“Harta karun terlarang?” kata Xu Qing dengan ekspresi tertegun. Ia belum pernah mendengar istilah itu sebelumnya dan sama sekali tidak tahu apa maksudnya.
Setelah terjadi komunikasi lebih lanjut antara sang leluhur dan si bayangan, Xu Qing akhirnya mendapat gambaran bahwa harta karun terlarang adalah benda yang berada pada tingkat yang jauh lebih tinggi dibandingkan benda-benda magis biasa. Mengenai bagaimana si bayangan mengetahui hal ini, sang leluhur mengajukan serangkaian pertanyaan rumit, dan menyimpulkan bahwa si bayangan sendiri tidak yakin bagaimana ia bisa tahu. Pada saat yang sama, si bayangan terus memancarkan fluktuasi emosional yang kuat berupa kerinduan. Ia sangat berkeinginan untuk melahap benda tersebut.
Xu Qing memikirkannya sejenak, namun pada akhirnya, ia memutuskan untuk tidak menuruti permintaan si bayangan. Ia tidak akan melakukan hal itu kecuali jika ia benar-benar yakin dengan hasilnya. Bisa saja si bayangan berbalik menyerangnya selama proses itu berlangsung. Di bawah tatapan penuh keengganan dari si bayangan, ia pun menyimpan kotak kayu tersebut.
Setelah itu, ia menatap si bayangan dan berkata, “Jika kau bersikap baik, aku akan mempertimbangkan untuk memberikannya kepadamu nanti.”
Si bayangan memancarkan fluktuasi kegembiraan. Di sisi lain, sang leluhur merasa terguncang, dan menyadari bahwa ia harus lebih berhati-hati dalam menghadapi si bayangan. Ia juga harus mengambil langkah-langkah untuk memastikan si bayangan yang menjengkelkan itu tidak berhasil merebut hati Xu Qing.
Mengabaikan sang leluhur dan si bayangan, Xu Qing kembali memeriksa kantong penyimpanan Sima Ling. Namun, setelah meneliti semua barang serbapuna itu, ia tidak menemukan satu pun benda yang bernilai.
Akhirnya, ia beralih kembali ke lima pil obat tersebut. Setelah mencium aromanya sekali lagi, matanya dipenuhi tekad, lalu ia memasukkan salah satu pil ke dalam mulutnya. Pil itu meleleh, dan sebuah getaran langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia bisa merasakan kekuatan yang sangat besar dan liar berkumpul di dalam dirinya. Itu bukanlah kekuatan jiwa, melainkan kekuatan tingkat tinggi lain yang dirancang khusus untuk membuka titik akupunktur dharma. Saat kekuatan itu berkumpul, titik akupunktur dharma ke-84 miliknya yang belum terbuka bergolak jauh lebih hebat dari sebelumnya. Lalu, seketika itu juga, kekuatan liar tersebut melesat ke arah titik akupunktur dharma itu, dan titik tersebut pun terbuka.
Xu Qing bergidik, dan matanya berbinar gembira.
Satu pil saja ternyata benar-benar mampu membuka salah satu titik akupunktur dharma-ku!
Hasil ini jauh lebih unggul daripada pil jiwa yang ia beli di pasar gelap. Faktanya, selain pil jiwa tingkat tinggi milik Bai Li, inilah pil paling efektif yang pernah ia konsumsi. Tanpa ragu sedikit pun, ia menelan pil kedua. Sesaat kemudian, ia bergidik lagi.
Titik akupunktur dharma ke-85 miliknya telah terbuka!
“Yang kedua ternyata sama efektifnya!” gumamnya. Xu Qing dapat merasakan bahwa ini adalah pil-pil yang sangat berharga, dan hal itu juga memberikannya gambaran jelas tentang betapa kayanya para jagoan dari Koalisi Tujuh Sekte.
Masih ada tiga lagi.
Dengan mata yang berkilat-kilat, ia menelan pil ketiga. Tak lama kemudian, titik akupunktur dharma ke-86 miliknya terbuka. Tidak berhenti sampai di situ, ia menelan dua pil sisanya. Setelah waktu yang dibutuhkan sebatang dupa untuk habis terbakar, titik akupunktur dharma ke-88 miliknya terbuka. Kekuatan dharma miliknya kini mengalir di dalam tubuhnya bagaikan naga api, ganas dan membara.
Aku hanya perlu membuka dua titik akupunktur dharma lagi sebelum mendapatkan nyala api kehidupan ketiganya!
Matanya bersinar penuh antisipasi.
Selama beberapa hari berikutnya, ia mengumpulkan lebih banyak pil jiwa dari berbagai tempat di Tujuh Mata Darah, sebagai persiapan untuk mencapai terobosan dengan dua titik akupunktur dharma terakhir. Sayangnya, mendapatkan pil jiwa membutuhkan waktu, dan ia tidak bisa langsung mengumpulkan jumlah yang cukup.
Mengenai dua gumpalan daging yang memiliki keilahian, Xu Qing melakukan beberapa eksperimen dan memutuskan bahwa daging-daging itu tidak cukup bagus untuk digunakan secara pribadi, dan lebih baik digunakan pada perahu terbang dharma-nya.
Namun untuk saat ini, ia meninggalkan tempat tinggalnya dan pergi ke blok sel Divisi Kejahatan Kekerasan terdekat. Ada banyak tahanan dari Merpati Malam, dan meskipun sebagian besar dari mereka memiliki tingkat kultivasi yang lemah, jumlah mereka sangat banyak. Dengan begitu banyak subjek untuk dikerjakan, ia mungkin bisa membuka satu atau kedua titik akupunktur dharma tersebut. Selain itu, selama proses pemurnian jiwa, ia juga bisa membiasakan diri dengan sifat beracun dari pil racun terlarang. Ia juga bisa melihat apakah pil racun itu bisa diselaraskan dengan kumbang hitamnya. Itu adalah teka-teki baru, dan jika ia ingin membuat kemajuan, ia harus melakukan banyak eksperimen.
Dalam kesibukan itu, waktu berlalu secara perlahan namun pasti.
Tujuh Mata Darah masih berada dalam masa perayaan. Utusan dari ras nonmanusia berdatangan setiap hari, dan seluruh pelabuhan tampak sangat sibuk. Namun, suasana hati para murid Tujuh Mata Darah terus merosot.
Meskipun tindakan Xu Qing sempat mengubah keadaan selama beberapa hari, tantangan dari Koalisi Tujuh Sekte segera berlanjut kembali. Tampaknya Koalisi Tujuh Sekte ingin situasi ini berlangsung setidaknya selama tiga bulan. Mengenai Master Shengyun dari Sekte Pedang Langit Menjulang, ia tidak mengeluarkan tantangan lagi dan memilih untuk tinggal di Puncak Pertama.
Lampu pemanggil angin tujuh warna miliknya yang mampu mengguncang surga dan bumi membuat para murid Puncak Pertama benar-benar tertekan, sekaligus meredam nyali semua utusan nonmanusia dan sekutu.
Sikap Koalisi Tujuh Sekte sangat jelas. Penindasan ini bukan sekadar pengingat biasa, melainkan sebuah peringatan tegas. Tujuh Mata Darah dilarang keras memikirkan untuk menjadi independen. Terlebih lagi, rumor mulai menyebar bahwa setelah masa perayaan usai, ketujuh pemimpin puncak akan digantikan oleh orang-orang dari Koalisi Tujuh Sekte.
Di satu sisi, Tujuh Mata Darah telah meraih kemenangan telak melawan para zombi laut. Namun sekarang mereka justru dihancurkan oleh Koalisi Tujuh Sekte. Dan sang leluhur Tujuh Mata Darah tampaknya tidak melakukan apa pun untuk menghentikannya.
Xu Qing dapat merasakan tekanan yang kian menumpuk di dalam sekte. Namun, ia merasa ada sesuatu yang lebih besar di balik permukaan, yang tidak kasat mata. Hal itu sangat terasa mengingat apa yang telah disaksikan oleh sang Kapten di Puncak Keenam. Xu Qing mendapat firasat bahwa sekte sedang menunggu sesuatu yang spesifik.
Itu tidak terlalu penting. Pimpinan sekte yang akan memutuskan bagaimana langkah selanjutnya. Xu Qing menggelengkan kepalanya dan kembali fokus pada kultivasinya sendiri. Sang Kapten sudah kembali ke sekte, dan ia telah mengirimkan pesan suara kepada Xu Qing untuk menanyakan apa yang sedang pemuda itu lakukan.
Meskipun Xu Qing terus-menerus memurnikan jiwa tanpa henti, ia belum berhasil membuka titik akupunktur dharma berikutnya. Kendati demikian, ia telah membuat beberapa kemajuan dalam penelitiannya mengenai pil racun terlarang. Ia juga telah membangun toleransi yang cukup sehingga ia yakin pada akhirnya akan dapat meracik ulang pil tersebut. Ia bahkan mencoba memaksa kumbang hitamnya masuk ke dalam pil itu. Namun, prosesnya begitu sulit bagi para kumbang hingga tidak satupun dari mereka yang selamat. Semuanya mati tanpa terkecuali.
Xu Qing tidak berkecil hati. Sambil duduk bersila di dalam blok sel, ia mengeluarkan semua botol yang digunakannya untuk menyimpan kumbang hitam.
Setelah pekerjaannya sebelumnya, ia memiliki total delapan botol.
Namun, upaya untuk memasukkan kumbang-kumbang itu ke dalam pil telah membunuh seluruh kumbang di botol pertama. Membuka botol kedua, ia melakukan gerakan mantra dan mengarahkan jarinya. Sebagai tanggapan, kumbang-kumbang itu beterbangan keluar dan mengelilinginya. Jika ada yang melihatnya, mereka pasti akan terkejut. Bagaimanapun, kumbang-kumang ini merupakan ancaman besar yang bahkan akan membuat seorang ahli Inti Emas merasa ngeri.
Meskipun demikian, Xu Qing masih merasa mereka belum cukup efektif. Membuka kotak harapan, ia memerintahkan kawanan kumbang itu melesat ke dalamnya bagaikan awan hitam. Saat awan itu mendekat, formasinya mulai buyut tatkala satu per satu kumbang membusuk dan mati. Sambil mengerutkan kening, Xu Qing melanjutkan eksperimennya. Ia segera menghabiskan botol ketiga, lalu keempat, dan kelima….
Kumbang-kumbang kecil itu mati satu demi satu, hingga ia mencapai botol terakhirnya. Tidak ada satu pun kumbang yang selamat. Xu Qing menghela napas. Ia tidak berani melanjutkan eksperimen dengan botol terakhirnya itu, karena ia membutuhkan kumbang-kumbang tersebut untuk dibiakkan lagi.
Dengan begitu, ia mengatur agar lebih banyak tahanan dibawa kepadanya untuk memberi makan para kumbang. Sambil kumbang-kumbang itu makan, Xu Qing terus berusaha membiasakan diri dengan pil racun tersebut. Secara bersamaan, ia memasukkan tanaman obat ke dalam makanan kumbang yang dapat menetralisir racun. Ia juga menambahkan sedikit darahnya sendiri. Bagaimanapun, ia telah membangun sejumlah ketahanan tubuh.
Tujuh hari berikutnya berlalu.
Akhirnya, usahanya membuahkan hasil. Ia pun berhasil membuat delapan ekor kumbang hitam bertahan hidup dalam proses tersebut. Meskipun mereka keluar dalam keadaan lemah, Xu Qing tetap merasa gembira dengan hasilnya. Kelompok penyintas pertama ini akan menjadi titik awal untuk menetaskan generasi baru kumbang yang bahkan lebih kuat. Terlebih lagi, meskipun para kumbang itu tampak lemah, mereka telah mengalami transformasi dan kini tampak tidak begitu gelap seperti sebelumnya.
Jika aku terus melakukan ini, aku seharusnya bisa menangkarkan beberapa kumbang yang benar-benar kebal terhadap pil racun terlarang. Dan jika aku bisa membuat mereka berkembang biak di dalam pil itu, maka mereka akan menyerap kualitas pil tersebut dan menjadi jauh lebih menakjubkan.
Saat hati Xu Qing dipenuhi antisipasi, hari pun mulai beranjak petang. Ketika pendar merah di langit semakin pekat, sesosok tamu tak diundang tiba-tiba muncul di luar pintu masuk Divisi Kejahatan Kekerasan.
Ia adalah seorang pemuda berusia sekitar tujuh belas atau delapan belas tahun, mengenakan jubah Tao berwarna ungu yang disulam dengan benang emas. Lengan jubahnya dihiasi dengan motif makhluk gobblewock, dan tangan kanannya ditutupi sarung tangan merah.
Saat ia berjalan, jubah Tao miliknya memancarkan fluktuasi kekuatan dharma yang kuat, membuat ketampanannya tampak semakin luar biasa. Kendati demikian, meskipun berwajah tampan, ia memiliki hidung yang agak besar yang merusak kehalusan wajahnya, dan membuatnya terlihat luar biasa arogan. Saat ia mendekat, kerikil-kerikil di jalan di luar Divisi Kejahatan Kekerasan mulai melayang dan berputar di sekelilingnya, menciptakan badai kecil. Yang paling mencolok adalah kenyataan bahwa pendar senja tampak meredup karena kehadirannya. Di dalam kegelapan yang kian pekat itu, sarung tangan yang ia kenakan tampak sangat aneh dan mengerikan.
Para murid Divisi Kejahatan Kekerasan yang berjaga di pintu masuk langsung menyadarinya, dan ekspresi mereka berubah menjadi sangat serius, seolah-olah mereka sedang menghadapi musuh besar. Namun saat pemuda itu semakin dekat, badai di sekelilingnya mencapai para murid yang berjaga, mendorong mereka mundur hingga menabrak gerbang utama.
Salah satu dari mereka, dengan urat-urat menonjol di dahinya, berteriak, “Berhenti! Siapa di sana!?”
Pemuda berjubah ungu itu mengangkat tangannya, memperlihatkan sebuah mutiara ungu yang bergetar lalu melesat ke arah para murid yang sedang bertugas.
“Tenanglah. Berikan saja mutiara ini kepada Direktur Xu Qing. Katakan padanya bahwa aku ingin memberinya sebuah kesempatan takdir.”
Chapter 233 · 7m baca
You Can’t Get Rich Without Ill-gotten Gains
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter