Perkembangan demi perkembangan mengguncang Dunia Kuno hingga ke akarnya dan membuat semua orang tercengang. Permaisuri Keberangkatan Musim Panas merasakan kepahitan. Di Wilayah Penyembahan Bulan, kesunyian meraja letha. Bayang-bayang kelam menyelimuti Negeri Penyegel Laut. Berbagai ras di seluruh Dunia Kuno merasakan keputusasaan memenuhi jiwa mereka.
Zhou Zhengli dan yang lainnya mengerahkan pertahanan terbaik mereka dengan kekuatan penuh untuk menahan tekanan tersebut. Namun, ekspresi mereka sama sekali bukan rasa hormat. Mereka tampak siap untuk membunuh.
Semua mata tertuju pada cakrawala langit yang berubah menjadi merah darah seiring turunnya sang makhluk abadi purba!
Dia adalah seorang lelaki tua! Rambut putihnya sudah sangat tipis hingga kulit kepalanya yang pucat terlihat jelas. Dia mengenakan jubah Tao usang yang tampak telah kehilangan warnanya karena telah berusia puluhan ribu tahun. Wajahnya berkerut dan lapuk dimakan waktu yang begitu panjang, membuat kulitnya hampir menyerupai kulit pohon.
Dia memancarkan aura kebusukan dan racun, seolah-olah dia adalah sesosok mayat hidup yang baru saja merangkak keluar dari Mata Air Kuning. Namun, pada saat yang sama, auranya begitu mengerikan hingga tampak mampu mengendalikan aura seluruh makhluk hidup lainnya.
Saat aura itu menyebar ke seluruh Dunia Kuno, semua makhluk hidup terpaksa menundukkan kepala dan membungkuk dengan pinggang tertekuk. Bahkan para dewa pun memilih untuk tidak menatapnya. Ini adalah kekuatan yang melampaui tingkat Abadi Semu dan Dewa Altar. Ini adalah keperkasaan dari Dewa Abadi Musim Panas atau Dewa Sejati!
Dan dia bukanlah Dewa Abadi Musim Panas biasa. Dia berada di puncak tingkat Dewa Abadi Musim Panas, hanya berjarak setengah langkah dari tingkat berikutnya! Dengan kata lain, dia bisa disebut sebagai...
“Setengah langkah menuju Penguasa Abadi!” gumam Tuan Cincin Bintang, matanya berkilat tajam.
Di saat semua orang merasakan keputusasaan, sang abadi purba menoleh dan menatap Zhou Zhengli serta yang lainnya dengan mata yang keruh. Sebenarnya dia berharap bisa menghindari keharusan turun ke Dunia Kuno. Namun, situasi yang terjadi menuntutnya untuk turun tangan secara langsung.
“Aku akan menunggu di sini untuk orang yang kalian sebut sebagai Yang Mulia,” ucapnya dengan suara serak. Matanya memancarkan kekuatan yang luar biasa, begitu pula dengan suaranya.
Zhou Zhengli dan yang lainnya bergetar hebat hingga bahkan memuntahkan darah. Mereka semua dapat merasakan kekuatan menakutkan dari Dewa Abadi Musim Panas ini.
Kemudian, sang abadi purba mengalihkan pandangannya dari Zhou Zhengli dan yang lainnya. Sebaliknya... dia menatap ke arah benua Phoenix Selatan. Matanya tampak berkilau.
“Aku telah tiba, muridku. Datanglah dan beri penghormatan kepada Guru!” Suaranya terdengar mengandung sesuatu yang luar biasa dominan, dan saat suara itu bergema di seluruh Dunia Kuno, suara itu menyatu menjadi bagian dari hukum alam.
Sebuah angin badai yang menderu-deru menghantam Phoenix Selatan. Di sana, di dalam Tujuh Mata Darah, Tua Renta Ketujuh mulai memudar. Kemudian dia menghilang dari ruang meditas di dalam gua tempat tinggalnya. Ketika dia muncul kembali, dia telah melintasi kehampaan, menyeberangi banyak wilayah hingga berada di udara di atas ibu kota kekaisaran.
Kedatangannya menyebabkan udara pecah berkeping-keping. Cahaya tak bertepi terpancar darinya, menyebar ke segala arah dan membuat aura takdir Dunia Kuno bergejolak. Di belakangnya melayang banyak kehidupan masa lalunya, yang menyatu dengan dirinya, menyebabkan tingkat kekuatannya melonjak drastis.
Yang mengejutkan, salah satu dari kehidupan masa lalunya mengenakan jubah kaisar, tampak begitu kuno dan penuh dominasi. Dialah... kaisar pertama dari Dunia Kuno, dari masa yang amat lampau! Itulah identitas asli Tuan Ketujuh!
Saat kehidupan-kehidupan masa lalu itu kembali menyatu dengan Tuan Ketujuh, aura yang melampaui tingkat Abadi Semu bangkit dari tubuhnya. Itulah keperkasaan seorang Dewa Abadi Musim Panas! Dan semangat pertarungannya melonjak tinggi!
Sayangnya, tidak semua Dewa Abadi Musim Panas diciptakan setara. Meskipun Tuan Ketujuh memancarkan cahaya yang menyilaukan, serta kesiapan untuk bertempur, di hadapan aura yang begitu melimpah dan menakutkan dari sang abadi purba, dia bagaikan sehelai daun yang terombang-ambing di tengah ombak maha besar. Yang lebih parah lagi, ada sesuatu yang menyebabkan aura Tuan Ketujuh melemah. Sesuatu yang tidak bisa dia redam. Kendati demikian, mata Tuan Ketujuh tetap setegas sebelumnya saat dia menatap sang abadi purba dan menggelengkan kepalanya.
“Kau bukan Guruku.”
Sambil berucap demikian, dia mengangkat tangan kanannya, dan sebuah tombak terwujud di dalam genggamannya. Menggenggam tombak itu, dia mengarahkannya ke sang abadi purba.... Semangat pertarungannya meledak! Dari tatapan membunuh di matanya, dia jelas siap mempertaruhkan segalanya dalam pertarungan sampai mati.
Pertempuran tampaknya akan pecah kapan saja. Namun, pada saat itulah pusaran yang telah membawa Tuan Cincin Bintang dan yang lainnya mulai bergemuruh kembali. Aura yang sangat mengerikan meletus darinya, sesuatu yang mampu merobek segala sesuatu berkeping-keping.
Sang abadi purba mendongak menatap pusaran tersebut. Mata Tuan Ketujuh berkilat.
Sambil tersenyum, Zhou Zhengli mengabaikan sang abadi purba, melangkah maju, dan membungkuk ke arah pusaran itu!
“Kami menyampaikan salam hormat, Yang Mulia!” serunya dengan suara lantang.
Tuan Roh Jahat, Li Mengtu, dan semua yang lainnya turut membungkuk dengan khidmat. Bahkan Tuan Cincin Bintang ikut bergabung.
Saat semua orang secara naluriah menoleh ke arah Zhou Zhengli dan yang lainnya yang sedang membungkuk... Sebuah aura menyapu keluar, seolah mampu merentangkan Sungai Waktu yang tak bertepi. Rasanya bagaikan tsunami melengking yang mampu menerobos segala rintangan dan menembus penghalang antar-dimensi.
Sesosok figur kabur muncul, dikelilingi oleh aura yang tampak seperti aliran energi kekacauan primordial yang mewujud nyata. Di dalamnya bergema gema Dao. Terdapat raungan binatang purba, ledakan yang meruntuhkan surga dan menghancurkan bumi, serta tangisan dari zaman-zaman di masa lalu, semuanya berpadu menciptakan sesuatu yang mampu membuat jiwa ketakutan.
Di tempat yang dilewati oleh aliran energi dan gema Dao tersebut, angkasa bereaksi bagaikan selembar kertas tipis yang dapat disobek dengan mudah, diremas menjadi satu, dan diubah menjadi kegelapan hampa. Yang lebih menakutkan lagi adalah saat sosok itu keluar dari pusaran, langkah kakinya bagaikan jutaan benda langit yang runtuh dan memancarkan aliran cahaya bintang menyilaukan bak hujan.
Mengetahui hal itu, seluruh makhluk di Dunia Kuno merasa sangat terkejut; ini adalah sesuatu yang melampaui sebelas Kaisar Agung bahkan sang abadi purba!
Para ahli kuat dari semua ras di Dunia Kuno, tidak peduli betapa luar biasanya hal yang pernah mereka lihat atau betapa hebatnya pengalaman yang pernah mereka lalui, merasakan lutut mereka lemas. Beberapa bahkan jatuh tersungkur ke tanah, mata mereka dipenuhi oleh teror yang pekat. Seolah-olah jiwa mereka telah dicabut secara paksa dari tubuh mereka.
Bahkan para dewa yang biasanya mampu memanggil angin dan mendatangkan hujan, kini berkeringat deras. Para dewa itu mulai gemetar saat kekuatan dewa mereka mengalami kekacauan. Rasanya kebinasaan sudah berada tepat di depan mata. Wajah mereka pucat pasi bagaikan selembar kertas, dan mereka merasa tak berdaya sama sekali. Vitalitas mereka memperingatkan mereka secara insting bahwa figur yang sedang keluar dari pusaran itu adalah keberadaan mahatinggi yang sama sekali tidak boleh mereka tentang.
Pada saat di mana kiamat seolah-olah telah tiba dan semua orang hampir tidak bisa bernapas, Tuan Ketujuh tampak termenung, sementara sang abadi purba menunjukkan ekspresi yang sangat serius.
Dan kemudian, seberkas cahaya melesat keluar dari rambut figur yang menakutkan namun masih tampak kabur itu. Cahaya itulah yang tiba terlebih dahulu! Siapa lagi kalau bukan Erniu.
Dengan nada yang amat arogan, dia berseru lantang, “Kombinasi Qing dan Niu telah kembali ke Dunia Kuno! Halo semuanya!”
Chapter 1313 · 5m baca
Qing and Niu Return!
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter