“J-juga… j-racun?” gumam Boneblade terbata-bata dengan mata terbelalak penuh keputusasaan. Dia tampak ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi sebelum sempat melakukannya, ia jatuh pingsan.
Saat itulah Kabut Kebingungan menyelimuti mereka, menutupi area tersebut dan menelan Xu Qing sekaligus Boneblade.
Empat jam kemudian, di sebuah persimpangan di tepi hutan, Boneblade membuka matanya. Seluruh tubuhnya terasa sakit, namun hal pertama yang ia lakukan saat sadar adalah bangkit berdiri dengan gugup.
Tidak ada bahaya di sekitarnya, dan ia tidak melihat Xu Qing. Ia menghela napas lega. Lalu ia meraba wajahnya dan mendapati pembengkakannya sudah kempes. Rasanya ia sudah tidak diracuni lagi.
“Aku belum mati?” gumamnya, jantungnya berdegup kencang menyadari bahwa ia berhasil keluar hidup-hidup dari situasi yang tadinya tampak mustahil. Kemudian ia melihat sebilah slip bambu tergeletak di sisi jalan dengan beberapa tulisan di atasnya.
“Asuransi kedaluwarsa.”
Perasaan campur aduk memenuhi hati Boneblade saat membaca kata-kata tersebut, termasuk rasa malu atas trik yang coba ia lakukan sebelumnya. Akhirnya ia menghela napas, menangkupkan kedua tangan, dan membungkuk dalam-dalam ke arah hutan.
“Terima kasih.”
Membalikkan badan, ia melihat ada dua jalur di hadapannya. Jalur di sebelah kanan mengarah langsung kembali ke tempat perkemahan. Di sebelah kiri terdapat jalan yang pada akhirnya akan menuju ke Kota Pinus Tertawa (Laughing Pines).
Mengingat tidak ada siapa pun di sekitar, ia berdiri di sana, berpikir.
Pemilik perkemahan berasal dari Sekte Prajurit Vajra Emas, dan mereka mengendalikan semua kota di sekitar sini. Bahkan jika aku pergi ke Pinus Tertawa, aku ragu bisa lolos dari murka si pemilik perkemahan, terutama mengingat tim yang dikirimnya untuk memburuku sudah tewas.
Boneblade berjuang membuat keputusan. Cara paling mudah untuk tetap hidup adalah kembali ke perkemahan dan melimpahkan seluruh kesalahan kepada Bocah itu. Ia bisa menjelaskan bahwa Bocahlah yang membunuh para anak buah pemilik perkemahan, dan bahwa ia sama sekali tidak terlibat. Gagasan itu menusuk nuraninya, karena Bocah itulah yang telah menyelamatkannya. Namun setelah berpikir sejenak, ia mengambil keputusan.
Di dunia yang kacau ini, hal terpenting adalah terus bertahan hidup. Kau tidak bisa mengurus orang lain! Begitu sampai pada kesimpulan itu, ia menepis rasa bersalahnya dan mulai berlari kembali ke perkemahan.
Namun, begitu ia mulai bergerak, seberkas cahaya dingin melesat ke arahnya dengan kecepatan yang mengejutkan, dan dalam sekejap mata, menembus kepalanya. Dengan suara gedebuk, Boneblade jatuh ke tanah, matanya terbelalak, darah menggenang di sekelilingnya. Ia kejang-kejang beberapa kali, dan kemudian pandangannya tentang dunia berubah menjadi gelap. Dan itu akan tetap seperti itu selamanya.
Ia benar-benar mati.
Xu Qing berdiri di atas mayat tersebut, mengambil kembali tusukan besinya.
Ia sama sekali tidak tertarik berurusan dengan pemilik perkemahan itu. Dan karena ia memahami sifat manusia, ia tidak langsung meninggalkan tempat kejadian. Sebaliknya, ia menunggu untuk melihat apa yang akan diputuskan oleh Boneblade.
Jalur ke kiri mengarah pada kehidupan.
Jalur ke kanan mengarah pada kematian.
Boneblade telah memilih jalur ke kanan.
Dengan wajah tanpa ekspresi, Xu Qing menaburkan Bubuk Pemusnah Mayat pada jenazah Boneblade, lalu berbalik dan pergi dengan cepat.
Kabut Kebingungan masih menyelimuti hutan, namun itu bukanlah halangan bagi Xu Qing. Akhirnya ia tiba di jurang tempat laboratoriumnya berada. Begitu memasuki jurang itu, ia mendengar samar-samar tangisan serigala, tetapi ia mengabaikannya.
Pertama, ia memeriksa untuk memastikan jebakan-jebakan yang dipasangnya sebelum pergi terakhir kali belum terpicu. Kemudian ia mendorong pintu laboratorium dan melangkah masuk.
Bagian dalamnya tidak terlalu besar. Tidak ada tempat tidur untuk beristirahat, dan dinding-dindingnya dipenuhi oleh jajaran lemari kecil berisi berbagai tanaman obat dan kelenjar racun. Beberapa di antaranya sudah diproses untuk digunakan dalam ramuan. Yang lain masih utuh sepenuhnya. Secara keseluruhan, ada ratusan spesimen.
Xu Qing melihat sekeliling dan merasa sangat puas.
Ini adalah koleksi yang ia kumpulkan setelah mulai berguru pada Master Bai, dan sebagian besar merupakan hal-hal yang ia kumpulkan sendiri di wilayah terlarang.
Tanaman beracun mendominasi sebagian besar koleksinya, sementara hanya sebagian kecil yang berupa tanaman obat.
Xu Qing memeriksa semuanya, lalu duduk untuk berpikir.
Master Bai telah memberikan formula pil untuk bolus putih, tetapi itu disembunyikan di dalam materi ceramahnya. Xu Qing telah membuat catatan ekstensif, juga memiliki ingatan yang sangat tajam, dan telah menyusun informasi dari ceramah-ceramah spesifik itu. Namun… ia tidak memiliki semua tanaman obat yang dibutuhkannya untuk meracik pil tersebut.
Aku tidak punya cara untuk membuat pil itu, tapi aku mungkin bisa mengganti beberapa tanaman lain yang memiliki sifat serupa dengan tanaman yang tidak ku miliki.
Ia tidak tahu apakah itu akan berhasil, namun sekiranya gagal pun, ia akan belajar dari prosesnya. Begitu sampai pada kesimpulan itu, ia melambaikan tangannya, membuat tujuh atau delapan tanaman obat terbang keluar dari berbagai lemari dan mendarat di hadapannya.
Setelah memeriksanya lekat-lekat, ia berpikir sejenak, lalu berjalan menuju halaman kecil di belakang laboratorium. Halaman itu dipenuhi dengan bunga-bunga berwarna-warni yang tumbuh di mana-mana, serta sebidang tanah kecil tempat beberapa tanaman obat tumbuh. Tanaman-tanaman itu adalah jenis yang harus digunakan dalam jangka waktu tertentu setelah dipanen. Setelah mengubah halaman belakang ini menjadi kebun obat, ia memindahkan tanaman-tanaman itu ke sini.
Saat ia melangkah ke dalam kebun obat, ia mendengar lolongan serigala itu lagi, bahkan lebih jelas dari sebelumnya.
Ekspresi Xu Qing tetap sama seperti biasa saat ia memanen tiga tanaman dari kebun tersebut, lalu kembali ke dalam.
Di sana, ia mengeluarkan wadah batu, dan di dalamnya ia mulai menghancurkan berbagai bahan tersebut menjadi satu adukan.
Baik itu memetik daun, mengekstrak cairan, maupun memisahkan kelopak bunga, ia bekerja dengan tingkat presisi yang tinggi, memastikan tidak menambahkan terlalu banyak atau terlalu sedikit dari bahan apa pun. Lambat laun, cairan obat di dalam wadah itu berubah warna menjadi hitam pekat.
Aku kekurangan lima jenis tanaman obat….
Sambil memandangi lemari-lemari di sekelilingnya, ia mempertimbangkan masalah itu dengan cermat sebelum mengumpulkan bahan-bahan pengganti.
Menggunakan prinsip polaritas yin-yang, ia mencoba menciptakan sesuatu yang akan menghasilkan efek yang tepat, tetapi hal itu ternyata lebih sulit dari yang ia duga. Malam berlalu, dan pagi pun tiba sebelum ia akhirnya berhasil menghasilkan ramuan yang diinginkannya.
Melihat cairan hitam kental di dalam wadah batu itu, ia mengerutkan kening. Bentuknya sama sekali tidak mirip dengan perkiraannya tentang wujud ramuan bolus putih. Namun mengingat usaha yang telah ia curahkan sejauh ini, ia tidak akan menyerah begitu saja. Sambil mengatupkan rahangnya, ia mengeluarkan beberapa semanggi berdaun tujuh dan menambahkannya ke dalam adukan tersebut.
Tak lama kemudian, cairan obat di dalam wadah itu mulai bergejolak, dan warnanya tampak akan berubah. Tapi setelah tiga embusan napas berlalu, cairan itu kembali tenang.
Dengan melihat lebih dekat, Xu Qing menyadari bahwa cairan itu tidak lagi berwarna hitam, melainkan cokelat.
Xu Qing ragu-ragu. Sambil mengusap dadanya tempat kristal ungu bersemayam di dalam tubuhnya, ia memikirkan ketahanannya terhadap racun, dan akhirnya memutuskan bahwa dirinya tidak berada dalam bahaya. Dengan hati-hati ia meraih isi wadah tersebut, mengambil segenggam kecil ramuan itu dan menggelendungnya hingga berbentuk seperti pil. Kemudian ia mendekatkannya ke hidungnya dan menghirup aromanya.
Baunya sangat menjijikkan dan menyengat hingga ia tidak berani memakannya.
Apakah ini bahkan layak dimakan? Setelah ragu-ragu sejenak, ia membawa pil itu keluar ke kebun obat.
Sekali lagi lolongan serigala terdengar. Kali ini, Xu Qing berjalan melewati kebun obat dan langsung menuju ke sumber suara lolongan tersebut. Di balik kebun itu, di antara semak belukar yang ditumbuhi rumput liar, terdapat sebuah kandang besar yang terbuat dari besi, kayu, and jalinan akar. Di dalam kandang itu terdapat seekor serigala bersisik hitam yang kurus kering.
Begitu melihat Xu Qing, serigala itu bangkit berdiri dan memamerkan giginya. Namun, matanya memancarkan teror; jelas sekali bahwa ia takut pada Xu Qing.
Beberapa waktu lalu ketika Xu Qing sedang berada di hutan untuk memanen tanaman, serigala ini tiba-tiba menyerangnya tanpa alasan. Daripada membunuhnya, ia malah membawanya kembali ke sini untuk dijadikan hewan percobaan.
Saat melihat pil berwarna cokelat yang dipegang Xu Qing, serigala itu mulai gemetar, dan merayap menjauh darinya.
Itu tidak ada gunanya. Xu Qing mengulurkan tangan ke dalam kandang, mencengkeram leher serigala itu, dan menariknya mendekat.
Tidak ada ekspresi wajah yang terlihat pada diri Xu Qing saat ia menatap dingin pada serigala yang gemetar itu. Dengan menggunakan tangan satunya, ia mengambil pil yang baru saja diraciknya dan menempelkannya ke mulut serigala tersebut.
Serigala bersisik hitam itu bergetar tak terkendali. Menyadari bahwa maut tengah mengintai, serigala itu dengan patuh menelan pil tersebut.
Sesaat kemudian, asap hitam mulai membubuh dari tubuh serigala itu, lalu ia muntah. Pada saat yang sama, sebuah benjolan besar terbentuk di kepalanya, yang membesar dan terus membesar hingga meletus dengan suara keras. Kemudian serigala itu terkulai lemas di atas tanah, megap-megap mencari napas.
Xu Qing mengerutkan kening, melemparkan beberapa potong daging ke dalam kandang, lalu kembali ke laboratorium untuk merenung.
Kenapa tidak bekerja seperti yang diharapkan…? Sesuatu yang aneh terjadi ketika obat itu mulai bereaksi. Alih-alih menetralisir mutagen, obat itu justru menyebabkannya berkumpul lalu meledak.
Setelah memikirkan masalah tersebut, Xu Qing memutuskan bahwa hal itu mungkin terjadi karena ia tidak menyertakan agen penambah kemanjuran obat. Jika ia menambahkannya, obat itu mungkin akan menjadi lebih efektif.
Agen penambah kemanjuran. Bagaimana jika aku menggunakan racun ular dalam campurannya?
Ia melambaikan tangannya, dan tiga kelenjar racun yang berbeda muncul di hadapannya. Setelah dengan hati-hati mengekstrak racunnya, ia menambahkannya ke dalam campuran di dalam wadah batu tersebut, menyebabkan cairan itu mendesis dan meletup-letup, sementara asap hijau mengepul naik.
Melihat kepulan asap beracun itu, Xu Qing melambaikan tangannya untuk mengibaskannya ke luar. Kemudian ia meletakkan wadah batu itu di sisi ruangan untuk berfermentasi.
Sambil menunggu, Xu Qing duduk bersila untuk melakukan latihan pernapasan dan mengkultivasikan Mantra Laut dan Gunung.
Kemudian, saat senja mulai turun, Xu Qing memeriksa cairan obat tersebut. Mengambil segenggam lagi untuk dijadikan pil, ia kembali menghampiri serigala bersisik hitam itu.
Serangkaian suara letupan bergema, dan kemudian Xu Qing kembali ke laboratorium dengan wajah murung. Setelah duduk merenung sejenak, ia mengeluarkan sebuah bolus putih yang sudah jadi, melelehkannya, lalu mempelajari hasilnya.
Dengan cara seperti ini, enam hari berlalu begitu saja dalam sekejap.
Selama waktu itu, Xu Qing tidak memedulikan hal lain selain penelitiannya mengenai bolus putih. Ia telah menghabiskan sekitar setengah dari koleksi tanaman obatnya, dan kebunnya kosong melompong. Terlebih lagi, ia telah melakukan lebih dari sepuluh kali percobaan untuk menciptakan berbagai versi cairan bolus putih.
Adapun si serigala bersisik hitam….
Setelah mengonsumsi pil terbaru itu, mutagen di dalam tubuhnya mengalami lonjakan yang sangat cepat. Hal itu, pada gilirannya, menyebabkan kekuatan spiritual di area tersebut mengalir masuk ke tubuh serigala itu, membawa lebih banyak mutagen bersamanya. Akhirnya, serigala itu meledak menjadi gumpalan darah.
Untungnya, bayangan Xu Qing mampu menyerap mutagen, jika tidak, ledakan konvergensi yang terjadi akan membanjiri dirinya.
Melihat hasil akhir tersebut, Xu Qing merasa semakin berkecil hati. Kendati demikian, ia tahu bahwa bolus putih tidak mudah dibuat, dan hal itu terutama benar mengingat ia tidak memiliki semua bahan yang tepat.
Meskipun begitu, ia belajar banyak tentang cara meracik bahan-bahan obat. Setiap kali ia mencoba membuat versi baru dari ramuan tersebut, ia mempelajari hal baru. Terlebih lagi, versi akhir dari pil buatannya benar-benar memberikan suatu efek.
Sayangnya, efek yang ditimbulkannya justru berlawanan dengan apa yang dilakukan oleh bolus putih.
Bolus putih melenyapkan mutagen, tetapi pil buatan Xu Qing justru menarik mutagen.
Menunduk menatap wadah batu tersebut, ia melihat sebuah selaput tipis berwarna hijau yang tercipta akibat penambahan semanggi berdaun tujuh ke dalam campuran itu. Di bawah selaput itu terdapat cairan obat yang berwarna hitam pekat. Alasan adanya selaput tersebut adalah karena tanpa itu, cairan tersebut akan langsung menarik mutagen dan memicu konvergensi yang kuat.
Itulah yang telah membunuh serigala bersisik hitam tadi.
Xu Qing menghela napas dan memijat pangkal hidungnya. Memfokuskan diri pada fluktuasi basis kultivasinya, ia mencoba menyingkirkan segala perasaan gagal.
Ia memang belum berhasil membuat pil obat tersebut, tetapi ia telah mengalami sedikit peningkatan dalam basis kultivasinya. Saat ini, ia berada di puncak tingkat kelima Mantra Laut dan Gunung.
Aku seharusnya bisa mencapai tingkat keenam malam ini.
Sambil menarik napas dalam-dalam, ia berhenti memikirkan pil obat dan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mencapai terobosan kultivasi. Di dunia yang kacau tempat ia tinggal ini, setiap tambahan tingkat kekuatan akan menghasilkan peluang bertahan hidup yang lebih besar.
Malam itu, ketika bulan menggantung tinggi di langit, suara gemuruh bergema dari dalam diri Xu Qing.
Suara-suara ini jauh lebih keras daripada apa pun sebelumnya. Dan terlepas dari kenyataan bahwa ia mengira sudah tidak ada lagi kotoran di dalam tubuhnya yang perlu dikeluarkan, begitu ia mencapai titik terobosan, sejumlah besar kotoran dan racun melimpah keluar dari dalam dirinya.
Sebuah kejernihan yang belum pernah terjadi sebelumnya menyapu dirinya, dan kemudian suara deru bergema dari belakangnya.
Di masa lalu, hantaman tinjunya menyebabkan bayangan spektral sesosok goblin muncul. Kali ini, bayangan serupa muncul di belakangnya, kecuali dengan wujud yang lebih besar dan lebih garang. Dan alih-alih hanya memiliki satu kaki, ia memiliki dua kaki.
Terlebih lagi, kali ini… goblin spektral itu bahkan memiliki sebuah tanduk!!
Secara tegas, wujud itu sebenarnya bukan lagi goblin, melainkan seorang hobgoblin!
Lolongan hobgoblin itu menggema ke dalam malam, membuat raungan makhluk-makhluk mutan seketika terhenti.
Mata Xu Qing terbuka lebar, dan cahaya ungu memancar keluar ke dalam laboratorium, seolah-olah sekelebat petir ungu baru saja menyambar. Saat cahaya ungu itu menyebar, dan sang hobgoblin mengaum, Xu Qing duduk di sana dengan memancarkan aura yang sangat mengintimidasi.
Saat berikutnya, cahaya itu memudar, dan hobgoblin spektral pun menghilang.
Mantra Laut dan Gunung. Tingkat keenam!
Chapter 32 · 9m baca
Life to the Left, Death to the Right
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter