The Steward Demonic Emperor - Chapter 779 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 779 · 5m baca

Chaotic Fight

by Night Owl

Bam!

Pedang Zhuo Fan beradu dengan senjata spiritual keempat tetua, menghancurkan benda-benda itu berkeping-keping. Zhuo Fan harus memuntahkan darah akibat benturan tersebut, sementara kekuatan mereka mengamuk di dalam tubuhnya.

Tetua Bai He tertawa, “Anak ini sudah tidak punya tenaga lagi untuk bergerak seperti itu? Dari tiga pilihan, dia memilih cara yang paling cepat mati. Apakah dia menyerah untuk melawan?”

“Ini jauh lebih baik. Bagian dalam tubuhnya pasti sudah hancur menjadibubur sekarang dan dia tidak bisa menggunakan pedang itu lagi. Selanjutnya, aku hanya perlu menghancurkan jiwa naganya berkeping-keping!”

Dipenuhi kegembiraan, mata Tetua Bai He bersinar terang lalu melancarkan pukulan, mengerahkan seluruh kekuatannya ke depan.

Petir ungu menyambar serangan itu, namun sama sekali tidak mampu menghentikannya.

Bum!

Dengan suara yang begitu kuat, Tetua Bai He menyeringai ke arah naga yang bergetar itu. “Kali ini kau pasti akan tumbang, Jiwa Naga Surgawi!”

Wusss~

Energi hitam menyelimuti naga tersebut, beralih dari petir ungu saat ia mengaum.

“Ha-ha-ha, aku sudah bisa menebaknya. Pada saat krusial, kau akan berubah menjadi naga iblis untuk membuyarkan kekuatanku?” Tetua Bai He mengejek, “Lalu kenapa? Bahkan sisa kekuatannya pun sudah cukup untuk melukaimu. Satu-satunya kehebatan jiwa naga ini adalah ia bisa berubah bentuk dan hanya memperpanjang kematiannya. Tapi aku tetap akan membunuhmu bagaimanapun caranya.”

Tetua Bai He bersiap untuk melancarkan serangan lagi, tetapi ia mendapati dirinya tidak bisa bergerak. Tinjunya tertahan begitu saja, persis seperti tetua sebelumnya.

Sambil mencibir, tubuh Tetua Bai He bergetar dan melepaskan lebih banyak kekuatan untuk mencerai-beraikan energi hitam saat ia menarik tinjunya. “Humph, Zhuo Fan, tubuhmu sudah tidak berguna dan tidak bisa menggunakan teknik perpindahan instan itu. Nagamu hanya bisa mengulur waktu beberapa saat saja. Melawan tubuhmu mungkin menjadi ancaman bagi kami, tapi jiwamu seorang diri tidak akan bisa diselamatkan. Matilah!”

“Tetua Bai He!”

Namun, sebuah teriakan terdengar dari arah keempat tetua. Menoleh ke belakang, ia bertanya, “Ada apa?”

“S-senjata spiritual kami tidak hancur.” Seorang tetua memegang senjata spiritualnya dengan kaget seraya berteriak.

Bai He tersentak dan memperhatikan dengan seksama, menyadari bahwa mereka sedang memegang senjata mereka sementara Zhuo Fan muntah darah di hadapan mereka. Pemuda itu tampak oleng, namun pedang iblis di tangannya memancarkan aura kuat yang sama.

[Apa… yang baru saja terjadi?]

Jika senjata spiritual keempat tetua tidak hancur, itu berarti senjata-senjata tersebut tidak beradu dengan pedang iblis. Tapi mengapa Zhuo Fan sengaja membiarkan dirinya terpojok dengan cara ini? Hanya untuk meninggalkan jiwanya seorang diri?

Tetua Bai He diliputi kebingungan.

Namun, gelombang niat membunuh yang pekat tiba-tiba datang dari belakang.

Terkejut, Bai He menjadi panik dan berusaha menghindar, hanya untuk mendapati bahwa tangannya masih terjebak di dalam naga hitam itu, meskipun itu hanya akan bertahan selama beberapa saat.

Waktu yang lebih dari cukup untuk membunuhnya.

Prang!

Darah muncrat seketika, tubuh Tetua Bai He terbelah dua.

“A-aku telah tertipu…”

Bibir Tetua Bai He bergetar, memaksa dirinya untuk berbalik, demi melihat tatapan dingin Zhuo Fan dan mulutnya yang berlumuran darah. “A-apa yang terjadi?”

“Uhuk~”

Zhuo Fan terus batuk, meski ekspresi wajahnya tampak datar, “Tidak peduli seberapa hati-hatinya kau, saat kau merasa menang, kau akan merasa tidak terkalahkan. Aku hanya memberimu momen itu, itu saja.”

Tetua Bai He menatap Zhuo Fan yang melayang di udara, lalu beralih pada Zhuo Fan yang berada di belakangnya dengan pandangan yang mulai kabur.

[Kenapa ada dua orang?]

“Ha-ha-ha, ketidaktahuan adalah sebuah kejahatan. Kau sama sekali tidak tahu apa saja yang mampu kulakukan!”

Sambil menyeringai, mata kanan Zhuo Fan memancarkan tiga lingkaran cahaya keemasan, “Tahap Ketiga Mata Dewa Kekosongan, Dunia Bayangan.”

Wusss~

Sosok yang memegang pedang iblis terus memuntahkan darah namun lenyap sedetik kemudian, menyisakan Zhuo Fan yang berada di belakang Bai He sambil menyeringai ke arah keempat tetua yang tersisa.

Ilusi!

Semua orang langsung paham bahwa bahkan jika Zhuo Fan muncul di belakang Tetua Bai He, dia tetap tidak bisa membunuhnya hanya dengan bantuan jiwa naga yang menahannya. Dia harus memancingnya terlebih dahulu.

Tetapi setelah tetua itu melihat triknya barusan, apakah dia akan tertipu lagi?

Itulah sebabnya Zhuo Fan menciptakan sebuah ilusi, membuat Bai He mengira bahwa ia sedang menghadapi mereka secara langsung dan membiarkannya menyerang jiwa naga itu tanpa gangguan.

Ilusi itu sebenarnya mudah dihancurkan, terbukti saat keempat tetua mendapati senjata spiritual mereka tidak hancur ketika berbenturan dengan pedang iblis.

Namun Tetua Bai He, yang tidak berada di sana bersama mereka, hanya melihat bahwa rencana itu berhasil dan tidak bisa menahan diri untuk ikut menyerang. Pada saat itulah, Zhuo Fan memanfaatkan kelengahan sang tetua.

Tetua Bai He menatap ke langit saat matanya mulai kehilangan tatapan dan ajalnya menjemput. Kedua bagian tubuhnya jatuh ke tanah, dengan mata yang terbuka lebar menyisakan penyesalan abadi.

Siapa yang menyangka seorang ahli tingkat Harmoni Jiwa yang hebat akan mati dengan penyesalan sebesar itu?

[Itu yang keempat…]

Guncangan hebat melanda hati keempat tetua yang tersisa saat mereka menatap Zhuo Fan yang tengah megap-megap dan memuntahkan darah. Yang mereka rasakan kini hanyalah rasa takut yang mendalam, memaksa mereka mundur perlahan.

Dia bahkan belum mencapai Tahap Eterial, terluka parah dan terpojok, namun masih mampu membunuh seorang ahli Harmoni Jiwa. Kejadian pertama adalah sebuah keajaiban, yang kedua adalah sebuah kecelakaan, tetapi yang ketiga membuat mereka semua menyerang secara serentak untuk mencegah jatuhnya korban lagi.

Namun kematian keempat kemudian terjadi dan membuktikan bahwa dia masih memiliki kekuatan itu.

Keempat tetua merasakan hati mereka merosot jatuh ke dasar ketika menatap mata yang buas itu.

[Sebenarnya siapa keparat ini?]

Bagaimanapun juga, mereka adalah para kultivator berpengalaman selama bertahun-tahun, yang segera memulihkan ketenangan mereka setelah dilanda keterkejutan sesaat.

Mereka adalah para ahli Harmoni Jiwa. Bagaimana mungkin seorang bajingan di Tahap Radiasi bisa membunuh empat orang dari golongan mereka?

“Serang! Serang semuanya! Tanpa rencana, bunuh saja bocah sialan itu berapa pun harganya!”

Akhirnya, setelah empat rekan mereka tewas, para tetua itu menjadi kalap dan berteriak, menerjang Zhuo Fan secara langsung. Para ahli Tahap Eterial yang tersisa turut mengikuti langkah mereka.

Zhao Dezhu bahkan berada di barisan terdepan, matanya memerah penuh amarah. Dialah yang meminta pertarungan ini dari sekte. Sekarang empat tetua telah tewas terbunuh, dan jika dia tidak berhasil membawa kepala anak itu, dia tidak akan pernah bisa kembali ke sekte.

Zhuo Fan menatap lautan orang yang menyerbu ke arahnya dan semakin mempererat genggamannya pada pedang iblis. Dia mengambil napas dalam-dalam, mengatupkan giginya rapat-rapat, lalu balas menyerbu dengan tubuhnya yang sudah kelelahan.

Hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya sepanjang sejarah. Ratusan ahli mengeroyok seorang kultivator tingkat bawah. Ini adalah sebuah pertempuran yang kacau balau, berdarah, dan mengerikan.

Seandainya Sekte Kebenaran Universal mengerahkan seluruh kekuatannya sejak awal, kerugian mereka tidak akan separah ini. Namun dalam kekacauan ini, jumlah korban tewas justru semakin bertambah.

Para ahli Tahap Eterial melepaskan jiwa mereka menyerang Zhuo Fan tanpa memedulikan keselamatan diri mereka sendiri. Naga biru milik Zhuo Fan menyemburkan api yang membakar banyak musuh, sementara naga ungunya mengirimkan sambaran petir ungu yang menghanguskan lebih banyak lagi.

Namun gelombang serangan itu tak terbendung, menghantam jiwa naga dengan kekuatan penuh.

Zhuo Fan kembali memuntahkan darah, pandangannya menggelap dan hampir membuatnya kehilangan kesadaran. Tapi dia memiliki seseorang yang harus dilindunginya. Dia menggigit lidahnya sendiri agar tetap sadar.

Naga ungu itu berubah wujud menjadi naga iblis untuk menyerap sebanyak mungkin serangan jiwa tersebut. Kemudian ia beralih menjadi Raja Naga Merah Mahakuasa dan, dengan satu kibbasan cambuknya, menghancurkan puluhan jiwa sekaligus.

Begitulah cara jiwa naga itu terus berganti bentuk demi menghadapi badai serangan jiwa yang datang untuk merenggut nyawanya. Sebaliknya, dialah yang merenggut nyawa mereka, membuat tubuh-tubuh berjatuhan dari langit setelah mengeluarkan ratapan terakhir yang menyedihkan.

Di bawah serangan yang terus-menerus, jiwa naga itu turut babak belur, meraung tanpa henti.

Zhuo Fan menahan rasa sakit yang menyiksa jiwanya dan terus menerjang maju dengan pedang iblis di tangan, matanya merah menyala. Di setiap tempat yang ia lewati, seseorang akan jatuh berkeping-keping.

Tumpukan mayat lainnya mulai menghantam tanah.

Keempat tetua mengacungkan senjata mereka dan menyerang tubuhnya secara langsung. Zhuo Fan mengayunkan pedang iblis dan beradu senjata dengan mereka ratusan kali tanpa ada yang keluar sebagai pemenang.

Pedang iblis memaksa para tetua untuk terus mundur setelah setiap serangan, sementara bilah tajamnya merenggut nyawa puluhan ahli Tahap Eterial di setiap ayunannya. Tak seorang pun yang mampu mendekati pertarungan mereka karena masing-masing berjuang untuk mendapatkan keunggulan.

Pertempuran ini telah lama berhenti menjadi sebuah jebakan, berubah menjadi perang yang sengit, lima ratus orang melawan satu orang. Sungguh sebuah kekacauan yang mutlak…

Gunakan ← → untuk pindah chapter