Tabir merah sejarah telah tersingkap lebar. Jantung Tuan Muda Aurora berdegup kencang karena kenangan yang selama ini tersimpan rapat di dalam dirinya.
Setidaknya, kenangan yang telah menanti selama tak terhitung tahun untuk dilepaskan kini telah bebas. Tuan Muda Aurora, yang perlahan-lahan menjadi gila saat menunggu dengan tenang di istana keabadian, akhirnya mendapatkan sebuah penjelasan. Namun… melihat sendiri apa yang sebenarnya telah terjadi tidak mampu membuatnya menjadi tenang.
Spirit Phoenix menggenggam tangannya semakin erat.
Xu Qing dan Tuan Muda Aurora sedang berada dalam kondisi menyatu saat ini, jadi Xu Qing dapat merasakan gejolaknya dengan jelas. Dan dia memahaminya. Namun, tidak ada satu pun kata yang bisa ia ucapkan.
Kehidupan nyata dan kehidupan palsu. Keputusasaan dan harapan. Tangisan dan tawa. Semuanya bercampur baur hingga… mengungkapkan kasih sayang seorang ayah. Sayangnya, ayah tersebut akhirnya menghilang ditelan waktu, bagaikan pasir yang lolos dari sela-sela jemari saat dikeruk dari dasar sungai.
Manusia hanya bisa melalui waktu tanpa rasa takut akan kematian, bagaikan jiwa yang sedang bermimpi, penuh dengan ketidakberdayaan dan kesedihan, penuh dengan kerinduan. Melampaui hidup dan mati. Berjalan melintasi waktu. Untuk menemukan kesempatan bertanya: mengapa?
Xu Qing menghela napas. Ia teringkap kembali pada Kota Tanpa Tandingan, bayangan kenangan yang kabur, serta sosok kedua orang tuanya yang takkan pernah pudar. Ia teringkap kembali pada Tujuh Mata Darah, Tuan Gurunya, Sersan Thunder, dan Grandmaster Bai. Dan kemudian sosok-sosok itu bergabung menjadi sebuah suara kuno yang bergema di dalam kesadarannya.
“Jangan berhenti sekarang! Jangan menyerah!!”
Adegan-adegan sejarah terus mengalir melintasi waktu. Tabir merah telah terbelah, namun warna merah itu tidak lantas lenyap. Warna pernikahan itu masih merekah di dalam sejarah. Bagaikan darah.
Di dalam bayangan itu, Dewa Immortal Aurora tertawa penuh rasa terima kasih. Tuan Muda Aurora dan Peri Immortal Spirit Phoenix sedang bersujud kepada langit.
Namun kemudian… sejarah yang sesungguhnya terjadi, dan itu bukanlah apa yang telah terjadi dalam waktu lima belas menit di luar batas dimensi waktu. Langit dan bumi berubah bentuk. Lautan cahaya berriak, dan bahkan saat sujud pertama mereka selesai… gemuruh turun dari atas.
Matahari dan bulan direnggut pergi. Dewa Immortal Aurora berubah menjadi kemerahan, dan langit… tidak lagi memiliki matahari dan bulan, melainkan aurora berwarna merah darah. Itulah satu-satunya sumber cahaya. Di dalam cahaya itu, gelembung-gelembung yang tak terhitung jumlahnya bermunculan.
Bersamaan dengan itu muncul sebuah tangan kuno. Gelembung itu pecah, dan suara robekan bergema saat tangan tersebut merenggut seluruh kemuliaan istana keabadian…. Pada saat yang sama, pengantin pria dan wanita berdiri di tengah reruntuhan, dengan ekspresi tercengang di wajah mereka. Setidaknya, sampai pikiran mereka menjadi kabur.
Baik sang Dewa Immortal maupun Paragon Immortal tidak ingin kedua pengantin itu mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Mereka dijauhkan dari segalanya dan dibuat tidak sadarkan diri.
Tepat sebelum pingsan, Tuan Muda Aurora dari masa lalu menatap ayahnya, dan menyaksikan sang ayah memberontak. Ia menyaksikan ayahnya mengubah hukum kultivasinya menjadi kedewaan, dan melesat ke langit berbintang. Bahkan jika kalah, ia akan tetap melawan Paragon Immortal! Itulah hal terakhir yang dilihat Tuan Muda Aurora sebelum kehilangan kesadaran.
Namun, bayangan-bayangan sejarah terus berlanjut. Tuan Muda Aurora dan Spirit Phoenix yang melangkah keluar dari cermin dan masuk ke masa lalu, sedang memerhatikan dengan seksama. Mereka ingin melihat… apa yang sebenarnya terjadi.
Dan mereka pun melihatnya.
Setelah Dewa Immortal Aurora melesat ke langit berbintang, ia bersinar dengan cahaya merah yang cemerlang. Namun… ia sama sekali tidak memiliki niat untuk bertarung!
Sambil tersenyum, namun dengan air mata mengalir di wajahnya, ia menatap tangan kuno itu dan berteriak, “Bunuh aku, Ayah!”
Kata-kata itu menghantam pikiran Tuan Muda Aurora bagaikan jutaan sambaran petir. Ini bukanlah pertarungan untuk memadamkan pemberontakan. Melainkan….
“Ayah… meminta untuk mati…?” gumam Tuan Muda Aurora dengan penuh kepahitan.
Sebuah desah kuno bergema menembus sejarah. Gelembung-gelembung itu berkilau, dan cahaya berputar membentuk sosok yang agung. Sosok itu melayang di langit berbintang di hadapan Dewa Immortal Aurora, begitu agung hingga ia menjadi segalanya. Seolah-olah dialah langit berbintang itu. Emosi yang rumit memenuhi matanya. Rasa malu. Ketidakberdayaan. Kesedihan.
“Apakah kau menyalahkanku?” tanya suara itu dengan serak. “Karena telah menyegel racun dewa di dalam dirimu…?”
Dewa Immortal Aurora mendongak menatap sosok yang sudah tidak asing lagi di hadapannya. Dialah ayahnya, entitas paling agung di seluruh Lingkaran Bintang Kelima. Paragon Immortal!
Dialah sosok yang memimpin para kultivator dari seluruh dunia kecil dalam serangan balasan yang hebat terhadap para dewa! Dialah yang menggulingkan dinasti para dewa dan mengakhiri penderitaan semua makhluk hidup. Dialah yang memadatkan Lingkaran Bintang Kelima dan mengubahnya menjadi tanah para kultivator. Tidak ada seorang pun yang telah mencapai hal lebih besar di Lingkaran Bintang Kelima selain dirinya. Ada tak terhitung banyaknya orang yang tumbuh dengan memujanya sebagai pahlawan sepanjang masa.
“Aku tidak menyalahkanmu,” ucap Dewa Immortal Aurora. “Dulu saat perang melawan para dewa, kelihatannya kau menang. Namun kenyataannya, tepat sebelum kematiannya, Paragon Dewa menginfeksimu dengan racun dewa.
“Para dewa adalah manifestasi fundamental dari lingkaran bintang yang lebih tinggi. Mereka adalah bagian dari lingkaran bintang yang lebih tinggi. Oleh karena itu, seorang Dewa tidak akan pernah bisa benar-benar dimusnahkan, tidak untuk selamanya. Selama seseorang masih mengingat seorang Dewa, maka tidak peduli berapa banyak epos yang berlalu, Dewa itu dapat dipanggil kembali. Apalagi… seorang Paragon Dewa.”
Dewa Immortal Aurora menatap sang Paragon Immortal, dan tubuhnya berpijar dengan cahaya merah saat ia melanjutkan, “Paragon Dewa menggunakan kekuatan yang dilepaskan dari kehancuran kedewaannya untuk mengumpulkan kekuatan dewanya yang tak terbatas dan mengubahnya menjadi kutukan pamungkas. Bahkan seseorang yang sangat kuat sepertimu pun tidak bisa melenyapkannya sepenuhnya dari eksistensi. Dan sisa-sisa yang tertinggal saat kau mencoba melakukannya berubah menjadi tanda segel.
“Itulah sebabnya kau mengasingkan diri setelah pertempuran akhir. Kau mendapati bahwa Paragon Dewa… ingin kutukan itu berada di dalam dirimu… agar ia bisa bangkit kembali. Kebangkitan seperti itu akan membutuhkan waktu yang sangat, sangat lama. Namun jika prosesnya tidak dapat dihentikan, maka kebangkitan itu pasti akan terjadi. Dan saat hal itu terjadi, tanah para kultivator di Lingkaran Bintang Kelima ini akan menjadi abu.
“Untuk mencegah hal itu terjadi, kau menjelajahi semua lingkaran bintang yang lebih tinggi dan lebih rendah, mengirimkan klon yang tak terhitung jumlahnya dengan harapan menemukan cara untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dan akhirnya kau menemukannya.”
Suara Aurora sedikit bergetar, dan ketika ia mulai berbicara lagi, ada kepahitan dalam suaranya. “Dan caranya adalah dengan memindahkan racun dewa itu dan masuk ke dalam kondisi tertidur pulas! Ilmu pemindahan itu disertai dengan syarat yang sangat ketat. Kau hanya bisa mewariskannya kepada anak tunggal. Putramu. Aku. Dan aku hanya bisa mewariskannya kepada anak tunggal.
“Setelah diwariskan melalui 4.900 generasi, kutukan itu akan sepenuhnya lenyap. Dengan setiap pemindahan, kutukan itu akan melemah hingga akhirnya menghilang. Itulah sebabnya, demi Lingkaran Bintang Kelima, kau memilih untuk mengambil racun dewa itu dan menggunakan ilmu tersebut… untuk memindahkannya kepadaku dan memasuki kondisi tertidur.
“Itulah juga alasan mengapa ada suksesi antar-epos di Lingkaran Bintang Kelima. Wujud aslimu sedang tidur, dan bahkan klonmu pun harus tetap tertidur sebagian besar waktunya. Kau mengorbankan garis keturunanmu demi Lingkaran Bintang Kelima. Kepahitan keluarga kita adalah satu-satunya cara untuk menjaga racun dewa tetap disegel, dan seiring berjalannya generasi, akhirnya menyingkirkannya.
“Aku memahami semuanya itu, dan aku berniat untuk menurutinya.” Dewa Immortal Aurora berbicara dengan nada nyaris berbisik sekarang. “Namun… Ayah, racun dewa itulah yang menyebabkan ibu Ming’er meninggal! Dia… meninggal saat aku kehilangan kendali untuk pertama kalinya! Akulah… yang secara pribadi mencabik-cabiknya hingga berkeping-keping…. Akulah… yang membunuh cinta dalam hidupku….
“Tahukah kau bahwa dia bahkan tidak mencoba menghentikannya? Dia tidak marah. Saat ia meninggal, ia menatapku dengan penuh cinta di matanya. Ia membayar dengan nyawanya untuk membawaku kembali dari kegilaan dan menguasai diriku sendiri. Aku tidak sanggup menghadapi kenyataan itu. Itulah sebabnya aku masuk ke dalam kondisi tertidur.”
Dewa Immortal Aurora menangis sambil menatap Paragon Immortal. Wajahnya dipenuhi rasa sakit yang mendalam. Ia tidak sanggup memikirkan apa yang telah ia perbuat. Ia tidak dapat menerimanya, dan ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Namun, ia tidak bisa mengabaikan ayahnya sendiri, yang telah mengorbankan segalanya demi Lingkaran Bintang Kelima, bahkan garis keturunannya sendiri.
Tetapi semakin ia berusaha mencerna hal itu di dalam pikirannya, semakin ia menyalahkan dirinya sendiri. Dan rasa bersalah itu berubah menjadi lubang hitam yang perlahan-lahan menghancurkannya. Di tengah penderitaan yang tak berkesudahan itu, ia akhirnya memilih untuk menyegel dirinya sendiri. Ia khawatir, dalam kondisinya saat ini, ia mungkin akan menyakiti lebih banyak orang. Karena alasan itulah, secara historis, ia telah tertidur begitu lama.
“Ketika aku terbangun 10.000 tahun kemudian, aku pikir aku sudah mengendalikan segalanya. Jadi, aku melepaskan segel Ming’er… dengan niat untuk menemaninya. Berada bersama Ming’er saat ia tumbuh dewasa adalah masa penyembuhan bagiku…. Namun, Ayah, bagaimana mungkin aku tahu bahwa aku sama sekali tidak bisa mengendalikan keadaanku?? Dan kemudian… aku kehilangan kendali lagi.”
Dewa Immortal Aurora gemetar, dan suaranya pun ikut bergetar. “Ketika hal itu terjadi, aku hampir… aku hampir mencabik-cabik Ming’er berkeping-keping. Aku hampir saja melakukannya… Setelah itu, aku memilih untuk membangun gua itu untuk menyegel diriku sendiri. Aku menyuruh Ming’er untuk tidak pernah datang menemuiku di malam hari. Aku pikir… menyegel diriku adalah pilihan yang aman.
“Hingga… aku menyadari bahwa hukum kultivasi Ming’er telah berubah. Saat itulah aku menyadari bahwa kaulah yang telah mengubah hukum kultivasinya. Itu bukan lagi cermin. Melainkan… telah menjadi sesuatu yang dapat memindahkan racun dewa! Itulah yang dapat menyegel racun dewa… Segel Tiga-Karma Sepuluh-Kejahatan!
“Kau ingin aku memindahkan sumber penderitaan yang tak tertahankan ini kepada Ming’er. Tapi bagaimana mungkin aku tega membuatnya mengalami apa yang telah kualami? Penderitaan tanpa akhir, siang dan malam. Rasa sakit karena secara pribadi telah membunuh cinta dalam hidupmu!”
Dewa Immortal Aurora mulai tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk ke arah Paragon Immortal.
“Ayah, bagi Lingkaran Bintang Kelima, kau adalah Paragon Immortal, yang pencapaian gemilangnya tidak akan pernah bisa ditandingi! Aku tidak menyalahkanmu karena mengorbankan garis keturunanmu! Tapi… kau juga adalah ayahku!
“Aku tidak sehebat dirimu! Aku tidak bisa dan tidak akan mengambil rasa sakit itu dan menimpanya kepada putraku! Aku juga tahu bahwa ada cara lain untuk mengatasi racun dewa, cara yang tidak begitu rumit. Kenyataannya, dulu saat kau memindahkan racun dewa itu kepadaku, kau tahu bahwa kau bisa menggunakan cara lain itu untuk melenyapkan racun dewa selamanya. Dan itu adalah menunggu sampai waktu yang tepat, ketika aku sudah cukup umur dan kemudian membunuhku begitu saja!
“Nah… racun dewa dan aku telah sepenuhnya menyatu. Waktunya telah tiba! Aku telah memberontak. Aku mengubah hukum kultivasiku menjadi kedewaan. Dewa itu sedang bangkit di dalam diriku. Ayah, kau… tidak punya banyak waktu lagi! Kau… harus membunuhku!! Cabik dagingku. Hancurkan tulangku. Musnahkan jiwaku. Lenyapkan aku dari eksistensi! Pastikan aku tidak ada di masa lalu, masa kini, atau masa depan!
“Singkirkan setiap jejak diriku dari ingatan semua makhluk hidup! Pastikan aku tidak ada dalam reinkarnasi. Seharusnya… seolah-olah aku tidak pernah ada! Seolah-olah kau tidak pernah memiliki aku sebagai seorang putra!”
Dewa Immortal Aurora akhirnya mengambil sikap! Aurora merah darah menodai seluruh sejarah…. Itu adalah warna pernikahan, tetapi juga warna darah! Inilah kasih sayang seorang ayah. Dan kemudian, sebuah suara bergema di dalam sejarah.
“Ming’er, mulai sekarang… kau akan menjadi matahari dan bulan di Lingkaran Bintang Kelima. Kau akan memiliki cahaya tak terbatas yang tidak akan pernah bisa dinodai. Kehendak para dewa telah terungkap telanjang, dan kau bisa terbebas selamanya dari racun dewa!”
Chapter 1178 · 7m baca
Henceforth, I Will Not Exist in Reincarnation!
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter