Beyond the Timescape - Chapter 1348 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 1348 · 5m baca

I’m Zi Qing

by Er Gen

Keberuntungan abadi dari Kerajaan Berdaulat Violet dan Cyan hancurkan berkeping-keping seperti kaca oleh para kultivator dari berbagai ras tak terhitung jumlahnya.

Aku melihat sendiri ayahku, sang kaisar, dicabik-cabik hingga hancur. Istriku tertusuk hingga menembus kepala, dan anakku meringkuk dalam tangisan, hingga tubuhnya sedingin es. Aku terlambat menyelamatkan mereka…. Aku juga tidak cukup kuat untuk menyelamatkan mereka….

Saat aku bertempur, ras-ras tak terhitung itu melepaskan kutukan magis untuk menyegel basis kultivasiku dan mengubahku menjadi manusia biasa.

Dengan duka dan kemarahan yang meluap-luap, aku menyaksikan adik laki-lakiku menghadapi pasukan musuh secara langsung, lalu meledakkan sisa aura takdir terakhir kita. Ledakan aura takdir itu merasuk ke dalam diriku. Saat itu terjadi, aku melihat pasang mata yang tak terhitung jumlahnya. Itu adalah mata dari keluarga dan para menteri yang telah tewas, mengamatiku dari balik batas ruang dan waktu.

Aku harus membalas dendam!

Kerajaan Berdaulat Violet dan Cyan, yang telah berdiri selama seribu tahun, hancur dengan lebih mudah daripada kaca. Energi violet yang megah dan penuh berkah telah robek oleh sihir yang berlumuran darah dan penuh kutukan dari ras-ras tak terhitung itu. Di luar kota kekaisaran, pilar-pilar giok yang dulunya berdiri tanpa noda kini tampak seperti pemakaman yang runtuh, bergetar di tengah suara-suara memekakkan telinga dan menggetarkan tulang yang terus bergema.

Aku berdiri cukup lama di atas tangga singgasana yang hancur. Di bawah telapak kakiku terdapat genangan darah yang lengket, dan bau menyengat menyerang hidungku di setiap hela napas.

Ayahku, sang kaisar—sosok yang dulunya berdiri tegak bagai pilar surgawi—telah disambar oleh bayangan yang mampu merobek udara. Aku bahkan tidak sempat mendengar jeritan terakhirnya. Tubuh kekuatannya, yang mengenakan jubah naga berwarna violet-emas sebagai lambang keagungan tak terbatas, dicabik-cabik tepat di depan mataku!

Percikan darah dan serpihan tulang menghujani wajahku dengan menyakitkan. Darah ayahku yang masih panas mengubah pemandanganku menjadi kabut merah pekat. Saat hujan darah itu turun, kubah langit berwarna violet dan cyan pun runtuh.

Aku benar-benar tidak berdaya. Basis kultivasiku, kemampuan dewata, kekuatan fisik ragawiku… semuanya telah disegel oleh kutukan dari ras-ras tak terhitung itu. Tidak ada secuil pun kemampuan bertempur yang tersisa padaku. Aku telah direndahkan menjadi setara dengan manusia biasa.

Pada saat itu, aku menyadari bahwa aku tidaklah sekuat seperti yang diceritakan dalam berbagai kisah…. Aku lemah. Bahkan, aku lebih lemah daripada hampir semua manusia di sekitarku.

“Yang Mulia! Lewat sini!” Sebuah teriakan serak menembus suara gemuruh yang memekakkan telinga di sekitarku. Itu berasal dari salah satu pengawal pribadiku yang tersisa.

Dalam mati rasa, aku mengikuti di belakangnya seolah diseret oleh ikatan tak kasat mata. Saat keluar dari reruntuhan istana, sebuah pilar cahaya pengikat tertangkap oleh mataku di bagian samping.

Cahaya itu berasal dari arah Aula Ritus Phoenix! Seluruh tempat itu telah berubah menjadi lautan api! Jantungku berdegup kencang saat aku terhuyung-huyung ke arah sana. Ketika kobaran api semakin membesar, aku melihatnya…. Istriku.

Dia bersandar pada sebuah pilar yang hangus terbakar, dengan jepit rambut perak tertancap di dahinya. Tangan jemari lentik yang dulunya pernah merapikan rambutku kini terkulai lemas di kedua sisinya. Tatapan matanya yang kosong memandangi langit yang penuh asap, namun manik matanya seolah memancarkan kepedulian yang tiada akhir.

Uluran tanganku terhenti di udara, dadaku bergemuruh seolah ada sesuatu yang hendak meledak dari dalam. Aku melepaskan tangisan pilu tanpa suara. Lambang teratai kuno di telapak tanganku, yang menyimbolkan keluarga kekaisaran Violet dan Cyan, terbakar bagai besi panas ke dalam jiwaku.

“Ayah…” suara lirih dan gemetar terdengar dari bawah bayang-bayang balok atap yang roboh.

Sesosok tubuh kecil meringkuk di sana, pangeran kecilku yang baru berusia tujuh tahun. Tubuhnya sudah sedingin es. Dia mendekap pedang kayu kecil yang kuukir untuknya, mendekatkannya ke dada seolah itu adalah satu-satunya sumber kehangatan yang tersisa di dunia. Dengan gemetar, aku mengangkatnya, namun sisa kehangatan yang ada padanya telah sirna, meninggalkan dingin yang menusuk. Pedang kayu itu terlepas dari jemarinya yang lemas dan membentur lantai ubin dengan suara gemerincing. Raungan para kultivator dari berbagai ras terus bergema di telingaku dan menusuk hingga lubuk hatiku.

Ayahku, istriku, pangeran kecilku, dan kerajaanku… semuanya telah membeku bagai es.

“Ayo pergi! Yang Mulia!” Segelintir prajurit berlapis baja yang tersisa membentuk semacam perisai metalik yang menahan terjangan serangan mengerikan dari luar. Wajah mereka menyiratkan keputusasaan sekaligus tekad untuk mati.

Aku bagaikan boneka yang tali pengendalinya terputus, terseret oleh arus takdir saat aku terhuyung-huyung keluar dari istana menuju kegelapan yang tak dikenal. Di belakangku adalah dunia yang sedang sekarat. Istana itu merintih dan akhirnya runtuh.

Kemudian, sebuah kehendak dewa yang dingin dan mematikan menusuk tulangku, bagaikan belatung yang menggerogoti tubuhku. Kematian seolah membekukan sumsum tulangku.

“Kau tidak lagi bersemangat dan penuh nyali seperti biasanya, Putra Mahkota Violet dan Cyan.”

Suara yang penuh kemunafikan itu mengejekku bagaikan kucing yang telah menangkap tikus. Tepat saat kekuatan destruktif itu hendak menghancurkanku, sebuah sosok yang akrab dan penuh ketegasan menerobos arus kerumunan untuk berdiri di antara aku dan kehendak dewa tersebut!

Itu adalah adik laki-lakiku! Ayah tidak pernah menyayanginya, dan dia biasanya adalah orang yang pendiam. Dia hidup dalam bayang-bayang sinarku, dan aku jarang berinteraksi dengannya. Tapi dia adalah adikku! Dia memegang segel giok resmi, dan tekanan berat yang menimpanya membuat jubah compang-campingnya berkibar kencang. Rambutnya terurai berantakan tertiup angin.

Dia berbalik dan melirikku. Matanya dipenuhi oleh kegilaan seseorang yang mempertaruhkan segalanya dalam satu langkah! Tubuhnya yang kurus tiba-tiba tampak mengembang seperti balon yang ditiup. Cahaya violet yang menyilaukan memancar keluar dari segel giok serta setiap pori-pori di tubuhnya!

Cahaya itu begitu murni, agung, dan mengharukan, bagaikan serpihan terakhir aura takdir dari Kerajaan Berdaulat Violet dan Cyan. Dan cahaya itu membakar sisa takdir serta jiwanya yang terakhir!

DUARRR!

Sebuah ledakan yang tak terlukiskan merobek dunia. Segala makhluk di langit dan bumi seolah menjadi tuli.

Kekuatan yang tercipta dari terbakarnya aura takdir itu menciptakan hantaman besar tak kasat mata yang menyapu diriku. Suara gemuruh memenuhi rongga dadaku. Suara itu mendobrak kutukan kuat yang diletakkan oleh ras-ras tak terhitung padaku. Kekuatan itu menghancurkan segel yang mereka pasang pada basis kultivasiku. Kekuatan agung menyapu sekujur tubuhku bagaikan musim semi yang mendobrak cangkang musim dingin yang busuk. Basis kultivasiku terbangun kembali.

Namun, bahkan saat kekuatan basis kultivasi itu mengalir deras dalam diriku, pikiranku masih dipenuhi kabut darah dengan tatapan mata penuh keheranan yang tak terhitung jumlahnya. Ayahku, adikku, istriku, anakku… dan begitu banyak wajah akrab lainnya berada di sana. Ada para prajurit dan warga yang telah menumpahkan tetes darah penghabisan demi Violet dan Cyan.

Tatapan mereka menyiratkan sebuah perpisahan, bagaikan sesuatu dari balik batas ruang dan waktu. Itu bagaikan pantai seberang pāramitā yang takkan pernah bisa disentuh. Saat aku memandangi mereka, sebutir air mata darah muncul begitu saja dan menetes membasahi wajahku, jatuh ke dalam kegelapan tak bertepi. Air mata itu jatuh ke atas jasad kerajaan yang runtuh, ternoda oleh darah dan dijilat oleh jilatan api. Semuanya jatuh ke dalam keheningan abadi.

Di belakangku adalah reruntuhan masa lalu dan sisa-sisa karam dari garis waktu. Namun di depanku, di tengah kehampaan itu, terbentang jalan yang panjang, gelap, dan berlumuran darah.

Aku harus membalas dendam!

Gunakan ← → untuk pindah chapter