Bulan lunar ketiga, awal musim semi, di sebuah sudut terpencil di bagian timur Benua Phoenix Selatan.
Langit yang gelap dan kabur membentang menindih di atas kepala, bagaikan lukisan tinta yang dicipratkan ke atas kanvas; kubah langit tampak hitam legam dengan gumpalan awan yang berarak suram. Sambaran petir berwarna merah darah menari-nari di antara lapisan awan, diiringi oleh deru guntur yang menggelegar.
Suara itu terdengar bagaikan raungan sesepuh dewa, menggema ke seluruh dunia fana.
Hujan berwarna darah turun dengan penuh kesedihan membasahi dunia sekuler.
Di bawah sana, tersembunyi sebuah kota yang telah menjadi reruntuhan, dihantam oleh hujan merah, benar-benar tanpa tanda-tanda kehidupan. Tembok-tembok kota yang hancur tidak menyisakan makhluk hidup apa pun. Bangunan-bangunan yang runtuh tampak berserakan, begitu pula mayat-mayat berwarna hijau kehitaman dan tumpukan daging berdarah. Tak ada suara yang memecah keheningan. Jalanan kota yang dulunya sibuk kini menjadi sunyi senyap. Di masa lalu, orang-orang biasa melintasi jalan berdebu ini, tapi tidak lagi.
Satu-satunya hal yang tersisa adalah daging yang tercabik-cabik, tanah, dan serpihan kertas, tercampur menjadi adonan berdarah yang tampak begitu mengerikan dan mengejutkan.
Tidak jauh di kejauhan, sebuah gerobak kuda terbalik tertancap di dalam lumpur dan hampir hancur berkeping-keping. Tergantung di as roda gerobak itu, sebuah boneka kelinci bergoyang ditiup angin, bulu putihnya telah lama ternoda oleh darah merah. Mata boneka yang suram itu memancarkan kebencian saat ia menatap kosong ke arah batu-batuan jalanan yang bersimbah darah di depannya.
Dekat gerobak itu tergeletak seorang pemuda.
Usianya tampak sekitar tiga belas atau empat belas tahun, pakaiannya compang-camping dan kotor. Di pinggangnya terikat sebuah kantong yang terbuat dari kulit binatang.
Matanya menyipit dan ia tidak bergerak sama sekali. Angin es menderu melalui lubang-lubang pakaiannya, perlahan namun pasti merenggut kehangatan dari tubuhnya. Kemudian beberapa tetes air hujan mengenai wajahnya, dan ia mengerjap, menampakkan sepasang mata dingin bak elang yang terfokus pada sesuatu tidak jauh darinya.
Sekitar dua puluh meter jauhnya, seekor burung bangkai yang kurus kering sedang merobek daging dari bangkai seekor anjing liar, sesekali melirik ke sekeliling.
Reruntuhan ini adalah tempat yang berbahaya, dan hanya butuh sedikit saja gerakan bagi burung bangkai itu untuk terbang ke udara demi keselamatan.
Pemuda itu juga sedang menunggu kesempatannya, bagaikan seorang pemburu yang handal.
Tidak butuh waktu lama bagi kesempatan itu untuk tiba, saat burung bangkai tersebut tiba-tiba membenamkan kepalanya jauh ke dalam rongga dada anjing itu.
Mata pemuda itu berubah menjadi sangat dingin, dan ia melesat bagaikan anak panah dari busurnya, berlari ke arah burung bangkai itu sambil mencabut sebuah tusukan besi hitam dari kantongnya.
Ujung tusukan besi itu memancarkan kilau yang dingin.
Mungkin karena itu, atau mungkin karena niat membunuh yang memancar dari tubuh pemuda tersebut, burung bangkai itu merasakannya. Mengepakkan sayapnya karena panik, ia terbang ke udara.
Namun itu sudah terlambat.
Wajah pemuda itu sama sekali tanpa ekspresi saat ia melemparkan tusukan besi hitam itu, membuatnya melesat membelah udara dalam garis hitam pekat.
CPLAS!
Tusukan itu menembus kepala burung bangkai, menghancurkan tengkoraknya dan merenggut nyawanya dalam sekejap. Kekuatan hantaman tersebut membawa burung bangkai itu melayang di udara hingga menabrak gerobak kuda.
Boneka kelinci berlumuran darah itu berayun ke kiri dan ke kanan.
Wajah pemuda itu tetap tenang saat ia bergegas kembali ke gerobak dan meraih burung bangkai beserta tusukan besinya. Bocah itu telah melemparkan tusukan tersebut dengan kekuatan penuh, sehingga ketika ia mencabutnya dari gerobak, potongan kayu pun ikut terbawa.
Setelah menyelesaikan semuanya, pemuda itu berjalan pergi tanpa menoleh ke belakang.
Angin bertiup semakin kencang. Pada saat yang sama, kelinci berlumuran darah itu tampak seolah-olah sedang mengawasi pemuda yang tengah berjalan pergi.
Berkat hembusan angin, hujan terasa semakin dingin saat menghantam pemuda itu dan pakaiannya yang compang-camping.
Pada suatu titik, ia membungkuk, mengerutkan kening sambil berusaha merapatkan pakaiannya untuk menghangatkan diri. Ia mendengus kesal.
Ia benci hawa dingin.
Biasanya, ia akan tetap tinggal di dalam ruangan saat cuaca seperti ini. Tapi sekarang, ia terburu-buru menyusuri jalan tanpa henti, melewati berbagai toko dan bangunan yang rusak parah.
Waktu yang tersisa tidak banyak lagi. Perburuannya terhadap burung bangkai tadi memakan waktu lebih lama dari yang ia perkirakan, dan ada tempat lain yang harus ia tuju malam ini.
Seharusnya tempat itu sudah tidak jauh lagi.
Mayat-mayat berwarna hijau kehitaman memenuhi jalan di depan, wajah-wajah mereka menyiratkan amarah dan keputusasaan. Seolah-olah aura keputusasaan yang mereka pancarkan berniat meracuni pikiran sang pemuda.
Namun pemuda itu sudah terbiasa, dan ia sama sekali tidak memikirkan mayat-mayat itu dua kali.
Bahkan, matanya terus mengawasi langit. Ia tampak cemas, seolah-olah langit yang semakin menggelap jauh lebih mengerikan daripada gabungan seluruh mayat tersebut.
Akhirnya, ia melihat sebuah toko obat di kejauhan. Menghela napas lega, ia bergegas menuju ke sana. Tempat itu tidak begitu besar, dan laci-laci obat berserakan di mana-mana. Tempat itu berbau campuran obat-obatan dan jamur, hampir seperti aroma makam yang baru saja dibuka. Seluruh ruangan tampak berantakan.
Di sudut ruangan terdapat mayat seorang lelaki tua yang bersandar di dinding, kulitnya berwarna hijau kehitaman. Ia mati dengan mata terbuka, menatap kosong ke arah dunia.
Pemuda itu melirik sekeliling lalu mulai menggeledah tempat tersebut.
Tanaman obat di tempat itu senada dengan mayat-mayat di luar. Sebagian besar berwarna hijau kehitaman. Hanya sedikit yang tampak normal.
Pemuda itu mengamati tanaman obat yang tidak tercemar itu, seolah-olah sedang menelusuri ingatannya. Akhirnya, ia mengenali tanaman obat yang biasa digunakan untuk merawat luka sayat. Melepaskan baju compang-campingnya, ia menunduk menatap luka menganga di dadanya.
Luka itu belum sembuh, dan bagian tepinya mulai menghitam. Ada sedikit darah yang juga merembes keluar.
Menghancurkan tanaman obat tersebut, ia menarik napas dalam-dalam lalu mengoleskan pasta obat itu pada lukanya.
Rasa sakit yang luar biasa membuat penglihatannya berkunang-kunang, sekujur tubuhnya gemetar dan ia hampir terjatuh. Ia memaksa dirinya untuk terus mengoleskan obat itu, sementara butiran-butiran keringat tak tertahankan muncul di dahi dan mengalir menuruni wajahnya hingga jatuh ke tanah, menyerupai noda tinta di bawahnya.
Sepuluh detik berlalu. Setelah menutupi lukanya dengan obat, tenaga pemuda itu habis. Bersandar pada lemari obat di dekatnya, ia meluangkan waktu untuk mengatur napas, lalu mengenakan kembali bajunya.
Sekali lagi, ia menatap ke arah langit. Kemudian ia menarik keluar sebuah peta usang dari kantongnya dan membukanya dengan hati-hati.
Itu adalah gambaran sederhana tentang kota tempat ia berada saat ini. Toko obat tersebut ditandai di atas peta, dan banyak distrik kota di bagian timur laut yang telah dicoret. Tampaknya ia menggunakan kukunya sendiri untuk melakukannya. Hanya tersisa dua distrik yang belum dicoret.
Setelah sekian hari mencari, setidaknya aku tahu tempat itu berada di salah satu dari kedua distrik tersebut. Ia melipat petanya, menyimpannya kembali, dan bersiap untuk pergi.
Saat hendak melangkah keluar, ia berhenti dan menatap mayat lelaki tua itu. Lebih tepatnya… pakaian yang dikenakannya.
Lelaki tua itu mengenakan jaket kulit berkualitas bagus yang kondisinya sebagian besar masih utuh.
Setelah berpikir sejenak, pemuda itu berjalan mendekat, melucuti jaket dari mayat lelaki tua itu, lalu mengenakannya.
Ukurannya sedikit kebesaran, tetapi setelah memakainya, setidaknya ia merasa hangat. Ia menatap mayat lelaki tua itu sejenak, lalu berlutut dan memejamkan mata.
"Beristirahatlah dengan tenang," ucapnya dengan suara serak yang lembut. Merobek salah satu tirai di dinding, ia menutupi mayat lelaki tua itu, lalu pergi.
Begitu melangkah keluar ke area terbuka, ia melihat kilatan cahaya di depan. Sebuah cermin seukuran telapak tangan tertancap di dalam lumpur.
Saat menunduk melihatnya, ia dapat melihat bayangannya sendiri.
Wajahnya kotor, namun itu tidak sepenuhnya mampu menutupi fitur wajahnya yang lembut dan sangat tampan. Sayangnya, kepolosan yang seharusnya terpancar dari seorang remaja lelaki telah lenyap, digantikan oleh sikap acuh tak acuh yang dingin.
Pemuda itu menatap bayangannya cukup lama, lalu mengangkat kakinya dan menginjak cermin tersebut.
KREK!
Ia meninggalkan cermin yang telah berkeping-keping itu di belakang saat ia berlari menuju ke kejauhan.
Meskipun telah hancur berkecai, cermin itu masih berhasil memantulkan cahaya dari langit. Di atas sana, menaungi seluruh dunia, dan mengawasi semua makhluk hidup, terpampang separuh wajah dari sesosok dewa yang patah.
Wajah itu tampak acuh tak acuh, dengan mata terpejam, dan rambut yang menjuntai di sekitarnya. Wajah itu adalah bagian alami dari dunia ini, mirip seperti matahari dan bulan.
Di bawahnya, makhluk hidup di dunia ini bagaikan serangga. Hama. Dan seperti halnya fenomena Kebangkitan Serangga, kehidupan semua makhluk di dunia terpengaruh oleh wajah itu, dan berubah karenanya.
Di bawah wajah dewa tersebut, pancaran dan cahaya perlahan memudar dari siang hari.
Bayangan yang dilemparkan oleh matahari terbenam menciptakan kabut yang memenuhi reruntuhan, menyelimuti seluruh daratan di sekitarnya, seolah-olah hendak menelan mereka bulat-bulat.
Hujan turun semakin deras.
Seiring kegelapan yang semakin pekat dan angin yang bertiup kencang, lolongan tajam melayang di udara.
Suara itu terdengar bagaikan tangisan hantu jahat, menyerukan untuk membangkitkan monster apa pun yang mengintai di dalam reruntuhan. Suara-suara tersebut membuat bulu kuduk merinding, dan mampu mengguncang jiwa siapa pun yang mendengarnya.
Pemuda itu berlari menyusuri jalanan dengan lebih cepat dan penuh desakan seiring turunnya kegelapan. Akhirnya, ia berlari melewati sebuah rumah yang runtuh dan hendak terus melangkah ketika pupil matanya mengerut.
Baru saja, ia melihat seseorang di kejauhan. Orang ini tampaknya tidak mengalami cedera sama sekali, mengenakan pakaian bagus saat bersandar di dinding. Yang terpenting, kulitnya tampak normal. Tidak berwarna hijau kehitaman! Di reruntuhan seperti ini, hanya orang yang masih hiduplah yang mungkin terlihat seperti itu!
Pemuda itu sudah lama tidak melihat orang yang masih hidup. Perkembangan tak terduga ini membuatnya merasa terguncang. Kemudian, sebuah pikiran terlintas di benaknya, dan ia mulai bernapas dengan berat, seolah-olah ia sedang gugup.
Ia ingin terus maju, namun kegelapan telah menutup jalan dari belakang. Ia ragu-ragu sejenak. Kemudian ia mengingat posisi tersebut di dalam benaknya dan bergegas pergi.
Tepat sebelum kegelapan benar-benar jatuh, pemuda itu mencapai tempat tinggalnya di dalam reruntuhan. Itu adalah sebuah gua yang sangat kecil dengan bulu-bulu burung berserakan di mana-mana.
Satu-satunya jalan masuk adalah sebuah celah yang terlalu kecil untuk dilewati orang dewasa. Namun, pemuda itu masih bisa menyelinap masuk dengan susah payah.
Begitu berada di dalam, ia menyumpal celah tersebut dengan berbagai benda seperti buku dan batu untuk menutup rapat-rapat.
Tepat setelah ia selesai menutup dirinya di dalam, suasana di luar menjadi gelap gulita.
Meskipun demikian, pemuda itu tidak merasa tenang. Ia menggenggam erat tusukan besinya di tangan, menahan napasnya sambil berjongkok di sana, mendengarkan apa yang terjadi di luar. Tak lama kemudian, ia mendengar suara mutan binatang buas yang melolong dan hantu-hantu yang tertawa.
Beberapa lolongan terdengar semakin jelas, semakin dekat. Bocah itu menjadi gugup. Namun, lolongan itu melewati gua dan perlahan memudar. Akhirnya, ia menghela napas lega.
Saat ia duduk di dalam gua, waktu seolah berhenti. Ia tertegun sejenak sementara sarafnya yang menegang mulai mengendur.
Di sampingnya terdapat sebuah teko berisi air. Ia meminumnya. Kemudian, mengabaikan suara-suara di luar, ia mengeluarkan bangkai burung bangkai dari dalam kantongnya.
Ia makan, merobek dagingnya dan menelannya gigitan demi gigitan. Rasanya pahit, namun ia terus makan, memaksa daging itu masuk ke dalam perutnya. Ia merasakan gemuruh saat perutnya berjuang untuk mencerna makanan baru tersebut. Hanya setelah ia benar-benar melahap habis burung bangkai itu, ia menarik napas dalam-dalam dan memejamkan mata untuk tidur.
Tubuhnya terasa sakit karena kelelahan, namun ia tetap menggenggam erat tusukan besinya. Ia bagaikan seekor serigala tunggal, siap terbangun pada tanda sekecil apa pun dari sesuatu yang tidak biasa.
Kegelapan di luar menyelimuti kota bagaikan selimut, memenuhi kubah langit.
Dunia di bawah kubah langit itu sangatlah luas. Benua Phoenix Selatan hanyalah satu lokasi di tengah lautan yang terbentang luas. Tidak ada yang benar-benar tahu seberapa besar seluruh dunia ini. Namun, setiap orang di dunia yang mendongak ke langit akan melihat wajah patah yang berada di atas sana.
Tidak mungkin untuk mengatakan secara pasti kapan wajah patah itu muncul.
Namun, dari petikan dalam catatan kuno tertentu, diketahui bahwa wajah itu tiba sejak dahulu kala. Dunia ini dulunya dipenuhi oleh energi keabadian, dan merupakan tempat yang makmur serta jaya, dipenuhi oleh gelora kehidupan. Sampai akhirnya… wajah raksasa itu datang dari kehampaan, melahap dan menghancurkan.
Sekematian kedatangan wajah itu, semua makhluk hidup di dunia bersatu untuk menghentikannya. Tapi mereka gagal. Pada akhirnya, sekelompok kecil Kaisar Kuno dan Penguasa Kekaisaran memimpin rakyat mereka pergi dalam sebuah eksodus besar.
Tidak lama setelah wajah patah itu datang dan menggantung di atas dunia, sebuah mimpi buruk pun dimulai.
Ketika auranya memenuhi dunia, terjadilah peristiwa di mana gunung-gunung, lautan, dan seluruh makhluk hidup tercemar. Bahkan kekuatan spiritual yang digunakan oleh para kultivator dalam kultivasi mereka pun tidak terkecuali.
Makhluk hidup layu. Tak terhitung banyaknya orang yang musnah. Nyaris segalanya mati.
Segelintir individu yang selamat dari bencana itu mendongak ke arah separuh wajah di langit dan menyebutnya… sebagai dewa. Mereka menyebut dunia mereka sebagai Armageddon, dan tempat di mana para Kaisar Kuno dan Penguasa Kekaisaran pergi kemudian dikenal sebagai tanah suci. Seiring berjalannya era pen년kalan, generasi demi generasi menggunakan nama-nama ini.
Masih ada kengerian lain yang dibawa oleh dewa ini. Kekuatannya terus menindas makhluk hidup di dunia, dan itu karena…
Setiap jangka waktu tertentu, terkadang sekali dalam satu dekade, terkadang sekali dalam seabad, dewa itu akan membuka matanya untuk waktu yang singkat.
Ketika hal itu terjadi, lokasi yang dipandangnya akan terinfeksi oleh auranya.
Orang-orang di sana akan mengalami malapetaka, dan tempat itu untuk selamanya akan dikenal sebagai wilayah terlarang. Selama bertahun-tahun, semakin banyak wilayah terlarang yang bermunculan di dunia, sementara wilayah yang dapat dihuni semakin menyusut.
Sembilan hari yang lalu, mata dewa itu terbuka dan menatap ke arah area tempat pemuda ini tinggal.
Terdapat puluhan kota manusia di sana, dan makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya. Semuanya, termasuk daerah kumuh di luar kota, terinfeksi sebagai akibatnya dan berubah menjadi wilayah terlarang.
Polusi yang mengerikan itu menyebabkan banyak makhluk hidup langsung meledak menjadi kepulan darah. Namun yang lain bermutasi menjadi binatang buas tanpa akal. Dalam kasus lain, jiwa dari makhluk hidup tersebut tercerabut, meninggalkan mayat-mayat berwarna hijau kehitaman.
Hanya segelintir manusia dan hewan yang selamat.
Pemuda ini adalah salah satu dari mereka.
Sebuah suara ratapan bergema di dalam kegelapan, dan ketika pemuda itu menyadari suara itu semakin mendekati guanya, matanya langsung terbuka lebar.
Mengangkat tusukan besinya, ia melihat ke arah celah.
Suara itu berputar-putar, lalu menjauh. Ia menghela napas lega.
Tiba-tiba merasa tidak berniat untuk tidur, ia meraba-raba mencari kantongnya, menemukannya, dan menarik keluar sebilah bilah bambu dari dalamnya.
Suasana memang gelap, namun ia bisa merasakan tulisan yang terukir di bilah bambu itu, sehingga ia mampu membaca tanpa cahaya. Sambil duduk, ia mulai mengatur pernapasannya sesuai tata cara tertentu.
Pemuda ini bernama Xu Qing, dan sejak usia sangat muda ia telah berjuang mencari penghidupan di daerah kumuh di luar kota.
Sembilan hari yang lalu ketika bencana itu melanda, ia bersembunyi di sebuah celah. Dan tidak seperti semua orang yang ketakutan di sekitarnya, ia mendongak ke langit menatap sang dewa, dan ke dalam mata yang terbuka itu. Pupil mata dewa tersebut berbentuk seperti salib, dan setelah melihatnya, rasa teror di dalam hati Xu Qing seketika lenyap.
Pada saat itulah ia melihat cahaya ungu turun dari kahyangan dan mendarat di suatu tempat di bagian timur laut kota. Kemudian ia pingsan. Ketika ia terbangun, ia adalah satu-satunya yang selamat di daerah kumuh itu.
Namun, ia tidak langsung mulai menjelajah.
Ia tahu bahwa ketika mata dewa terbuka, wilayah terlarang akan terbentuk. Dan ketika itu terjadi, hujan darah akan turun, membentuk batas di sekeliling wilayah terlarang tersebut. Karena batasan itu, orang-orang di dalam wilayah terlarang tidak bisa keluar. Begitu pula orang di luar yang tidak bisa masuk, setidaknya sampai wilayah terlarang itu terbentuk sepenuhnya.
Dan itu akan terjadi ketika hujan berhenti.
Bagi Xu Qing, yang tumbuh besar dalam kondisi keras, bencana ini tidak terlalu buruk. Daerah kumuh itu dipenuhi oleh para preman, anjing liar, dan wabah penyakit. Pada malam yang membekukan, ia bisa saja kehilangan nyawanya kapan saja. Bertahan hidup selalu menjadi sebuah perjuangan.
Selama ia tetap hidup, hal lainnya tidak penting.
Kendati demikian, kehidupannya yang kejam di daerah kumuh sempat menyisakan sedikit kehangatan.
Sebagai contoh, terkadang ada para sarjana jatuh yang datang untuk mengajar kelas kepada anak-anak, dan mengajari mereka cara membaca.
Xu Qing juga memiliki beberapa ingatan tentang keluarganya. Namun, ingatan-ingatan itu semakin sulit untuk dipertahankan, dan ia merasa bahwa ingatan itu pada akhirnya akan memudar. Paling tidak, ia tahu bahwa dirinya bukan seorang yatim piatu. Ia memiliki keluarga. Ia hanya kehilangan kontak dengan mereka sejak lama.
Bagaimanapun juga, impiannya sederhana: terus hidup. Jika ia bisa melakukannya, maka mungkin suatu hari nanti ia bisa menemukan keluarganya kembali.
Mengingat ia entah bagaimana berhasil selamat dari bencana itu, ia memutuskan untuk pergi menjelajahi kota.
Ia memiliki dua tujuan ketika melangkah pergi. Yang pertama adalah menemukan rumah bangsawan magistrat kota, di mana rumor mengatakan terdapat metode untuk menjadi lebih kuat. Tujuan keduanya adalah menemukan tempat di mana cahaya ungu itu jatuh.
Metode untuk menjadi lebih kuat itu adalah sesuatu yang diinginkan oleh semua orang di daerah kumuh. Mereka menyebutnya kultivasi. Dan siapa pun yang berlatih kultivasi disebut sebagai seorang kultivator.
Menjadi seorang kultivator adalah keinginan terkuat Xu Qing, selain bersatu kembali dengan keluarganya.
Kultivator bukanlah pemandangan yang umum. Selama bertahun-tahun tinggal di daerah kumuh, Xu Qing hanya pernah sekali melihat sekilas seorang kultivator di kejauhan dalam kota. Salah satu ciri khas kultivator adalah mereka membuat orang yang melihat mereka merasa gemetar. Xu Qing pernah mendengar bahwa sang magistrat sendiri adalah seorang kultivator, begitu pula dengan seluruh pengawalnya.
Lima hari lalu saat menjelajahi kota, ia akhirnya menemukan rumah besar magistrat kota. Dan pada sesosok mayat di sana, ia menemukan bilah bambu yang sedang dipegangnya saat ini. Itu adalah petualangan yang berbahaya, dan berakhir dengan dirinya yang mengalami luka parah di dada.
Namun, bilah bambu itu juga berisi rahasia kultivasi yang telah ia dambakan selama ini.
Ia telah menghafal isi bilah tersebut, dan telah mulai berlatih kultivasi.
Karena Xu Qing secara harfiah tidak tahu apa-apa tentang kultivasi sejak awal, ia tidak yakin apakah teknik yang dijelaskan dalam bilah bambu itu asli. Untungnya, teks tersebut mudah dipahami, dan berfokus pada visualisasi serta pernapasan.
Dengan mengikuti rutinitas yang tepat tersebut, ia telah mencapai beberapa hasil.
Metode itu disebut Mantra Laut dan Gunung. Metode kultivasi tersebut melibatkan visualisasi gambar yang terukir pada bilah bambu, lalu bernapas dengan cara yang telah ditentukan.
Gambar itu terasa aneh. Gambar tersebut menggambarkan sesosok makhluk bizar dengan kepala besar, tubuh kecil, dan berkaki satu. Tubuhnya berwarna hitam pekat, dan wajahnya sangat ganas, bagaikan hantu jahat. Xu Qing belum pernah melihat makhluk seperti itu di dunia nyata, namun bilah bambu tersebut menggambarkannya sebagai sesosok goblin.
Tidak lama setelah ia membayangkan gambar tersebut di dalam benaknya dan mulai bernapas, udara di sekitarnya bergolak.
Aliran kekuatan spiritual mengalir masuk ke dalam dirinya, memenuhi tubuhnya, menjangkau setiap sudut keberadaannya. Hal itu menyebabkan rasa dingin membeku merasuk hingga ke tulang-tulangnya, membuatnya merasa seolah-olah ia tenggelam di dalam air es.
Xu Qing takut pada hawa dingin, namun ia menolak untuk menyerah, dan melanjutkan sesi kultivasinya.
Kemudian, setelah melanjutkan sesuai dengan deskripsi pada bilah bambu tersebut, ia mengakhiri sesinya dan mendapati dirinya berkeringat. Meskipun baru saja melahap seluruh burung bangkai tadi, ia merasakan gelombang kelaparan di perutnya. Menyeka keringat di tubuhnya, ia mengusap perutnya.
Sejak ia mulai berlatih teknik ini, ia mendapati dirinya menjadi jauh lebih lapar. Namun, ia juga menjadi jauh lebih tangguh secara fisik. Karena hal itu, toleransinya terhadap hawa dingin semakin meningkat.
Setelah selesai dengan kultivasi, ia menatap ke arah celah, dan di baliknya, dunia luar.
Hari masih gelap, dan suara-suara mengerikan di luar terus naik turun silih berganti.
Ia tidak yakin mengapa ia selamat dari bencana itu. Mungkin itu adalah keberuntungan. Atau mungkin… hal itu ada hubungannya dengan cahaya ungu tersebut.
Itulah sebabnya, bahkan saat ia terus berlatih teknik baru itu, ia telah berjalan jauh hingga ke bagian timur laut kota. Namun, ia masih belum menemukan di mana cahaya ungu itu mendarat.
Xu Qing memikirkan hal-hal ini sambil mencermati lolongan di luar. Ia tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana ia menemukan mayat yang bersandar di dinding itu pada hari sebelumnya saat senja tiba.
Mayat itu berada di bagian timur laut kota. Dan… ia benar-benar tampak seperti orang yang masih hidup.
Jangan-jangan hal itu ada hubungannya dengan cahaya ungu tersebut…?
Chapter 1 · 13m baca
Living
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter