Bukan hanya tugu-tugu batu itu yang bereaksi. Lebih dari seratus galaksi mulai memancarkan cahaya yang menyilaukan. Rupanya, pandangan yang baru saja diungkapkan oleh Xu Qing tidak dianggap sebagai bentuk pencerahan di Lingkaran Bintang Kelima. Aliran kehendak ilahi muncul dari tugu-tugu batu tersebut, disertai dengan suara-suara.
"Konyol!"
"Dewa tetaplah dewa!"
"Bagaimana mungkin mereka bisa disamakan dengan manusia?"
"Tidak peduli apakah yang kau maksud adalah dewa prasegerhana, atau semua dewa pascasegerhana itu. Siapa pun yang memilih jalan para dewa telah melepaskan kemanusiaannya!"
"Apa yang telah kaulihat dan rasakan hanyalah bagian dari proses kultivasi dewa. Para dewa sangat rela membodohimu demi membuat kemajuan menjadi terasa mudah!"
"Kau bukan orang pertama yang ditipu oleh para dewa, dan kau juga bukan yang terakhir."
"Anak muda, dengarkan nasihat ini... jangan biarkan mereka memengaruhimu!"
"Dari zaman dahulu hingga sekarang, semua yang berteman dengan para dewa pada akhirnya akan menyesali keputusan tersebut. Tidak ada pengecualian!"
"Sekarang, tarik kembali kata-katamu, dan aku akan memberimu sebagian dari warisan ilmuku!"
Aliran kehendak ilahi itu bergema di seantero domain bintang, merasuk ke dalam hati dan pikiran Xu Qing.
Xu Qing tidak mengatakan apa-apa. Pandangannya menyiratkan kenangan masa lalu. Setelah berpikir sejenak, ia pun mengambil keputusan.
Sisa-sisa para immortal di tempat ini tidak memiliki jiwa. Dan apa yang didengarnya bukanlah kehendak ilahi yang sesungguhnya. Itu lebih mirip seperti sisa-sisa obsesi para immortal yang tewas dalam pertempuran. Mereka telah bertarung melawan para dewa sepanjang hidup mereka. Dari lahir hingga mati, mereka selalu berdiri sebagai penentang para dewa. Oleh karena itu, dari sudut pandang mereka, para dewa... benar-benar semuanya sama saja.
Xu Qing dulunya memiliki pemikiran yang sama. Namun kemudian, ia menyaksikan Permaisuri Musim Panas Berpulang mencapai kenaikan tingkat dewa. Dan itu telah mengubah pandangan hidupnya!
"Senior," ucapnya dengan tenang, "dari tempat asal saya, ada tempat-tempat yang disebut tanah suci. Ketika para dewa mendatangkan malapetaka, rakyat saya, bahkan anak-anak kecil, terinfeksi oleh mutagen para dewa.... Dan tahukah kalian apa yang dilakukan oleh para manusia di tanah suci? Mereka tidak peduli pada kami. Mereka pergi. Mereka menelantarkan umat manusia.
"Mereka begitu tinggi dan angkuh hingga sama sekali tidak peduli saat manusia lainnya sekarat. Dan kemudian keturunan mereka datang kembali dan terus mengeksploitasi serta memanipulasi keadaan dari balik layar.
"Seiring berjalannya waktu, umat manusia mengalami kemunduran. Satu demi satu kaisar menumpahkan darah, keringat, and air mata untuk menjaga keselamatan manusia. Lalu ada Kaisar Agung Swordsage, yang mengorbankan segalanya demi membela kami.
"Meskipun begitu, manusia tetap berjuang untuk sekadar bertahan hidup, apalagi untuk bangkit mencapai kejayaan. Tak terhitung banyaknya manusia... yang menjadi santapan makhluk non-manusia. Mereka menderita dalam kepahitan. Saya telah menyaksikan hal-hal yang bahkan lebih buruk daripada kanibalisme. Spesies kami berjuang di dalam kegelapan, perlahan-lahan kehilangan sentuhan kemanusiaan kami, hingga kami berada di ambang kepunahan.
"Namun kemudian seseorang muncul di tengah malapetaka dan kehancuran itu. Dialah permaisuri umat manusia di kampung halaman saya! Sayangnya, cita-citanya dipadamkan, dan pada akhirnya, ia hanya dihadapkan pada dua pilihan. Membiarkan manusia musnah. Atau menjadi dewa!
"Pada akhirnya, ia memilih kenaikan tingkat dewa! Apakah itu sebuah pemberontakan? Suatu bid'ah? Apakah itu mencoreng titah leluhur? Mungkin saja. Namun ia memilih untuk memikul tanggung jawab itu!
"Ia berkata bahwa ia tidak peduli apakah tanah suci dihuni oleh manusia atau tidak. Ia akan melakukan segala cara untuk memastikan api persembahan umat manusia tetap menyala di Dunia Kuno yang Dihormati! Ia berkata bahwa manusia layak untuk berbahagia. Dan jika langit serta bumi tidak mau melakukannya demi umat manusia, maka dialah yang akan melakukannya. Jadi, ia akan mendamaikan umat manusia di Dunia Kuno yang Dihormati!
"Ia berkata bahwa ia tidak peduli tentang hidup selamanya. Ia hanya ingin manusia memiliki kesempatan untuk berkembang, dan sekali lagi bersinar megah di Dunia Kuno yang Dihormati. Ia berkata bahwa ia tidak menjadi dewa demi kepentingannya sendiri. Dan ia membawa serta seluruh kaisar tua agar mereka turut mencapai kenaikan tingkat dewa.
"Ia berkata bahwa kelima kaisar tua itu akan menjadi dewa mayat. Mereka akan kehilangan kemampuan berpikir, namun mereka akan memiliki kekuatan dewa. Dan kemudian ia mengerahkan aura takdir umat manusia untuk mempertahankan benteng terakhir umat manusia, serta menanamkan ketakutan di hati para makhluk non-manusia.
"Ia berkata bahwa ia akan menjadi dewa manusia, untuk melindungi umat manusia dan membawa kedamaian bagi generasi-generasi mendatang! Dan terakhir, ia berkata bahwa ia tahu tindakannya akan mendatangkan karma yang membawa bencana serta malapetaka. Tetapi ia... akan menanggung seluruh tanggung jawab itu sendirian!"
Kata-kata Xu Qing bergema ke seluruh domain bintang. Ucapan itu merangkum segala kenangannya, serta seluruh emosi yang ia rasakan. Ia menggunakan kata-kata dan suaranya untuk melukiskan gambaran detail tentang para arwah pahlawan, menjelaskan bagaimana dan mengapa Permaisuri Musim Panas Berpulang menjadi seorang dewa. Pada akhirnya, ia menatap sekeliling ke arah tugu-tugu batu tersebut.
"Bagaimana pun pandangan kalian, dewa seperti itu jauh lebih manusiawi daripada banyak manusia! Saya juga tahu bahwa tidak semua dewa itu serupa. Tetapi manusia pun bisa berbuat baik dan jahat. Begitu pula dengan para dewa. Tidak peduli berapa banyak dari mereka yang baik. Mereka memang ada. Dan itulah sebabnya saya tidak akan mengubah pendirian saya!"
Menundukkan kepalanya, Xu Qing menangkupkan tangan dan memberi hormat.
Setelah itu, galaksi-galaksi di domain bintang tersebut seolah memancarkan hawa dingin yang murni. Tugu-tugu batu itu tidak bergetar, dan tulisan-tulisan di atasnya lenyap dari pandangan. Adapun warisan dan pusaka... tidak satupun yang keluar! Mereka tidak sependapat dengan pandangan Xu Qing, dan karenanya... mereka tidak memiliki hal lain untuk dikatakan.
Xu Qing berbalik dengan tenang. Ia tidak kecewa dengan hasil tersebut. Seseorang harus menjalani jalannya sendiri dalam hidup. Dan pemandangan yang tak terelakkan ditemui di sepanjang jalan itu akan membentuk cara berpikir seseorang. Hal itu akan membentuk pandangan hidup seseorang, pemahamannya tentang dunia, serta persepsinya terhadap segala yang hidup maupun mati. Semua itu akan menyatu menjadi cara berpikir yang unik. Itulah makna dari menjadi seorang manusia.
Ke depannya, Xu Qing akan tetap membunuh para dewa. Ia akan tetap merampok mereka dan memperlakukan mereka dengan berdarah dingin. Namun ada beberapa dewa, seperti sang permaisuri, yang akan ia bela! Karena ia tahu bahwa di lubuk hatinya, sang permaisuri bukanlah seorang dewa. Ia adalah manusia. Dan ia jauh lebih manusiawi daripada kebanyakan manusia.
Dengan pemikiran seperti itu, dan tanpa sedikit pun penyesalan, Xu Qing dengan tenang melangkah menuju pintu. Ia bersiap untuk kembali ke Alam Semesta Inksun dan menunggu hingga tiba waktunya bagi penyambutan resmi dirinya ke dalam Langit Sembilan Pantai.
Namun saat ia mendekati pintu, dan tepat sebelum ia melangkah melintasinya... pintu itu bergetar keras. Aura pembunuh yang suram mulai memancar darinya.
Xu Qing berhenti di tempat, tatapannya mengeras. Seseorang sedang melangkah melewati pintu itu. Bahkan, bukan hanya satu orang. Jumlahnya lebih dari seratus orang.
Mereka semua mengenakan setelan zirah unik yang ternoda darah, baik darah dewa maupun darah mereka sendiri. Mereka tampak kelelahan, dan jauh di lubuk hati mereka, dipenuhi oleh kepedihan. Mereka mendekat dalam diam. Di tengah barisan itu terdapat selusin kultivator yang sedang membawa... sebuah peti mati yang besar. Terbentang di atas peti mati itu adalah bendera Lingkaran Bintang Kelima.
Xu Qing dengan tenang melangkah ke samping untuk memberi jalan.
Tak satupun dari para kultivator itu memperhatikannya. Mereka dengan penuh duka berjalan menuju kejauhan.
Saat Xu Qing memerhatikan mereka lewat, ia bisa merasakan kesedihan, namun lebih dari itu, keheningan yang sunyi dan tandus. Keheningan itu bukanlah jenis kesunyian yang timbul saat para kultivator saling bertarung dan membunuh. Itu adalah sesuatu yang akrab bagi Xu Qing. Itu adalah keheningan kuat yang menyelimuti para prajurit ketika mereka menghabiskan waktu di medan pertempuran! Orang-orang ini baru saja datang dari kancah perang!
Mengenai siapa yang bersemayam di dalam peti mati itu... Xu Qing bisa menebak siapa orangnya. Tempat itu sudah pasti berisi sisa-sisa jasad seorang immortal. Seorang immortal telah gugur di medan perang dan dikirim ke pemakaman ini untuk mendapatkan pemakaman pahlawan!
Xu Qing merasa semakin diliputi ke suraman yang mendalam.
Di kejauhan, barisan itu berhenti. Mereka semua membungkuk saat peti mati tersebut diberangkatkan. Dan mereka mulai menyanyikan sebuah lagu duka kuno. Liriknya seolah merobek jiwa. Itu adalah sebuah kidung pujian terakhir. Dan saat alunan lirik itu melayang pergi, bintang-bintang bermunculan, bagaikan pasir atau debu yang menutupi peti mati tersebut. Tak lama kemudian peti itu pun tak terlihat lagi.
Pasir bintang itu kemudian berubah menjadi sebuah galaksi, dan sebuah tugu batu muncul di atasnya.
Para kultivator itu berdiri, dan pemimpin di antara mereka memberi hormat.
"Beristirahatlah dengan tenang, Raja Immortal!"
Setelah sang prajurit menyampaikan perpisahan penuh emosi itu, mereka berbalik dengan suram dan pergi.
Setelah semua kejadian itu berlalu, Xu Qing tidak langsung pergi. Ia berjalan menuju galaksi tempat sang immortal pahlawan baru saja dimakamkan. Setelah membungkuk, ia menatap tulisan yang terukir di tugu batu tersebut.
"Hidup bagaikan mimpi, dan waktu bagaikan lagu. Lautan berbintang pada akhirnya akan menemui ujungnya. Aku adalah Raja Immortal Spirit Jade. Aku telah memusnahkan seorang Dewa Sejati dan meminum darahnya. Aku melenyapkan tanda keberadaannya bagaikan burung tekukur yang menempati sarang burung murai. Mari kita lihat apa yang akan terjadi di masa depan.... Apakah dia yang akan kembali, atau aku? Jika dia kembali, maka mayatku akan memancarkan cahaya keemasan, dan generasi mendatang dapat melenyapkan Dewa Sejati itu dari muka bumi. Namun jika akulah yang kembali... maka cahaya perak akan bersinar, dan aku akan kembali membunuh para dewa!"
Immortal yang satu ini tampak berbeda dari yang lain. Ia tampaknya mencoba menggunakan hukum alam yang mengatur para dewa untuk mewujudkan kebangkitannya sendiri!
Dengan mata yang berbinar, Xu Qing hendak menyelidiki lebih jauh ketika ia mendengar sebuah desahan dari belakangnya. Menoleh lewat bahunya, ia melihat seorang lelaki tua bungkuk, yang merupakan penjaga dari luar.
Lelaki tua itu mendekat dan berdiri di depan tugu batu tersebut.
"Kita telah memasuki tahap selanjutnya dari perang ini. Akan ada lebih banyak lagi arwah pahlawan yang datang ke sini segera. Berdasarkan apa yang kudengar, yang satu ini telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk mencari jawaban tentang mengapa Dewa Sejati itu abadi."
Lelaki tua itu menghela napas.
Xu Qing mundur beberapa langkah, lalu membungkuk dengan penuh pemikiran. "Senior, perang apa sebenarnya ini?"
Lelaki tua itu berbalik dan menatapnya lekat-lekat. "Ketika hujan turun, ia turun kepada semua orang secara merata. Namun jika satu pihak tidak merasakan hujan tersebut, itu menandakan bahwa seseorang telah berusaha keras untuk mencegah hujan itu turun menimpa mereka. Tuan Immortal Deepgloom adalah orang tersebut. Ia ditempatkan di garis perbatasan, mencegah Lingkaran Bintang Keempat untuk menginvasi. Ini adalah perang antarlingkaran bintang, namun sekaligus juga, perang antara para dewa dan para immortal."
Lelaki tua itu memandang ke kejauhan. Ia mengangkat tangannya, di mana tergenggam sebuah lonceng yang tidak memiliki pemukul lonceng. Benda itu tampak biasa saja dari bentuknya, namun kehadirannya saja sudah mampu memicu riak-riak penuh warna yang menyebar ke seluruh langit berbintang.
"Aku memiliki seorang teman baik yang tewas dalam perang, terbunuh oleh seorang Penguasa Dewa. Meskipun ia gugur, dan pusaka miliknya ini rusak, benda ini selamat dalam kondisi seperti ini. Di dalamnya terkandung kekuatan seorang Penguasa Dewa. Ia ingin aku menemukan seseorang yang terhubung dengannya oleh takdir, dan mewariskannya kepada orang tersebut."
Mata Xu Qing menyipit saat ia menatap lelaki tua itu.
Lelaki tua itu melambaikan tangannya, dan lonceng tersebut melayang menuju arah Xu Qing. Ia berbalik dan mulai berjalan pergi.
"Aku mendengar apa yang kaukatakan, dan aku sangat mengagumi permaisuri yang kausebutkan itu. Kita hidup di dunia yang rumit. Dan sifat manusia itu rumit. Jangan terlalu pedulikan apa yang dipikirkan orang lain.
"Aku yakin jika teman-teman lamaku ini benar-benar masih hidup, mereka pasti akan mengerti. Sayangnya, semua yang tersisa di sini hanyalah sisa-sisa obsesi mereka, serta tekad mereka untuk menentang para dewa. Seseorang yang luar biasa sepertimu tidak boleh meninggalkan tempat ini dengan tangan kosong. Anggap saja itu sebagai hadiah dariku."
Lelaki tua itu menghilang, meninggalkan beberapa patah kata terakhir. "Aku pernah menemui dewa-dewa seperti yang kauceritakan... mereka yang jauh lebih manusiawi daripada kebanyakan manusia."
Jika Anda menemukan kesalahan (konten tidak standar, iklan yang mengalihkan, tautan rusak, dll.), Harap beri tahu kami agar kami dapat segera memperbaikinya.
Chapter 1203 · 8m baca
More Human than Many Humans
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter