia lihat adalah Xu Qing yang sedang menggendong Ling'er dalam dekapannya!
Celah itu tidak stabil dan hanya akan terbuka sebentar sebelum menutup kembali.
Di sisi lain celah itu, tempat Xu Qing berada, kubah surga bergetar saat Kaisar Roh Kuno bersiap untuk membuka matanya.
Di atas gunung daging, ekspresi Xu Qing berkedut. Ia bisa merasakan bahwa kekuatan dewa yang menakutkan akan segera muncul, sesuatu yang melampaui segala sesuatu dari sebelumnya. Segala sesuatu di sekitarnya menjadi kabur dan terdistorsi seiring kekuatan penghancur dari Kaisar Roh Kuno yang mulai terbangun. Fluktuasi kebangkitan menyebar ke segala penjuru. Jiwa-jiwa jahat dan para zombi bersujud. Xu Qing merasakan sakit yang tak terbayangkan, tetapi ia tetap melawan dengan kekuatan bulan lembayung.
Semua itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat, secepat kilcatan bunga api dari batu api. Saat Xu Qing bergetar, ia mundur, mendekati celah yang dibuka oleh pemilik penginapan. Ketidakstabilan celah itu tampaknya semakin parah, memperjelas bahwa seluruh jalan keluar itu bisa lenyap kapan saja.
"Ling'er!!" teriak pemilik penginapan itu.
Tidak ada waktu untuk merenungkan situasi tersebut. Xu Qing segera memasukkan jiwa Ling'er yang tidak sadarkan diri ke dalam celah itu. Kemudian ia berbalik dan berdiri melindungi, memastikan bahwa kekuatan luar biasa dari Kaisar Roh Kuno tidak memengaruhinya. Suara gemuruh bergema saat sensasi robekan dan koyakan di dalam dirinya semakin intens. Luka-luka terbuka di seluruh tubuhnya, mengotori jubahnya. Namun ia tetap berdiri di sana.
Di belakangnya, tangan pemilik penginapan mencengkeram jiwa Ling'er. Ia juga tampak mencoba meraih Xu Qing, tetapi gerakannya tidak cukup cepat. Ia tidak punya pilihan selain menarik kembali tangannya saat celah itu terkatup rapat dan runtuh.
Xu Qing tersenyum. Itu adalah senyuman pertama yang muncul di wajahnya yang pucat pasi sejak memasuki dunia utama kematian ini. Ia sudah tahu sejak awal bahwa celah itu terlalu kecil untuk ia masuki. Ia tidak peduli. Ia telah berhasil. Ia telah melihat jiwa Ling'er pergi dengan selamat.
Dan sekarang, retakan di kubah surga telah terbuka sepenuhnya!
Ia melihat sebuah mata kuning yang luar biasa besar dengan pupil vertikal, menatap ke arahnya.
Gerombolan zombi dan arwah penasaran yang tak berkesudahan meraung dengan liar pada hal yang sama.
"Kaisar!"
Suara mereka begitu memekakkan telinga.
Bukan hanya mereka. Naga-naga di awan, ular-ular di dalam tanah, entitas-entitas menakutkan di Sungai Dunia Bawah, serta pasukan kereta perang dan prajurit, semuanya meneriakkan hal yang sama..
"Kaisar!!"
Mata di atas tampak sepenuhnya acuh tak acuh terhadap segala sesuatu. Di sekeliling pupil vertikal tersebut terdapat api hitam, dan kekuatan dewa yang memenuhi dunia utama.
Xu Qing langsung kehilangan kendali atas luka-lukanya, dan darah meledak dari tubuhnya. Kekuatan Kaisar Roh Kuno membuat semua luka menjadi jauh lebih parah. Itu adalah salah satu efek dari menghadapinya. Dalam sekejap mata, kekuatan aneh itu akan mengubah luka ringan menjadi luka parah. Dan sensasi robekan itu terus menumpuk pada dirinya sendiri.
Hanya bisa dibayangkan betapa menakutkannya Kaisar Roh Kuno di masa jayanya. Musuh mana pun yang menghadapinya akan mengalami masa-masa yang sangat sulit, karena bahkan luka sekecil apa pun akan dengan cepat menjadi sangat mematikan.
Saat Xu Qing menahan robekan dan kehancuran itu, potongan-potongan daging terkelupas dari tubuhnya, namun ia tetap mengangkat tinggi-tinggi kekuatan bulan lembayung. Gelombang rasa sakit menyerangnya, dan sensasi luka-lukanya yang semakin parah membuatnya bergetar. Tapi ia bertahan teguh. Ia mendongak dan membalas tatapan Kaisar Roh Kuno!
Untuk sesaat, informasi tak terbatas membanjiri pikiran Xu Qing. Sebuah banjir. Sebuah ledakan. Itu adalah potongan-potongan informasi yang terpecah-pecah. Informasi itu mengandung kekejaman dan kegilaan yang membuat Xu Qing merasa kepalanya akan meledak. Dan ada tekad menakutkan yang menyapu dirinya, mengguncang lautan kesadarannya, menghancurkan jiwanya. Kekuatan racun tabu melawan balik.
Naga biru-hijau miliknya melolong saat bangkit dari istana surgawi keenamnya untuk melawan. Ketika itu terjadi, tekad yang sangat kuat tersebut bergetar, seolah mengenali dao surgawi pada naga biru-hijau itu.
Sebuah tekad ilahi yang menggelegar kemudian berbicara dengan dingin di dalam pikiran Xu Qing.
"Kau memegang sumber dewa Ibu Merah. Kau pasti telah mencurinya."
Mata Xu Qing sangat merah hingga mulai berdarah. Saat darah menetes ke dagunya, ia mendongak ke arah mata raksasa itu dan menggeram, "Lalu kenapa kalau memang aku mencurinya?"
Cahaya lembayung meledak dari tangan Xu Qing, dan istana surgawi keempatnya bergetar hebat. Bulan lembayung di kubah surga berkilau dengan cahaya bulan, dan di sepanjang tepiannya... warna itu berubah menjadi merah.
Kemerahan itu terus meluas. Sepertinya ada sesuatu berwarna darah di balik bulan lembayung, di luar dunia, tetapi perlahan-lahan menyelimutinya.
"Pilih antara kau biarkan aku pergi, atau kita mati bersama!" ucap Xu Qing, mengucapkan setiap kata dengan perlahan dan jelas.
Xu Qing telah menyerap banyak informasi saat berhadapan dengan mata besar ini. Meskipun hampir membuat kepalanya meledak, ia telah mempelajari beberapa hal. Para dewa bisa saling melahap. Jika bulan merah itu datang, mengingat kondisi Kaisar Roh Kuno saat ini, ia pasti tidak akan lebih dari sekadar makanan. Hal itu membuat Xu Qing yakin bahwa ancamannya akan efektif.
Ia telah mencapai titik di mana ia tidak sanggup bertahan lebih lama lagi. Rasa sakit yang membelah tubuhnya, dan potongan-potongan informasi acak yang memenuhi pikirannya, membuat dunia berputar. Jika bukan karena ketegangan yang tercipta dari panggilan bulan lembayung, ia pasti sudah hancur jiwa dan raganya.
Namun, saat mata besar itu menatapnya dengan intensitas penuh, Xu Qing menguatkan hatinya. "Bulan merah, bulan merah...."
Saat suaranya bergema, bintik-bintik merah memenuhi kubah surga. Mereka mulai membentuk suatu wujud. Semakin banyak yang muncul, menyebar, dan saling terhubung.
Xu Qing mengambil inisiatif untuk memanggil bulan merah! Di masa lalu, hal itu terjadi secara pasif. Tapi kali ini situasinya benar-benar berbeda.
Langit berubah menjadi merah.
Pupil mata yang besar itu mengerut, dan suara napas yang terengah-engah terdengar. Yang lebih mengerikan lagi, bagaimanapun, adalah teriakan emosional yang menyusul setelahnya.
"Enyah!"
Chapter 472 · 6m baca
Don’t Be Scared, Ling’er. I’m Taking You Home
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter