Gunung Penekan-Dao Tiga-Roh memiliki kemiripan dengan Koalisi Delapan Sekte dalam hal lokasinya yang berada di sebelah selatan Prefektur Penerima-Kaisar, berdekatan dengan Pegunungan Penyelamatan Arbiter Agung. Pegunungan-pegunungan itu sangat masif dan dipenuhi dengan energi wabah. Ada berbagai macam kelompok jahat dan keji di sana, dan tentu saja, gerombolan makhluk mengerikan tak ada habisnya. Dalam beberapa hal, tempat itu hampir sama seperti wilayah terlarang.
Jajaran pegunungan tersebut membelah bagian selatan Prefektur Penerima-Kaisar menjadi dua bagian. Satu bagian hampir menyerupai surga, atau setidaknya, tempat di mana gelak tawa masih terdengar. Bagian lainnya bagaikan neraka, di mana tangisan adalah sebuah kemewahan, dan rasa kebas adalah hal yang paling lumrah.
Bagian yang lain itu dikendalikan oleh Gunung Penekan-Dao Tiga-Roh, dan merupakan tempat paling kejam di dunia fana selain tanah-tanah terlarang. Luasnya hampir setengah dari seluruh daratan Benua Phoenix Selatan, dan dipenuhi oleh 137 bangsa dari ras manusia maupun nonmanusia.
Entah siang atau malam, ke-137 bangsa itu hampir sepenuhnya diselimuti keheningan. Bukan karena tempat itu tak berpenghuni, melainkan karena orang-orang di sana hidup dalam siksaan tiada akhir, ibarat hewan ternak yang menunggu untuk disembelih dan dimakan. Dan makanan tidak memiliki hak untuk berbicara. Itulah mengapa para penghuni di ke-137 bangsa tersebut tidak pernah bersuara, dan satu-satunya suara yang mereka keluarkan hanyalah jeritan kesakitan.
Langit di sana pun sunyi. Saat itu adalah malam hari, dan awan tebal menghalangi cahaya bulan.
Tengkorak-tengkorak berserakan di mana-mana, dan sumsum mereka dijadikan bahan bakar untuk api dunia bawah yang menjadi satu-satunya sumber cahaya. Tengkorak-tengkorak itu sudah bersih dari daging; wujudnya murni tulang belulang. Sebagian jelas telah berada di sana sejak lama, sementara yang lain baru saja dilemparkan ke dalam tumpukan.
Tumpukan seperti itu ada di mana-mana, dan ukurannya sangat besar hingga hampir menyerupai gunung. Tumpukan-tumpukan itu dapat ditemukan kira-kira setiap 250 kilometer. Bisa dibayangkan betapa tak terhitungnya manusia fana yang telah mati selama bertahun-tahun demi membentuk gunung-gunung tulang tersebut. Karena kematian yang begitu masif, aura kematian di tempat ini sangatlah pekat. Tanah ternoda oleh darah, menampilkan warna ungu gelap yang tampak sangat mengerikan. Bau busuk memenuhi udara yang akan membuat kebanyakan orang biasa muntah hingga tidak ada lagi yang tersisa untuk dimuntahkan selain cairan empedu.
Pohon-pohon berwarna merah akibat menyerap darah di dalam tanah. Penampilan mereka sangat mengerikan, dan sebagian besar ditusuki mayat-mayat tanpa busana yang telah mengering. Mayat-mayat itu berayun ditiup angin, bagaikan daging yang digantung di atap toko jagal. Jika diperhatikan dari dekat, tampak jelas bahwa mayat-mayat tersebut telah dilumuri dengan zat yang merangsang aura mereka. Aura itu kemudian menarik burung-burung ganas dan makhluk mengerikan untuk diburu dan dibunuh.
Selain pepohonan, terdapat pula danau-danau darah. Danau-danau semacam itu mendidih dan bergejolak, dan setiap murid Gunung Penekan-Dao Tiga-Roh yang lewat akan meminum darinya dengan ekspresi yang sangat puas.
Saat kapal dharma melintasi udara, Xu Qing diam-diam memperhatikan pemandangan di bawah. Sang Kapten tampak sama terirtupnya, dan bahkan Yanyan, yang sebenarnya memiliki sisi kegelapan yang cukup pekat, dibuat benar-benar terpana.
Pada kesempatan sebelumnya, Xu Qing dan Sang Kapten pernah berpapasan dengan kelompok bernama Tiga Roh Minor, namun jika dibandingkan dengan tempat ini, kelompok itu seolah tidak layak menggunakan kata ‘minor’ untuk mendeskripsikan diri mereka. Tidak ada apa pun yang bisa menandingi tempat ini.
"Orang-orang membicarakan 137 bangsa di sini," ucap Sang Kapten, "tetapi kenyataannya, jumlahnya bahkan tidak sampai seratus sekarang. Dan itulah sebabnya Gunung Penekan-Dao Tiga-Roh lebih sering keluar perbatasan akhir-akhir ini untuk menangkap bangsa-bangsa kecil. Angka 137 memiliki makna khusus bagi Tiga Roh, itulah sebabnya mereka biasanya berusaha mengganti setiap bangsa yang hilang dengan yang baru."
"Mengingat tingkat kultivasi Tiga Roh yang begitu tinggi," kata Yanyan, "untuk apa mereka perlu mengonsumsi daging dan darah dari ras fana? Rasanya hal itu tidak akan memberikan manfaat apa pun bagi mereka."
"Tiga Roh adalah manifestasi dari tiga jiwa spiritual Kaisar Hantu Tor Selatan," ujar Xu Qing. Ia lantas menyampaikan kepada Sang Kapten dan Yanyan segala hal yang telah dijelaskan oleh Gurunya. Pada saat yang sama, ia mencatat dalam hatinya bahwa gunung Kaisar Hantu di dalam lautan kesadarannya tampak berbeda dari sebelumnya. Rasanya seolah-olah makhluk itu menjadi lebih hidup setelah memasuki tempat ini. Hal itu memicu rasa penasaran Xu Qing, dan ia pun mulai memiliki beberapa teori tentang alasan di balik kejadian tersebut.
Sang Kapten mendengarkan penjelasannya lalu mengangguk. "Masuk akal. 137 bangsa. 1 tubuh. 3 jiwa spiritual. 7 jiwa jasmani. Semuanya sesuai dengan aturan tertentu yang mereka patuhi."
Saat Xu Qing merasakan perubahan pada gunung Kaisar Hantu di dalam dirinya, ia menunduk menatap sebuah danau darah dan memerhatikan para murid Gunung Penekan-Dao Tiga-Roh yang sedang meminum airnya. "Berdasarkan apa yang Guru katakan, setelah Kaisar Hantu gugur, ia memberikan nutrisi kepada Prefektur Penerima-Kaisar. Bukankah itu berarti semua penduduk lokal memiliki sebagian darahnya di dalam diri mereka? Jika ya, maka wajar saja jika Tiga Roh melahap orang-orang…. Itu pada dasarnya adalah cara bagi mereka untuk menjadi lebih kuat."
"Tepat sekali," kata Sang Kapten dengan mata yang berkilat-kilat. "Kemungkinan besar memang seperti itu. Kendati demikian, kita tidak tahu secara pasti, dan kupikir kita tidak perlu terlalu memaksakan diri untuk mencari detail lebih lanjut."
Kapal dharma meluncur melewati danau darah itu dalam keheningan. Meskipun itu adalah kapal yang masif, para murid di bawah tidak menyadari keberadaannya. Setibanya di wilayah Gunung Penekan-Dao Tiga-Roh, Sang Kapten telah mengeluarkan sebuah benda yang mampu menyamarkan kapal dharma tersebut secara sempurna.
Xu Qing kembali melirik para murid di bawah, lalu mengurungkan niat apa pun untuk menangkap beberapa dari mereka guna dijadikan objek penelitian. Hal terpenting saat ini adalah tetap tidak terlihat, sehingga tidak ada gunanya terganggu oleh hal-hal yang dapat membongkar keberadaan mereka.
Setengah bulan berlalu begitu saja.
Selama rentang waktu tersebut, kapal dharma semakin mendekati pusat markas wilayah Gunung Penekan-Dao Tiga-Roh. Mereka menyaksikan semakin banyak kebrutalan, dan juga mendapati cukup banyak bangsa yang telah dikosongkan sepenuhnya. Tempat-tempat semacam itu adalah kota kematian, dipenuhi kegelapan serta makhluk-makhluk mengerikan yang berkeliaran. Sungguh tempat yang mengenaskan. Kendati demikian, Xu Qing dapat merasakan bahwa gunung Kaisar Hantu di lautan kesadarannya tumbuh semakin nyata dan berwujud. Faktanya, tempat itu juga mulai memancarkan cahaya berpendar, yang membuat Xu Qing menjadi lebih berhati-hati dalam menghadapinya.
Setelah tiga hari berikutnya berlalu, Xu Qing dan Sang Kapten sepakat bahwa mereka tidak boleh maju lebih jauh menggunakan kapal dharma. Ukurannya terlalu besar, dan bahkan dengan alat penyamar Sang Kapten, mereka tidak yakin kapal itu bisa melangkah lebih jauh tanpa ketahuan.
Yanyan bersikap sangat patuh selama perjalanan ini. Apa yang ia saksikan di daratan bawah membuatnya menjadi pendiam dan lebih tertutup. Energi gelap di dalam dirinya memang lebih kuat, namun ia bukanlah orang yang sepenuhnya jahat. Sesekali, Xu Qing menangkap jejak empati dan kemarahan di dalam matanya.
Xu Qing menyimpan kapal dharmanya dan mereka bertiga turun ke tanah. Pada saat itulah Sang Kapten mengeluarkan segenggam perangkat magis.
"Aku sudah lama bersiap untuk mengambil kembali pakaian berharganya," ucapnya. "Dan karena itulah aku mengumpulkan semua benda ini, yang bisa kita gunakan untuk menyembunyikan diri serta aura kita. Jika satu tidak cukup, gunakan lima! Jika lima tidak mempan, gunakan sepuluh!" Sambil berkata demikian, ia membagikan benda-benda itu kepada dirinya sendiri, Xu Qing, dan Yanyan.
Setelah mengaktifkannya, mereka bertiga mempercepat langkah, menyusuri lebih dalam ke wilayah Gunung Penekan-Dao Tiga-Roh.
Mereka tidak berhenti di sepanjang perjalanan. Setengah bulan lainnya berlalu. Saat itulah mereka melihat sebuah gunung besar di kejauhan, segelap malam, dengan tiga puncak menjulang yang menembus awan. Ketiga puncak itu tampak tak bertepi, begitu megah hingga sanggup mengguncang kubah surga. Siapa pun yang memandangnya akan merasakan guncangan hebat di lubuk hati mereka, baik karena keagungan gunung tersebut maupun karena para kultivator kuat yang bersemayam di sana. Rasanya seolah-olah puncak-puncak gunung itu memuat roh-roh yang membuat orang secara naluriah bersujud dan memberikan penghormatan.
Xu Qing, Sang Kapten, dan Yanyan langsung menghentikan langkah begitu melihat gunung tersebut.
Gunung gelap raksasa dengan tiga puncaknya itu tidak lain dan tidak bukan adalah Gunung Penekan-Dao Tiga-Roh! Di atas puncak berawan dari masing-masing gunung terdapat sebuah bayangan ilusi masif yang menyerupai corong penyerap kabut gelap dari kubah surga. Di dalam kabut itu, samar-samar terlihat tiga singgasana berukuran luar biasa besar.
Di atas gunung ketiga terdapat singgasana yang terbuat dari kristal. Singgasana itu tampak sangat mewah dan berkilauan, dan di atasnya duduk seorang wanita berwajah sangat cantik. Ukurannya raksasa, namun pada saat yang sama, bentuk tubuhnya sangat proporsional. Ia sangat memesona, dan tatapan matanya begitu menggoda sehingga setiap pria yang melihatnya akan merasakan gejolak hasrat di dalam dada. Bahkan, siapa pun yang menatapnya cukup lama akan jatuh ke dalam cengkeraman pesonanya secara total. Wanita ini adalah sosok yang sama yang sebelumnya pernah dilihat oleh Xu Qing dan Sang Kapten.
Dia adalah jiwa manusia dari sang Kaisar Hantu, Roh Agung Nethersprite.
Sambil duduk di singgasana itu, ia memegang sebuah cermin yang digunakannya untuk mengagumi kecantikannya sendiri. Sesekali, ia melambaikan tangannya, dan tak terhitung banyaknya manusia fana yang menjerit-jerit beterbangan mengitari udara di sekitarnya. Ia tampak menganggap mereka sebagai camilan lezat. Satu per satu, ia mencengkeram mereka dengan jemarinya lalu memasukkan mereka ke dalam mulutnya. Ia mengunyahnya, lalu menelannya. Seiring perbuatan itu, kulitnya menjadi semakin cerah dan tampak lebih menawan.
Singgasana kedua bahkan jauh lebih mengerikan. Singgasana tersebut dibangun dari tulang-tulang makhluk buas berwarna hitam pekat, menyerupai sebuah tengkorak raksasa. Tempat itu dikelilingi oleh roh-roh penasaran yang tak terhitung jumlahnya, semuanya meratap dalam penderitaan. Duduk di atas singgasana tersebut adalah seorang kultivator bertubuh masif. Badannya sangat besar, namun juga sangat kurus kering, hampir menyerupai kerangka. Ia tidak memiliki rambut. Satu-satunya bagian dari dirinya yang tidak bertulang adalah punggungnya, yang bungkuk dan tampak bagaikan sebuah gunung kecil.
‘Gunung’ kecil itu sebenarnya adalah sejenis pertumbuhan kanker, tertutup oleh urat-urat berwarna hijau-merah yang tampak mengerikan. Pertumbuhan itu seolah telah menyerap seluruh daging dan darah lain dari tubuhnya. Benda itu berdenyut secara berirama, memancarkan suara bagaikan tabuhan gendang perang. Pertumbuhan tersebut tampak membebaninya dengan berat, membuatnya tersengal-sengal kehabisan napas. Setiap beberapa saat, ia akan membuka mulutnya, dan sebuah pusaran air akan muncul di dekatnya, mengeluarkan ratusan makhluk hidup yang beterbangan keluar. Mereka meluncur masuk ke dalam mulutnya, lalu dikunyahnya.
Karena terlalu banyak menelan dalam sekali gigitan, darah mengalir menetes di dagunya. Namun hal itu justru membuatnya tampak semakin kejam. Kultivator bertubuh kerangka di gunung kedua ini adalah anggota peringkat kedua dari Tiga Roh.
Dia adalah jiwa duniawi, Roh Agung Sunslaughter!
Kedua bayangan itu sungguh mengejutkan bagi Xu Qing, Sang Kapten, dan Yanyan. Namun, ketiganya hampir tidak bisa dibandingkan dengan gunung pertama!
Singgasana di gunung pertama sulit untuk dilihat dengan jelas. Namun, wujudnya tetap saja mengerikan luar biasa. Faktanya, gunung kedua dan ketiga bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan itu. Hanya gunung inilah yang layak disebut sebagai lambang kebrutalan sejati! Itu karena roh di gunung ini adalah manifestasi dari jiwa terkuat di antara semuanya, yaitu jiwa surgawi!
Roh Agung Sporelight!
Chapter 329 · 7m baca
Three Spiritual Souls, Seven Physical Souls
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter