Beyond the Timescape - Chapter 1132 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 1132 · 8m baca

What Is Canon??

by Er Gen

Xu Qing menatap ke luar melampaui lukisan gulungan tersebut. Ia melihat... ke arah Sekte Dao Abadi.

Tubuh fisiknya sama sekali tidak bereaksi terhadap apa pun yang terjadi di sana. Namun, situasinya berbeda ketika menyangkut pikirannya. Ada sensasi samar yang melampaui tingkat tubuh fisik dan eksis di dalam alam kesadarannya.

Seseorang ingin merebut dao-ku?

Ia mempertimbangkan situasi itu sejenak, lalu menjernihkan pikirannya.

Saat ini, hal terpenting baginya adalah menstabilkan jurang kedelapan miliknya. Jurang kedelapan itu muncul persis seperti yang telah ia rencanakan. Namun, kelahiran kanon benar-benar berada di luar dugaannya. Hal itu akan selamanya mengubah cara bertarung yang ia miliki.

Setelah melewati tujuh jurang pertama, jurang ini akan membawanya ke tingkat yang sama sekali berbeda. Kelima jurang pertama adalah fondasinya. Waktu dan ruang bertindak bagaikan bahan bakar. Dan ketika keduanya tersulut, hal itu memicu terciptakan jurang kedelapannya. Jurang itu mengandung reinkarnasi, karma, dan segalanya, untuk menciptakan dao ruang-waktu. Kehadirannya memicu sebuah pencerahan yang menghantam batinnya.

Ini adalah sejenis peningkatan. Hal ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan tubuh fisik, melainkan sebuah peningkatan pada pola pikir dan jiwa.

Ia memejamkan mata untuk merasakan keberadaan jurang kedelapan di dalam dirinya.

Ini adalah kondisi ruang-waktu yang bisa kumasuki kapan pun aku mau! Begitu aku memasukinya, tubuh fisiknya berada di luar, sementara pikiranku melampaui segalanya, mencapai tingkat mahatahu. Saat berada dalam kondisi itu, aku bisa mengamati semua makhluk hidup persis seperti saat aku melihat dan memodifikasi sebuah buku sketsa. Aku bisa memengaruhi. Aku bisa mengutak-atik. Aku bisa mengendalikan.

Saat ia memikirkan hal-hal tersebut, kedelapan jurang di dalam dirinya menyebar... dan sensasi ruang-waktu itu muncul kembali. Ia melihat sekeliling dan merasakan segalanya secara jauh lebih mendalam.

Bertarung dalam kondisi ini akan melampaui apa pun yang bisa kubayangkan sebelumnya. Tidak ada seorang pun yang bisa menyembunyikan rahasia dariku. Teknik magis. Faktor fisik. Bahkan pikiran, takdir, reinkarnasi. Masa lalu dan masa depan bahkan akan tampak transparan bagiku.

Sebelum musuhku sempat mendeteksi apa yang sedang terjadi, aku sudah bisa memengaruhi pilihan-pilihan mereka. Benar dan salah. Hidup dan mati. Semuanya dapat ditentukan oleh kehendakku. Aku bisa mengubah teknik magis musuh, terlepas dari asal-usul atau substrukturnya. Semuanya berkat kehendakku. Aku bisa pergi ke waktu dan tempat mana pun. Bahkan, aku bisa pergi ke saat musuh lahir, lalu membunuh mereka saat itu juga.

Jadi, begitulah kekuatan kanon... ya? Jika berada di dunia bawah, kekuatan ini mungkin belum mencapai tingkat para dewa, tetapi tidak akan terlalu jauh dari itu. Namun di sini, di tiga puluh enam cincin bintang yang lebih tinggi, di mana eksistensi yang lebih agung berada, kanon membentuk sebuah batasan. Kanon....

Ketika kanon miliknya sendiri muncul dan suara itu bergema dari kehampaan, pemahaman yang sudah ada sebelumnya tentang kanon langsung menghampirinya. Sebagian pemahaman itu berasal dari dirinya sendiri, dan sebagian lagi berasal dari pesan yang disampaikan oleh suara tersebut.

Kanon melampaui hukum alam dan magis. Kanon adalah kekuatan para dewa yang tidak diketahui dan mahakuasa di tiga puluh puluh enam cincin bintang yang lebih tinggi.

Tiga puluh enam cincin bintang yang lebih tinggi adalah milik para dewa. Dan para dewa dapat dengan mudah menggunakan kekuatan yang tidak diketahui dan mahakuasa tersebut. Kekuatan itu awalnya berwujud otoritas dewa. Namun setelah naik ke tingkat Dewa Sejati, kekuatan itu berubah menjadi keilahian.

Mereka terlahir dengan kemampuan untuk memperolehnya. Itulah sebabnya para dewa begitu kuat. Bagaimanapun juga, mereka adalah penduduk asli dari tiga puluh enam cincin bintang yang lebih tinggi.

Para kultivator adalah orang luar, dan secara alamiah tidak memenuhi syarat untuk mendapatkannya. Kualifikasi itu dipecah ke dalam berbagai proses. Pertama adalah esensi, lalu afinitas dao. Selanjutnya, melalui proses pembentukan embrio abadi, mereka dapat menyerap nutrisi dari cincin bintang, dan melahirkan sesuatu yang mirip dengan otoritas dewa, yaitu garis-garis dao dari otoritas kultivator. Itulah cara untuk menapaki jalan tersebut.

Kendati demikian, meskipun garis-garis dao otoritas mirip dengan para dewa dan roh, secara mendasar keduanya tidaklah sama. Satu-satunya pilihan adalah mengembangkan garis-garis dao dari otoritas tersebut hingga membentuk kanon. Dengan begitu, seorang kultivator baru bisa memperoleh kedudukan persona yang benar-benar setara dengan seorang dewa.

Kanon dan keilahian berada di tingkat yang sama!

Melalui proses rumit itulah para kultivator di tiga puluh enam cincin bintang yang lebih tinggi dapat, dengan susah payah, memenuhi syarat untuk menjadi seperti dewa. Analisis akhirnya, kanon adalah cara paling mutlak bagi para makhluk abadi untuk merebut asal-usul kekuatan di tiga puluh enam cincin bintang yang lebih tinggi.

Karena ada begitu banyak kerumitan dalam prosesnya, biasanya hanya ketika seorang kultivator mencapai tingkat Kuasi-Abadi dan memiliki embrio abadi, kanon baru mungkin akan muncul di dalam diri mereka. Namun, itu pun merupakan kemungkinan yang tidak pasti dan bergantung pada takdir kesempatan.

Secara normal, kanon hanya akan muncul ketika embrio abadi selesai terbentuk dan berubah menjadi embrio abadi yang sesungguhnya... Ada dua cara lain yang dapat membuat kanon terbentuk lebih cepat, atau setidaknya memungkinkan seseorang untuk menggunakannya.

Cara tersebut adalah warisan dan pusaka magis.

Contoh dari kategori pertama adalah bunga warisan dari babak terbaru Ujian Perburuan. Saat itu, seorang kultivator yang memiliki jenis kanonnya sendiri mengupas sebagian darinya dan memberikannya kepada orang lain.

Sedangkan untuk kategori kedua, benda-benda tersebut disebut sebagai pusaka kanon. Namun, pusaka kanon biasanya tidak lengkap dan memiliki tingkat kekuatan kanon yang rendah. Kekuatan kanon adalah cara untuk mengukur kanon itu sendiri.

Begitu kanon terbentuk, ia perlu diperluas hingga sempurna, di mana pada saat itulah ia akan menjadi sebuah asal-usul. Proses tersebut adalah salah satu faktor esensial untuk mencapai tingkat Penguasa Abadi. Oleh karena itulah para kultivator di bawah tingkat Kuasi-Abadi membutuhkan takdir kesempatan untuk mendapatkan kanon....

Jika seorang kultivator dengan kekuatan tempur Penguasa Kekaisaran berhasil mendapatkannya, maka jurang perbedaan antara dirinya dan seseorang yang tidak memiliki kanon akan sangat masif. Bahkan orang-orang dengan tingkat basis kultivasi yang sama akan memiliki kekuatan tempur yang terpaut sejauh langit dan bumi.

Itulah sebabnya Li Mengtu begitu bertekad untuk terlibat dalam pertarungan dao sampai mati melawan Xu Qing demi mendapatkan warisan tersebut. Pasalnya, memiliki kanon akan menempatkan seseorang di puncak mutlak dan tertinggi dari tingkat Penguasa Kekaisaran.

Hanya kultivator lain yang juga memiliki kanon yang mungkin bisa menandingi orang semacam itu. Siapa pun yang tidak memiliki kanon berada di tingkat persona yang lebih rendah dan tidak akan memiliki peluang. Itulah pula alasannya mengapa ada tiga hukum yang mengatur kanon.

Pertama: Kanon adalah milik para kultivator, dan merupakan simbol dari para makhluk abadi.

Kedua: Benturan antara kanon melawan kanon adalah proses yang berujung pada kehancuran. Kanon mana pun yang hancur lebih dulu akan berakibat pada kematian.

Ketiga: Karena kanon dikenal sebagai yang tertinggi, satu-satunya hal yang dapat menghancurkannya adalah kanon itu sendiri atau sesuatu yang setara dengan kanon, yaitu keilahian.

Terlebih lagi, tidak menjadi soal berapa banyak jenis kanon yang dimiliki seseorang. Jumlah spesifik tersebut terikat pada tingkat persona mereka. Hal itu bahkan berlaku jika seseorang menguasai berbagai jenis kanon. Berbagai jenis kanon hanya dapat meningkatkan kekuatan tempur seseorang. Namun untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi, seseorang harus mendorong kanon mereka menuju kesempurnaan.

Segala pemikiran ini berkelebat di benak Xu Qing. Sesaat kemudian, ia menjernihkan pikirannya.

Sudah waktunya untuk pergi.

Ia mendongak, tetapi tidak melakukan apa pun selain mengamati kehampaan di hadapannya. Kehampaan itu bergelombang, lalu sebuah badai tercipta dan menyebar tanpa suara. Dalam sekejap, badai itu melahap seluruh dunia dalam lukisan gulungan tersebut. Semuanya buram lalu lenyap.

Ketika Xu Qing muncul kembali, tidak ada lagi lukisan gulungan di hadapannya. Sebagai gantinya, yang tampak adalah sebuah kuali pil yang dikelilingi api berkobar. Api itu kemudian padam. Api tersebut tidak lagi mampu mendatangkan bahaya.

Mungkin akan lebih akurat jika dikatakan bahwa api tersebut memiliki roh, dan roh itu sama sekali tidak mampu memahami apa sebenarnya Xu Qing. Yang bisa dilakukannya hanyalah membakar tanpa hasil.

Bahkan kuali pil itu tampak buram di dalam bidang penglihatan Xu Qing, seolah-olah benda itu tidak pernah ada.

Xu Qing berdiri di dunia kecil milik Klan Li, tepat di depan aula kuil kayu. Saat mengamati sekeliling, ia melihat tak terhitung masa lalu dan tak terhitung masa depan dari dunia ini. Hal yang sama berlaku untuk segalanya, termasuk bangunan kayu dan gulungan kaligrafi tersebut.

Yang sangat menarik... adalah bahwa di dalam masa lalu dari lini masa bangunan kayu itu, ia melihat seseorang. Orang itu berbeda dari dunia ini. Ia hanya memiliki masa lalu, tanpa masa kini atau masa depan. Bahkan masa lalunya pun tampak buram, seolah-olah sedang berada di ambang keruntuhan. Ia adalah seorang paruh baya yang mengenakan pakaian tanpa lengan berwarna hijau, dan ia berdiri di depan sebuah meja di dalam bangunan kayu tersebut. Ia memegang kuas tulis di tangannya. Ia tampak tenggelam dalam pikiran, seolah-olah tidak yakin apa yang harus ditulisnya.

"Aku tidak begitu yakin bagaimana cara menulis kata-kata terakhirku," ucapnya dengan tenang, tanpa repot-repot mendongak dari mejanya. "Karena kau datang ke sini menembus waktu, Rekan Daois, bisakah kau membantuku?"

Xu Qing terdiam sejenak. Ia menatap masa lalu orang yang sedang runtuh itu, dan ia melihat Bumi Dalam. Ia melihat Leluhur Kuno. Dan ia pun mengenali siapa orang itu. Ia menghela napas dalam hatinya.

Pria berbusana hijau itu tidak berkata apa-apa lagi.

Setelah beberapa saat, Xu Qing bersuara. "Bagaknya seorang tamu saleh, ia mencari sebuah kuil yang bahkan mungkin tidak pernah ada."

Selesai berkata demikian, Xu Qing menangkupkan tangan dan membungkuk. Kemudian ia mengalihkan pandangannya, dan segalanya pun lenyap. Dunia kembali normal. Xu Qing menatap ke langit. Di atas sana, ruang-waktu sedang bergejolak, tidak seperti bagian lain di area tersebut.

Tak lama kemudian, area itu memperlihatkan bayangan Li Mengtu di masa lalu, yang datang untuk meletakkan lukisan gulungan ke dalam kuali pil. Xu Qing mengulurkan tangan, dan bayangan itu berubah menjadi seberkas cahaya yang melesat ke dalam telapak tangannya. Seluruh lintasan kehidupan Li Mengtu lantas menjadi jelas di benak Xu Qing. Ia mengikuti salah satu lintasan tersebut dan melangkah maju.

Dunia meleleh, dan kehampaan berubah menjadi sebuah jalan. Ia berjalan pergi tanpa meninggalkan jejak apa pun.

Seluruh dunia kecil itu diliputi keheningan.

Kendati demikian, setelah Xu Qing pergi, sebuah desahan terdengar di ruang-waktu yang sebelumnya pernah ada di tempat itu.

Setiap generasi, dan bahkan setiap orang, pada akhirnya selalu mencari jenis kuil yang berbeda-beda. Dulu saat aku pergi, aku menempuh jalanku sendiri dan menjalani jalanku sendiri. Aku tadinya berpikir kalau aku telah menemukan apa yang kucari di sini. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Aku sekarang sadar bahwa aku tidak cukup kuat untuk menapaki jalanku. Tapi sekarang setelah dia muncul... aku merasa bahwa dialah kuil itu.

Suara itu memudar. Tulisan kaligrafi di dinding bangunan kayu itu menjadi buram dan berubah menjadi kalimat lain. Itu adalah sebuah kalimat tunggal.

"Kurasa aku telah menemukannya."

Saat kata-kata itu muncul, seolah-olah takdir di seluruh Cincin Bintang Kelima bergejolak. Kendati demikian, dampaknya tidak menyebar secara luas. Efeknya hanya menyentuh para anggota Klan Li yang masih hidup. Seluruh orang tersebut, termasuk Li Mengtu, mengingat kata-kata yang tertulis pada gulungan kaligrafi di aula kuil leluhur. Namun saat itu juga, ingatan-ingatan tersebut berubah.

Aurora di kubah langit bergelombang. Mata dari kedua belas pengawas surgawi berkilat, dan benang-benang tak kasat mata memancar keluar dari diri mereka, seolah-olah sedang mencari informasi.

Di luar mereka terdapat kesebelas istana abadi. Sembilan di antaranya tampak sama seperti biasanya, tetapi dua dari istana tersebut bersinar sangat terang seiring terbentuknya simbol-simbol magis yang menyilaukan di sekitar mereka.

Lalu sebuah suara tanpa batas menggema dari tempat yang amat tinggi.

"Ruang-waktu ini telah ditentukan, dan tidak dapat diubah. Namun mengingat kekuatan tersembunyi dari kanon ini, para makhluk abadi tidak dapat mencari informasi darinya."

Kedua belas pengawas surgawi di dalam aurora menundukkan kepala mereka, dan benang-benang yang keluar dari diri mereka pun putus.

Setelah mempertimbangkan sejenak, kedua istana abadi yang bersinar itu memilih untuk mengurungkan niat.

Lukisan kaligrafi di dalam bangunan kayu itu kembali buram, dan tulisan di dalamnya kembali seperti sedia kala. Ingatan para anggota Klan Li pun kembali ke keadaan mereka sebelumnya.

Gunakan ← → untuk pindah chapter