Akhirnya, seorang kultivator pilihan dari Koalisi Tujuh Sekte datang untuk menantang Puncak Ketujuh, yang sampai saat ini masih belum tersentuh.
Orang yang melakukannya adalah Huang Yikun dari Sekte Kesunyian Kelam! Ia mengenakan jubah ungu bergaris emas, dan saat cahaya bulan menyinarinya, ia tampak begitu mewah. Ekspresinya sombong sementara keempat lidah api kehidupannya menyala terang, seolah-olah ada seluruh dunia yang membara di dalam dirinya. Yang paling mencolok adalah sarung tangan merahnya yang membelokkan cahaya ke arahnya, membuat seolah-olah seluruh cahaya bulan di area itu tersedot ke tangannya. Semua itu membuatnya tampak sebagai sosok yang paling bermartarbat dan berwibawa di Puncak Ketujuh.
"Jadi ini Puncak Ketujuh yang menyedihkan itu? Memalukan."
Ia berjalan perlahan menaiki tangga, tampak seolah-olah ia hanya sedang berjalan-jalan di malam yang diterangi bulan. Kendati demikian, ia merasakan kejanggalan. Puncak Ketujuh terasa terlalu sunyi dan damai. Tidak ada pelita yang menerangi jalan, dan ia tidak mendeteksi keberadaan murid satu pun. Seolah-olah seluruh gunung itu kosong.
Situasi ini sangat berbeda dari jalannya tantangan di puncak-puncak gunung lainnya. Dari apa yang telah diberitahukan kepadanya, selalu ada banyak murid yang hadir untuk menyaksikan jalannya pertarungan. Ia telah mengirimkan surat tantangan resmi sebelumnya, dan menduga kerumunan orang akan muncul untuk menonton. Namun saat ini, tidak seorang pun terlihat.
"Mereka pasti pecundang payah yang tidak tahan dikalahkan di depan umum." Huang Yikun mencibir saat ia mencapai separuh jalan pendakian dan perlahan melepas sarung tangannya. Di situlah tempat tantangan pertamanya seharusnya dihadapi.
Yang Mulia Ketiga dari Puncak Ketujuh.
Huang Yikun telah merencanakan segalanya dengan matang. Ia akan mulai dengan Yang Mulia Ketiga, lalu beralih ke Yang Mulia Kedua, dan akhirnya mengakhiri pertarungan malam itu dengan Yang Mulia Utama.
Dan sekarang, pada akhirnya, ia melihat seseorang.
Itu adalah seorang pemuda di atas batu besar, bersandar pada dada seorang wanita cantik.
Ia mengenakan jubah Daois ungu dan mengenakan topi putih tinggi, yang di sulam dengan aksara 'terlarang'. Ia tampak kurus tidak sehat, seolah-olah energinya terkuras karena terlalu banyak menikmati anggur dan wanita. Dia tidak lain adalah Yang Mulia Ketiga, dikelilingi oleh segelintir pelayan wanita nonmanusia yang memijatinya, sementara terus-menerus menatapnya dengan genit dan mendesah pelan....
Begitu menyadari kehadiran Huang Yikun, Yang Mulia Ketiga mendongak; lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas saat ia tersenyum lebar. "Kau akhirnya datang juga. Aku sudah menunggu begitu lama!"
Huang Yikun menghentikan langkahnya dan menatap pria itu. Sesuatu benar-benar terasa tidak beres di sini, dan karena itu, tatapan penuh kewaspadaan yang ekstrim muncul di mata Huang Yikun. Ia baru sadar sekarang bahwa ia sama sekali tidak dapat menilai kekuatan Yang Mulia Ketiga. Aksara 'terlarang' di topinya tampak seperti tanda penyegelan, dan entah mengapa, hal itu membuat punggung Huang Yikun terasa dingin. Ia merasa seolah-olah sedang di tatap oleh seekor beludak. Dan tatapan itu memancarkan ancaman kematian yang mematikan. Biasanya ia hanya mendapatkan perasaan itu dari para pelindung Dharma, dan hal itu membuatnya kesulitan mengatur pernapasannya. Kemudian ia melirik para pelayan wanita, dan menyadari bahwa ia mengenali wanita yang dada-nya menjadi sandaran sang Yang Mulia Ketiga.
Matanya melebar. Gadis ini... adalah seorang kultivator terpilih dari Perkumpulan Abadi Hakim Agung! Dia adalah salah satu dari tiga orang yang datang berkunjung ke Tujuh Mata Darah baru-baru ini, dan dia memiliki basis kultivasi empat lidah api. Namun, dia tidak tampak angkuh dan dingin saat menatap Yang Mulia Ketiga. Sebaliknya, dia tampak manis dan bahkan memuja. [1]
Huang Yikun menarik napas tajam. Tiba-tiba ia merasa bahwa dirinya telah ceroboh dalam melayangkan tantangannya. Sambil melangkah mundur beberapa langkah, ia terkekeh hambar.
"Sebenarnya aku belum sepenuhnya siap malam ini. Mari kita batalkan duelnya. Aku akan undur diri sekarang."
Ia berbalik untuk pergi. Tapi kemudian, Yang Mulia Ketiga tiba-tiba lenyap dari tempatnya berbaring dan muncul tepat di hadapan Huang Yikun, lalu mencengkeram lengannya.
Kecepatan gerakannya begitu luar biasa hingga pupil mata Huang Yikun mengecil. Dan fakta bahwa pria itu telah mencengkeram lengannya membuat wajah Huang Yikun pucat pasi. Yang paling mengkhawatirkan adalah Huang Yikun tidak berdaya untuk melawan. Dibandingkan dengan orang ini, ia hanyalah seekor ayam kurus kering! Butir-butir keringat membasahi keningnya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" ucapnya. .
"Tenanglah," jawab Yang Mulia Ketiga sambil tersenyum. "Berapa banyak uang yang kau bawa?"
Rahang Huang Yikun jatuh ternganga.
Yang Mulia Ketiga menatapnya balik dengan alis yang menari-nari. "Kau orang yang cukup licik, ya? Baiklah, kalau begitu. Biar kujelaskan. Aku ragu kau bisa mengalahkanku dalam pertarungan. Tapi aku tahu kau telah bekerja keras di Sekte Kesunyian Kelam. Karena kita berada di pihak yang sama, kita seharusnya tidak saling menyulitkan. Oleh karena itu, mari kita bicarakan bisnis. Aku tidak berniat memerasmu. Tarif standarnya adalah 10.000.000 batu roh. Bayar jumlah itu, dan aku akan mengaku kalah. Jangan khawatir, aku akan membuatnya tampak sangat meyakinkan. Kau bisa pergi dan menceritakan kepada semua orang bahwa aku kalah darimu. Kau bahkan bisa merekam beberapa gambar sebagai bukti. Begitu saja, kau bebas pergi. Bagaimana?"
Mata Huang Yikun mendelik lebar, dan tanpa berpikir panjang, ia menggelengkan kepalanya.
Yang Mulia Ketiga tersenyum seolah-olah ia sedang berada di tengah-tengah negosiasi bisnis. Bahkan saat melihat Huang Yikun menggelengkan kepala, ia tetap tersenyum. Namun, kalimat yang diucapkannya selanjutnya membuat Huang Yikun terhuyung-huyung.
"Kau tidak setuju? Tidak masalah, kita masih bisa bernegosiasi. Jari-jarimu itu kelihatan bagus. Kau bisa membayar utangmu dengan salah satu dari jari-jari itu."
Sebelum Huang Yikun sempat meronta, suara retakan terdengar saat Yang Mulia Ketiga merobek salah satu jarinya....
Jeritan pilu meluncur dari mulut Huang Yikun. Kemudian, Yang Mulia Ketiga melambaikan tangannya, dan kekuatan dahsyat menghantam Huang Yikun, membuatnya terbang mundur hingga terbanting jatuh di atas tangga. Saat mendarat, darah menyembur dari mulutnya, dan wajahnya yang sepucat mayat dipenuhi rasa heran. Tepat saat ia hendak menoleh ke belakang, suara tawa Yang Mulia Ketiga mencapai telinganya.
"Kau menang. Sekarang, biarkan aku mengantarmu turun."
Sambil gemetar, Huang Yikun menundap menatap tangannya yang memesona. Alih-alih lima jari, ia kini memiliki empat; rasa malu yang luar biasa menyapu dirinya.
"Ini perampokan terang-terangan!!" gerutunya spontan. Ia begitu murka hingga penglihatannya berkunang-kunang. Dan ketika ia membayangkan bagaimana ia telah mencurahkan seumur hidup kerja keras dan sumber daya untuk kelima jari itu, hanya untuk kehilangan satu dalam sekejap, hatinya meneteskan darah figuratif. Kendati demikian... ia tidak berani meminta jarinya kembali. Yang Mulia Ketiga benar-benar terlalu mengerikan.
Mendidih karena amarah, ia hendak terbang menembus malam ketika ia teringat bahwa terbang dilarang di puncak-puncak gunung di Tujuh Mata Darah. Merasa sangat nelangsa dari sebelumnya, ia menyadari bahwa ia harus berjalan kaki sepanjang perjalanan turun. Ia sama sekali tidak berniat tinggal lebih lama lagi di Puncak Ketujuh....
Namun di tengah jalan, ia berpapasan dengan seseorang.
Duduk bersila di atas bangku batu adalah seorang wanita muda yang tinggi. Dia tidak hanya tinggi. Tubuhnya begitu atletis hingga otot-ototnya tampak bergelombang memancarkan kekuatan eksplosif. Bahkan mungkin untuk melihat pembuluh darah merayap di kulitnya. Menancap di tanah di sebelah wanita itu adalah sebuah pedang besar raksasa yang tampak mengerikan. Tingginya sekitar tiga meter dan lebarnya sepertiga meter. Berwarna hitam pekat, pedang itu memancarkan aura suram yang mengerikan. Inilah orang kedua yang telah dituliskan surat tantangan resmi oleh Huang Yikun. Yang Mulia Kedua dari Puncak Ketujuh.
Melihat wanita itu duduk di sana, jantung Huang Yikun berdegup kencang dan ia menghentikan langkahnya. Sesaat ia berhenti, Yang Mulia Kedua membuka matanya, menatapnya dengan dingin, lalu meledakkan gelombang energi dan darah yang menjulang tinggi hingga membentuk badai di sekelilingnya.
Tubuh fisiknya sudah setengah langkah menuju tingkat Inti Emas!!!? Saat angin menerpa dirinya, lubang Dharma di tubuhnya bergetar. Yang Mulia Kedua ini tampak luar biasa kejam. Huang Yikun ketakutan setengah mati. Bagaimana ini bisa terjadi? Apa dia bahkan manusia? Apakah ini kemampuan bawaan nonmanusia? Sesuatu seperti kultivasi tubuh? Aku bahkan tidak mengira seseorang bisa mencapai tingkat ini hanya dengan tubuh fisik. Ini bukan kekuatan lidah api. Dia tidak menutrisi tubuh fisiknya dengan lubang Dharma-nya. Ini murni penyempurnaan tubuh!! Aku bahkan belum pernah mendengar seseorang di Koalisi Tujuh Sekte melakukan hal seperti ini!
Huang Yikun menggigil saat Yang Mulia Kedua mendekat, dikelilingi oleh badai energi dan darah. Huang Yikun sudah tahu bahwa tidak mungkin ia bisa mengalahkannya dalam pertarungan.
"Tunggu sebentar, aku—"
Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, wanita itu sudah berada di hadapannya, pedang besarnya menebas udara.
Dentuman keras terdengar. Selewat waktu yang dibutuhkan sebatang dupa untuk membakar habis, Huang Yikun terbanting ke tanah di suatu tempat agak jauh, darah menyemburkan dari mulutnya, sekujur tubuhnya dipenuhi memar. Meskipun amarah membakar dadanya, ia tidak berani melakukan apa pun selain kabur menyelamatkan diri.
Tangan kanannya kehilangan satu jari lagi. Sekarang ia hanya memiliki tiga jari tersisa.
Di puncak Puncak Ketujuh, di dalam sebuah bangunan, dua sosok duduk saling berhadapan. Mereka adalah Guru Ketujuh dan pelayannya, yang keduanya menyaksikan peristiwa itu terungkap.
Beberapa saat kemudian, Guru Ketujuh menghela napas. "Seperti biasa, Saudara Ketiga hanya mencoba mencari uang. Dia bahkan rela merendahkan martabatnya hanya demi sebutir jari yang bodoh!
"Dan Saudara Kedua. Yah. Yang dia tahu hanyalah bertindak gegabah... Ai. Setidaknya dia beruntung. Bulan lalu dia mengirimiku pesan. Dia bilang dia berpapasan dengan salah satu kaum Burung Peng, seorang ahli tingkat Inti Emas yang mengkhususkan diri dalam kultivasi tubuh fisik. Makhluk itu sedang terbang ketika Phoenix Api kebetulan lewat dan menabraknya. Burung Peng itu jatuh dari langit, mati. Hasilnya, Saudara Kedua kebetulan mendapatkan inti emasnya dan menelannya sebelum meledak begitu saja. Dengan begitu, dia berhasil menerobos... Dia tidak curiga sama sekali, tapi biar kutanya padamu. Apakah kau curiga?"
Pelayan itu terkejut di dalam hati, namun tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Huang Yikun berlari dengan tergesa-gesa menuruni tangga, terbatuk-batuk mengeluarkan darah. Saat ia menatap ketiga jarinya yang tersisa dan tampak memesona, ia ingin menangis.
Seharusnya aku tidak mengeluarkan tantangan-tantangan itu. Orang-orang ini adalah penindas yang kejam! Tubuh fisik setengah langkah menuju Inti Emas? Bahkan di Koalisi Tujuh Sekte yang biadab tidak seorang pun akan berani menantang orang seperti itu. Aku sudah mengaku kalah, tapi dia tetap menghajarku!
Para petinggi Puncak Ketujuh ini semuanya adalah penjahat. Dan mereka sangat licik. Aku bahkan tidak bisa menilai beludak yang merupakan Yang Mulia Ketiga itu. Jika kau bilang dia berada di tingkat Inti Emas, aku akan percaya. Dan Yang Mulia Kedua itu benar-benar menakutkan. Masing-masing dari mereka merobek satu jariku!!!
Dipenuhi amarah, memar, dan rasa malu, Huang Yikun akhirnya mencapai kaki gunung. Ia baru saja hendak pergi ketika ia mendongak dan melihat seorang pemuda berdiri di jalur di hadapannya.
Pemuda itu mengenakan jubah abu-abu dan sedang memakan sebuah apel. Sambil melambaikan tangan, ia tersenyum. "Yikun! Sedang apa kau di sini? Oh, apa Saudara Kedua menghajarmu?"
"Siapa kau?" ucap Huang Yikun, menggigil saat ia menyadari bahwa orang di hadapannya ini tampak jauh lebih menakutkan daripada Yang Mulia Ketiga dan Kedua. Faktanya, ketika menatap matanya, ia hampir tidak tampak seperti manusia, melainkan seperti monster buas yang mengenakan kulit manusia sebagai pakaian.
Sang Kapten menatap Huang Yikun dengan terkejut. "Kau tidak mengenaliku? Aku berteman baik dengan kakakmu, Huang Lingfei. Apa dia tidak pernah menyebutku?"
Melihat betapa gugupnya Huang Yikun, Sang Kapten menghela napas. Memasang ekspresi di wajahnya yang menyiratkan keinginan untuk bergabung melawan musuh bersama, ia berkata, "Tenanglah. Kau dihajar oleh Saudara Kedua dan Saudara Ketiga, ya? Kedua orang itu memang di luar kendali."
Sang Kapten menggelengkan kepala dan mengeluarkan beberapa pil obat.
Huang Yikun dengan waspada menerimanya. Ia berniat untuk terus berjalan, namun di sisi lain, ia tidak berani. Ia sudah menebak siapa orang ini.
"Yang Mulia Utama?"
"Kau tidak harus memanggilku begitu," ucap Sang Kapten dengan senyuman cemerlang. "Itu terlalu formal. Panggil saja aku Kakak Sulung. Begini, aku sangat berbeda dari Saudara Kedua, Saudara Ketiga, dan satu orang lagi itu."
"Kakak Sulung..." gumam Huang Yikun dengan ragu-ragu.
"Itu lebih baik! Nah, jangan khawatir. Aku akan mengantarmu turun gunung. Ayo."
Sambil gemetar, Huang Yikun berkata, "Tidak, tidak apa-apa. Aku bisa turun sendir—"
"Oh, tentu saja. Aku tidak akan mengantarmu turun. Tapi, satu hal lagi. Pil obat yang baru saja kuberikan padamu itu mahal. Aku benci menjadi beban, Adik Junior, tapi bisakah kau memberiku salah satu jarimu sebagai kompensasi?"
Sang Kapten menjilat bibirnya, dan cahaya biru melintas di matanya. Di dalam pupil matanya samar-samar terlihat bayangan wajahnya, dengan mata terpejam, namun ekspresinya menunjukkan kelaparan yang tak terbandingkan.
Ketika Huang Yikun merasakan rasa lapar yang luar biasa yang memancar dari Sang Kapten, ia dipenuhi dorongan kuat untuk melarikan diri. Saat Sang Kapten melangkah maju, Huang Yikun melangkah mundur. Namun sebelum ia sempat mulai melarikan diri, penglihatannya berkunang-kunang, dan kemudian ia mendengar suara retakan. Kini ia memiliki dua jari alih-alih tiga.
Sang Kapten telah menggigit putus salah satu jarinya.
Rasa sakit itu memicu Huang Yikun menjerit kesakitan dan berlari sekuat tenaga menyelamatkan nyawanya.
Menyaksikan kepergiannya, Sang Kapten mengunyah jari berwarna ungu keemasan itu. Sambil tersenyum tipis, ia bergumam, "Anak itu sama sekali tidak menyenangkan. Jelas tidak seperti Ah Qing kecil kita."
Di puncak gunung, Guru Ketujuh menyaksikan semuanya terungkap, lalu mengangguk puas. "Dari semua muridku, Saudara Besarlah yang paling masuk akal."
Sang Kapten—eh, pelayan itu tidak yakin harus berkata apa. Bagian mana sebenarnya yang membuat Yang Mulia Utama tampak masuk akal...?
"Kendati demikian," lanjut Guru Ketujuh, "itu tidak sepenuhnya adil. Saudara Besar, Saudara Kedua, dan Saudara Ketiga semuanya mendapatkan jari. Tapi Saudara Keempat tidak mendapatkan apa-apa." Ia melambaikan tangannya.
Saat Huang Yikun yang ketakutan setengah mati berlari kabur dari Sang Kapten, angin liar tiba-tiba menyambarnya. Ketakutan luar biasa, ia tidak bisa berbuat apa-apa ketika tubuhnya terlempar ke arah Pelabuhan 176. Saat berikutnya, ia terbanting jatuh ke tanah tepat di depan pintu utama Divisi Kejahatan Kekerasan di sana. Saat kepalanya berputar dan penglihatannya berkunang-kunang, dan sebelum ia sempat menguasai keadaan, ia mendengar suara jernih dan renyah seorang wanita muda yang berbicara dengan nada penasaran.
"Siapa kau? Kenapa kau tiba-tiba melompat ke hadapanku? Apakah kau berniat menyergapku? Hph! Orang-orang yang menyusup selalu merencanakan hal buruk. Hancurkan dia, Si Bau!"
Tiba-tiba, pandangan Huang Yikun menjadi sangat jernih, dan gelombang ancaman berbahaya yang luar biasa memenuhi benaknya. Namun, ia tidak punya waktu untuk melarikan diri.
Sebuah tentakel besar muncul, didukung oleh kekuatan tingkat Inti Emas yang dapat menghancurkan rintangan apa pun. Saat tentakel itu melilit tubuhnya, aura Inti Emas tersebut memicu darah menyembur dari mulutnya, dan kemudian ia jatuh pingsan.
Di detik-detik terakhir kesadarannya, ia mendengar suara gadis muda itu berbicara di dekat telinganya.
"Lumayan. Lumayan sekali. Akan kuberikan orang ini kepada Kakak Besar Xu Qing untuk dijadikan bahan eksperimen."
1. Para kultivator dari Perkumpulan Abadi Hakim Agung muncul dalam...👈
Chapter 236 · 9m baca
The Loving Seventh Peak
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter